Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us



























Tari Gattkaca Raden Ono Lesmana Kartadikusumah menciptakan dua bentuk penyajian Gatotkaca, yaitu tari Gatotkaca bentuk tarian tunggal dan tari Gatotkaca Gandrung yang bentuk tariannya kelompok. Tari Gatotkaca diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah pada tahun 1942 yang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta. Tari Gatot Kaca Gandrung ini diciptakan karena terilhami oleh tari Gatotkaca Gandrung gaya Solo yang ditarikan oleh Risman. Dimana dua putri yang digandrunginya divisualisasikan secara nyata. Akhirnya Raden Ono Lesmana terdorong hatinya untuk membuat tari Gatot Kaca Gandrung menurut versinya sendiri sekitar tahun 1957. Bentuk tarian yang diciptakan Raden Ono Lesmana Kartadikusumah ini berupa petilan dari cerita pewayangan ketika Gatot Kaca dari Pringgandani setelah menemui ibunya dan mengelilingi wilayah negerinya dengan terbang melayang di angkasa, terkena panah asmara dan tergila-gila terhadap Dewi Pergiwa, sehingga jatuh di hutan belantara. Dalam bayangannya selalu sang Dewi kembar tersebut serasa bertaut di matanya. Tetapi alangkah murkanya Gatot Kaca, ketika Dewi yang dipujanya itu adalah Buta raseksa “Cakil” maka terjadilah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Gatotkaca. Yang akan dibahas pada penelitian ini adalah tari Gatotkaca dengan bentuk penyajian tari tunggal.


Adapun struktur gerak tari Gatot Kaca gaya Sumedang adalah sebagai berikut.
1) Trisi hiber
2) Sembahan awal (calik jengkeng) 50 Agus Sudirman
3) Adeg-adeg capang, sawang, cindek
4) Ngaca
5) Laras konda
6) Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek
7) Gedig, capang, sawang, cindek
8) Jangkung ilo, sonteng
9) Gedut
10) Mincid siku
11) Gedig, capang, sawang, cindek
12) Jangkung ilo, tumpang tali
13) Laras konda
14) Ungkleuk
15) Gedig, capang, sawang, cindek
16) Adeg-adeg sabukan
17) Adeg-adeg Makutaan
18) Pakbang
19) Laras konda
20) Ungkleuk
21) Gedig anca
22) Adeg-adeg jurus
23) Nenjrag bumi
24) Trisi hiber






























Struktur Gerak Tari Gatotkaca
1. Trisi Hiber Gerak awal berjalan jinjit/trisi dengan posisi tangan kanan tutup selendang dan tangankiri kesamping kemudian gerak selanjutnya bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat)

2. Sembahan Awal (Calik Jengkeng) Posisi duduk dengan kaki kanan sebagai tumpuan dan kaki kiri ke depan dan ditekuk dengan posisi tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di atas kaki kiri. Kemudian tangan kiri ke depan sedikit ditekuk dan tangan kiri di tengah-tengah tangan kanan, lalu kedua tangan dibuka, tangan kiri ke samping kiri dan tangan kanan kesamping kanan atas dan arah pandangan ke telapak tangan kanan, kemudian posisi tangan kembali lagi ke awal (tangan kiri di atas kaki kiri dan tangan kanan di pinggang). Kemudian kedua tangan ukel lalu kedua tangan ditarik ketengah dengan posisi ujung telapak tangan bersentuhan terlebih dahulu kemudian dirapatkan dan berada di depan wajah.

3. Adeg-adeg capang, sawang, cindek Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, posisi kedua tangan kanan disamping tangan kiri kemudian tangan kanan sejajar dengan kepala, kemudian posisi tangan kiri kesamping kiri dan posisi tangan kanan di depan dada.

4. Ngaca Posisi badan condong ke depan dengan posisi tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan di samping telinga Gesture (gerak maknawi).

5. Laras konda Posisi badan ke depan dengan melakukan gerakan tangan capang (tangan kiri kedepan dan tangan kanan ditekuk sehingga telapak tangan kanan berada di tengah-tengan tangan kiri). Kemudian gerakan selanjutnya tangan kiri di simpan di pinggang dan tangan kanansawang (gerakan tangan ditekuk ke atas dan telapak tangan menghadap ke wajah).

6. Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek posisi kedua kaki dibuka selebat bahu, dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri disamping kiri. Kemudian menggerakan kedua bahu ke atas dan ke bawah.

7. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

8. Jangkung ilo, sonteng Posisi badan menghadap ke kiri kemudian kaki kiri diangkat dan kaki kanan sebagai tumpuan , tangan kanan ke depan dan tangan kiri di pinggang, berikutnya tangan kanan bergerak ukel, setelah ukel kaki kiri di turunkan ke samping kiri dan tangan kanan diayunkan ke kiri dan ke kanan diikuti oleh gerakan kepala .

9. Gedut Posisi awal badan ke depan dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, kemudian posisi badan diangkat dengan posisi mengarah serong kiri kemudian ditahan oleh kaki kanan kemudian posisi badan ke Pure Movement (gerak murni) Begitu pula sebaliknya bergantian ke kiri.

10.Mincid siku Posisi badan ke depan dengan langkah kaki mundur kebelakang yang diikuti oleh gerakan tangan capang kiri dan capang kiri.

11. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

12. Jangkung ilo, tumpang tali Gerakan awal posisi badan serong ke kanan dengan posisi kaki kiri di depan kemudian gerakan tangan tumpang tali (posisi tangan kanan di atas tangan kiri), gerakan kedua kedua tangan diarahkan di depan atas kepala/mahkota, kemudian arah hadap ke samping kanan dengan posisi tangan sembada kanan (tangan kanan ditekuk di depan dada, tangan kiri kesamping kiri. Gerak tangan selanjutnya melakukan sawang kiri (posisi tangan kiri di atas dan ditekuk dengan posisi telapak tangan kiri menghadap wajah) dan di akhiri dengan posisi tangan kiri ditekuk dan kaki kiri ditarik.

13. Laras konda Posisi badan serong kanan dengan posisi kedua tangan direntangkan serta kedua kaki sedikit dirapatkan dan jinjit, gerakan selanjutnya kaki dibuka dengan tumpuan dikaki kiri dengan posisi kedua tangan tumpang tali dengan posisi sedikit naik ke atas kanan.

14. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah Pure Movement (gerak murni) 15 Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

16. Adeg-adeg sabukan Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu dengan sikap tangan kanan diatas tangan kiri Gesture (gerak maknawi).

17. Adeg-adeg Makutaan Posisi badan condong ke depan dengan kaki kanan kedepan dan tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan didekat telinga.

18. Pakbang Melangkah kanan kiri kanan dengan tangan mengayun, kemudian adeg-adeg tengah dengan kedua tangan lontang kanan dan lontang kiri.

19. Laras konda Posisi badan serong kiri dengan kedua kaki jinjit diikuti posisi kedua tangan ke depan atas kemudian kedua kaki dibuka dan diikuti kedua tangan direntangkan sambil gerakan tersebut diulang dan perputar berlawanan arah jarum jam.

20. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah.

21. Gedig anca Langkah kaki kanan jadi tumpuan dan kaki kiri diangkat posisi tangan kanan ditekuk dan tangan kiri di pinggang kiri dengan arah hadap kepala ke kanan bawah gerakan ini dilakukan secara bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat).

22. Adeg-adeg jurus Posisi kaki kanan di depan kaki kiri, dengan sikap tangan kanan kedepan dan tangan kiri disamping tangan kanan.

23. Nenjrag bumi Posisi badan serong kekanan dengan kedua tangan mengepal dan disimpan di samping kiri dengan arah pandangan ke bawah lalu kaki kanan diangkat dan dihentakkan ke bawah sebanyak tiga kali.

24. Trisi hiber Kedua tangan direntangkan kedepan dengan posisi kaki kanan kedepan, tangan kiri tutup selendang tangan kanan lurus kebelakang kemudian diakhiri dengan gerak trisi keluar.

Tarian ini memiliki 9 gerak yang masuk ke dalam kategori Puremovement yaitu gerak murni yang hanya menitikberatkan pada keindahan semata diantaranya, Sembahan awal (calik jengkeng), (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Adeg-adeg capang, sawang, cindek) (Jangkung ilo, sonteng), Laras konda,Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbang dan Ungkleuk. Apabila ditilik dari desain yang terdapat pada gerak Puremovement, maka peneliti mengambil desain atas untuk melihat kekuatan pada setiap geraknya yang terlihat dari depan atau dilihat dari penonton. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Soedarsono bahwa desain atas adalah desain yang berada di atas lantai yang dilihat oleh penonton, yang tampak terlukis pada ruang yang berada di atas lantai. Untuk memudahkan penjelasan ini dilihat dari satu arah penonton saja yaitu dari depan.Dengan desain atas peneliti dapat mengetahui sentuhan emosional pada setiap gerakan. Dan untuk melihat karakter gerak, dilihat dari level yang digunakan, arah, intensitas atau aliran tenaga menggunakan analisis Laban. Seperti yang dikemukakan Rudolf Laban (1975), bahwa gerak merupakan fungsional dari Body (gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), Space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), Time (berhubungan dengan durasi gerak perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), Dinamyc, (kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis, dan penekanan gerak). Berpijak kepada pendapat tersebut, unsur gerak sebagai unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga dalam kategori Puremovement pada tari Gatotkaca gaya cenderung menggunakan ruang yang luas, hal tersebut dapat dilihat pada gerak tangan yang cenderung lebar.

Untuk unsur waktu, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement cenderung menggunakan tempo sedang dan cepat. Adapun untuk intensitas tenaga, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement ini menggunakan tenaga yang kuat namun tertahan. Pada gerak Sembahan awal (calik jengkeng) termasuk kedalam desain rendah yaitu desain yang dipusatkan pada daerah yang berkisar antara pinggang penari sampai lantai. Desain ini memberikan kesan penuh daya hidup di sini jika dikaitkan dengan tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang diartikan sebagai perjuangan Gatotkaca untuk menjaga wilayah Amarta dengan penuh tanggung jawab. Gerak (Adeg-adeg capang, sawang, cindek), Laras konda, (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Jangkung ilo, sonteng), Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbangdan Ungklek termasuk kedalam desain medium atau tengah dimana desain yang dipusatkan pada daerah sekitar dada ke bawah sampai pinggang penari. Desain ini memberikan kesan penuh emosi. Hampir pada setiap gerak tangan dan kaki menggunakan tekukan-tekukan seperti pada lutut, sikut, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Pola gerak tersebut termasuk kedalam desain bersudut yang menimbulkan kesan penuh kekuatan.Hal ini senada dengan karakter serta tema tarian pada tari Gatotkaca gaya Sumedang yaitu karakter monggawa lungguh yang memiliki ciri bergerak dengan tenaga yang kuat, anggota tubuhnya terbuka dengan badan dan arah pandangnya sedikit condong ke depan dengan levelnya medium dan tinggi ketika berdiri. Tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta.

Rias Tari Gatotkaca gaya
tata rias bukan sesuatu yang asing bagi semua orang, khususnya kaum wanita sebab tata rias merupakan aspek untuk mendukung penampilan dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tujuan dari tata rias yaitu untuk mengubah penampilan fisik yang dinilai kurang sempurna. Adapun tata rias untuk koreografi merupakan kelengkapan penampilan atau sebuah pertunjukan. Selain itu, rias merupakan perwujudan dari karakter-karakter yang ditampilkan dalam sebuah tarian. Berikut ini merupakan tata rias tari Gatotkaca gaya Sumedang.
a. Pasu Teleng
b. Alis Masekon .
c. Eye Shadow
d. Eye Liner
e. Pasu Damis
f. Kumis
g. Cedo Foto

Adapun penjelasan tata rias yang dipergunakan pada tari Gatotkaca  adalah sebagai berikut.
a. Alis Masekon Bentuk alis yang ditarik ke atas dari pangkal alis, kemudian dilengkungkan menurun dan ditarik kebelakang.
b. Pasu Teleng Garis rias diantara kedua alis sejajar dengan hidung yang berbentuk seperti tanda seru.
c. Eye Shadow Make Up untuk memperindah mata sekaligus memberi bayangan mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye shadow berwarna hitam untuk bagian pinggir, biru tua untuk bagian tengah dan putih untuk bagian atas.
d. Eye Liner Garis mata yang berfungsi untuk mempertegas mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye liner berwarna hitam.
e. Pasu Damis Hiasan pada kedua pipi yang berbentuk seperti tanda petik yang diberi warna putih untuk bagian tengah dan garis pinggiran berwarna hitam.
f. Rambut hidung dan bibir. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang menggunakan kumis buatan supaya terlihat gagah.
g. Cedo Garis di bawah bibir menuju dagu berwarna hitam.
h. Godeg satria Jambang yang menyerupai cerurit atau sabit melengkung ke bawah.

Tata rias Hal ini jelas terlihat bahwa warna dasar pada riasan wajah sesuai dengan warna kulit. Untuk bagian alis masekon, pasu teleng berbentuk tanda seru, eye shadow disesuaikan dengan bentuk kelopak mata, eye liner disesuaikan dengan bentuk mata bagian bawah, tidak menggunakan janggut hanya memakai cedo,dan godegnya pun menyerupai cerurit. Jika ditinjau berdasarkan tata rias karakter, maka tata rias tari Gatotkaca lebih kepada satria ladak, karena hanya terdapat garis-garis rias di kening, alis jambang, kumis, dan dagu. Hanya saja pada satria ladak tidak terdapat garis di pipi atau pasu damis.
Seharusnya seperti yang sudah diterangkan sebelumnya menurut Rusliana bahwa, perbedaan yang mendasar antara garis-garis rias untuk tarian Wayang jenis putri dan putra sebagai berikut.

1) Tarian jenis putri, terdapat garis-garis rias dikening, alis, dan jambang.
2) Tarian jenis putra satria lungguh, terdapat garis-garis rias di kening, alis, dan jambang. 
3) Tarian jenis putra satria ladak, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, dan dagu.
4) Tarian jenis putra monggawa lungguh, monggawa dangah, danawa patih, dan danawa raja, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Tata rias untuk tari Gatotkaca yang berkarakter monggawa lungguh seharusnya terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Di mana pada alis berbentuk cagak dua, pada kening terdapat pasu teleng berbentuk huruf V terbalik, cedo dan janggut menyatu, dan godeg atau jambang yang tebal seperti huruf J.

Selain itu, jika ditinjau dari rias karakter monggawa lungguh menurut Richard Corson dalamNarawatimenyatakan, bahwa. Secara Phisiognomi karakter ini memiliki mata yang terbuka lebar dengan kedua ujung matanya segaris dengan pangkalnya, demikian pula alisnya. Hanya saja, karena karakter ini gagah, alisnya yang dikenakan terkesan tebal atau lebat. Hidungnya agak besar, demikian pula mulutnya. Kedua ujung kiri dan kanan mulut hampir segaris, demikian pula kumisnya yang tebal dan lebat di bawah hidung yang besar. Ciri-ciri phisiognomi semacam ini memberikan kesan, bahwa kesatria ini sangat pemberani serta kokoh dalam pendirian.

Busana Tari Gatotkaca
Busana tari wayang Priangan dipengaruhi oleh budaya Jawa Tengah. Jika kita lihat awal terciptanya tari Wayang Priangan ini berasal dari tari Wayang Wong Priangan, sehingga busana tari Wayang Priangan mendapat pengaruh besar dari tari Wayang Wong priangan, seperti yang telah diungkapkan oleh Narawati dalam bukunya Soedarsono sebagai berikut. Secara langsung dan tidak langsung, busana, rias, serta gerak tari wayang wong Priangan mendapat pengaruh yang cukup besar dari karakterisasi busana, rias dan d tari wayang wong Jawa. Memang, pengaruh itu setelah berkembang dan dikembangkan oleh seniman-seniman Priangan menjadi khas Priangan, hingga busana, rias, dan gerak tari wayang wong Priangan menjadi khas gaya Priangan, dan bukan lagi sebagai busana, rias dan gerak tari Jawa gaya Priangan. Terlihat adanya kontak budaya antara budaya Jawa dengan budaya Priangan. Selain adanya pengaruh dari tari wayang wong Priangan, busana tari wayang Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek. Seperti yang diungkapkan Soedarsono sebagai berikut. Maka tak heran apabila busana wayang wong Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek Sunda. Sudah barang tentu karena adanya perbedaan antara boneka wayang golek yang terbuat dari kayu dan penari wayang wong Priangan yang manusia, walaupun terdapat banyak persamaan antara keduanya tetapi terdapat beberapa perbedaan. Oleh karena itu, pada busana tari Gatotkaca memiliki kesamaan dengan karakteristik pada busana Wayang Golek Sunda, tetapi terdapat perbedaan pula. Hal ini dikarenakan dengan kebutuhan pada tarian tersebut.

Busana tari merupakan satu bantuan yang nyata pada si penari, khususnya pada tari yang berkembang dari tari tradisional ataupun klasik, karena selain dapat membantu gerak dalam bentuk koreografi yang utuh, juga mempunyai fungsifungsi simbolis. Busana tari yang berhasil, mempunyai nilai yang sejajar dengan keadaan penerangan yang baik, latar belakang, lagu pengiring dan teknis pentas. Busana dalam sebuah karya tari merupakan satu kesatuan fasilitas bagi penari untuk menata rupa visualisai tubuhnya yang sesuai dengan tarian yang disajikan. Untuk itu, dengan adanya busana dalam sebuah tari maka pertunjukan sebuah karya tari tersebut akan lebih hidup. Adapun bentuk busana tari Gatotkaca gaya Sumedang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
a. Mahkota Gelung Pelengkung Garuda Mungkur
b. Susumping
c. Badong
d. Baju Kutung
e. Kilat Bahu
f. Ikat Pinggang/Beubeur
 h. Kewer/Ampleh
g. Gelang Tangan
i. Tali Uncal
j. Sampur
k. Sinjang Dodot
l. Celana Sontog
m. Keris
n. Melati
o. Gelang

Warna Busana yang digunakan dalam tari Gatotkaca menggunakan warna dasar hitam dengan tidak menggunakan banyak motif pada pola busananya dan pada setiap busana yang Raden Ono Lesmana Kartadikusumah memiliki cirri khas motif bunga teratai . Adapun uraian busana tari Gatotkaca gaya Sumedang sebagai berikut.

a. Mahkuta Gelung Pelengkung Garuda Mungkur Bagian busana penutup kepala yang berbentuk melengkung dengan tambahan garuda mungkur atau motif burung garuda yang menghadap ke bawah.
b. Susumping Hiasan telinga yang terbuat dari kulit.
c. Badong Hiasan busana bagian belakang yang terbuat dari kulit yang berbentuk seperti sayap.
d. Baju Kutung warna hitam Baju tanpa lengan yang berwarna hitam dan berbahan bludru denga motif bintang segi delapan.
e. Kilat Bahu Aksesoris terbuat dari kulit yang dikenakan pada tangan bagian atas.
f. Ikat Pinggang/Beubeur Ikat pinggang berbahan dasar bludru berwarna hitam.
g. Gelang Tangan Aksesoris tangan yang terbuat dari bahan bludru yang dipayet.
h. Kewer/Ampleh Kain kecil dan pendek yang merupakan hiasan yang dikenakan menggantung pada kain sabuk.
i. Tali Uncal Aksesoris yang terbuat dari kulit yang mirip tanduk kijang atau dalam bahasa Sunda disebut uncal.
j. Sampur Selendang yang dipergunakan sebagai bagian busana, atau bahkan properti tari. k. Sinjang dodot Kain batik berbentuk lereng yang sudah dilipat atau dilamban.
l. Celana Sontog warna hitam Celana tiga perempat yang terbuat dari bahan bludru. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang memakai celana sontog berwarna hitam dengan Payet berwarna emas.
m. Keris Keris pada tari Gatotkaca gaya Sumedang dipergunakan sebagai bagian dari busana dan dipasang di belakang.
n. Melati Hiasan pelengkap keris yang dipasang melingkar dipangkal keris.
o. Gelang kaki Aksesoris yang dikenakan pada pergelangan kaki yang berbentuk bulat serta berwarna emas. Busana tari Gatotkaca gaya Sumedang lebih terlihat sederhana, hal ini terlihat pada motif baju dengan motif payet hanya menggunakan satu warna yaitu emas dengan warna busana hitam. Hitam adalah warna tegas, solid, dan kuat), sesuai dengan sosok dari Gatotkaca itu sendiri yang berjiwa tegas, bijaksana dan kuat. Warna emas secara sekilas akan serupa dengan warna kuning, sehingga maknanya pun ada yang sama, yaitu melambangkan kemakmuran. Namun warna emas juga memiliki kesan yang aktif, dan juga dinamis.

Alat musik
Alat musik yang paling dominan di sini adalah tepakan kendang sangat dominan pada tari Gatotkaca gaya Sumedang, istilahnya adalah mungkus atau dibungkus, artinya hampir setiap gerakan diikuti dengan tabuhan kendang. Hanya sebagian kecil saja yang tidak diikuti tepakan kendang. Dalam iringan tari Gatotkaca hanya ada vokal sinden, dan kakawen/Kemunculan Gatotkaca diawali denganirama cepat dengan gerak trisi hiber. Kemudian dari gerak sembahan sampai dengan adeg-adeg jurus masih menggunakan pola irama sedang yang diikuti oleh vokal sinden yang dilakukan oleh sinden. Memang pada umumnya tari-tari tradisional Sunda iringan tarinya disertai dengan adanya vokal, seperti tari Keurseus maupun tari Rakyat, demikian pula dalam tari Wayang, termasuk tari Gatotkaca. Adanya vokal dalam tari Gatotkaca tidak mutlak harus ada, namun adanya vokal ternyata memberi pengaruh terhadap memperkuat suasana yang disajikan. Selain adanya kawih, dalam tari Gatotkaca terdapat kakawen yang dilantunkan ketika akan memperlihatkan ajian untuk dapat terbang. Kakawen ini dilantunkan menjelang akhir tarian.Keunikan pada kakawen serta gerak pada tari Gatotkaca terdapat kakawen serta gerak nenjrag bumi tilu kali atau

Seperti yang dikatakan Dewey dalam Soedarsono, bahwa seni adalah satu pengalaman pribadi. Jadi dapat dikatakan, bahwa terciptanya tari Gatotkaca merupakan sebuah cerminan serta pengalaman dari sosok Raden Ono Lesmana Kartadikusumah.


PALAGAN KURUSHETRA, GUGURNYA ADIPATI KARNA



Terlahir dari perawan Kunti akibat mantera yang diucapkan secara coba-coba ke Dewa Surya, bayi Karna dibuang ke sungai Aswa untuk menjaga keberadaan ibunya sebagai perempuan yang belum menikah. Karna kecil akhirnya ditemukan Adirata, kusir kereta di kerajaan Astina dan ia tumbuh besar dalam asuhan keluarga wong cilik”

Hari itu, Vrishasena, anak Karna, maju ke arah tentara Pandawa. Panah tajam Arjuna membunuhnya sementara Karna yang melihat. Sekarang, Karna sangat ingin memerangi Arjuna. Dua prajurit terbesar tersebut saling berhadapan.

Duel mereka dimulai, mereka mulai dengan panah biasa, kemudian melakukan pemanasan dengan penggunaan Astra Dewata. Mereka menggunakan Astra dari Agni, Baruna, Indra secara bergantian dan menetralkan Astra yang lain. Sekarang, Karna mengirimkan astra mengerikan, hadiah khusus dari gurunya, Parasurama, yang disebutBhargavastra. Ini astra lebih kuat daripada semua Astra yang digunakan selama ini oleh mereka. Tentara Pandawa telah banyak diserang oleh astra ini. Bima marah besar, katanya kepada Arjuna untuk mengakhiri Karna kalau tidak, ia yang akan membunuhnya dengan gadanya. Krishna meminta Arjuna bertempur sepenuh hati, jika tidak, tidak akan mudah untuk membunuh Karna.

Arjuna memanggil Brahmastra, gejolak besar terjadi di semua arah. Astra itu membersihkan awan panah yang dibuat oleh Karna. Karna membalas dengan mengirimkan astra lain yang mematikan. Astra ini bersinar menerangi seluruh medan perang. Ia melesat bagai kilat. Semua orang menonton dengan napas tertahan. Bahkan para dewa seperti Surya dan Indra pun menyaksikan duel kedua anak mereka.

Krishna melakukan hal yang tidak biasa. Dia menekan kereta kudanya sehingga tenggelam 15 senti ke dalam tanah. Akibatnya astra yang menuju ke leher Arjuna hanya menyentuh mahkotanya saja. Mahkota Kiriti yang terkenal itu jatuh ke tanah, tetapi Arjuna selamat. 

Sekarang tidak ada astra kuat lagi yang tersisa di dalam simpanan senjata Karna. Tapi dia terus bertarung. Pandawa bisa bernapas lebih lega setelah mereka melihat bahwa Arjuna lolos dari Magastra mengerikan.
Sekarang nasib telah mulai bekerja melawan Karna. Bumi ini menjadi lunak, mendadak roda-roda kereta Karna masuk jauh di dalam ke tanah. Pelindung rodanya pun terlepas. Karna mulai marah.

Karna melompat turun, hendak membetulkan roda itu. “Tunggu! Keretaku masuk lumpur. Sebagai kesatria besar yang memahami dharma, hendaknya engkau berbuat adil dan tidak memanfaatkan kecelakaan ini sebagai kesempatan untuk menggempur aku. Setelah aku berhasil keluar dari lumpur ini, kita bertarung lagi!” demikian teriak Karna.

Arjuna sudah siap mengangkat Gandiwanya. Ia memilih anak panah yang pantas untuk melumpuhkan lawannya. Sementara itu, Karna bingung karena ingat akan sumpah Arjuna. Ia berteriak lagi, meminta Arjuna memegang kehormatan dan tata krama kaum kesatria, yaitu tidak menyerang musuh yang tidak berdaya.
Krishna memotong kata-kata Karna dengan lantang, “Hai, Karna, sungguh baik engkau masih ingat kata-kata ‘adil dan kehormatan kesatria’. Sayang, baru sekarang kauingat. Dulu waktu Duryodhana, Duhsasana dan Sakuni menghina Draupadi, engkau lupa dan berlagak bodoh .

Engkau juga membantu Duryodhana yang menipu dan jahat terhadap Pandawa. Ingatkah engkau akan permainan dadu, meracuni dan membakar Pandawa hidup-hidup, lalu mengusir mereka ke dalam hutan. Apa yang kaumaksud dengan ‘kehormatan dan tata krama ksatria’? Dan dharma mana yang kauingat?

Mulutmu yang lancang telah menghina Draupadi seperti ini: ‘Suamimu, Pandawa telah meninggalkan engkau. Kawinlah dengan laki-laki lain.’

“Sekarang engkau bicara tentang keadilan, kehormatan kesatria dan dharma. Setelah bicara tentang itu, apakah engkau tidak malu ikut membunuh Abhimanyu beramai-ramai? Engkau bicara tentang keadilan, kehormatan dan budi pekerti, tetapi kau justru mengingkarinya.”

Mendengar kata-kata Krishna, Karna menundukkan kepala. Ia malu dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Ia bangkit lalu naik kembali ke keretanya, mengambil busur, dan melepaskan anak panah yang nyaris mengenai Arjuna.

Dhananjaya terhenyak sesaat. Dengan cepat Karna turun untuk membetulkan roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur. Ia mencoba mengingat mantra brahmastra pemberian Parasurama, tetapi seperti telah diramalkan oleh Parasurama, Karna tak bisa mengingatnya .

“Jangan membuang-buang waktu lagi, Dhananjaya,” kata Krishna kepada Arjuna. “Panahlah dia! Bunuhlah manusia jahat itu!”

Mula-mula Arjuna ragu, tangannya gemetar. Tetapi setelah mendengar kata-kata Krishna, Arjuna mengirimkan panah, yang bernama Vajr, senjata Indra. Senjata itu memotong kepala Karna. Kepala Karna berguling-guling di tanah. Seberkas cahaya meninggalkan tubuh Karna menuju ke langit.

Karna sudah mati dan sekarang tidak ada yang tersisa untuk Duryodana. Matahari tenggelam seolah meratapi kematian anaknya. Sinar matahari telah kehilangan hati mereka. Sinar telah menjadi lembut seperti itu dari sinar bulan.

Sesungguhnya, menurut aturan perang, siapa pun tidak dibenarkan menyerang atau membunuh musuh yang tidak berdaya, luka parah, atau berada dalam posisi tak bisa melawan atau mempertahankan diri. Jika itu dilakukan, artinya orang itu melanggar dharma! Tetapi di padang Kurukshetra waktu itu, aturan perang sudah tidak diindahkan, bahkan dilanggar. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan menjalankan dharma-nya sebagai kesatria jika saudara dan kerabat saling membunuh? Bukankah peperangan sebenarnya adalah adharma atau kejahatan? 
Salya merasa kecewa dan dia pergi menghadap Duryodana. Raja tenggelam dalam keputusasaan. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia tidak bisa berbicara. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Karna sudah meninggal. Melihat Salya, busur dan kereta Karna, Duryodana pun semakin terpuruk.
Salya merasa sangat sulit untuk menghibur raja. Dia sendiri sangat terguncang. Aswatama dan lain-lain datang untuk menghibur Duryodana, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. 

Di pihak Pandawa, Kresna dan Arjuna pergi menemui Yudistira dan memberi mereka kabar baik yang telah ditunggu oleh Yudistira dengan penuh harap. Yudistira pun segera berangkat ke lapangan untuk meliha jasad Karna. Dilihatnya tubuh Karna yang bersinar dan juga ketiga anaknya.
Pada tengah malam Duryodana pergi ke kakeknya dan menangis di kakinya. Bisma menyentuh kepala Duryodana dengan lembut dan berkata "Mengapa engkau menangis anakku? Apa yang membuat kamu begitu bersedih?" Duryodana menceritakan kepadanya tentang kematian Karna. Bisma berkata, "Jangan bersedih, Radheya ingin mati sebagai Ksatria. Dia adalah seorang Ksatria dan dia meninggal sebagai Ksatria.
Duryodana terkejut, Ia bertanya kepada kakeknya apa yang dimaksud dengan kata-katanya.
Dia berkata, "Aku selalu percaya bahwa Karna yang ksatria, tindakan-tindakannya seperti ksatria semua. Tapi karena Anda mengatakan, bahwa ia Ksatria.. Saya meminta Anda untuk memberitahu saya tentang hal itu."

Bisma berkata, "Hanya jika kau berjanji padaku bahwa rahasia ini tidak akan pernah diberitahu olehmu kepada siapa pun, hanya kemudian saya dapat memberitahu Anda ini. Radheya menginginkannya seperti itu. Saya telah memberikan janji kepadanya bahwa saya akan menceritakan tentang rahasia kelahirannya padamu, hanya setelah kematiannya dan itu juga dengan syarat bahwa kau tidak menceritakannya kepada siapa pun yang lain. "
Duryodana berkata, "Jika Karna ingin dengan cara itu, saya harus menghormati keinginan teman saya, saya tidak akan memberitahu rahasia ini kepada siapa pun."
Bisma kemudian berkata "Radheya adalah Kaunteya. Dia adalah Pandawa.."
Selanjutnya Bisma menceritakan seluruh kisah tragis kehidupan Karna. Dari kelahirannya hingga pertemuannya dengan kunti sebelum perang.

Duryodana berusaha menyerap sejauh mana keagungan sahabatnya dan pengabdiannya yang begitu hebat kepadanya. Dia menangis bahwa mengapa dia tidak terbunuh sebagai pengganti Karna. Ia menjadi kehilangan akal karena kesedihan.

Akhirnya Bisma menghiburnya. Tapi Duryodana telah kehilangan kemauannya untuk hidup. Dia ingin mati saja.
Dia berjalan kembali ke markasnya. Dia berpikir tentang kehebatan seorang yang bernama Karna. Karna mengetahui bahwa dia adalah Pandawa yang tertua, namun ia tidak pergi bergabung dengan saudara-saudaranya. Dia memilih untuk tetap dengan Duryodana temannya. Dia menyerahkan hidupnya demi persahabatan saat berperang melawan saudaranya sendiri. Hujan airmata dari matanya tak terbendung juga.
SENJATA SAKTI TOKOH PEWAYANG

Pusaka adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda yang dianggap sakti atau keramat. Biasanya benda benda yang dianggap keramat disini umumnya adalah benda warisan yang secara turun-temurun diwariskan oleh nenek moyangnya, seperti misalnya dalam lingkungan keraton. Dalam kisah pewayang banyak sekali senjata pusaka yang tak kalah saktinya dengan senjata modern jaman sekarang.





Senjata Pancanaka berupa Kuku jempol tangan yang berwarna hitam, melengkung panjang ke bawah serta sangat tajam. Diceritakan tajamnya tujuh kali tajam pisau cukur. Pada babat hutan amarta, bima menggunakan kuku pancanaka untuk menebang pohon-pohon besar, dan pada perang Barathayuda, Bima menggunakan pancanaka untuk memotong leher dursasana,

Tak mudah mendapatkan Pusaka ini, Bima harus bersemadhi di gua gunung meheru selama berbulan-bulan, dan pada awalnya dewa pemilik kuku tak mau memberikannya pada Bima. Oleh karena itu, Batara Guru memberikan 2 kukupancanaka buatannya, agar Bima tak mengamuk dan memporakporandakan Bumi.

2. PANAH PASOPATI

Pasopati : PASO artinya Tepat. PATI artinya Mati. Jadi panah pasopati jika mengenai musuh atau lawan yang berupa Raksasa, Kesatria ataupun Saudara, Pastilah lawan tersebut menemui ajalnya
Panah Pasopati diberikan oleh batara guru, saat arjuna melakukan tapa pada lakon arjunawiwaha. panah tersebut digunakan arjuna untuk membunuh raja raksasa yaitu Niwatacaraka yang ingin mempersunting Dewi Supraba, selain itu digunakan untuk membunuh jayadarta dan Adipati Karna.

3. BUSUR GANDIWA


Arjuna menerima Gandiwa dari Waruna atas rekomendasi dari Agni. Waruna juga memberikan Arjuna, dua Kantong Panah yang tak pernah habis, sebuah kereta yang dibuat oleh Wiswakarma yang memiliki bendera Hanuman, dan tunggangan empat Kuda putih yang lahir di wilayah Gandharwa.
Gandiwa dikatakan menanggung beban yang berat, dan memiliki panjang ‘tãlamãtra’. Interpretasi Tãlamãtra bervariasi (pohon palem, sepanjang lengan, empat sampai enam hasta, dll)
Arjuna sudah bersumpah untuk memotong kepala siapa pun yang memintanya untuk memberikan busurnya.

4. KONTA WIJAYA





Senjata Konta Jaya adalah milik Adipati Karna. Senjata Konta adalah pemberian dari Dewa Indra. Konta Jaya adalah senjata yang sangat Ampuh Namun hanya dapat digunakan Satu Kali saja. Pada Mulanya Senjata ini digunakan untuk membunuh Arjuna, tapi naasnya senjata ini terpaksa Digunakan untuk membunuh GATOT KACA.
Dalam Versi Mahabharata mengisahkan, Gatotkaca sebagai seorang raksasa memiliki kekuatan luar biasa terutama pada malam hari. Setelah kematian Jayadrata di tangan Arjuna, pertempuran seharusnya dihentikan untuk sementara karena senja telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang pasukan Korawa kembali ke perkemahan mereka. Pertempuran pun berlanjut. Semakin malam kesaktian Gatotkaca semakin meningkat. Prajurit Korawa semakin berkurang jumlahnya karena banyak yang mati di tangannya. Seorang sekutu Korawa dari bangsa rakshasa bernama Alambusa maju menghadapinya. Gatotkaca menghajarnya dengan kejam karena Alambusa telah membunuh sepupunya, yaitu Irawan putra Arjuna pada pertempuran hari kedelapan. Tubuh Alambusa ditangkap dan dibawa terbang tinggi, kemudian dibanting ke tanah sampai hancur berantakan. Duryodana pemimpin Korawa merasa ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia memaksa Karna menggunakan senjata pusaka Indrastra pemberian Dewa Indra yang bernama Vasavishakti alias Konta untuk membunuh rakshasa itu. Semula Karna menolak karena pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja dan akan dipergunakannya untuk membunuh Arjuna. Namun karena terus didesak, Karna terpaksa melemparkan pusakanya menembus dada Gatotkaca. Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca masih sempat berpikir bagaimana caranya untuk membunuh prajurit Kurawa dalam jumlah besar. Maka Gatotkaca pun memperbesar ukuran tubuhnya sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa. Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya Gatotkaca. Dalam barisan Pandawa hanya Kresna yang tersenyum melihat kematian Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah kehilangan pusaka andalannya sehingga nyawa Arjuna dapat dikatakan relatif aman.

5. JAMUS KALIMASADA




Serat Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.
Salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan tentang asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa. Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Resi Satrukem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara.

Dengan menggunakan kesaktiannya, Satrukem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga. Satrukem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun- temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wyasa atau Abyasa. Ketika kelima cucu Abyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana. Di antara pusaka-pusaka Kerajaan Amarta, Jamus Kalimasada menempati peringkat utama. Kisah-kisah pedalangan banyak yang bercerita tentang upaya musuh-musuh Pandawa untuk mencuri Kalimasada. Meskipun demikian pusaka keramat tersebut senantiasa kembali dapat direbut oleh Yudistira dan keempat adiknya.

Lengkapnya Cakra Sudarsana, atau Cakra Baskara adalah senjata andalan Batara Wisnu. Senjata itu juga dimiliki para titisannya, termasuk Prabu Kresna, raja Dwarawati. Sebagai senjata milik dewa, Cakra bukan hanya ampuh, tetapi juga mempunyai bermacam kegunaanyya. Kebanyakan makhluk di dunia ini tidak ada yang sanggup mengelak dan menangkal dari serangan senjata Cakra kecuali tokoh tertentu yang berpihak pada kebajikan.

Dalam pewayangan senjata Cakra digambarkan berbentuk roda dengan gigi-gigi yang menyerupai mata tombak. Pada Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang, senjata Cakra dirupakan sebagai mata panah (nyenyep, Bhs. Jawa), sedangkan dalam penggambarannya di beberapa dinding candi serta di komik-komik yang diterbitkan di Jawa Barat, Cakra dilukiskan berbentuk semacam cakram yang tepinya bergerigi.
Dalam pewayangan gagrak Jawa Timur diceritakan, senjata Cakra Baskara tercipta dalam lakon Wisnusraya. Suatu ketika, Prabu Mangliawan dari Kerajaan Selagringging menyerbu kahyangan, karena pinangannya terhadap Dewi Sri Pujayanti ditolak. Bala tentara dewa kewalahan menghadapinya. Sang Hyang Narada menugasi Batara Wisnu untuk menghadapi Prabu Mangliawan.

Sebelum berangkat ke medan laga Batara Wisnu menyuruh istrinya memohon restu pada batara Guru.
Namun pemuka dewa itu tidak berkenan karena ia masih sakit hati pada Wisnu dan Dewi Sri, karena mereka kimpoi, padahal Batara Guru juga berminat memperistri Dewi Sri. Batara Guru bahkan membuang ludah dahaknya sehingga menodai kain yang dikenakan Dewi Sri.

Dewi Sri kemudian melaporkan segala kejadian itu pada suaminya. Oleh Wisnu dahak Batara Guru yang menempel di kain istrinya dipuja menjadi sebuah senjata sakti berbentuk bulat, dengan delapan runcingan di sekeliling sisinya. Senjata itu dinamakan Cakra Baskara atau Riak Kumala.

Menurut versi yang ini, kisah terjadinya senjata Cakra dimulai dari niat Batara Guru untuk berolah asmara dengan Dewi Sri Widawati. Sang Dewi menolak dan memohon perlindungan Batara Wisnu. Ketika batara Wisnu hendak menyadarkan Batara Guru bahwa perbuatannya tidak pantas, pemuka dewa itu malah marah, lalu melakukan tiwikrama. Keempat tangannya menjadi besar dan panjang hendak mencengkeram Wisnu.

Karena takut sekaligus marah, Batara Wisnu melakukan tiwikrama, berubah ujud menjadi Kalamercu. Batara Guru kewalahan dan menghentikan serangannya, tetapi rasa kesalnya belum reda. Batara Wisnu diludahi . Kemudian bersama Batari Sri Widawati dan Batara Basuki, Wishnu diusir dari kahyangan. Sebelum meninggalkan kahyangan, Batara Wisnu memuja ludah Batara Guru menjadi senjata Cakra.

Mulai saat itulah mereka menitis pada manusia yang dipilihnya.
Pertama kali senjata Cakra digunakan oleh batara Wisnu memenggal leher Rembuculung atau Kala Rudra. Sewaktu mendapat laporan dari Batara Candra bahwa Rembuculung mencuri air kehidupan Tirta Amerta. Batara Wisnu segera memburunya. Dengan Senjata Cakra, dewa Pemelihara Alam itu memenggal leher Rembuculung hingga putus. Namun, karena raksasa gandarwa itu sempat meneguk Tirta Amerta. Sebelum sempat tertalan, kepala Rembuculung tidak mati, sedangkan badannya menjadi lesung.
Kala Cakra dalam bahasa Sansekerta mengandung arti bulatan atau lingkaran, piringan, roda atau sejenis dengan itu.
7. PANAH NAGAPASA







Panah Nagapasa adalah panah milik Indrajit a.k.a Anak Rahwana. Panah ini apabila dilepaskan dari busurnya maka akan mengeluarkan Ribuan Naga yang siap mencabik-cabik raga musuh si indrajit.

8. GADA RUJAKPALA



Gada Rujapala adalah Senjata Bima yang ia gunakan untuk membunuh Duryudana pada hari Terakhir , perang barathayuda. Pertarungan berlangsung dengan sengit dan lama, sampai akhirnya Kresna mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha Duryodana. Seketika Bima mengayunkan gadanya ke arah paha Duryodana. Setelah pahanya diremukkan, Duryodana jatuh ke tanah, dan beberapa lama kemudian ia mati. Baladewa marah hingga ingin membunuh Bima, namun ditenangkan Kresna karena Bima hanya ingin menjalankan sumpahnya.

9. BRAHMASASTRA (Panah Nuklir)



Brahmastra, senjata dari Dewa Brahma. Merupakan senjata yang sangat kejam dan berbahaya, beberapa ilmuwan terpercaya dimasa kini meyakini senjata ini memiliki daya hancur yang setara dengan bom atom, bahkan dikatakan dapat menghancurkan bumi. Senjata ini juga dapat menghalau hampir semua senjata dewa lainnya.

Brahmastra merupakan senjata yang berbentuk anak panah, dan tidak akan pernah meleset dari sasarannya, baik individual ataupun kelompok. Brahmastra diperoleh dari hasil meditasi kepada Dewa Brahma, dan hanya dapat digunakan sekali dalam seumur hidup. Brahmastra diaktifkan dengan membacakan mantra yang diberikan kepada pengguna senjata saat memperoleh senjata ini. Rama menggunakan senjata ini untuk membunuh Rahwana, sedang Arjuna dan Ashwatthama hampir saja menghancurkan bumi karena hendak mengadu sesama senjata ini.

10. BRAHMASTRANADA

Brahmananda, merupakan jenis senjata yang paling mematikan didunia. Senjata ini adalah gabungan dari tenaga spritual 7 dewa tersakti didalam kebudayaan Hindu.
Brahmananda adalah senjata Dewa Brhama yang paling mematikan.
Tidak ada senjata lain di dunia yang bisa menyaingi kesaktian daripadaBrahmananda , bahkan Brahmastra,Pashupatastra,Brahmasira, Amoghashakti,Vajra, Narayanastra, Vaishnavastra ataupun Sudarshana Chakra tidak dapat menahannya.

11. KASUTPADA KACARMA




Kasutpada Kacarma adalah sepatu yang terbuat dari kulit naga Sang Hyang Hanantakusuma, dewa penjaga Bumi yang bebentuk naga. Kulit naga itu mempunyai kekuatan gaib yang menyebabkan pemakainya tidak mempan sihir dan ilmu hitam. Siapa yang memakainya bebas terbang tanpa di deteksi jebakan mantram sakti musuh. Mantram sakti itu semacam ranjau pelumpuh yang mungkin untuk zaman sekarang serupa dengan radar musuh. Dengan sepatunya itu Gatotkaca bebas melintas di atas daerah yang angker dan berbahaya.
12. NENGGALA



Nenggala adalah nama senjata pusaka asuhan Baladewa, ksatria tertangguh yang mewarisi kekuatan dewa dewa seluruh angkasa. Nenggala dikisahkan mampu melelehkan gunung, membelah lautan, dan mengakhiri nasib matahari hanya dalam sekali tebas. Semua orang banyak tahu tentang Nenggala, bahkan jauh lebih dikenal daripada Sang Baladewa sendiri. Padahal, tak seorangpun pernah menyaksikan wujud Sang Pusaka Nenggala itu. Karena begitu dahsyatnya Nenggala,maka pusaka yang satu ini tak boleh banyak diperlihatkan. Pada suatu senja,Baladewa keluar menenteng Nenggala dan memperlihatkannya kepada dunia. Maka sontak ribuan dewa berkuda awan turun dan menghadang langkah Baladewa, lantas berseru: “Hai Baladewa,jangan kau bawa bawa pusaka itu keluar padepokanmu sembarangan. Simpan sampai nanti Perang Bratayudha pecah.”







Adipati Karno Gugur
28 Desember 2019   5:35 |

Oleh Deni Hidayat
Arjuna dan Karno ibaratnya seperti saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak, tetapi wajah keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Adipati Karno kala itu.
Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Adipati karno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Adipati Karno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini.
Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan.
Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.
Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.
Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa.
Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati.
Adikku, Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang.
Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”
Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna.
Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.
Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya.
Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan.Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tidak tergores sedikitpun.
Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak mempan, maka disiapkannya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang, Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.
Di sisi lain, Kresna tahu kesaktian pusaka itu dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktiannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset tak menerjang leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya. Arjuna malu karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya, maka dengan sigap Kresna, menyambung rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong Arjuna dengan yang lebih bagus.
”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adipati Karno menyelesaikan darma baktinya. Siapkanlah anak panah Pasopati dengan busurnya. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Adipati Karno menuju kebahagiaan sejatinya”
Arjuna menyiapkan Panah Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tak ada yang meragukannya. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, sangat akurat dalam mengenai bidikannya.
Sekarang anak panah Pasopati telah siap di busurnya. dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, terikut serta dalam keraguan dan kegamangan, terbayang masih teringat, kakak sedarah dan asalnya yang sama, saudara yang dia cintainya. Tetapi dengan kematanganya sebagai seorang Satriya, Tugas amanah adalah janji yang harus dilaksanakan, mengikuti jalannya menyambut takdir yang sudah ditakdirkan, lalu di bidikkannya dan dilepaskan anak panah Pasopati, mengarah kepada leher Adipati Karno. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.

Adipati Karna

Konsistensi Panglima Perang Hastina

Oleh  Deni Hidayat


Wonten malih, kinarya palupi, Basukarna  narpati   Ngawangga,
lan Pandhawa tur kadange, len yayah tunggil ibu, suwita  mring
Sri Kurupati, aneng nagri Ngastina kinarya gul-agul,   manggala
Golonganing prang, Bharatayuda ingadeken senopati, ngalaga ing Kurawa


Tembang Dhandhanggula di atas mengingatkan kita pada karya Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama yang sampai saat ini masih tetap melegenda dalam konsepsi  budaya Jawa. Serat Tripama merupakan tulisan yang menampilkan tiga tokoh wayang  yang patut dan dianjurkan untuk dijadikan teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri  dalam bidang keparajuritan dan   kewiraan. Tokoh wayang tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Basukarna dari Hastina.
Adapun tembang Dhandhanggula di atas bila diterjemahkan bebas kurang lebih sebagai berikut : “Ada lagi teladan yang pantas dicontoh. Basukarna seorang raja dari Ngawangga, dengan Pandawa yang masih bersaudara, lain ayah tetapi sekandung (sama ibu), yang dengan setia mengabdi  kepada Prabu Kurupati dari negeri Hastina sebagai benteng, panglima perang, dalam perang Bharatayuda menjadi Panglima Perang untuk membela Kurawa”.
            Menelusuri tokoh wayang yang satu ini memang sangat menarik. Basukarna atau nama kecilnya Karna dilahirkan ke mayapada, akibat kesalahan Dewi Kunti. Putri Mandura itu bermain-main dengan mantra Druwasa. Ia ingin bertatap muka dengan Batara Surya yang cakap dan tampan. Dari perbuatannya yang kurang hati-hati itu, akhirnya beberapa bulan ia mengandung. Alangkah aib peristiwa itu. Beruntung, Resi Druwasa berkenan untuk menolong. Sang bayi dilahirkan lewat telinga. Itulah sebabnya, dia dinamakan Karna yang berarti telinga. Lengkapnya Basukarna, karena sesungguhnya, ia putra seorang basu. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai putra Resi Druwasa, karena dialah penyebabnya. Disebut pula dengan nama Suryaputra, karena putra Dewa Surya, sang penguasa matahari.
Demi menjaga nama keluarga dan kehormatan negeri Mandura, Karna harus dibuang. Sebelum dibuang dengan air mata bercucuran layaknya seorang ibu Dewi Kunti mendekap bayi itu erat-erat sembari menciuminya dengan penuh kasih sayang. Diam-diam ia menyematkan kalung berliontin  separuh pada lehernya. Yang separuhnya disimpannya. Siapa tahu, Karna dapat diketemukan kembali di kemudian hari. Sedangkan liontin yang terbagi dua dengan diukir setengah namanya pula, akan menjadi tanda bukti yang tak terbantahkan lagi. Dengan hati-hati, anak itu dimasukkan ke dalam kotak. Sepintas ketika mengamati untuk terakhir kalinya, Kunti melihat anak itu ternyata beranting-anting dan dadanya mengenakan perisai yang bersembunyi dibalik kulit dagingnya.




                                           Adipati Karna naik Kereta Jathisura dalam perang
                                                Bharatayuda    (Foto:Koleksi Pribadi)

            Kotak itu membawa Karna  terapung-apung di atas sungai Gangga.Adirata yang sedang mencari ikan menemukannya dan dengan girang anak itu dipelihara layaknya anak sendiri, karena sudah sekian lama berkeluarga ia belum dikaruniai momongan. Adirata adalah seorang sais istana Hastina. Dengan penuh kasih sayang, ia membesarkan Basukarna. Dan Basukarna tumbuh menjadi seorang pemuda yang cekatan dan berotak cerdas. Ia tidak hanya pandai menyerap semua ajaran ayah angkatnya sebagai sais kereta, tetapi ia juga mengenal ilmu bintang. Dengan mudah ia menguasai  dan menaklukkan kuda betapa binalpun. Bahkan harimau yang masih ganas tunduk pada perintah-perintahnya.



         
                                                  Adipati Karna menerima Panah Kuntawijayandanu
                                                               (Foto: Koleksi Pribadi)
             Pada suatu hari ia ikut Adirata ke istana. Ia tertarik kepada para Kurawa dan Pandawa yang sedang belajar ilmu perang. Dengan penuh perhatian ia mengamati mereka. Tampak di hadapannya, ia melihat kesalahan dan kecanggungan Kurawa  melakukan petunjuk Resi Druna dan ajaran Resi Krepa. Sebaliknya, ia kagum menyaksikan ketangkasan dan kecerdasan Pandawa berolah berbagai senjata. Timbullah suatu kegelisahan di dalam hatinya.
 “ Dapatkah aku ikut berlatih bersama mereka ayah ?” tanya Karna.
 “ Oh tidak, anakku,” jawab Adirata.
 “ Mengapa ayah ?” kejar anak angkatnya itu
Dengan terbata-bata sang ayah menjawab,”Karena engkau hanya anak seorang sais kereta kerajaan.”
Pedih dan pahit benar bunyi jawaban itu. Tetapi ayah angkatnya menjawab dengan jujur. Menghadapi kenyataan itu, terjadilah suatu pemberontakan dalam  hatinya. Kenapa ia dilahirkan sebagai anak seorang kusir ?
Jiwa yang berontak itu melebihi perasaan rendah diri. Ia tak mau kalah, karena merasa lebih mampu daripada ketangkasan Pandawa. Mulailah ia mencari akal. Diam-diam ia selalu  hadir untuk mengintip semua ajaran Resi Druna dan Resi Krepa ketika memberi pelajaran kepada keturunan darah Bharata itu. Sesampainya di rumah, ia berlatih dengan tekun. Tujuannya, ia ingin mempunyai kepandaian sejajar dengan mereka. Dengan didukung kemauan kuat, kekerasan hati dan ketekunannya, jadilah ia berhasil mengatasi perasaan rendah diri. Semua pelajaran Resi Druna dan Krepa dapat dikuasai dalam waktu relatif singkat. Kemudia ia menjelma menjadi seorang pemuda yang berhak mengangkat diri di tengah pergaulan masyarakatnya.  Hal itu terjadi tak lama kemudian.
Pada suatu hari, penduduk berbondong-bondong memenuhi arena laga putra-putra Raja Hastina. Kurawa dan Pandawa hendak mempertontonkan ketangkasannya berolah senjata yang diajarkan Resi Druna dan Krepa. Ketika pertandingan dimulai, segala macam keahlian dipertunjukkan. Kurawa merasa gelisah, resah, cemburu, iri, mendongkol, dan dendam karena menyaksikan  betapa Pandawa jauh lebih tangkas dan  mahir daripada kelompok mereka. Apalagi Arjuna. Ksatria berwajah tampan ini, kelihatan paling menonjol. Segala macam senjata dikuasainya dengan sempurna. Bidikan anak panahnya tak pernah meleset dari sasaran. Bahkan mampu menembus sasaran berlapis tujuh sekali bidik. Semua penonton berdiri mengelu-elukan dan menyanjungnya tiada henti.
Dalam kegemparan yang diliputi tarik ulur tersebut, tiba-tiba semua hadirin dikejutkan oleh suara lantang yang bergema laksana halilintar menyambar. Ternyata ada seorang penonton yang masih muda belia telah meloncat masuk gelanggang. Itulah Basukarna yang sudah tak kuasa menahan diri melihat kesuksesan Arjuna dan  menyaksikan Kurawa junjungannya selalu mendapat kekalahan,  hatinya berontak.
Tanpa pikir panjang, ia kemudian memperlihatkan semua apa yang dilakukan oleh Arjuna dengan sangat sempurna. Penonton pun dibuat kagum dibuatnya termasuk para ketua Hastina. Sedangkan Kunti yang berada di atas panggung sudah berdebar-debar hatinya. Kemiripan wajah Basukarna dengan Arjuna tak lepas dari perhatiannya. Dan setelah melihat dengan jelas pemuda itu memakai anting-anting bergambar matahari bercahaya, persis dengan kalung yang ia pakai sendiri. Kunti tak ragu-ragu lagi, itulah Suryaputra putra pertamanya. Bahkan ketika Arjuna dan Karna siap berlaga dilindungi simbol-simbol kekuatan Batara Surya dan Batara Indra yakni matahari dan guntur saling berkejaran, seketika itu mata Dewi Kunti menjadi berkunang-kunang.
Dalam keadaan kalut Resi Krepa melerai mereka, dan menegur Karna yang tak pantas masuk ke gelanggang karena bukan dari golongan ksatria. Seketika itu dada Basukarna seperti terbelah, karena menahan kepedihan yang tak terkira. Beruntung Duryudana tanggap, saat itu juga derajat Basukarna diangkat menjadi Adipati di Awangga. Kedudukannya sejajar dengan golongan ksatria. Kata-kata Duryudana inilah yang menyebabkan Basukarna setia kepadanya. Sebab kata-kata itu sendiri berarti memberinya hak hidup.  Sekaligus ia terangkat dari lembah hina sebagai seorang yang mulia. Kemuliaan sekaligus kehormatan itu pantas ditebus dengan taruhan jiwa dan raga.





 Tari Wayang sendiri merupakan salah satu tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Barat sendiri. Dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian ini mempunyai beberapa gerakan dan juga hal yang sangat menarik untuk disaksikan oleh berbagai orang yang ada pada daerah itu sendiri maupun orang lain yang datang berkunjung ke daerah tersebut hanya untuk sekedar melihat tarian tersebut sendiri. Tarian ini sendiri pun pada dasarnya sangat kental dengan berbagai adat yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, hal ini sendiri disebabkan oleh masih banyak warga masyarakat umum Jawa Barat yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual-ritual dengan menggunakan beberapa tarian yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, sehingga beberapa tari yang ada di sini sangat-sangat identik dengan semua hal tersebut.
 Tarian yang ada di daerah Jawa Barat ini sendiri tentu saja memiliki beberapa hal yang terkadang menyimpan sebuah misteri yang terkadang tidak kita ketahui. Hal ini sendiri dapat berupa asal usul dari tarian itu sendiri yang terkadang bisa kita ketahui bahwa sangat berhubungan sekali dengan kekuatan mistis ataupun terkadang hanya dari beberapa sejarah yang telah ada pada daerah tersebut. Pada dasarnya sendiri tarian yang ada di Jawa Barat ini tentu saja biasanya menjadi salah satu hiburan yang bisa dinikmati oleh para masyarakat umum yang ada disana, dan terkadang pun sering dipakai pada saat penyambutan beberapa tamu agung yang datang ke provinsi Jawa Barat tersebut. Tarian pada daerah ini sendiri tentu saja memiliki beberapa makna yang sudah tidak asing lagi pada masyarakat umum yang ada di kota ini, sehingga mereka pun lebih mengenal bagaimana cara menggunakan tarian tersebut dalam berbagai event yang ada, baik event yang berupa adat ataupun acara umum seperti pesta perkawinan. Karena seperti yang kita tahu dua hal tersebut merupakan hal yang sangat berbeda dan oleh sebab itu maka tarian dari beberapa hal itu tentu saja sangat-sangat berbeda sehingga dapat menciptakan gerakan-gerakan dan juga mempunyai makna dan juga arti yang berbeda dari
semuanya itu.Tarian dari Jawa Barat ini sendiri terdiri dari Tari Topeng, Tari Jaipong, Tari Kursus, Tari Wayang, dan Tari Merak. Untuk khusus tari topeng sendiri mempunyai berbagai macam tarian topeng dengan beberapa jenis yang lainnya, pada hal ini sendiri tarian topeng tersebut sangat berbeda, dimana pada beberapa jenis yang ada, tarian tersebut dibuat berdasarkan arti yang berbeda sama sekali dengan berbagai tarian yang telah ada pada tarian topeng pada umumnya sendiri.Tari Wayang merupakan salah satu tarian yang berasal dari Jawa Barat sendiri, dimana tarian ini sendiri merupakan tarian yang dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 pada saat itu oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya. Tari Wayang ini sendiri memiliki tingkatan ataupun beberapa jenis karakter yang berbeda misalnya saja pada karakter pria dan juga wanita yang memiliki perbedaan. Karakter Tari wanita sendiri terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta juga Ladak untuk tokoh Srikandi.
sedangkan karakter tari pria terdiri dari :
  • Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu.
  • Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa
  • Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, adipati Karna dan sebagainya
  • Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima
  • Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca
  • Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.
Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu
Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan
Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu:
  1. Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya
  2. Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti:
Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,
Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,
Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Gatotkaca, wataknya keras
Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro
Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri
Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:
  1. Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,
  2. Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,
  3. Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal
Pengertian Wayang Secara Filosofis Wayang merupakan bayangan, gambaran atau lukisan mengenai kehidupan alam semesta. Di dalam wayang digambarkan bukan hanya mengenai manusia, namun kehidupan manusia dalam kaitannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan. Alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi, tidak lepas satu dengan yang lain dan senantiasa berhubungan. Unsur yang satu dengan yang lain di dalam alam semesta berusaha keras ke arah keseimbangan. Kalau salah satu goncang maka goncanglah keseluruhan alam sebagai suatu keutuhan (system kesejagadan)
Fungsi Wayang
Wayang sebagai penggambaran alam pikiran Orang yang dualistik Ada dua hal, pihak atau kelompok yang saling bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin, serta halus dan kasar Keduanya bersatu dalam diri manusia untuk mendapat keseimbangan Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat humor Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan


Kandungan Dalam Wayang
  1. Wayang Bersifat “Momot Kamot”. Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan dapat termuat di dalam wayang.
  2. Wayang Mengandung Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan. Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
  3. Wayang Merupakan Teater Total. Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai pertunjukan teater total, artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam pendraman




Wayang Gong adalah seni pertunjukan sejenis wayang orang. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari pakem Ramayana versi Banjar. Wayang ini dimainkan dengan pengolahan vokal pemain dan ditambah basik tari dalam lakon yang terdiri dari beberapa tilisasi. Tak hanya itu, pemain diiringi musik gamelan, elemen dramatik dan kating tari yang diiringi bunyi tambahan seperti ketopong yang membuatnya makin khas. Para pemain dirias sebagaimana layaknya tokoh yang ada di dalam kisah Ramayana. 

Menurut pakar Wayang Gong Banjar, Zulfansyah Bondan, kesenian ini di era 1960-1970an mendapat respon yang bagus dari generasi muda saat itu, namun dalam tiga dasawarsa terakhir yakni sekitar tahun 2000an kesenian ini mengalami kemunduran dan nyaris punah. Nyaris punah? Ya, dikatakan nyaris punah karena kesenian ini sudah jarang dimainkan. Salah satu kesenian tertua di Kalimantan Selatan ini kini hanya menunggu kepunahannya saja karena kelompok-kelompok yang memainkan kesenian ini sudah tak banyak lagi.


Dulu, kesenian ini sering dimainkan saat acara adat dan seni pertunjukan sosial kemasyarakatan seperti Mawlid Nabi, saprah amal, hajatan hingga nazar pasca panen padi. 

Namun sekarang sudah jarang dimainkan. 

Beruntung masih ada salah satu sanggar seni yang masih eksis memainkan kesenian ini walaupun insidential. Sanggar seni Kencana Ungu yang berada di Cirebon, yang di pimpin Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma lah yang membuat kesenian ini masih bertahan, walaupun dalam kondisi yang tak memungkinkan.

Dulu wayang gong dimainkan semalaman suntuk, sama halnya dengan wayang kulit banjar. Setiap lakon atau tokoh biasanya disertai dengan menambang atau nembang yang dibawakan oleh sinden. Sekarang agar tidak ditinggal oleh para penontonnya, permainan dipersingkat hingga sekitar 3 – 4 jam saja. Pada Wayang Gong, sekitar 10 orang yang memainkan alat musik tradisional, yang terdiri dari babun, gong besar dan kecil, sarun besar dan kecil, kenong dan lima alat. Pada saat memulai pertunjukan, terlebih dahulu dilakukan mamucukani, yakni tiga dalang membuka pagelaran untuk menyampaikan cerita apa yang akan dimainkan. Layaknya seperti sinetron di televisi, dari pemain utama hingga pemain pendukung disampaikan lebih dahulu kepada penonton.

Saat ini hanya sanggar seni Kencana Ungu yang memainkan kesenian wayang gong ini, karena saat ini nyaris tidak ada lagi sanggar seni lain yang memainkan salah satu kesenian tertua ini. Kalaupun ada, hanya dilakukan dengan cara bon”. Artinya para pemain diambil dari berbagai kelompok seni daerah dengan sistem cabutan. Misalnya mengambil pemain dari kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin.

Melihat keadaan memprihatinkan seperti ini, perlu diadakan upaya untuk melestarikan kebudayaan ini.
Dalam jangka Pendek, bisa dengan melakukan pendidikan dan pelatihan sistematik generasi muda dengan narasumber tokoh yang masih ada sekarang ini. Membuat proyek pembinaan kesenian sebagai program lanjutan pendidikan serta membuat wadah khusus berupa balai seni ditiap kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan.

Dalam jangka panjang bisa dilakukan dengan cara merancang kemasan baru dalam pagelaran seni wayang gong dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara tumbuh dan berkembang berupa diklat wayang gong bagi anak-anak dan remaja.
Nah, sekarang nasib kesenian daerah ada ditangan kita para generasi muda. Apakah kesenian tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau kesenian tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya. 



Wayang gong merupakan cabang kesenian dari sejarah wayang kulit yang tidak lepas dari induknya. Menurut G.A.J. Hazeu dan J.L.A. Brandes yang meniliti kesenian wayang, di peroleh satu kesimpulan bahwa kesenian wayang di Indonesia berinduk kepada kebudayaan asli jawa, meskipun cerita yang di sadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. 

Bentuk kesenian wayang yang tertua adalah wayang purwa, dari sini kemudian dikembangkan menjadi jenis jenis wayang yang beragam. Di Kalimantan selatan seni wayang jelas menunjukan pengaruh dari kebudayaan suku Jawa. Dengan membandingkan jenis wayang kulit banjar dengan wayang kulit jawa bahkan dapat diketahui bahwa bentuk wayang, 

lakon dan kelengkapannya menunjukan bahwa ada kemiripan dengan kesenian wayang dari daerah jawa, di segi lain ukuran wayang, bahasa yang digunakan serta tata cara untuk melakukan pementasan sudah menunjukan adanya perkembangan yang khas sebagai “wayang banjar”. 

Perkembangan 
Sejarah wayang di Kalimantan selatan secara kronologis belum diketahui detailnya. Dalam “hikayat banjar” disebutkan bahwa seni wayang sudah tumbuh di Kalimantan selatan sejak hampir 6 abad silam. Maka semakin jelas bahwa wayang gong bukan pengaruh langsung dari jawa, melainkan perkembangan khas dari daerah kalimantan selatan. Menurut penuturan dari para seniman wayang gong, jenis wayang tersebut muncul setelah wayang banjar telah terlalu jauh berkembang baik ceritera maupun pementasannya. 

Kreasi yang Ditampilkan 
Wayang orang banyak melakonkan kisah kisah syair di luar pakam. Seni pentasnya juga cenderung surut. Maka wayang gong merupakan kreasi yang ingin mengangkat kembali kesenian ditengah masyarakat banjar. Kisah syair yang sering ditampilkan dalam kesenian wayang orang adalah “syair abdul muluk” dari melayu, selain itu kisah saduran “damarwulan”. 

Maka kemudian sangat dikenal dengan adanya seni abdul muluk atau “mada muluk” dan juga “badamarwulan”. Perkembangan selanjutnya, abdul muluk berkembang menjadi dua yaitu abdul muluk cabang adalah abdul muluk yang menggunakan “cabang” (kuluk atau ketopang) yang kemudian lebih dikenal sebagai “wayang gong”. 

Sedangkan yang lainnya adalah abdul muluk ceritera, yang kemudian dikenal sebagai “mamanda”. Wayang gong sendiri kemudian menurunkan kesenian “kuda gepang cerita” dan tarian kuda gepang. Sampai saat ini masih bisa disaksikan antara kesenian kesenian tersebut memiliki unsur pementasan (dalam hal kostum, baju tata rias dan gamelan) yang sama. 

Ciri dan Perkembangannya: 
Hal ini menunjukan perkembangan antara yang satu dengan yang lain sangat erat, bahkan mempunyai akar yang sama. Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri antara lain : Wayang orang mengambil kisah dari pakem mahabarata, sedangkan wayng gong selalu dari pakem ramayana. 

Watang orang tidak membedakan secara nyata tokoh peannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang gong membedakan tokohnya dengan kostum penutup kepala yang disebut dengan katopan atau cabang, atau kuluk yang masing masing menggambarkan tokoh wayang orang lebih bebas sehingga lebih dapat melakonkan kisah kisah yang diadur dari kitab kitab syair melayu banjar, 

sedangkan wayang gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem ramayana. Wayang gong pada kurung waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di kalimantan selatan. Tidak seperti kesenian wayan pada seni wayang orang, 

wayang gong lebih luas perkembangannya di kalimantan selatan. Hampir pada setiap daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh, dan berkembang pula kesenian wayang gong-nya. Akan tetapi perkembanagn terakhir wayang gong dinilai kurang menggembirakan. 

Hal ini berkaitan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian wayang gong mulai jarang dipentaskan. Kelompok kelompok ksenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Demikian ulasan singkat mengenai tari wayang gong dan penjelasannya dapat menambah wawasan anda. 

Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang Gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri, antara lain: 
Wayang orang mengambil kisah dari pakem Mahabharata, sedangkan wayang Gong selalu dari pakem Ramayana. 
Wayang orang tidak membedakan secara nyata tokoh perannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang Gong membedakan tokohnya dengan kostum tutup kepala yang disebut “katopon” atau “cabang”, atau “kuluk” yang masing-masing menggambarkan tokoh 
Wayang Orang lebih bebas sehingga dapat melakonkan kisah-kisah yang disadur dari kitab-kitab syair Melayu-Banjar, sedangkan Wayang Gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem Ramayana. 



Wayang Gong pada kurun waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di Kalimantan Selatan. Tidak seperti pada Wayang Orang, Wayang Gong lebih luas perkembangannnya di Kalimantan selatan. Hampir pada daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh dan berkembang pula wayang Gong nya. 

Akan tetapi perkembangan terakhir Wayang Gong dinilai kurang menggembirakan. Hal ini berkaitan dengan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian Wayang Gong mulai jarang dipentaskan.Kelompok-kelompok kesenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian Wayang Gong yang lengkap untuk pementasan besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Sebab-sebab dari surutnya kesenian wayang Gong antara lain, karena : 

1. Minimnya pemain yang sungguh-sungguh menekuni kesenian ini. Dengan bekal-bekal yang seadanya, seseoprang bermain Wayang Gong hanya “beramaian” atau turut meramaikan saja sehingga nilai semuanya dan kandungan filosofinya tidak diperhatikan. 

2. Adanya kebiasaan tidak baik dari sementara dalang di wilayah ini, yang tidak mau menyampaikan pengetahuannya tentang wayang kepada orang yang bukan keluarganya. 

Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates