Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Sosok dibalik penari sintren

Sintrenmerupakansalahsatuwarisansenileluhurmasyarakat Cirebon. Sang penariSintren dilakukanolehseorangperempuan.
Seorangperempuandiikatdandimasukkankedalamkurunganayam yang sudahditutupkain.Beberapasaatsetelahdibacakanmanteraoleh sang pawang, perempuantersebutberubahmenjadipenariSintren yang terkenal.
MenggunakankacamatahitamdanpakaiankhasSintren.PenariSintrendidampingibeberapa orang berpakaianadat.Bakkesurupan, lenggaklenggokpenarisintrenmenaridikawalbeberapapawangdenganwangikemenyan di sekelilingnya.
Gamelan pun ditabuhsebagaipengiringtarianSintren yang sudahdikenalmasyarakat.Sesekaliperempuantersebutterjatuhsaatpenontonmelemparuangketubuhnya.
Saatpenontonmelemparuang, parapengawaldanpawangsintrenmenahannyasaatsebelumjatuhketanah.Serayamembacakansebuahmantera, sintrenkembalimenari.
KesenianTariSintren CireboninimenjadisalahsatupelengkapdalamsuasanaliburLebaran di GuaSunyaragi Cirebon.Sultan Keraton XIV Kasepuhan Cirebon PRA AriefNatadiningratmenjelaskan, tariSintrenmerupakansalahsatuwarisanbudaya Cirebon yang masihlestari.
"Sintren kami pilihmenjadisalahsatupertunjukanseni di GuaSunyaragikarenaantusiasmemasyarakatjuga.Merekatertarikdengansintrenkarenaterjatuhsaatdilemparuang," ujar Sultan Arief, Kamis (12/9/2019).
Dahulu, TariSintrenidentikdengannuansamagis.Sebab, sejumlahatraksi yang dilakukancukupmembuatpenontontakjub.
Namunseiringberkembangnyawaktu, tarisintrendapatdipelajaridalamkeadaansadar.
Menurut Sultan Arief, tariSintrenadalahbagiandarisenitaritradisional yang memilikimaknafilosofisdalamkehidupanmasyarakat, yaknimengingatkan agar manusiatidaklupadiridalamkehidupan di dunia.
"Maknafilosofipenarijatuhkarenadilemparuangyaitumanusiasemakinbanyakuangcenderunglupadiridandari situ bisamenjadipangkalkejatuhannya," ujar dia.
KehadiranTariSintren di GuaSunyaragidiharapkanmembuatpengunjungberkesan.Selainitu, maknaTariSintren yang dipertunjukkankepadapengunjungdapattersampaikan.
MenurutAriefkeseniantakhanyamenjaditontonanmelainkansebuahtuntunandalamberkehidupanpadazamandahulu.
"Membuatpengunjungmenjadiberkesanitu yang kami inginkansehinggamerekatidakbosandatangke Cirebon," harapArief.
SelainTariSintren, situsGuaSunyaragijugamenghadirkanberbagaitariantradisional lain sepertiTopeng Cirebon. Sultan Ariefmengatakan, pertunjukansenitersebutdisuguhkanhanyasaatmomenliburLebaran.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.Kononsintrenmerupakankesenianrakyat yang di dalamnyamengandungunsurmagis.
Hal inidapatdilihatdariadeganpemanggilanrohbidadari yang dilakukanolehpawanguntukmerasukkedalamtubuhpenarisintren.SintrenadalahsebutanuntukperanutamabagipenariSintren, akhirnyasebutanitumenjadisalahsatunamajeniskesenian, yaituSintren.
MenurutMamadNurahmadselakubudayawanSintren, senitariiniterciptadarikondisimasyarakatpesisiran.Menurut Warta, selakuanggotaseniSintren, adabeberapapersepsimengenaiSintren. Sintrenberasaldari kata Sasantrian yang artinyamenirusantriketikabermainLais, Debus, Rudat yang memakai magic (ilmuGhaib).
Keseniantradisionalsemakinmemprihatinkanseiringkemajuanteknologi.Keberadaanya di tengahmasyarakatmakindilupakan.Salah satunyaadalahkeseniansintren.
Indonesia merupakannegara paling banyakmemilikikeseniantradisional.MulaidariSabanghinggaMerauke, setiapdaerahmemilikikeseniantradisional yang
berbeda-beda.
Salah satukeseniantradisional yang makindilupakansalahsatunyaadalahkeseniansintren.Sintrenmerupakankeseniantradisional yang berasaldaripesisirutarapantaiJawa Barat danJawa Tengah.Daerah persebarankesenianini di antaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, danPekalongan.
PemerhatisenibudayaErwindhomenjelaskan, keberadaankeseniansintrenhampirpunahkarenatidakadawarga yang menanggap.Jikatidakadaupayamelestarikan, menurutErwindho, keseniansintrensebagaisalahsatukekayaanbudayadankearifanlokalinitidakmenutupkemungkinanakanpunahdariperbendaharaanbudayabangsa.
salahsatuusahauntukmelestarikankeseniansintrenadalahdenganseringdigelarnyapertunjukansintren. Utamanyasaatacarasedekahbumimaupunacarapesta di suatudaerah, akanmenarikjikamenampilkankeseniansintren.
Karenanyadiasangatmendukungjika di tiap-tiapkecamatanataukelurahan, perludigelarkesenianrakyat, takterkecualikeseniansintren.Minimal pertunjukanrakyatdigelarsetiapduabulan, sehinggawarganyasalingsilaturahmi.Salingtegursapa.
Kalausetiapkecamatanataukelurahan, nantinyaada agenda pertunjukankesenianrakyatsemisalitupertunjukanwayangkulitataugolek.Ataupertunjukankesenianlain, sehinggaiklimkesenian di Kota Tegaldansekitarnyasemakindinamis.
Dalamsejarahnya yang namanyasenitradisional, selainmelekatfungsihiburanjugasebagaisaranakegiatanupacarabersama.Lebihjauh, kesenianjugadapatmenumbuhkansemangatnasionalisme.Keseniansebagaibagiandarikehidupanmasyarakat, keberadaannyaharustetapdilestarikan.
Sintrendikenaljugadengannama lain yaitulais. Keseniantradisionalsintreninisebenarnyamerupakantarianmistis, karena di dalamritualnyamulaidaripermulaanhinggaakhirpertunjukanbanyak ritual magisuntukmemanggilrohataudewa.Agar kesenianinisemakinmemilikisensasiseni yang kuatdanunik.
Asalmulamunculnyakesenianinitidakterlepasdarisebuahcerita yang melatarbelakangikesenianini.KeseniansintrentidakbisadilepaskandengankisahantaraSulasihdan R. Sulandono, seorangputrabupati di MataramJokoBahuataudikenaldengannamaBahureksodanRr. Rantamsari.
PercintaanantaraSulasihdan R. Sulandonotidakdirestuioleh orang tua R. Sulandono.Sehingga R. Sulandonodiperintahkanibundanyauntukbertapadandiberikanselembarkain (saputangan) sebagaisaranakelakuntukbertemudenganSulasihsetelahmasabertapanyaselesai.
SedangkanSulasihdiperintahkanuntukmenjadipenaripadasetiapacarabersihdesadiadakan, sebagaisyaratdapatbertemu R. Sulandono.
Tepatpadasaatbulanpurnamadiadakanupacarabersihdesa, berbagaipertunjukanrakyatdigelar, makapadasaatitulahSulasihmenarisebagaibagianpertunjukan. R. Sulandonoturundaripertapaannyasecarasembunyi-sembunyidenganmembawasaputanganpemberianibunya.
Sulasih yang menarikemudiandimasukikekuatan spirit Rr. Rantamsarisehinggamengalami “trance” dansaatitupulalah R. SulandonomelemparkansaputangannyasehinggaSulasihpingsan.
SaatSulasih trance ataukemasukanrohhalusataukesurupan yang disebut ‘Sintren’ danpadasaat R. Sulandonomelemparsaputangannyadisebutsebagai ‘balangan’. Balanganyaitupadasaatpenarisintrensedangmenarimakadariarahpenontonada yang melemparsesuatukearahpenarisintren.
Setiappenariterkenalemparanmakasintrenakanjatuhpingsan. Padasaatitulahpawangdenganmenggunakan mantra-mantra tertentukeduatanganpenarisintrendiasapidengankemenyandanditeruskannyadenganmengusapwajahpenarisintrendengantujuan agar rohbidadaridatanglagisehinggapenarisintrenitudapatmelanjutkanmenarilagi.




  1. Unsur-Unsur Pembentuk Topeng Modern Karya Anom

            Topeng merupakan salah satu peninggalan seni budaya Bali yang memiliki bentuk dan karakter yang khas. Unsur-unsur bentuk yang digunakan untuk mewujudkan seni topeng tidak berbeda dengan unsur-unsur seni rupa lainnya seperti titik, garis, bidang, warna, tekstur dan ukuran yang secara visual dapat dilihat. Melalui unsur visual ini, melalui pahatan dan sapuan kuas, seseorang dapat mewujudkan bentuk dan karakter seni topeng sesuai dengan keinginnannya. Selain itu, bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya suatu bentuk karya seni adalah pemahaman tentang ‘kerangka’ dari pengertian unsur-unsur rupa itu sendiri sehingga seorang seniman akan mampu membuat karya seni rupa menjadi lebih sempurna dan metaksu. Anom mengkombinasi titik dalam karya topengnya, merupakan keunikan dan karakter dari kreativitasnya terutama dalam memberikan ornamen untuk hiasan lainnya. Satu titik saja belum dapat berbicara mengungkapkan suatu ekspresi, namun susunan dari empat sampai lima saja mampu membentuk ragam hias seni topeng yang beraneka bentuk. Seperti misalnya dalam topeng yang berjudul ”Garam dan Merica” merupakan kumpulan titik yang disusun sedemikian rupa sebagai motif topeng untuk menghiasi bentuk topeng dengan nilai keindahan tersendiri sebagai ungkapan karya seni yang memiliki makna ganda yaitu bermakna simbolis dan bermakna estetik. Dalam seni topeng Anom, titik disini tidak saja digunakan sebagai ungkapan ekpresi semata, tetapi juga digunakan sebagai pembentuk karakter yang mempunyai kekuatan magis.
             Kehadiran garis dalam seni topeng dapat membarikan banyak arti, seperti misalnya garis sebagai pembentuk karakter topeng, garis sebagai pembentuk bidang, garis sebagai pembatas bidang, dan garis sebagai simbol. Garis dalam seni topeng modern Anom, dimanfaatkan sesuai dengan bentuk yang mengacu pada fungsi, sehingga garis ungkapannya dapat membentuk simbol, membatasi bidang, pembagi bidang dan juga dapat memberikan karakteristik karyanya. Dengan demikian ungkapan garis dalam karya-karyanya, Anom dalam hal ini dapat memberikan banyak arti baik secara kasat mata maupun secara abstrak yang membentuk keindahan sebagai ungkapan pribadinya. Garis-garis ekpresi yang ditampilkan pada topeng Anom merupakan garis-garis yang tegas. Hal ini membuktikan bahwa Anom merupakan seniman topeng yang sudah sangat berpengalaman, dan terlatih, di dalam mengekpresikan isi hatinya tanpa adanya keraguan. Di dalam mengungkapkan garis-garis baik sebagai pembentuk karater atau pun sebagai simbol, di ungkapkan melalui tehnik sigar mangsi atau dengan gradasi warna muda ke warna tua dan sebaliknya. Ungkapan garisnya terkadang juga di berikan warna keemasan (prada) yang mengalir begitu saja tanpa ada sekat pembatas sehingga ungkapan garisnya menjadi ciri khas ungkapan seniman Bali yang lembut tetapi tegas, seperti terungkap pada garis mata, lekukan pipi, guratan dahi dan garis-garis ornamen penghias topengnya. Ungkapan garis tersebut diatas merupakan olahan seni yang di landasi atas karakter topeng yang akan dibuatnya seperti misalnya garis-garis yang diungkapkan melemgkung turun dapat memberikan kesan kesedihan, tua dan ketakutan. Sedangkan garis-garis yang diungkapkan melengkung ke atas memberikan kesan kegembiraan dan tersenyum. Karakter garis seperti ini amat dikuasai oleh Anom sehingga karya-karyanya terkesan sangat realistik dan penuh dengan nilai-nilai keindahan. Ungkapan garisnya diawali dengan tehnik pahatan yang selajutnya dipertegas dengan warna, baik dalam tehnik sigar mangsi maupun dikontur sehingga garis-garisnya menjadi jelas dan tegas. Dengan demikian garis-garis yang diungkapkannya sangat ekpresif dan tegas, bertujuan pula agar terkesan lebih natural.
         Adanya unsur bidang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dalam karya rupa bidang berfungsi: (a) untuk menekankan nilai ekspresi dan nilai gerak (movement), nilai irama (rhythm) dan nilai arah (direction); (b)  untuk memberikan batas dan bentuk serta ruang seperti yang tampak pada bangunan patung dan topeng; (c) untuk memberikan kesan trimatra (tiga dimensi) yang ditimbulkan oleh batasan panjang, lebar dan tinggi. Selain itu, bidang juga memiliki sifat tersendiri seperti (a) Bidang harizontal dan vertikal yang memberikan kesan tenang, statis, stabil dan gerak; (b) Bidang bundar yang memberikan kesan kadang-kadang stabil, kadang-kadang gerak; (c) Bidang segitiga yang memberikan kesan statis maupun dinamais; (d) Bidang bergelombang (cekung dan cembung) yang memberikan kesan irama dan gerak. Bentuk bidang dalam karya rupa terdiri dari bidang negatif bidang positif. Bidang negatif adalah apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh konkritnya adalah lubang mata pada topeng. Sedangkan Bidang Positif, apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis yang banyak, contoh konkritnya adalah keras, bidang yang dibuat dari bambu yang dirajut. Dalam seni topeng modern karya Anom, bidang dimanfaatkan sebagai pembentuk karakter dan identitas topeng. Selain itu, juga bidang dimanfaatkan untuk menekankan nilai ekspresi, nilai gerak, nilai irama, dan nilai arah yang terbentuk melalui ruang negatif. Pemanfaatan ruang negatif seperti tersebut di atas juga dapat memberikan ruang gerak yang estetis sehingga kelincahan pemakainya dapat terungkap sesuai dengan keinginannya. Perwujudan Ruang semacam ini juga mempunyai fungsi untuk memudahkan si pemakai dalam berkomunikasi (bersuara) dan melihat disekitarnya disaat topeng tersebut dipergunakan.
Tekstur yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan bidang dibedakan antara tekstur alamiah (artificial textur) dan tekstur buatan (natural texstur). Tekstur alamiah adalah watak bidang yang tercipta oleh alam, seperti urat kayu atau batu. Tekstur buatan atau tiruan ialah watak bidang yang dibuat (disebut juga tekstur simulasi), untuk membuat watak bidang kayu berkesan tertentu dengan cara tehnik gambar tertentu (Kartika,2004: 226).  Dengan demikian tekstur memiliki fungsi untuk memberikan watak tertentu pada bidang permukaan yang dapat menimbulkan nilai estetik. Misalnya tekstur dari urat-urat kayu ditonjolkan pada permukaan bidang sesuai dengan bentuknya. Pembentukan tekstur bisa terjadi dari tiga proses, yaitu proses kimiawi (chemis). proses mekanik, proses alami, proses cetak (buatan tangan). Dalam seni topeng modern karya Anom, tekstur yang diungkapkan merupakan kualitas yang dapat dilihat dan diraba yang diberikan oleh permukaan topeng melalui ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian-bagian topeng tersebut. Fungsi teksturnya dapat menentukan sampai dimana permukaan topeng dapat memantulkan atau menyerap cahaya yang ada mengingat fungsi dari topeng sebagai penutup muka dalam pementasan drama tari. Namun secara umum tekstur Anom dalam karyanya lebih menekankan pada tekstur halus dan tekstur semu. Tekstur halus sebagai ungkapan untuk pencapaian keindahan yang sempurna sehingga karya-karyanya berkesan seperi dilapisi kaca namun tidak memantulkan cahaya dan berkesan doof. Sedangkan tekstur semu sebagai ungkapan untuk memberikan kesan antiques, serperti terungkap dalam karya-karyanya yang memiliki kesan kasar dan berbintik-bintik akan tetapi bila diraba berkesan sangat halus dan merata.
Masa kini, orang mempercayai warna sebagai ungkapan emosi pribadi. Namun pada zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, karena seni pada zaman Hindu - Budha  diabdikan kepada agama, dan raja. Untuk beberapa abad berikutnya para perupa mempergunakan warna dengan meniru warna alam (naturalistik) atau warna sebagai wakil dari benda yang sebenarnya. Penonjolan warna merupakan ekpresi yang kedua bagi perupa-perupa abad tersebut sehingga kurang memberikan kesan ekpresif. Sejak abad 19 para seniman menganggap warna merupakan alat ekspresi yang digunakan secara serius dan konsekuen.

     Tradisi dan modernitas tari sintren

Tahap pertama, penari Sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain biasa (pakaian sehari-hari). Tahap kedua, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana Sintren dikeluarkan. Tahap ketiga, kurungan dibuka, penari Sintren sudah berpakain biasa dalam keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan penari Sintren dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra sampai Sintren sadar kembali, pertunjukan Sintren selesai. Dahulu pertunjukan Sintren sering dilakukan oleh para juragan padi sesaat setelah panen, sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertaniannya atau pada musim kemarau untuk meminta hujan, maka dalam pertunjukannya akan dilantunkan lagu yang syairnya memohon agar diturunkan hujan. Namun kini pertunjukan Sintren sangat jarang. Penulis teringat saat kecil pada periode waktu tahun 1975-1990-an masih sering menjumpai di desa dan desa tetangga banyak dijumpai warga yang menanggap pertunjukan Sintren, kini sangat sulit menjumpainya. Pertunjukan Sintren kini dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain oleh pelaku seni Sintren. Bahkan berdasar pengetahuan penulis, saat ini hanya ada satu desa yang masih mempunyai grup kesenian Sintren yang tetap eksis yaitu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa dan Kabupaten Pemalang yaitu Paguyuban Sintren Lintang Kemukus dan Paguyuban Sintren Slamet Rahayu yang diketuai oleh Radin Anom dengan jumlah pengurus 15 orang, selain itu kesenian sintren dapat juga dijumpai di Desa Banjarmulya Kecamatan Pemalang. Sintren dalam tarikan antara tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan menggunakan teori modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasar asumsi bahwa setiap unsur budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahan yang disebaban oleh arus modernisasi. Di mana salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyaraat menuju modern adalah teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme. Teori modernisasi ini dipelopori oleh Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkhiem.8 Sintren sebagai suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas arus modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses akulturasi budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke, mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan yang mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian tradisional. Modernitas dalam bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian tradisional. Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami dan menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant. Di sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan keberadaan kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Dalam kasus ini, benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian tradisional. Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Dari fakta tersebut menjadikan kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman. Salah satu bentuk kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah kesenian tradisional Sintren. Para pekerja seni Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus berjuang melawan modernitas, sebagai kaum minoritas yang menyampaikan nilai-nilai egalitarian dalam pementasannya, mereka telah ikut andil dengan caranya dalam pelaksanaan mengisi pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial demi kelangsungan hidup para seniman Sintren tersebut. Dalam pertunjukan Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat saja. Dari luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya setempat langgeng sampai anak cucu. Dalam perspektif lain sebenarnya kehadiran Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku seni sintren maupun masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian tersebut, untuk pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan globalisasi yang secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik kesederhanaan, keikhlasan, kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata sedikit banyak mampu mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis penduduk suatu desa. Di mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala mikro melalui usaha dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak, pecel, serundeng lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu mengikuti pertunjukan keliling sintren darisatu desa ke desa lain.
Keberdayaan kesenian tari Sintren Opini masyarakat Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang mewakili berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat. Pertama, kelompok masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar keagamaan (penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi kesenian Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para seniman dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak ambil pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti. Faktor yang membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan, pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Selain itu juga tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesama anggota dan para pemerhati seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai juga ikut memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya dikelola secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun festival namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dalam pandangan masyarakat pelaku seni tradisional. menghidupkan kesenian Sintren seakan tidak lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai kearifan yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa. Jadi, mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa menari. Kini Sintren di Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan modernitas hampir menjadi sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak yang berusaha melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group Sintren yang tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet Rahayu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.

Cirebon selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman.

Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh Sunan Gunung Jati dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya.

Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang kesenian tradisional Cirebon yang hampir punah ini.

Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah.

Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa kebudayaan Cirebon dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas lebih lanjut berikut ini.

A. Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

1. Tarling

Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling) serta istilah Yen wis mlatar gage eling (Andai banyak berdosa segera bertaubat). Asal usul tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar miliknya. Mang Sakim waktu itu dikenal sebagai ahli gamelan. Usai diperbaiki, sang komisaris Belanda itu ternyata tak jua mengambil kembali gitarnya. Kesempatan itu akhirnya dipergunakan Mang Sakim untuk mempelajari nada-nada gitar, dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan.

Masyarakat pantura (Pantai utara) jawa barat diwilayah indramayu,cirebon dan wilayah sekitarnya seperti brebes dan subang pasti mengenal musik tarling.Alunan nada gitar dan sulingnya begitu akrab ditelinga masyarakat,irama musiknya yang dapat memberikan hiburan seakan mampu menghilangkan beban hidup yang menghimpit.Lirik lagu dan kisah didalamnya dapat mengajarkan pesan moral tentang kehidupan yang dibuat dalam bentuk drama atau musik.

Tarling berasal dari akronim yaitu Kitar lan Suling.Namun ada filosofi lain tentang nama tarling yaitu dalam bahasa cirebon Yen wis mlatar kudu eling (Yang sudah berbuat dosa harus ingat/bertobat).
Pada awal perkembangannya Tarling merupakan musik yang diiringi drama pendek bercerita tentang drama kehidupan seperti rumah tangga,kemiskinan,asmara,dan sosial.seperti kisah Saedah saini,Baridin,Nyupang kuntilanak dan ki mardiya yang semuanya bertemakan keadaan sosial masyarakat indramayu dan cirebon.


2. Sintren

Sintren, atau juga dikenal dengan nama Lais adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa, di bagian Barat dan Tengah. Dari Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas hingga Pekalongan.Tarian sintren merupakan sebuah seni tari tradisional dari Cirebon yang mengandung unsur magis. Nama sintren sendiri berasal dari gabungan dua kata, yakni si dan tren. Dalam bahasa Jawa kata si merupakan sebuah ungkapan panggilan yang memiliki arti ia atau dia. Sedangkan kata tren berasal dari kata tri atau putri. Sehingga sintren memiliki arti si putri atau sang penari.

Konon tarian sintren menceritakan kisah cinta Ki Joko Bahu dengan Rantamsari yang tidak disetujui oleh Sultan Agung, Raja Mataram. Ki Joko Bahu dan Rantamsari dipisahkan dan tersiar kabar bahwa Ki Joko Bahu meninggal. Namun Rantamsari tidak percaya dan mencari kekasihnya dengan menyamar sebagai penari sintren.

 3. Tari Topeng

Tari Topeng tak hanya terkenal di Jakarta saja namun juga menjadi kesenian tradisonal Cirebon. seni ini menunjukan berbagai cerita bersejarah dan penuh hikmah dalam bentuk tarian topeng.

Tari topeng berasal dari diplomasi dalam bentuk kesenian. Hal ini karena ketika pada masa Sunan Gunung Jati terjadi serangan dari Pangeran Welang dari Karawang.

Sunan Gunung Jati tidak bisa menandingi pedang Curug Sewu yang dihunus Pangeran Welang dan akhirnya Sultan Cirebon memutuskan diplomasi dengan kesenian untuk berdamai.


4. Kesenian Gambyung

Seni Gembyung adalah pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Seni ini adalah jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra.

Melalui perkembangannya Gembyung tak hanya bisa dijumpai dalam lingkungan pesantren saja melainkan sudah berkembang dan dapat ditemukan di acara-acara adat seperti Khitanan, Perkawinan, bongkar bumi, mapag sri, dan perayaan lainnya.

Kesenian Gembyung dalam pementasannya terdiri dari tiga alat musik yaitu kendang, kempling dan bangker. Kidung yang disajikan dalam pagelaranya antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar.Serta pemainnya mengenakan peci, kemeja putih dan sarung.

Kesenian seperti ini harus tetap dipertahankan karena mengandung nilai sejarah yang sangat kental, Gembyung harus tetap dijaga karena ini merupakan ciri khas dari kota yang memiliki segudang keunikan yaitu Cirebon.


B. Penyebab lunturnya budaya daerah


· Kurangnya kesadaran masyarakat

Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan ciri khas dari budaya tersebut.

· Minimnya komunikasi budaya

Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.

· Kurangnya pembelajaran budaya


C. Upaya untuk menjaga keutuhan budaya

Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman.


Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleg negara lain.Berikut beberapa hal yang dapat kita simak dalam rangka melestarikan budaya. Namun setiap usaha dan pembenahan demi kelestarian dan terjaganya budaya asli Indonesia pasti memiliki :

- Strengh (Kekuatan)

- Weakness (Kelemahan)

- Opportunity (Peluang)

- Threatment (Tantangan)



Dalam pertunjukan topeng Cirebon, Klana Udeng adalah salah satu tari yang biasanya ditampilkan pada bagian terakhir. Disebut Klana Udeng, karena salah satu bagian kostum kepalanya memakai udeng atau ikat kepala. Tarian ini muncul setelah topeng Klana selesai ditarikan. Gerakan dan musik pengiringnya berbeda dengan topeng Klana.
Dari sekian banyak gaya topeng Cirebon, Klana Udeng hanya terdapat di beberapa gaya, antara lain di daerah Pekandangan, Tambi, Indramayu, dan di daerah Cipunagara, Subang. Topeng gaya daerah lainnya, seperti Gegesik, Kalianyar, Losari, Slangit, Palimanan, dan lain-lain, tidak pernah menampilkan tari yang satu ini. Tari topeng ini menjadi sangat terkenal setelah Rasinah menarikannya di berbagai pertunjukan, baik di Indramayu, Cirebon maupun di daerah lainnya serta di luar negeri. Tarian ini kemudian malah menjadi salah satu materi ajar di beberapa sanggat tari topeng di Indramayu.
Berbeda dengan topeng Klana yang sering kita lihat, sebagian gerakan Klana Udeng ditarikan secara komikal. Gerakannya terkadang menirukan orang yang tengah mabuk bahkan melucu. Dalang topeng Carini dari Cipunagara, misalnya, menarikan topeng ini dengan penuh kelucuan. Selain menggambarkan seseorang yang tengah mabuk sebagian gerakannya juga mirip dengan gerakan orang yang kaki, tangan dan kepalanya lemas. Sebagian lagi gerakannya mirip dengan gerakan tari dalam Terbang Randu Kentir.
Penulis: Toto Amsar Suanda
meski di tengah keadaan zaman yang krisis budaya seperti ini, masih bisa kita temui salah satu sanggar budaya pelestari Tarian Topeng Mimi Rasina, Banyak yang belajar mengenal Tari Topeng mulai anak-anak sampai orang dewasa meskipun Mimi Rasinah sekarang sudah berpulang sanggar tari topeng masih tetap ramai.
“Ujian kemahiran tari topeng tahun 2018 ini persiapannya mungkin sangat singkat sekali, karena melalui persetujuan dari orang tua murid, dan kita swadaya artinya anggarannya dari orang tua murid sanggar dalam melaksanakan acara ini,” ujar Edi Supriyadi, S. Pd ketua yayasan sanggar tari topeng.
Lanjut Edi, pihaknya memang sengaja memanggil tim penilai dari Bandung untuk meningkatkan kwalitas anak beserta murid sanggar topeng Mimi Rasinah agar kwalitas penari topengnya lebih baik lagi.
Sementara Kasi Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indramayu, Asep Ruchyat Soemantri, mengatakan, jika ia sangat bangga dengan semangat anak-anak dan juga dukungan orang tua sehingga menjadi berkembang.
“Mudah-mudahan sanggar Mimi Rasinah, sanggar Mulya Bakti, sanggar cinta damai mama Dargi, sanggar carpan menjadi salah satu Destinasi Wisata Budaya” ucapnya.
Asep berharap, semoga keberadaan sanggar-sanggar seni tradisi tari topeng dan kesenian adat yang lainnya berkembang di Indramayu dan bisa terkenal, sehingga suatu saat Indramayu menjadi salah satu tujuan Destinasi Wisata Budaya di Jawa Barat.
Menurut Indra Rachmat Yusuf, murid sanggar Mimi Rasinah baru saja usai melakukan ujian kenaikan tinggat.
“Saya kira sudah layak dengan tingkat tari yang dipelajarinya dan nampaknya keluarga Mimi Rasinah berhasil membina anak-anaknya sehingga mereka mampu menari apa yang diberikan dan diajarkan,” Ucapnya.
Lanjut dia. Suatu kebanggaan bagi bangsa kita bangsa Indonesia karena salah satu kesenian tari khususnya tari topeng gaya Indramayu terus dilestarikan dan terus berkembang.
Topeng Klana Udeng. Dalam Tarian Topeng Cirebon lazim dikenal istilah Panca Wanda atau lima rupa untuk mengkategorikan karakter topengnya sebagai perwakilan watak manusia. Topeng-topeng yang dimaksud adalah Topeng Klana, Topeng Tumenggung, Topeng Rumyang, Topeng Samba, dan Topeng Panji.
Masing-masing topeng dalam Panca Wanda tidak menutup kemungkinan untuk berkembang sesuai dengan gaya tarian. Seperti diketahui Topeng Cirebon memiliki sejumlah gaya tari dari desa-desa asli yang melahirkan tari topeng atau yang menciptakan gaya baru yang secara adat diakui berbeda dengan gaya lainnya.
Di antara gaya tarian topeng, salah satunya tersebar di sekitar wilayah Indramayu. Di daerah inilah lahir varian dari salah satu topeng Panca Wanda, yakni Topeng Klana yang diberi nama Topeng Klana Udeng. Dinamakan seperti itu karena di bagian kostum hiasan kepala penarinya mengenakan udeng atau ikat kepala.
bagian tari topeng Klana adalah adanya ngarayuda(nyarayuda, sunda) atau disebut juga brimanan(baramaen, Sunda) atau ngemis, yakni meminta uang kepada penonton, pemangku hajat, pengobeng (yang bekerja di dapur hajatan), atau kepada siapa saja yang ada di sekitar tempat pertunjukan. Ngarayudayang dilakukan pada bagian topeng Klana terkait dengan makna simbolis tarian tersebut. Klana digambarkan sebagai raja sabrang (seberang) yang kaya raya, namun bertabiat rakus atau tamak. Kalaupun ia sudah punya segalanya, namun dirinya tetap saja merasa kurang. Oleh karena sebab itu, ia tidak saja meminta akan tetapi bahkan mengambil, kalaupun yang diambilnya punya orang lain dan bukan pula haknya. Oleh karena itu makna simbolis itu pula, maka ngarayuda itu dilakukan dengan cara nyadong memakai kedok Klana yang dipakai dalang atau dengan bendo. Dahulu masyarakat mengenal Klana Udeng sebuah atraksi, yang pada saat pertunjukan tari Topeng Klana, kemudian disambung dengan Klana Udeng yang tidak perlu berganti pakaian, hanya membuka atau mengganti sobra atau tekesdengan kain iket atau Udeng. Topeng klana udeng ini berkisahkan seperti cerita Rama gandrung Sinta dan kalau lakon dari majapahitnya, cerita golek cepak yang di Indramayu. Yang menceritakan tentang menak arnol yang dari negara blambangan, yang diantaranyadewi sekar taji. Jadi Topeng Klana Udeng ini gerakan yang terakhirnya yaitu seperti gandrung.tetapi itu adalah kepintaran seorang dalang yang gandrung, setelah gandung dilanjutkan menarikan yang berbagai macam tarian (sesuka-suka penari), ketika penari tersebut kelelahan, biasanya melakukan ngarayuda terlebih dahulu, yang dimaksud ngarayuda adalah meminta saweran kepada penonton, hal tersebut bersimbolkan bahwa bentuk keserakahan seorang pemimpin. Seorang raja tersebut yang sudah kaya-raya tetapi masih meminta-minta ke rakyat, hal tersebut adalah kata sindiran pada zaman dulu untuk para penjajah yang tidak tahu malu mengambil harta masyarakat yang ada di indramayu. Jadi di gambarkan oleh ngarayudaan.setelah ngarayuda, disambung gandrung yang memakai irah-irah.kemudian dilanjutkan oleh tari Topeng Klana Udeng yang hanya mengganti sobra dengan udeng saja. Ketika menarikan Klana Udeng, si penari melakukan gerakan silat, kayang sambil menjilat koin, menari di atas tambang. Jadi tari Topeng Klana Udeng lebih ke ekspresi atau kepintaran seorang penari, bisa disebut atraksi. Awal mulanya Wangi melihat Sang Maestro Topeng yaitu Alm.Rasinah menari, kemudian berapresiasi, jadi tanpa belajar, dalam waktu khusus Wangi sudah bisa meskipun ada sedikit perbedaan-perbedaan. Wangi membuat gerakan tari Topeng Klana Udeng terinspirasi dari gambaran seseorang yang sedang gandrung, memiliki sisi positif dan negatif.topeng Klana Udeng ini lebih identik dengan ego manusia dan lebih menggambarkan seorang manusia yang ambisius, egois, punya power, jadi dituangkan dalam gerakan atau tarian tersebut. Yang digambarkan dalam gerakan-gerakannya rata-rata seseorang yang sedang mabok, menginginkan sesuatu. Jatuh cinta terhadap sesuatu apapun. Wangi lebih memilih Klana Udeng, karena lebih cepat masuk ke anak-anak dan lebih efektif karena gerakannya lebih simple, enerjik, dan anak bisa melakukan, seperti senam.beliau membakukan gerak-gerak topeng klana udeng yaitu tidak jauh berbeda dengan gerak dasarnya yaitu dari Topeng Kelana. pertunjukan Tari Topeng Klana Uden




Seni tari merupakan sebuah seni yang mempelajari tentang Gerak tubuk berirama yang dilakukan pada saat tertentu. Biasanya kita sering menyaksikan pementasan seni tarian baik itu tradisyonal maupun modern. Perkembangan teknologipun membuat kita belajar mengenai seni tari secara mendalam. Seni tari biasanya digalakan setelah sekian lama tidak terdengar. Sebuah seni merupakan sebuah gerakan ritmis yang diikuti oleh irama tertentu serta alunan music. Unsurnya seperti Jenis gerakan, Musik, Kostum. Dan dalam seni tari adapun fungsinya seperti , Sarana hiburan, Sarana Bergaul, Sarana Upacara sakral.

Sejarah Tari Gambyong adalah salah satu tarian tradisional dari Jawa Tengah. Tarian ini biasanya di lakukan oleh beberapa penari wanita dengan gerakan yang indah dan anggun.Tari Gambyong ini merupakan tarian pengembangan dari tarian tradisional terdahulu yaitu Tari Tayub. Tarian ini juga masih ada di Sangar Seni Kencana Ungu yang berada di Cirebon, dipimpin oleh Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma.
Serat Centhini, kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823), telah menyebut adanya gambyong sebagai tarian tlèdhèk. Selanjutnya, salah seorang penata tari pada masa pemerintaha Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi. Tarian rakyat yang telah diperhalus ini menjadi populer dan menurut Nyi Bei Mardusari, seniwati yang juga selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), gambyong biasa ditampilkan pada masa itu di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran. Perubahan penting terjadi ketika pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang "dibakukan", yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII, pada tahun 1951. Tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas.

Gerak Tari
Secara umum, Tari Gambyong terdiri atas tiga bagian, yaitu: awal, isi, dan akhir atau dalam istilah tari Jawa gaya Surakarta disebut dengan istilah maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Yang menjadi pusat dari keseluruhan tarian ini terletak pada gerak kaki, lengan, tubuh, dan juga kepala. Gerakan kepala dan juga tangan yang terkonsep adalah ciri khas utama tari Gambyong. Selain itu pandangan mata selalu mengiringi atau mengikuti setiap gerak tangan dengan cara memandang arah jari-jari tangan juga merupakan hal yang sangat dominan. Selain itu gerakan kaki yang begitu harmonis seirama membuat tarian gambyong indah dilihat.

Penggunaan
Pada awalnya, tari gambyong digunakan pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari.
Sebelum pihak keraton Mangkunegara Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya, tarian gambyong ini adalah milik rakyat sebagai bagian upacara. Kini, tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan.

Ciri khusus
1. Pakaian yang digunakan bernuansa warna kuning dan warna hijau sebagai simbol kemakmuran          dan  kesuburan
2. Sebelum tarian dimulai, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur.
3.Teknik gerak, irama iringan tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Gambyong adalah tarian tradisional khas Jawa Tengah yang sudah ada sejak dahulu. Gambyong adalah nama seorang penari cantik jelita yang hidup pada zaman Kesunanan Surakarta sekitar tahun 1800-an. Paras cantiknya membuat sang penari dikenal hingga ke lingkungan kesunanan. Dan atas permintaan Sinuhun Paku Buwono VI, yang saat ini memerintah, Gambyong mengadakan pementasan di lingkungan Kesunanan Surakarta.
Sejak saat itu, tarian yang dibawakan oleh sang penari disebut dengan Tari Gambyong. Pada awalnya, tarian ini hanya ditarikan di lingkungan kesunanan saja, sebagai hiburan bagi Sinuhun Paku Buwono VI, dan juga sebagai tarian untuk menyambut tamu kehormatan. Tapi seiring perkembangan zaman, Tari Gambyong pun bisa dipertunjukkan sebagai hiburan untuk masyarakat umum. Misalnya sebagai hiburan di acara pernikahan adat, atau untuk mempromosikan budaya Jawa Tengah.
Secara umum, Tari Gambyong terdiri atas tiga bagian, yaitu: awal, isi, dan akhir atau dalam istilah tari Jawa gaya Surakarta disebut dengan istilah maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Saat menari, para penari memperlihatkan ekspresi wajah yang terlihat berwibawa dan anggun, dibalut dengan riasan wajah yang cantik.
Salah satu sanggar yang masih mementaskan tari Gambyong Sala Minulya adalah sanggar Seni Kencana Ungu pimpinan Bapak E.Panji Prawirakusuma, yang merupakan pemimpin dari sanggar yang berada di Cirebon.

Gerakan Tari Gambyong Jawa Tengah Gersksn tari gambyong sebenarnya sebuah tari kreasi yang mana gerakan-gerakannya sebagian besar berasal dari tayub. Berbeda dengan tari tayub, pada tarian gambyong pada umumnya dilakukan pada garis dan yang jauh lebi besar. Adapun unsur dari gerakan tarian gambyong ini terletak pada kekompakan para penarinya. Para penari gambyong akan menggerakan tangan, kaki, dan kepala secara bersamaan selaras dengan irama kendang. Gerakan mata akan selalu mengikuti gerakan tangan yang menjadikan tarian ini harmonis. Untuk mengawali tarian gambyong,pada umumnya pertunjukan dibuka dengan gending,pangkur. Gending, pangkur merupakan bagian maju beksan,beksan, dan mundur beksan.

Kostum Tari Gambyong
Pada saat menar, para peari gambyong harus menggunakan kostum khusus berupa kemben yang bahunya terbuka sampai kebagian dadanya. Dan menggunakan kain panjang bermotif batik sebagai bawahnya. Para penari juga menggunakan selendang sebagai pelengkap kostum tarian gambyong ini biasanya menggunakan selendang berwarna kuning. Menurut masyarakat sekitar warna kuning melambangkan kekayaan dan hijau sebagai lambing kesuburan. Para penari gambyong juga dirias sanggat cantik agar terlihat mempesona ketika menarikan tarian gambyong ini.

Iringan Musik Tari Gambyong
Tari gambyong akan selalu diiringi dengan alat music berupa gamelan dan tembang Jawa,Gong,kenong,gambang,serta kendang akan selalu dimainkan bersama sama dengan gerak penari gambyong. Dari beberapa alat music tersebut, kendang merupakan alat music yang paling istimewa dikarenakan kendang merupakan panduan bagi para pemusik lainya dan penari untuk melakukan gerakan atau bunyi tertentu. Oleh karena itu , kendang juga dujuluki sebagai otot tarian pada tari gambyong. Mulai dari sejarah tari gambong,gambar tari gambyong ,dsn property tarigambyong.

Seni tari merupakan sebuah seni yang tidak bisa lepas dari kegiatan manusia. Tidak hanya sebagai hiburan maupun upacara, tarian juga bisa menjadi media untuk hidup sehat. Karena dengan menggerakan tarian, tubuh kita tentunya bergerak dan dapat melancarkan sirkulasi darah. Sebagai masyarakat yang memiliki banyak tarian daerah, tentunya tarian daerah harus terus dilestarikam agar seni tari tidak lenyap ditelan zaman. Jangan sampai juga seni tari milik Indonesia diakui Negara lain hanya karena kita tidak mampu melestarikan tarian daerah.




Tari Jayengrana merupakan salah satu genre tari Wayang gaya Sumedang yang berkarakter satria ladak. Tarian ini menarik untuk dijadikan materi pada ujian Tugas Akhir minat utama penyajian. Bentuk ketertarikan ini, pertama pada latar belakang ceritanya bersumber pada wayang menak yang berbeda dengan tari wayang pada umumnya. Kedua, tarian ini memiliki karakter yang relevan dengan kepribadian penulis.Tarian Wayang Jayengrana ini masih diajarakan dan ditampilkan oleh anak didik yang ada di sanggar Kencana Ungu yang berada di Cirebon.Sebagai tantangan pada minat penyajian terdapat dua aspek yakni memiliki kualitas menari yang prima dan kemampuan berkreativitas. Oleh karena itu, masalah yang diusung terbatas pada bagaimana mewujudkan kualitas kepenarian yang didukung dengan daya kreativitas. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan teori gegubah sebagai pisau pembedahnya. Adapun metode untuk merealisasikan teori dipilih langkah-langkah penguasaan materi/nyantrik, merancang tafsir garap, merekomposisi struktur tarian, dan merekomposisi koreografi. Kemudian langkah-langkah ini ditindaklanjuti dengan kegitan eksplorasi, evaluasi, dan komposisi.Sebagai hasil dari gubahan ini dapat diwujudkan tari Jayengrana dengan sajian yang baru karena telah mendapatkan sentuhan kreativitas. Pada koreografi bagian awal dan akhir ditambahkan ragam gerak sebagai upaya pengayaan, bagian tengah dilakukan pemadatan dan pengolahan variasi. Unsur iringan tari otomatis ada perubahan juga menyesuaikan dengan koreografinya. Bagian awal ditambah kakawen, bagian tengah tetap menggunakan lagu tumenggungan, serta bagian akhir ditambah dengan senandung dalang dan ending rubuh. Pada aspek rias diberikan penegasan garis wajah pada bagian kumis dan cedo. Adapun aspek busana tidak mengalami perkembangan apapun, karena sudah mewakili ciri khas tari Wayang. Jayengrana adalah julukan dari Amir Hamzah yang terdapat dalam cerita berjudul Wong Agung Menak Jayengrana yang merupakan hasil karya sastra Islam. Kisah ini menceritakan tokoh Amir Hamzah pada saat menyebarkan agama Islam ke berbagai daerah yang dikuasai kerajaan-kerajaan tertentu. Ketika ia menyebarkan agama Islam di wilayah kerajaan Kanjun, Amir Hamzah harus berperang karena penguasa setempat menentang apa yang dilakukan oleh Amir Hamzah. Jayengrana berasal dari kata jaya ing rana. Jaya bermakna menang, ing bermakna dalam, dan rana bermakna perang. Dengan demikian, tari Jayengrana merupakan tarian yang bertemakan peperangan yang di dalamnya terdapat perwatakan tokoh yang bangga dan gembira karena telah memenangkan peperangan. Tari tunggal ini menggunakan satu macam gending sebagai unsur wiramanya, dengan lagu saliwet tumenggungan yang berpola irama sedang. Dari segi riasnya yang paling menonjol, yaitu pada garis-garis wajah. Di antaranya, titik tengah kening terlukis pasung, alis masekon, jembang mecut, kumis satria, dan bibir bagian bawah terlukis cedo satria. Adapun dari segi busana, tokoh Amir Hamzah ini dilengkapi dengan geulang kaki, celana sontog, sinjang dodot satria, benten melingkar di pinggang, soder payun, soder pengker, dan keris terselip di pinggang. Di antara soder payun teruntai tali uncal, di bawah dan di atasnya terdapat hiasan boro atau tutup rasa, serta di sisi-sisinya terdapat hiasan anak boro atau samir.

tari Jayengrana sendiri diciptakan pada tahun 1942. Tarian ini diilhami oleh kelincahan langkah-langkah, di mana langkah-langkah tersebut dinamikanya cepat dan langkahnya kecil-kecil. Oleh karena itu tidak heran jika tari Jayengrana terdapat langkah-langkah kaki yang cepat, lincah, dan ringan. Gerakan terebut disebut mincid alit atau mincid galayar. Tari Jayengrana sendiri diciptakan pada tahun 1942. Tarian ini diilhami oleh kelincahan langkah-langkah, di mana langkah-langkah tersebut dinamikanya cepat dan langkahnya kecil-kecil. Oleh karena itu tidak heran jika tari Jayengrana terdapat langkah-langkah kaki yang cepat, lincah, dan ringan. Gerakan terebut disebut mincid alit atau mincid galayar.

Susunan gerak tari dari Tari Jayengrana, antara lain :

1. Keupat ecek (kaluar)

2. Calik rakit (Caik Jengkeng): sembah, silang tangan, sembah cepat, buka selendang kebet.

3. Adeg-adeg: capang, sembada, bata rubuh malik ka gigir, sumpingan, sembada, ke belakang, ambil selendang, keubeut, keupat acak.

4. Adeg-adeg: capang, sembada, capang aneka, cindek tangan, kanan galier, tumpang tali galier, ungkleuk, empat kali bilang, cindek gelenyu, kiprat, engkeg gigir.

5. Gedig Capang: mundur (balik ke belakang) ambilselndang kebet, keupat ecekdua tangan.

6. Kebet selendang katuhu,

7. Kebet Selendeng, Jalak Pengkor, Obah Taktak: tangan di atassambil melihat tangan kanan dan kiri.

8. Kebe Selendang: Ungkleuk sambil megang selendang, cukag gigir, kebet selendang.

9.Kebet Selendang: baksorai, mamandapan, calik sembah, pulang keupat ecek.

Mengadakan latihan tari Jayeng menjadi salah satu cara untuk melestarikan tarian ini. Ade Rukasih Hasiat menjadi pelatih tari Jayeng yang bertempat di sanggar tari Dangiang Kutamaya, Cibenda.

Tari wayang merupakan kesenian yang tidak hanya berkembang dikabupaten itu sendiri namun berkembang dimana mana . berikut ini riwayat singkat Rd.Ono Lesmana Kartadiakusumah : Rd. Ono merupakan salahsatu seniman tari yang cukup terkenal pada masany. Ia lahir di Cibat,Garut pada tanggal 9 Juni 1901 dari pasangan Rd. Soemantapura dan Rd. Ratnamoelia yang pada saat itu menjadi wedana Cibatu Garut.

Perancangan tari ini sudah dilakukan sejak tahun 1942 namun tari ini baru terwujud secara utuh pada tahun 1946. Pada masa tersebut suasana msyarakat sedang tertekan di bawah kekuasaan Jepang, namun tidak menghentikan upaya kreatifnya dalam menciptakan karya tari. Kemudian terciptalahoTari Jayengrana ini penciptaannya terilhami oleh langkah-langkah anak ayam ketika sedang berebut makanan dengan induknya. Langkah-langkah anak ayam tersebut dinamikanya cepat dan kecil-kecil (incid alit). Selanjutnya Rd. Ono mengaplikasikan hal ini ke dalam gerak langkah kaki dengan dinamika dan jarak melangkah kecil-kecil. Hubungan gerak dengan karakter dan suasana tema yang akan diungkapkan sangatlah harmonis, sehingga tidak mengherankan apabila dalam tari Jayengrana terdapat banyak langkah-langkah kaki cepat, lincah dan ringan. Dalam istilah tari Sunda gerak ini sering disebut dengan minced alit atau minced galayar. Rd. Ono merancang untuk membuatsebuah tarian yang ide ceritanya diambil dari Serat Menak, yang akhirnya jadi Tari Jayengrana. Tarian ini merupakan gambaran kegembiraan Jayengrana ketika bebas dari penjara Raja Kanjun. Kejadian ini tidak lepas dari bantuan dua putri cantic yaitu kekasihnya yang bernama Sudarawerti dari negara Parang Akik dan Sirtupulaeli dari negara Kursenak. Tarian ini bertemakan kegembiraan (Sumiati, 2014, hlm. 122). Perlakuan mentransformasi tari Jayengrana oleh seniman pada setiap ruang dan waktu dipengaruhi oleh adanya suatu sistem. Sistem yang menggiring kepada laku kreatif didasarkan pada maksud dan tujuan pencapaian yang diinginkan. Oleh karena itu filosofi transformasi bentuk pada tari Jayengrana secara diakronik dari Sumedang ke Bandung akan dianalisis berlandaskan pada maksud seni (purpose of art) menurut Rathus. Setiap agen seni memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam menterjemahkan maksud seni tersebut tergantung pada kebutuh-an sistemnya. Keberangkatan Ono dalam mengartikan sebuah seni dilandasi dengan kemampuan untuk berkreativitas, dilanjutkan dengan proses penciptaan.































































































Tari topeng Cirebon merupakan salah satu tarian yang berkembang di wilayah parahyangan. Menurut cerita rakyar Tari Topeng diciptakan oleh sultan yang cukup terkenal yaitu Sunan Gunung Jati.  Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.Tari Topeng Klana ini merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Akan tetapi upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya. Pada dasarnya, bentuk serta warna topeng akan mewakili karakter atau watak dari tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang divisualisasikan ke dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dan jari-jari yang selalu mengepal.Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, marah, mabuk, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu. Tari topeng Klana merupakan gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, namun tarinya justru paling banyak disenangi oleh penonton. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Lagu pengiringnya adalah Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagian ngedok  (tari yang memakai kedok). Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian, yaitu : 
1.      Bagian pertama,adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang.
2.      Bagian kedua,adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.
 Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan, perkawinan, maupun acara-acara rakyat lainnya.Tari topeng Klana sering pula disebut topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji.   

          Sejarah Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton. 
 Properti  
Berikut ini 16 properti yang sering digunakan dalam pentas tari topeng 
 1) Topeng
Topeng merupakan properti utama dalam tari topeng. Topeng yang digunakan dalam tarian ini beraneka ragam dan variasi sesuai dengan daerah asal tari topeng tersebut.
Ada dua cara untuk menempelkan topeng ke wajah penari, yang pertama adalah dengan mengigit semacam kayu yang ada di dalam topeng menggunakan mulut dan yang kedua menggunakan tali karet yang melingkari kepala belakang penari. Model yang kedua ini merupakan jenis yang umum digunakan oleh penari topeng. Bahan topeng yang digunakan juga bervariasi mulai dari kayu hingga plastik, namun biasanya dalam tarian tradisional topeng berbahan kayu yang paling sering digunakan. Jenis jenis ekpresi wajah topeng juga beragam sesuai kebutuhan tarian.

2) Anting
Anting merupakan properti alternatif yang bisa dipakai ataupun tidak dipakai, sesuai kebutuhan penari. Jenin jenis anting dalam tari topeng pun beragam, ada yang panjang dengan bandul warna warni ada juga yang pendek dan sederhana.

3) Gelang Kaki
Gelang kaki merupakan aksesoris yang menempel dipergelangan kaki penari. Tiap daerah memiliki aksesoris gelang kaki yang berbeda beda, ada yang terbuat dari logam ada juga yang dibuat dari tali benang dan dihiasi oleh bandul warna warni.

4) Sumping
Sumping merupakan aksesoris yang dipakai pada bagian atas telinga, baik yang kiri maupun yang kanan. Sumping biasnya memiliki warna keemasan. Sumping ini juga sering digunakan oleh pemain wayang wong.

5) Baju Lengan Pendek
Baju ini mempunyai warna mencolok dengan berbagai macam hiasan. Salah satu alasan kenapa penari topeng menggunakan baju lengan pendek adalah karena dalam tari topeng, gerakan utama tarian ini ada pada tangan, sehingga dicarilah properti tari yang dapat memudahkan gerak tangan sang penari.

6) Mongkron
Mongkron merupakan penutup pada bagian dada penari. Mongkron biasanya dipenuhi dengan berbagai macam hiasan bordir. Ragam motif dan corak yang menghiasi mongkron bergantung pada budaya lokal setempat. Seperti kita tahu bahwa setiap daerah memiliki ragam corak yang berbeda satu dengan lainnya.

7) Sampur
Sampur merupakan kain dengan ukuran panjang yang dipakai di bagian leher penari. Penari tari topeng juga menggunakan sampur untuk menambah kesan gemulai saat melakukan gerak tari. Cara menggunakan sampur adalah dengan menjepit ujung sampur menggunakan jari telunjuk dan jari tengah sehingga kain sampur dapat ikut bergerak saat penari menggerakkan jarinya.

8) Celana Sepertiga
Celana sepertiga merupakan celana panjang yang panjangnya dibawah lutut, namun diatas mata kaki. Celana jenis ini dipilih sebagai properti tarian karena memudahkan gerak kaki penari.

9) Ikat Pinggang
Ikat pinggang yang digunakan biasanya memiliki bentuk dan warna yang beragam, Penggunaan ikat pinggang ini selain bertujuan untuk menahan agar pakaian yang dikenakan tidak melorot saat penari menari juga sebagai hiasan.

10) Gelang Tangan
Gelang tangan pada penari topeng tidak hanya terbuat dari logam, namun juga bisa terbuat dari kertas warna keemasan sebagai pengganti emas Asli. Penggunaan kertas untuk mengganti logam emas ini biasanya dilakukan untuk menekan biaya pengeluaran.

11) Selendang
Salah satu tari topeng yang menggunakan selendang adalah tari topeng cirebonan. Selendang yang digunakan umumnya ada yang polos ada juga yang memiliki motif batik lokal sesuai darimana tari topeng tersebut berasal.

12) Keris
Tidak semua tari topeng menggunakan keris, namun sebagian ada yang menggunakan keris sebagai propertinya. Misalnya dalam tari kesatriya dari cirebon, pada bagian belakang penari terselip sebuah keris. Keris ini perlambang status kebangsawanan dan kesatria.
13) Mahkota Kembang
Mahkota kermbang merupakan nama aksesoris mahkota warna warni yang ada di atas kepala penari tari topeng betawi. Tidak semua penari topeng menggunakan mahkota kembang, hanya tarian topeng betawi saja yang menggunakan properti ini.
14) Stagen
Stagen adalah kain yang digunakan untuk melilit pinggang dan memiliki fungsi seperti ikat pinggang. Stagen biasanya dibuat dari kain tanpa motif dan dipakai sesuai kebutuhan penari jika dirasa penggunaan ikat pinggang menggangu gerak penari.
15) Ronce Bunga

Ronce bunga atau untaian bunga yang disusun menjadi anting panjang ini biasanya digunakan dalam pementasan tari topeng cirebon. Bunga yang digunakan biasanya bunga melati atau diganti dengan bandul warna merah atau kuning.
16) Aksesoris Tambahan
Aksesoris tambahan dalam properti tari topeng diantaranya adalah sarung, kupluk, kentongan dan peralatan lainnya. Properti ini digunakan dalam pementasan tari topeng betawi, dimana biasanya bercampur dengan banyolan bodor atau lawak. Para tokoh yang terlibat dalam lawak biasanya menggunakan properti tambahan yang mewakili karakternya seperti sarung, peci, senter dan peralatan lainnya,




A. Properti Tari Topeng 

Tari Topeng adalah salah satu tarian tradisional asli Indonesia yang menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Jenis tarian ini merupakan perpaduan antara seni tari dan musik. Tari Topeng ini lebih bersifat teatrikal dan komunikatif lewat gerakan. 

Seperti pada seni tari yang lain, tarian ini juga memerlukan properti sebagai daya tarik dan alat untuk menyampaikan pesan melalui tarian. Dalam hal ini properti Tari Topeng yang utama adalah topeng. Masing-masing tari topeng memiliki pakem ekspresi wajah topeng tersendiri. Ada yang menggambarkan sosok jenaka ada juga yang menggambarkan ekspresi sosok kesatria. 


B. Jenis-Jenis Properti Tari Topeng 

Properti Tari Topeng termasuk alat, busana dan aksesories yang biasa digunakan oleh penari topeng pada saat pentas diatas panggung. Properti ini digunakan untuk menghiasi seluruh tubuh penari, mulai dari kepala hingga kaki. Berikut ini adalah beberapa perlengkapan properti pada seni pertunjukan tari topeng yang biasa digunakan: 



Untuk seni tarian tradisional ini, topeng merupakan properti wajib dikenakan oleh para penari. Jenis jenis topeng yang dikenakan pun memiliki ekpresi dan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan tema yang diangkat. 


1. Busana / Kostum Tari Topeng 



Selain topeng, perlengkapan yang perlu disiapkan saat akan mementaskan tarian ini adalah busana. Busana atau kostum pada tarian topeng meliputi baju, celana, sampur / selendang, ikat pinggang, mongkron, stagen, dan aksesoris lainya. Detail busana bisa dilihat dibawah ini: 


2. Baju Lengan Pendek 

Baju yang digunakan pada tarian topeng harus memiliki kriteria baju lengan pendek dengan warna yang mencolok. Penggunaan baju lengan pendek ini bertujuan agar para penari dengan bebas menggerakkan tangan saat menari. 


3. Celana Sepertiga 

Celana sepertiga adalah celana panjang yang panjangnya dibawah lutut, namun diatas mata kaki. Celana seperti ini menjadi pilihan properti tarian karena untuk memudahkan gerak kaki penari. 


4. Mongkron 

Mongkron merupakan aksesories busana yang digunakan sebagai penutup pada bagian dada penari. Mongkron ini biasanya memiliki motif hiasan bordir. Ragam motif dan corak yang menghiasi mongkron bergantung pada budaya lokal setempat. 


5. Selendang 

Selendang merupakan properti yang biasa digunakan pada tari topeng cirebonan. Selendang yang digunakan umumnya bermotif polos dan ada juga yang memiliki motif batik lokal sesuai darimana tari topeng tersebut berasal. 


6. Ikat Pinggang 

Ikat pinggang yang digunakan biasanya memiliki bentuk dan warna yang beragam, Penggunaan ikat pinggang ini selain bertujuan untuk menahan agar pakaian yang dikenakan tidak melorot saat penari menari juga sebagai hiasan. 



C. Aksesories / Perhiasan dalam Tari Topeng 




1. Anting 

Jenin jenis anting dalam tari topeng pun beragam, ada yang panjang dengan bandul warna warni ada juga yang pendek dan sederhana. Penggunaan anting ini tidak wajib, boleh mengenakan boleh juga tidak. 


2. Gelang Kaki 

Gelang kaki adalah aksesoris yang digunakan pada pergelangan kaki penari. Tiap daerah memiliki aksesoris gelang kaki yang berbeda beda, ada yang terbuat dari bahan logam maupun dibuat dari tali benang yang dihiasi oleh bandul warna warni. 


3. Sumping 

Sumping merupakan aksesoris yang dipakai pada bagian atas telinga, baik yang kiri maupun yang kanan. 


4. Gelang Tangan 

Gelang tangan pada penari topeng tidak hanya terbuat dari logam, namun juga bisa terbuat dari kertas warna keemasan sebagai pengganti emas Asli. Penggunaan kertas untuk mengganti logam emas ini biasanya dilakukan untuk menekan biaya pengeluaran. 


5. Keris 

Keris adalah properti yang termasuk dalam aksesories pada tari topeng. Namun tidak semua tari topeng menggunakan keris, sebagian ada yang menggunakan keris sebagai propertinya dan sebagian tidak. 


6. Mahkota Kembang 

Mahkota kermbang merupakan nama aksesoris mahkota warna warni yang ada di atas kepala penari tari topeng betawi. Tidak semua penari topeng menggunakan mahkota kembang, hanya tarian topeng betawi saja yang menggunakan properti ini. 


7. Ronce Bunga 

Ronce bunga atau untaian bunga yang disusun menjadi anting panjang ini biasanya digunakan dalam pementasan tari topeng cirebon. Bunga yang digunakan biasanya bunga melati atau diganti dengan bandul warna merah atau kuning. 



D. Alat Musik Pengiring Tari Topeng 




Salah satu properti pendukung tari topeng yang tidak bisa ditinggalkan adalah alat musik. Tidak hanya satu jenis alat musik saja yang digunakan untuk mengiringi tarian ini. Ada beberapa alat musik yang digunakan dalam tari topeng, antara lain: 

1. Satu Pangkon Saron.

2. Satu Pangkon Bonang.

3. Tiga Buah Gong yaitu Kiwul, Sabet, Telon.

4. Satu Pangkon Titil.

5. Satu Pangkon Kenong.

6. Seperangkat Alat Kecrek.7.Satu Pangkon Jengglong.

7. Satu Pangkon Ketuk.

8. Dua Buah Kemanak.

9. Satu Pangkon Klenang.

10. Seperangkat Kendang Yang Terdiri Dari Ketiping, Kepyang, dan Gendung. 



E. Lagu-Lagu Pengiring Tari Topeng 


Pada saat pementasan, tarian ini tidak hanya diiringi musik saja, melainkan juga diiringi oleh lagu lagu. Hal ini akan menambah keunikan dari tarian ini. Lagu untuk mengiringi tarian ini tidak hanya satu lagu saja, melainkan ada beberapa lagu antara lain: 

1. Kembangsungsang Untuk Topeng Panji.

2. Kembangkapas Untuk Topeng Samba.

3. Rumyang Untuk Topeng Rumyang.

4. Tumenggung Untuk Topeng Tumenggung.

5. Gonjing Untuk Topeng Kelana. 


Tari Topeng adalah tarian tradisional yang berasal dari Cirebon Jawa Barat. Dalam Tarian ini terdapat 5 jenis topeng yaitu Topeng Panji, Topeng Samba, Topeng Rumyang, Topeng Tumenggung dan juga Topeng Kelana. Masing-masing topeng memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Topeng-topeng tersebut memiliki cerita yang berbeda antara topeng satu dengan topeng yang lain. 


Pementasan tarian ini bertujuan untuk hiburan dan juga untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Dalam Tarian ini terdapat beberapa topeng dengan simbol-simbol yang mengandung banyak pesan moral. 


Seperti ajakan untuk hidup di jalan yang lurus serta ajakan untuk perbanyak berdzikir dan istighfar. Pada setiap jenis topeng juga terdapat makna dan cerita. 


F. Fungsi Tari Topeng 

Adapun fungsi dipentaskannya Tari Topeng ini sebagian besar dibagi menjadi tiga bagian. Apa saja fungsinya, berikut penjelasan selengkapnya. 

1. Pagelaran Komunal 

Ini adalah sebuah cara yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat bersama. Sehingga dalam pagelaran ini hampir semua masyarakat ikut berpartisipasi. 

Bahkan, acara yang dipertunjukkan juga sangat populer. Acara dimulai dengan ajakan dalang, musik seni dan masih banyak lainnya. 


2. Pagelaran Individual 

Ini adalah sebuah pagelaran yang dilakukan oleh pihak perorangan. Biasanya pagelaran ni dilakukan oleh seseorang yang melakukan hajatan. Tujuannya adalah untuk menghibur para tamu undangan. 


3. Pagelaran Berbarengan 

Ini adalah sebuah upacara keliling kampung yang mana dilakukan untuk merayakan panen. 

Pagelaran adalah suatu kegiatan dalam rangka mempertunjukkan karya seni kepada orang lain (masyarakat umum) agar mendapat tanggapan dan penilaian. Pergelaran adalah bentuk komunikasi antara pencipta seni (apresian) dan penikmat seni (apresiator).
Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates