Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Sejarah Perkembangan Angklung

Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk primitifnya, ada dugaan bahwa alat musik tradisional ini telah digunakan dalam kultur Neolitikum. Berkembang di Nusantara hingga awal penanggalan modern. Hal ini juga berarti bahwa Angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Dalam sejarahnya, sumber berupa catatan baru ditemukan ketika merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 hingga abad ke-16). Dikatakan bahwa instrumen musik bambu hadir dalam lingkup budaya agraris.

Menurut I Ketut Yasa, masyarakat agraris untuk upaya mencapai keberhasilannya menggunakan dua jalur, yaitu yang bersifat rasional dan irrasional

Jalur rasional bisa dilihat dari bagaimana masyarakat agraris di Tatar Sunda dalam mengolah lahan, membuat alat-alat bantu dan lain sebagainya. Adapun jalur irasional, ada kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Orang-orang Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa Suku Sunda asli, menerapkan alat musik bambu sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi.

Selanjutnya, permainan alat musik bambu dengan membawakan lagu-lagu sebagai persembahan terhadap Dewi Sri disertai dengan pengiring tabuh.

Pengiring tersebut terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur musik bambu yang kemudian dikenal sebagai Angklung.

Dalam ritual padi, pertunjukan musik ini biasanya berupa arak-arakan atau helaran, bahkan di beberapa tempat menjadi iring-iringan Rengkong, Dongdang, serta Jampana (usungan pangan).

Di Jasinga (Bogor) ada permainan Angklung Gubrag yang tetap lestari hingga saat ini. Kemunculan permainan tersebut bermula dari ritus padi yang ada sejak lebih dari 400 tahun lampau.


Dalam hal ini, Angklung difungsikan sebagai media untuk mengundang Dewi Sri untuk turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada tanaman. Jenis yang tertua dikenal sebagai Angklung Buhun yang hingga saat ini masih digunakan dalam berbagai perayaan, termasuk dalam Seren Taun.

Di zaman Kerajaan Sunda (Pasundan), alat musik tersebut difungsikan salah satunya untuk penggugah semangat dalam pertempuran. Bahkan fungsi ini masih terus terasa hingga pada masa penjajahan Belanda.


Pada masa itu, kolonial Belanda sempat melarang masyarakat menggunakannya, sehingga membuat popularitasnya menurun dan hanya dimainkan oleh anak-anak saja. Namun, selanjutnya kesenian ini tetap hidup, berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

Pada 1908, ada sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, diantaranya ditandai penyerahan Angklung. Sejak itu, permainan musik bambu ini menyebar di negara tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, dikenallah dua tokoh yang sangat berperan dalam pelestarian Angklung, yakni Daeng Soetisna dan Udjo Ngalagena.


Daeng Soetisna dikenal sebagai Bapak Angklung Diatonis Kromatis, sementara Udjo Ngalagena mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras pelog dan salendro.

Pada tahun 1938, Daeng Soetisna berinovasi dengan tangga nada diatonis sehingga berbeda dengan nada tradisional berlaras pelog dan salendro. Inovasinya tersebut kemudian membuat Angklung semakin leluasa dimainkan harmonis bersama dengan alat-alat musik barat.

Sejak saat itu, popularitas alat musik ini semakin naik. Kemudian, muridnya Daeng Soetisna, yakni Udjo Ngalagena terus melestarikan temuan gurunya dengan jalan mendirikan Saung Angklung Udjo di Bandung.


Jenis-Jenis Kesenian Angklung

Penyebaran alat musik ini begitu meluas dan tersebar hingga keluar dari kebudayaan Sunda. Hal ini turut menciptakan keragaman jenisnya. Disamping itu, banyaknya variasi juga disebabkan oleh kreativitas dan kebutuhan musikal daerah-daerah dalam lingkup budaya Sunda.

Sehubungan dengan ini, umumnya perbedaan berkisar pada variasi rangka, hiasan serta jumlah tabung (nada). Berikut ini adalah beberapa jenis Angklung berdasarkan bentuk dan wilayah penyebarannya :
  • Angklung Kanekes
Berkembang di wilayah Kanekes (orang Baduy) yang difungsikan bukan semata-mata untuk hiburan, namun menjadi bagian dari ritus padi. Biasanya dibunyikan ketika masyarakat menanam padi di huma (ladang) dengan beberapa aturan.

Ada yang dibunyikan secara bebas (dikurulungkeun), yakni di Kajeroan (Baduy Jero), dan ada yang dibunyikan dengan ritmis tertentu, yakni di Kaluaran (Baduy Luar). Jika diluar penanaman padi, jenis ini hanya boleh dibunyikan hingga masa ngubaran pare (mengobati padi).
  • Angklung Reyog
Berkembang dan digunakan sebagai pengiring Tarian Reyog Ponorogo di Jawa Timur. Salah satu ciri khasnya adalah bersuara keras dengan dua nada serta bentuknya lengkungan rotan yang menarik dengan hiasa benang berumbai-rumbai warna yang indah.

Jenis ini juga mampu menghasilkan suara yang khas, yakni “klong-klok” dan klung-kluk. Selain sebagai alat musik, Angklung ini dulunya dikisahkan sebagai sebuah senjata dari kerajaan Bantarangin ketika melawan kerajaan Lodaya pada abad ke-9.
  • Angklung Banyuwangi
Salah satu kesenian khas Banyuwangi di Jawa Timur dengan beberapa jenis pertunjukan. Ada pertunjukan Angklung Caruk yang mempertemukan dua kelompok untuk bersaing dalam memainkan alat musik ini.

Ada juga Angklung Tetak yang biasanya difungsikan untuk ronda atau membantu jaga malam. Selain itu ada juga Angklung Paglak yang dimainkan oleh para petani saat menjaga sawah mereka.
  • Angklung Dogdog Lojor
Kesenian ini bisa didapati di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun.

Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor yang mengacu pada salah satu waditra didalamnya, tetapi juga digunakan Angklung karena ada kaitannya dengan ritual padi.

Oleh karena itu, kesenian ini biasanya menjadi bagian dari tradisi seren taun. Meskipun begitu, dalam perkembangannya sejak tahun 1970-an, kesenian ini juga digunakan untuk memeriahkan acara khitanan dan acara-acara lainnya.
  • Angklung Gubrag
Salah satu jenis yang berumur sangat tua yang bisa dijumpai di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Biasanya digunakan untuk menghormati Dewi Padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya, Angklung Gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
  • Angklung Badeng
Sebuah kesenian yang berkembang di Desa Sanding, Kecamatan Malabong, Garut. Dahulu difungsikan sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam.

Tetapi, ada dugaan bahwa kesenian ini telah ada sebelum masa Islam dan digunakan untuk acara-acara yang berhubungan dengan penanaman padi.

Sebagai seni untuk dakwah, Badeng berkembang sejak Islam masuk ke daerah ini pada kisaran abad ke-16 atau ke-17. Kesenian ini melibatkan sembilan buah Angklung dengan 2 buah dogdog, 2 buah terbang, serta 1 kecrek. 

  • Angklung Buncis
Sama halnya dengan jenis kesenian alat musik bambu lain, Buncis awalnya juga digunakan dalam ritual yang berhubungan dengan padi.

Kesenian yang bisa dijumpai di Baros (Arjasari, Bandung) ini sekarang hanya difungsikan sebagai hiburan semata. Terutama sejak tahun 1940-an yang dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi.

Angklung Buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Istilah buncis sendiri berkaitan dengan teks lagu yang terkenal dikalangan masyarakat pemilik kesenian ini. 

  • Angklung Padaeng
Jenis yang sering dikatakan sebagai Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis. Angklung khas Indonesia ini dikembangkan sejak tahun 1938 sebagai pengembangan dari alat musik bambu Sunda yang berlaras salendro dan pelog.


Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Bijaksana & Wibawa
Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.
Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.
Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.
Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.
Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.
Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang.
Tari Topeng Cirebon, kini menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh Raja, namun, raja-raja Cirebon  tak bisa terus menerus menghidupi kelompok kesenian karena kegiatan ekonominya diatur oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga saat itu para penari dan penabuh gamelan akhirnya mencari mata pencaharian dengan mbebarang  atau pentas keliling kampung.
Dahulu pada tahun 1980 an Seni tari Topeng ini sering di peragakan oleh sekelompok penari jalanan untuk mencari nafkah dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Cirebon,  Sejak itu, Tari Topeng Cirebon mulai dikenal di pedesaan. Grup-grup Tari Topeng Cirebon bermunculan dan beberapa grup tari topeng sibuk mbebarang  dari desa ke desa untuk memeriahkan hajatan. tapi entah mengapa saat ini sudah sangat jarang di peragakan oleh para grup tari keliling.
Sejarah Tari Topeng Cirebon
Konon pada awalnya, Tari Topeng ini  diciptakan oleh sultan Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang
Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.
Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng,
Babak Pentas Tari Topeng Khas Cirebon
Pementasan Tari Topeng Cirebon ini berlangsung selama 5 babak, dan setiap babak berjalan 1 jam, Topeng yang muncul ada 5 tokoh, yaitu topeng Panji, Samba, Tumenggung, Kalana dan Rumyang. dan Kelima tokoh ini dibawakan oleh penari yang sama, yaitu dalang topeng.
Kelima topeng itu menggambarkan watak manusia.
Topeng Panji menggambarkan watak manusia yang arif, bijaksana, dan rendah hati.
Topeng Samba menggambarkan watak manusia yang suka hura-hura dan penuh canda.
Topeng Tumenggung menggambarkan watak ksatria yang gagah berani dan percaya diri.
Topeng Kalana menggambarkan sifat manusia yang tamak dan
Topeng Rumyang melambangkan sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk masyakarat Cirebon, kesenian Tari Topeng ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena pada awal kemunculannya, kesenian topeng, menjadi sarana penyebaran agama Islam pada masa Sunan Gunung Jati. Tujuannya, agar bisa lebih dekat dengan masyarakat yang dituju.


Sosok dibalik penari sintren

Sintrenmerupakansalahsatuwarisansenileluhurmasyarakat Cirebon. Sang penariSintren dilakukanolehseorangperempuan.
Seorangperempuandiikatdandimasukkankedalamkurunganayam yang sudahditutupkain.Beberapasaatsetelahdibacakanmanteraoleh sang pawang, perempuantersebutberubahmenjadipenariSintren yang terkenal.
MenggunakankacamatahitamdanpakaiankhasSintren.PenariSintrendidampingibeberapa orang berpakaianadat.Bakkesurupan, lenggaklenggokpenarisintrenmenaridikawalbeberapapawangdenganwangikemenyan di sekelilingnya.
Gamelan pun ditabuhsebagaipengiringtarianSintren yang sudahdikenalmasyarakat.Sesekaliperempuantersebutterjatuhsaatpenontonmelemparuangketubuhnya.
Saatpenontonmelemparuang, parapengawaldanpawangsintrenmenahannyasaatsebelumjatuhketanah.Serayamembacakansebuahmantera, sintrenkembalimenari.
KesenianTariSintren CireboninimenjadisalahsatupelengkapdalamsuasanaliburLebaran di GuaSunyaragi Cirebon.Sultan Keraton XIV Kasepuhan Cirebon PRA AriefNatadiningratmenjelaskan, tariSintrenmerupakansalahsatuwarisanbudaya Cirebon yang masihlestari.
"Sintren kami pilihmenjadisalahsatupertunjukanseni di GuaSunyaragikarenaantusiasmemasyarakatjuga.Merekatertarikdengansintrenkarenaterjatuhsaatdilemparuang," ujar Sultan Arief, Kamis (12/9/2019).
Dahulu, TariSintrenidentikdengannuansamagis.Sebab, sejumlahatraksi yang dilakukancukupmembuatpenontontakjub.
Namunseiringberkembangnyawaktu, tarisintrendapatdipelajaridalamkeadaansadar.
Menurut Sultan Arief, tariSintrenadalahbagiandarisenitaritradisional yang memilikimaknafilosofisdalamkehidupanmasyarakat, yaknimengingatkan agar manusiatidaklupadiridalamkehidupan di dunia.
"Maknafilosofipenarijatuhkarenadilemparuangyaitumanusiasemakinbanyakuangcenderunglupadiridandari situ bisamenjadipangkalkejatuhannya," ujar dia.
KehadiranTariSintren di GuaSunyaragidiharapkanmembuatpengunjungberkesan.Selainitu, maknaTariSintren yang dipertunjukkankepadapengunjungdapattersampaikan.
MenurutAriefkeseniantakhanyamenjaditontonanmelainkansebuahtuntunandalamberkehidupanpadazamandahulu.
"Membuatpengunjungmenjadiberkesanitu yang kami inginkansehinggamerekatidakbosandatangke Cirebon," harapArief.
SelainTariSintren, situsGuaSunyaragijugamenghadirkanberbagaitariantradisional lain sepertiTopeng Cirebon. Sultan Ariefmengatakan, pertunjukansenitersebutdisuguhkanhanyasaatmomenliburLebaran.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.Kononsintrenmerupakankesenianrakyat yang di dalamnyamengandungunsurmagis.
Hal inidapatdilihatdariadeganpemanggilanrohbidadari yang dilakukanolehpawanguntukmerasukkedalamtubuhpenarisintren.SintrenadalahsebutanuntukperanutamabagipenariSintren, akhirnyasebutanitumenjadisalahsatunamajeniskesenian, yaituSintren.
MenurutMamadNurahmadselakubudayawanSintren, senitariiniterciptadarikondisimasyarakatpesisiran.Menurut Warta, selakuanggotaseniSintren, adabeberapapersepsimengenaiSintren. Sintrenberasaldari kata Sasantrian yang artinyamenirusantriketikabermainLais, Debus, Rudat yang memakai magic (ilmuGhaib).
Keseniantradisionalsemakinmemprihatinkanseiringkemajuanteknologi.Keberadaanya di tengahmasyarakatmakindilupakan.Salah satunyaadalahkeseniansintren.
Indonesia merupakannegara paling banyakmemilikikeseniantradisional.MulaidariSabanghinggaMerauke, setiapdaerahmemilikikeseniantradisional yang
berbeda-beda.
Salah satukeseniantradisional yang makindilupakansalahsatunyaadalahkeseniansintren.Sintrenmerupakankeseniantradisional yang berasaldaripesisirutarapantaiJawa Barat danJawa Tengah.Daerah persebarankesenianini di antaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, danPekalongan.
PemerhatisenibudayaErwindhomenjelaskan, keberadaankeseniansintrenhampirpunahkarenatidakadawarga yang menanggap.Jikatidakadaupayamelestarikan, menurutErwindho, keseniansintrensebagaisalahsatukekayaanbudayadankearifanlokalinitidakmenutupkemungkinanakanpunahdariperbendaharaanbudayabangsa.
salahsatuusahauntukmelestarikankeseniansintrenadalahdenganseringdigelarnyapertunjukansintren. Utamanyasaatacarasedekahbumimaupunacarapesta di suatudaerah, akanmenarikjikamenampilkankeseniansintren.
Karenanyadiasangatmendukungjika di tiap-tiapkecamatanataukelurahan, perludigelarkesenianrakyat, takterkecualikeseniansintren.Minimal pertunjukanrakyatdigelarsetiapduabulan, sehinggawarganyasalingsilaturahmi.Salingtegursapa.
Kalausetiapkecamatanataukelurahan, nantinyaada agenda pertunjukankesenianrakyatsemisalitupertunjukanwayangkulitataugolek.Ataupertunjukankesenianlain, sehinggaiklimkesenian di Kota Tegaldansekitarnyasemakindinamis.
Dalamsejarahnya yang namanyasenitradisional, selainmelekatfungsihiburanjugasebagaisaranakegiatanupacarabersama.Lebihjauh, kesenianjugadapatmenumbuhkansemangatnasionalisme.Keseniansebagaibagiandarikehidupanmasyarakat, keberadaannyaharustetapdilestarikan.
Sintrendikenaljugadengannama lain yaitulais. Keseniantradisionalsintreninisebenarnyamerupakantarianmistis, karena di dalamritualnyamulaidaripermulaanhinggaakhirpertunjukanbanyak ritual magisuntukmemanggilrohataudewa.Agar kesenianinisemakinmemilikisensasiseni yang kuatdanunik.
Asalmulamunculnyakesenianinitidakterlepasdarisebuahcerita yang melatarbelakangikesenianini.KeseniansintrentidakbisadilepaskandengankisahantaraSulasihdan R. Sulandono, seorangputrabupati di MataramJokoBahuataudikenaldengannamaBahureksodanRr. Rantamsari.
PercintaanantaraSulasihdan R. Sulandonotidakdirestuioleh orang tua R. Sulandono.Sehingga R. Sulandonodiperintahkanibundanyauntukbertapadandiberikanselembarkain (saputangan) sebagaisaranakelakuntukbertemudenganSulasihsetelahmasabertapanyaselesai.
SedangkanSulasihdiperintahkanuntukmenjadipenaripadasetiapacarabersihdesadiadakan, sebagaisyaratdapatbertemu R. Sulandono.
Tepatpadasaatbulanpurnamadiadakanupacarabersihdesa, berbagaipertunjukanrakyatdigelar, makapadasaatitulahSulasihmenarisebagaibagianpertunjukan. R. Sulandonoturundaripertapaannyasecarasembunyi-sembunyidenganmembawasaputanganpemberianibunya.
Sulasih yang menarikemudiandimasukikekuatan spirit Rr. Rantamsarisehinggamengalami “trance” dansaatitupulalah R. SulandonomelemparkansaputangannyasehinggaSulasihpingsan.
SaatSulasih trance ataukemasukanrohhalusataukesurupan yang disebut ‘Sintren’ danpadasaat R. Sulandonomelemparsaputangannyadisebutsebagai ‘balangan’. Balanganyaitupadasaatpenarisintrensedangmenarimakadariarahpenontonada yang melemparsesuatukearahpenarisintren.
Setiappenariterkenalemparanmakasintrenakanjatuhpingsan. Padasaatitulahpawangdenganmenggunakan mantra-mantra tertentukeduatanganpenarisintrendiasapidengankemenyandanditeruskannyadenganmengusapwajahpenarisintrendengantujuan agar rohbidadaridatanglagisehinggapenarisintrenitudapatmelanjutkanmenarilagi.




  1. Unsur-Unsur Pembentuk Topeng Modern Karya Anom

            Topeng merupakan salah satu peninggalan seni budaya Bali yang memiliki bentuk dan karakter yang khas. Unsur-unsur bentuk yang digunakan untuk mewujudkan seni topeng tidak berbeda dengan unsur-unsur seni rupa lainnya seperti titik, garis, bidang, warna, tekstur dan ukuran yang secara visual dapat dilihat. Melalui unsur visual ini, melalui pahatan dan sapuan kuas, seseorang dapat mewujudkan bentuk dan karakter seni topeng sesuai dengan keinginnannya. Selain itu, bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya suatu bentuk karya seni adalah pemahaman tentang ‘kerangka’ dari pengertian unsur-unsur rupa itu sendiri sehingga seorang seniman akan mampu membuat karya seni rupa menjadi lebih sempurna dan metaksu. Anom mengkombinasi titik dalam karya topengnya, merupakan keunikan dan karakter dari kreativitasnya terutama dalam memberikan ornamen untuk hiasan lainnya. Satu titik saja belum dapat berbicara mengungkapkan suatu ekspresi, namun susunan dari empat sampai lima saja mampu membentuk ragam hias seni topeng yang beraneka bentuk. Seperti misalnya dalam topeng yang berjudul ”Garam dan Merica” merupakan kumpulan titik yang disusun sedemikian rupa sebagai motif topeng untuk menghiasi bentuk topeng dengan nilai keindahan tersendiri sebagai ungkapan karya seni yang memiliki makna ganda yaitu bermakna simbolis dan bermakna estetik. Dalam seni topeng Anom, titik disini tidak saja digunakan sebagai ungkapan ekpresi semata, tetapi juga digunakan sebagai pembentuk karakter yang mempunyai kekuatan magis.
             Kehadiran garis dalam seni topeng dapat membarikan banyak arti, seperti misalnya garis sebagai pembentuk karakter topeng, garis sebagai pembentuk bidang, garis sebagai pembatas bidang, dan garis sebagai simbol. Garis dalam seni topeng modern Anom, dimanfaatkan sesuai dengan bentuk yang mengacu pada fungsi, sehingga garis ungkapannya dapat membentuk simbol, membatasi bidang, pembagi bidang dan juga dapat memberikan karakteristik karyanya. Dengan demikian ungkapan garis dalam karya-karyanya, Anom dalam hal ini dapat memberikan banyak arti baik secara kasat mata maupun secara abstrak yang membentuk keindahan sebagai ungkapan pribadinya. Garis-garis ekpresi yang ditampilkan pada topeng Anom merupakan garis-garis yang tegas. Hal ini membuktikan bahwa Anom merupakan seniman topeng yang sudah sangat berpengalaman, dan terlatih, di dalam mengekpresikan isi hatinya tanpa adanya keraguan. Di dalam mengungkapkan garis-garis baik sebagai pembentuk karater atau pun sebagai simbol, di ungkapkan melalui tehnik sigar mangsi atau dengan gradasi warna muda ke warna tua dan sebaliknya. Ungkapan garisnya terkadang juga di berikan warna keemasan (prada) yang mengalir begitu saja tanpa ada sekat pembatas sehingga ungkapan garisnya menjadi ciri khas ungkapan seniman Bali yang lembut tetapi tegas, seperti terungkap pada garis mata, lekukan pipi, guratan dahi dan garis-garis ornamen penghias topengnya. Ungkapan garis tersebut diatas merupakan olahan seni yang di landasi atas karakter topeng yang akan dibuatnya seperti misalnya garis-garis yang diungkapkan melemgkung turun dapat memberikan kesan kesedihan, tua dan ketakutan. Sedangkan garis-garis yang diungkapkan melengkung ke atas memberikan kesan kegembiraan dan tersenyum. Karakter garis seperti ini amat dikuasai oleh Anom sehingga karya-karyanya terkesan sangat realistik dan penuh dengan nilai-nilai keindahan. Ungkapan garisnya diawali dengan tehnik pahatan yang selajutnya dipertegas dengan warna, baik dalam tehnik sigar mangsi maupun dikontur sehingga garis-garisnya menjadi jelas dan tegas. Dengan demikian garis-garis yang diungkapkannya sangat ekpresif dan tegas, bertujuan pula agar terkesan lebih natural.
         Adanya unsur bidang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dalam karya rupa bidang berfungsi: (a) untuk menekankan nilai ekspresi dan nilai gerak (movement), nilai irama (rhythm) dan nilai arah (direction); (b)  untuk memberikan batas dan bentuk serta ruang seperti yang tampak pada bangunan patung dan topeng; (c) untuk memberikan kesan trimatra (tiga dimensi) yang ditimbulkan oleh batasan panjang, lebar dan tinggi. Selain itu, bidang juga memiliki sifat tersendiri seperti (a) Bidang harizontal dan vertikal yang memberikan kesan tenang, statis, stabil dan gerak; (b) Bidang bundar yang memberikan kesan kadang-kadang stabil, kadang-kadang gerak; (c) Bidang segitiga yang memberikan kesan statis maupun dinamais; (d) Bidang bergelombang (cekung dan cembung) yang memberikan kesan irama dan gerak. Bentuk bidang dalam karya rupa terdiri dari bidang negatif bidang positif. Bidang negatif adalah apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh konkritnya adalah lubang mata pada topeng. Sedangkan Bidang Positif, apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis yang banyak, contoh konkritnya adalah keras, bidang yang dibuat dari bambu yang dirajut. Dalam seni topeng modern karya Anom, bidang dimanfaatkan sebagai pembentuk karakter dan identitas topeng. Selain itu, juga bidang dimanfaatkan untuk menekankan nilai ekspresi, nilai gerak, nilai irama, dan nilai arah yang terbentuk melalui ruang negatif. Pemanfaatan ruang negatif seperti tersebut di atas juga dapat memberikan ruang gerak yang estetis sehingga kelincahan pemakainya dapat terungkap sesuai dengan keinginannya. Perwujudan Ruang semacam ini juga mempunyai fungsi untuk memudahkan si pemakai dalam berkomunikasi (bersuara) dan melihat disekitarnya disaat topeng tersebut dipergunakan.
Tekstur yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan bidang dibedakan antara tekstur alamiah (artificial textur) dan tekstur buatan (natural texstur). Tekstur alamiah adalah watak bidang yang tercipta oleh alam, seperti urat kayu atau batu. Tekstur buatan atau tiruan ialah watak bidang yang dibuat (disebut juga tekstur simulasi), untuk membuat watak bidang kayu berkesan tertentu dengan cara tehnik gambar tertentu (Kartika,2004: 226).  Dengan demikian tekstur memiliki fungsi untuk memberikan watak tertentu pada bidang permukaan yang dapat menimbulkan nilai estetik. Misalnya tekstur dari urat-urat kayu ditonjolkan pada permukaan bidang sesuai dengan bentuknya. Pembentukan tekstur bisa terjadi dari tiga proses, yaitu proses kimiawi (chemis). proses mekanik, proses alami, proses cetak (buatan tangan). Dalam seni topeng modern karya Anom, tekstur yang diungkapkan merupakan kualitas yang dapat dilihat dan diraba yang diberikan oleh permukaan topeng melalui ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian-bagian topeng tersebut. Fungsi teksturnya dapat menentukan sampai dimana permukaan topeng dapat memantulkan atau menyerap cahaya yang ada mengingat fungsi dari topeng sebagai penutup muka dalam pementasan drama tari. Namun secara umum tekstur Anom dalam karyanya lebih menekankan pada tekstur halus dan tekstur semu. Tekstur halus sebagai ungkapan untuk pencapaian keindahan yang sempurna sehingga karya-karyanya berkesan seperi dilapisi kaca namun tidak memantulkan cahaya dan berkesan doof. Sedangkan tekstur semu sebagai ungkapan untuk memberikan kesan antiques, serperti terungkap dalam karya-karyanya yang memiliki kesan kasar dan berbintik-bintik akan tetapi bila diraba berkesan sangat halus dan merata.
Masa kini, orang mempercayai warna sebagai ungkapan emosi pribadi. Namun pada zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, karena seni pada zaman Hindu - Budha  diabdikan kepada agama, dan raja. Untuk beberapa abad berikutnya para perupa mempergunakan warna dengan meniru warna alam (naturalistik) atau warna sebagai wakil dari benda yang sebenarnya. Penonjolan warna merupakan ekpresi yang kedua bagi perupa-perupa abad tersebut sehingga kurang memberikan kesan ekpresif. Sejak abad 19 para seniman menganggap warna merupakan alat ekspresi yang digunakan secara serius dan konsekuen.

     Tradisi dan modernitas tari sintren

Tahap pertama, penari Sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain biasa (pakaian sehari-hari). Tahap kedua, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana Sintren dikeluarkan. Tahap ketiga, kurungan dibuka, penari Sintren sudah berpakain biasa dalam keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan penari Sintren dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra sampai Sintren sadar kembali, pertunjukan Sintren selesai. Dahulu pertunjukan Sintren sering dilakukan oleh para juragan padi sesaat setelah panen, sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertaniannya atau pada musim kemarau untuk meminta hujan, maka dalam pertunjukannya akan dilantunkan lagu yang syairnya memohon agar diturunkan hujan. Namun kini pertunjukan Sintren sangat jarang. Penulis teringat saat kecil pada periode waktu tahun 1975-1990-an masih sering menjumpai di desa dan desa tetangga banyak dijumpai warga yang menanggap pertunjukan Sintren, kini sangat sulit menjumpainya. Pertunjukan Sintren kini dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain oleh pelaku seni Sintren. Bahkan berdasar pengetahuan penulis, saat ini hanya ada satu desa yang masih mempunyai grup kesenian Sintren yang tetap eksis yaitu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa dan Kabupaten Pemalang yaitu Paguyuban Sintren Lintang Kemukus dan Paguyuban Sintren Slamet Rahayu yang diketuai oleh Radin Anom dengan jumlah pengurus 15 orang, selain itu kesenian sintren dapat juga dijumpai di Desa Banjarmulya Kecamatan Pemalang. Sintren dalam tarikan antara tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan menggunakan teori modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasar asumsi bahwa setiap unsur budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahan yang disebaban oleh arus modernisasi. Di mana salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyaraat menuju modern adalah teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme. Teori modernisasi ini dipelopori oleh Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkhiem.8 Sintren sebagai suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas arus modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses akulturasi budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke, mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan yang mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian tradisional. Modernitas dalam bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian tradisional. Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami dan menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant. Di sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan keberadaan kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Dalam kasus ini, benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian tradisional. Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Dari fakta tersebut menjadikan kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman. Salah satu bentuk kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah kesenian tradisional Sintren. Para pekerja seni Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus berjuang melawan modernitas, sebagai kaum minoritas yang menyampaikan nilai-nilai egalitarian dalam pementasannya, mereka telah ikut andil dengan caranya dalam pelaksanaan mengisi pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial demi kelangsungan hidup para seniman Sintren tersebut. Dalam pertunjukan Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat saja. Dari luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya setempat langgeng sampai anak cucu. Dalam perspektif lain sebenarnya kehadiran Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku seni sintren maupun masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian tersebut, untuk pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan globalisasi yang secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik kesederhanaan, keikhlasan, kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata sedikit banyak mampu mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis penduduk suatu desa. Di mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala mikro melalui usaha dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak, pecel, serundeng lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu mengikuti pertunjukan keliling sintren darisatu desa ke desa lain.
Keberdayaan kesenian tari Sintren Opini masyarakat Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang mewakili berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat. Pertama, kelompok masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar keagamaan (penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi kesenian Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para seniman dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak ambil pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti. Faktor yang membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan, pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Selain itu juga tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesama anggota dan para pemerhati seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai juga ikut memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya dikelola secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun festival namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dalam pandangan masyarakat pelaku seni tradisional. menghidupkan kesenian Sintren seakan tidak lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai kearifan yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa. Jadi, mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa menari. Kini Sintren di Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan modernitas hampir menjadi sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak yang berusaha melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group Sintren yang tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet Rahayu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.

Adipati Karno Gugur
28 Desember 2019   5:35 |

Oleh Deni Hidayat
Arjuna dan Karno ibaratnya seperti saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak, tetapi wajah keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Adipati Karno kala itu.
Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Adipati karno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Adipati Karno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini.
Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan.
Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.
Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.
Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa.
Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati.
Adikku, Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang.
Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”
Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna.
Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.
Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya.
Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan.Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tidak tergores sedikitpun.
Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak mempan, maka disiapkannya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang, Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.
Di sisi lain, Kresna tahu kesaktian pusaka itu dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktiannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset tak menerjang leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya. Arjuna malu karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya, maka dengan sigap Kresna, menyambung rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong Arjuna dengan yang lebih bagus.
”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adipati Karno menyelesaikan darma baktinya. Siapkanlah anak panah Pasopati dengan busurnya. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Adipati Karno menuju kebahagiaan sejatinya”
Arjuna menyiapkan Panah Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tak ada yang meragukannya. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, sangat akurat dalam mengenai bidikannya.
Sekarang anak panah Pasopati telah siap di busurnya. dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, terikut serta dalam keraguan dan kegamangan, terbayang masih teringat, kakak sedarah dan asalnya yang sama, saudara yang dia cintainya. Tetapi dengan kematanganya sebagai seorang Satriya, Tugas amanah adalah janji yang harus dilaksanakan, mengikuti jalannya menyambut takdir yang sudah ditakdirkan, lalu di bidikkannya dan dilepaskan anak panah Pasopati, mengarah kepada leher Adipati Karno. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.

Adipati Karna

Konsistensi Panglima Perang Hastina

Oleh  Deni Hidayat


Wonten malih, kinarya palupi, Basukarna  narpati   Ngawangga,
lan Pandhawa tur kadange, len yayah tunggil ibu, suwita  mring
Sri Kurupati, aneng nagri Ngastina kinarya gul-agul,   manggala
Golonganing prang, Bharatayuda ingadeken senopati, ngalaga ing Kurawa


Tembang Dhandhanggula di atas mengingatkan kita pada karya Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama yang sampai saat ini masih tetap melegenda dalam konsepsi  budaya Jawa. Serat Tripama merupakan tulisan yang menampilkan tiga tokoh wayang  yang patut dan dianjurkan untuk dijadikan teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri  dalam bidang keparajuritan dan   kewiraan. Tokoh wayang tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Basukarna dari Hastina.
Adapun tembang Dhandhanggula di atas bila diterjemahkan bebas kurang lebih sebagai berikut : “Ada lagi teladan yang pantas dicontoh. Basukarna seorang raja dari Ngawangga, dengan Pandawa yang masih bersaudara, lain ayah tetapi sekandung (sama ibu), yang dengan setia mengabdi  kepada Prabu Kurupati dari negeri Hastina sebagai benteng, panglima perang, dalam perang Bharatayuda menjadi Panglima Perang untuk membela Kurawa”.
            Menelusuri tokoh wayang yang satu ini memang sangat menarik. Basukarna atau nama kecilnya Karna dilahirkan ke mayapada, akibat kesalahan Dewi Kunti. Putri Mandura itu bermain-main dengan mantra Druwasa. Ia ingin bertatap muka dengan Batara Surya yang cakap dan tampan. Dari perbuatannya yang kurang hati-hati itu, akhirnya beberapa bulan ia mengandung. Alangkah aib peristiwa itu. Beruntung, Resi Druwasa berkenan untuk menolong. Sang bayi dilahirkan lewat telinga. Itulah sebabnya, dia dinamakan Karna yang berarti telinga. Lengkapnya Basukarna, karena sesungguhnya, ia putra seorang basu. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai putra Resi Druwasa, karena dialah penyebabnya. Disebut pula dengan nama Suryaputra, karena putra Dewa Surya, sang penguasa matahari.
Demi menjaga nama keluarga dan kehormatan negeri Mandura, Karna harus dibuang. Sebelum dibuang dengan air mata bercucuran layaknya seorang ibu Dewi Kunti mendekap bayi itu erat-erat sembari menciuminya dengan penuh kasih sayang. Diam-diam ia menyematkan kalung berliontin  separuh pada lehernya. Yang separuhnya disimpannya. Siapa tahu, Karna dapat diketemukan kembali di kemudian hari. Sedangkan liontin yang terbagi dua dengan diukir setengah namanya pula, akan menjadi tanda bukti yang tak terbantahkan lagi. Dengan hati-hati, anak itu dimasukkan ke dalam kotak. Sepintas ketika mengamati untuk terakhir kalinya, Kunti melihat anak itu ternyata beranting-anting dan dadanya mengenakan perisai yang bersembunyi dibalik kulit dagingnya.




                                           Adipati Karna naik Kereta Jathisura dalam perang
                                                Bharatayuda    (Foto:Koleksi Pribadi)

            Kotak itu membawa Karna  terapung-apung di atas sungai Gangga.Adirata yang sedang mencari ikan menemukannya dan dengan girang anak itu dipelihara layaknya anak sendiri, karena sudah sekian lama berkeluarga ia belum dikaruniai momongan. Adirata adalah seorang sais istana Hastina. Dengan penuh kasih sayang, ia membesarkan Basukarna. Dan Basukarna tumbuh menjadi seorang pemuda yang cekatan dan berotak cerdas. Ia tidak hanya pandai menyerap semua ajaran ayah angkatnya sebagai sais kereta, tetapi ia juga mengenal ilmu bintang. Dengan mudah ia menguasai  dan menaklukkan kuda betapa binalpun. Bahkan harimau yang masih ganas tunduk pada perintah-perintahnya.



         
                                                  Adipati Karna menerima Panah Kuntawijayandanu
                                                               (Foto: Koleksi Pribadi)
             Pada suatu hari ia ikut Adirata ke istana. Ia tertarik kepada para Kurawa dan Pandawa yang sedang belajar ilmu perang. Dengan penuh perhatian ia mengamati mereka. Tampak di hadapannya, ia melihat kesalahan dan kecanggungan Kurawa  melakukan petunjuk Resi Druna dan ajaran Resi Krepa. Sebaliknya, ia kagum menyaksikan ketangkasan dan kecerdasan Pandawa berolah berbagai senjata. Timbullah suatu kegelisahan di dalam hatinya.
 “ Dapatkah aku ikut berlatih bersama mereka ayah ?” tanya Karna.
 “ Oh tidak, anakku,” jawab Adirata.
 “ Mengapa ayah ?” kejar anak angkatnya itu
Dengan terbata-bata sang ayah menjawab,”Karena engkau hanya anak seorang sais kereta kerajaan.”
Pedih dan pahit benar bunyi jawaban itu. Tetapi ayah angkatnya menjawab dengan jujur. Menghadapi kenyataan itu, terjadilah suatu pemberontakan dalam  hatinya. Kenapa ia dilahirkan sebagai anak seorang kusir ?
Jiwa yang berontak itu melebihi perasaan rendah diri. Ia tak mau kalah, karena merasa lebih mampu daripada ketangkasan Pandawa. Mulailah ia mencari akal. Diam-diam ia selalu  hadir untuk mengintip semua ajaran Resi Druna dan Resi Krepa ketika memberi pelajaran kepada keturunan darah Bharata itu. Sesampainya di rumah, ia berlatih dengan tekun. Tujuannya, ia ingin mempunyai kepandaian sejajar dengan mereka. Dengan didukung kemauan kuat, kekerasan hati dan ketekunannya, jadilah ia berhasil mengatasi perasaan rendah diri. Semua pelajaran Resi Druna dan Krepa dapat dikuasai dalam waktu relatif singkat. Kemudia ia menjelma menjadi seorang pemuda yang berhak mengangkat diri di tengah pergaulan masyarakatnya.  Hal itu terjadi tak lama kemudian.
Pada suatu hari, penduduk berbondong-bondong memenuhi arena laga putra-putra Raja Hastina. Kurawa dan Pandawa hendak mempertontonkan ketangkasannya berolah senjata yang diajarkan Resi Druna dan Krepa. Ketika pertandingan dimulai, segala macam keahlian dipertunjukkan. Kurawa merasa gelisah, resah, cemburu, iri, mendongkol, dan dendam karena menyaksikan  betapa Pandawa jauh lebih tangkas dan  mahir daripada kelompok mereka. Apalagi Arjuna. Ksatria berwajah tampan ini, kelihatan paling menonjol. Segala macam senjata dikuasainya dengan sempurna. Bidikan anak panahnya tak pernah meleset dari sasaran. Bahkan mampu menembus sasaran berlapis tujuh sekali bidik. Semua penonton berdiri mengelu-elukan dan menyanjungnya tiada henti.
Dalam kegemparan yang diliputi tarik ulur tersebut, tiba-tiba semua hadirin dikejutkan oleh suara lantang yang bergema laksana halilintar menyambar. Ternyata ada seorang penonton yang masih muda belia telah meloncat masuk gelanggang. Itulah Basukarna yang sudah tak kuasa menahan diri melihat kesuksesan Arjuna dan  menyaksikan Kurawa junjungannya selalu mendapat kekalahan,  hatinya berontak.
Tanpa pikir panjang, ia kemudian memperlihatkan semua apa yang dilakukan oleh Arjuna dengan sangat sempurna. Penonton pun dibuat kagum dibuatnya termasuk para ketua Hastina. Sedangkan Kunti yang berada di atas panggung sudah berdebar-debar hatinya. Kemiripan wajah Basukarna dengan Arjuna tak lepas dari perhatiannya. Dan setelah melihat dengan jelas pemuda itu memakai anting-anting bergambar matahari bercahaya, persis dengan kalung yang ia pakai sendiri. Kunti tak ragu-ragu lagi, itulah Suryaputra putra pertamanya. Bahkan ketika Arjuna dan Karna siap berlaga dilindungi simbol-simbol kekuatan Batara Surya dan Batara Indra yakni matahari dan guntur saling berkejaran, seketika itu mata Dewi Kunti menjadi berkunang-kunang.
Dalam keadaan kalut Resi Krepa melerai mereka, dan menegur Karna yang tak pantas masuk ke gelanggang karena bukan dari golongan ksatria. Seketika itu dada Basukarna seperti terbelah, karena menahan kepedihan yang tak terkira. Beruntung Duryudana tanggap, saat itu juga derajat Basukarna diangkat menjadi Adipati di Awangga. Kedudukannya sejajar dengan golongan ksatria. Kata-kata Duryudana inilah yang menyebabkan Basukarna setia kepadanya. Sebab kata-kata itu sendiri berarti memberinya hak hidup.  Sekaligus ia terangkat dari lembah hina sebagai seorang yang mulia. Kemuliaan sekaligus kehormatan itu pantas ditebus dengan taruhan jiwa dan raga.

MENGENAL SOSOK ADIPATI KARNA
TARI WAYANG ADIPATI KARNA
Deni Hidayat  /   DESEMBER 19, 2019   /

Putera yang terbuang.
Dalam wiracarita Mahabharata, dikisahkan ada seorang puteri cantik bernama dewi Kunti, ia adalah puteri dari prabu Kuntiboja atau Basukunti, seorang raja dari bangsa Yadawa. Dewi Kunti remaja berguru pada seorang resi bernama Durwasa. Karena sang resi sangat sayang kepada anak muridnya tersebut, akhirnya sang resi memberikan kesaktian berupa mantera Adithyahrehdaya kepada dewi Kunti. Mantera itu memiliki kesaktian untuk memanggil dewa sekaligus mendapat anugerah putera dari dewa yang dipanggilnya tersebut.
Karena rasa kuriositasnya yang tinggi, dewi Kunti akhirnya mencoba kesaktian barunya itu kala terbit sang surya. Tak lama kemudian, turunlah bhatara Surya memenuhi panggilan sang dewi. Karena dewi Kunti memanggilnya dengan manteraAdithyahrehdaya, maka sang dewa pun menganugerahkan putera kepada dewi Kunti. Namun, karena saat itu dewi Kunti belum menikah, maka bhatara Surya pun membantu dewi Kunti untuk melahirkan melalui telinganya agar kegadisan sang dewi tetap terjaga. Untuk menjaga dari aib yang akan menimpanya, maka jabang bayi yang baru lahir tersebut kemudian dihanyutkan ke sungai Aswa. Agar kelak dikenali di kemudian hari, jabang bayi itu pun diberi pakaian serta perhiasan khas bhatara Surya sebagai identitasnya. Tak lama dari peristiwa itu, dewi Kunti kemudian menikah dengan pangeran dari Hastinapura, bernama Pandu Dewanata. Kelak di kemudian hari, mereka berdua beserta dewi Madrim akan melahirkan lima orang ksatria yang dikenal sebagai para Pandawa.
Jabang bayi yang dibuang itu akhirnya ditemukan oleh seorang kusir istana Hastinapura bernama Adirata. Karena pakaian yang dikenakan oleh si bayi merupakan identitas khas bhatara Surya, maka Adirata memberi nama bayi tersebut Basusena. Beranjak besar, Basusena pun terkadang dipanggil Radheya yang berarti anak Radha yang merupakan isteri dari Adirata. Karena menyadari bahwa anak angkatnya sebenarnya berasal dari kasta ksatria, maka ketika Basusena beranjak dewasa, Adirata berusaha agar anaknya dapat belajar kepada Begawan Dorna. Tetapi karena Basusena hanyalah anak seorang kusir, maka Dorna pun dengan mentah-mentah menolaknya. Basusena tidak putus asa akan hal itu, ia kemudian selalu hadir dan mencuri-curi ilmu ketika Resi Dorna mengajar para Pandawa dan Kurawa.


Adipati Karna
Di akhir pendidikan para Pandawa dan Kurawa, resi Dorna mencoba memperlihatkan kemampuan para anak didiknya tersebut. Sebagai hasilnya, Dorna mengumumkan bahwa Arjuna-lah yang terbaik, namun pada saat itu, Basusena tiba-tiba maju untuk menantang Arjuna, karena ia merasa dapat mengalahkannya dalam ilmu memanah. Tantangan dari Basusena kontan saja ditolak oleh Dorna, alasannya masih sama, karena Basusena adalah putera seorang kusir dan bukan dari golongan ksatria. Namun pada saat itu, Duryudana yang merupakan sulung dari para Kurawa datang untuk membela Basusena. Duryudana yang telah mengetahui kemampuan si anak kusir itu meminta kepada ayahnya, prabu Destarata untuk mengangkat Basusena sebagai Adipati atau raja bawahan di Awangga. Permintaan Duryudana tersebut bertujuan untuk mengangkat derajat Basusena menjadi seorang ksatria. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik balik dari kehidupan Basusena. Kebaikan dari Kurawa tersebut kelak dijadikannya sebagai hutang budi. Karena kemampuannya yang mumpuni dalam ilmu berperang maka Basusena pun disebut dengan nama Karna. Versi lain menyebutkan bahwa nama Karna berasal dari kata ”telinga” yang merupakan bagian dari proses kelahiran sang Basusena. Setelah peristiwa pengangkatan Basusena sebagai Adipati di Awangga, maka selanjutnya, ia dikenal dengan nama Adipati Karna.


Basusena dan Kontawijayadanu
Perselisihan antara Karna dan Arjuna memang sudah diramalkan oleh para dewa. Di garisan nasib, kedua saudara se-ibu tersebut ditakdirkan akan bertempur di padang Kurusetra pada perang besar Bharatayudha. Takdir itu membuat ayah dari kedua ksatria itu menjadi sangat khawatir. Untuk menyelamatkan Arjuna, dewa Indra yang adalah ayah kandungnya turun ke bumi dan menyamar menjadi seorang resi tua. Ia berupaya untuk merebut baju zirah milik Adipati Karna yang merupakan pemberian dari ayahnya, dewa Surya. Tetapi di luar perkiraannya, Karna ternyata dengan penuh keikhlasannya memberikan baju zirahnya tersebut, karena ia telah bersumpah untuk menjadi seorang yang ikhlas dan dermawan. Melihat sifat Karna yang mulia itu, dewa Indra justru terharu dan akhirnya menganugerahkan senjata pusaka Kontawijayadanu kepadanya. Senjata itu mampu membunuh siapa saja tak terkecuali para dewa, namun hanya dapat dipakai sekali saja. Versi lain menyebutkan bahwa ketika Gatotkaca lahir, tali pusarnya tidak dapat diputus dari rahim dewi Arimbi. Untuk memotong tali pusar tersebut dibutuhkanKontawijadanu milik dewa Indra. Agar niatan tersebut dapat tercapai maka para Pandawa mengutus Arjuna untuk meminjam senjata itu kepada ayahnya. Niatan tersebut rupanya sampai ke telinga dewa Surya dan langsung disampaikan kepada Karna, puteranya. Dengan bantuan ayahnya, Karna berhasil menjalankan tipu muslihatnya untuk mencuri Kontawijadanu. Mengetahui bahwa senjata milik dewa Indra jatuh ke tangan Adipati Karna, Arjuna akhirnya mendatangi Karna dan mengajaknya berkelahi untuk merebut kembali Kontawijayadanu. Karena sama-sama kuat, maka Arjuna pun hanya mendapat sarungya saja. Akhirnya sarung konta itulah yang dipakai untuk memotong tali pusar Gatotkaca, anehnya sarung itu langsung masuk ke dalam tubuh putera Bima tersebut. Walhasil kejadian itu membuat Gatotkaca menjadi sakti mandraguna. Kontawijayadanu yang berada di tangan Adipati Karna kelak akan kembali ke sarungnya yang berada di dalam tubuh Gatotkaca. Peristiwa dan ramalan itu pula yang dianggap sebagai kejadian yang akan menghindarkan Arjuna dari kematian di tangan Karna.
Adipati Karna dan asal usulnya.
Dalam hal percintaan, Adipati Karna mulai menunjukkan kompleksitas kepribadiannya. Wanita yang ia pilih sebagai kekasih hatinya adalah Surtikanti puteri prabu Salya. Surtikanti ini sebenarnya adalah calon permaisuri Hastinapura, calon isteri dari Duryudana, kawan dan sahabat dekat Karna. Dikisahkan dari sebuah versi, Arjuna menangkap basah Karna yang sedang berkasih-kasihan dengan puteri Surtikanti. Mereka pun akhirnya berkelahi, namun pertarungan tersebut dilerai oleh dewa Narada. Pada saat itu pula dewa Narada memberitahu kepada Karna tentang asal-usulnya yang merupakan putera dari dewi Kunti. Versi lain mengatakan bahwa Karna mengetahui asal-usulnya justru dari Kresna yang pada waktu itu berniat untuk membujuk Karna agar kelak memihak Pandawa di perang Bhatarayudha. Pada saat itu Karna menolak bujukan Kresna, meskipun ia menerima dan memaafkan apa yang terjadi pada dirinya dulu. Hutang budi adalah alasan mengapa Karna tetap membela Kurawa, namun ada versi lain yang menyebutkan pula bahwa Karna tetap membela Kurawa agar Duryudana mendapat suntikan moral dalam pasukannya, sehingga sang pangeran Hastina tersebut tidak mundur dari perang Bharatayudha. Ia berpendapat bahwa hanya Pandawa yang dapat menghancurkan kejahatan Kurawa dan untuk itu Kurawa harus tetap ikut berperang. Sesaat sebelum dimulainya Bharatayudha, Karna bertemu terlebih dahulu dengan dewi Kunti, ibu kandungnya. Pada pertemuan itu, Karna memaafkan ibunya dan bersumpah tidak akan membunuh satu pun adik-adiknya dalam perang Bhatarayudha.

Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates