Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us




 Tari Wayang sendiri merupakan salah satu tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Barat sendiri. Dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian ini mempunyai beberapa gerakan dan juga hal yang sangat menarik untuk disaksikan oleh berbagai orang yang ada pada daerah itu sendiri maupun orang lain yang datang berkunjung ke daerah tersebut hanya untuk sekedar melihat tarian tersebut sendiri. Tarian ini sendiri pun pada dasarnya sangat kental dengan berbagai adat yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, hal ini sendiri disebabkan oleh masih banyak warga masyarakat umum Jawa Barat yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual-ritual dengan menggunakan beberapa tarian yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, sehingga beberapa tari yang ada di sini sangat-sangat identik dengan semua hal tersebut.
 Tarian yang ada di daerah Jawa Barat ini sendiri tentu saja memiliki beberapa hal yang terkadang menyimpan sebuah misteri yang terkadang tidak kita ketahui. Hal ini sendiri dapat berupa asal usul dari tarian itu sendiri yang terkadang bisa kita ketahui bahwa sangat berhubungan sekali dengan kekuatan mistis ataupun terkadang hanya dari beberapa sejarah yang telah ada pada daerah tersebut. Pada dasarnya sendiri tarian yang ada di Jawa Barat ini tentu saja biasanya menjadi salah satu hiburan yang bisa dinikmati oleh para masyarakat umum yang ada disana, dan terkadang pun sering dipakai pada saat penyambutan beberapa tamu agung yang datang ke provinsi Jawa Barat tersebut. Tarian pada daerah ini sendiri tentu saja memiliki beberapa makna yang sudah tidak asing lagi pada masyarakat umum yang ada di kota ini, sehingga mereka pun lebih mengenal bagaimana cara menggunakan tarian tersebut dalam berbagai event yang ada, baik event yang berupa adat ataupun acara umum seperti pesta perkawinan. Karena seperti yang kita tahu dua hal tersebut merupakan hal yang sangat berbeda dan oleh sebab itu maka tarian dari beberapa hal itu tentu saja sangat-sangat berbeda sehingga dapat menciptakan gerakan-gerakan dan juga mempunyai makna dan juga arti yang berbeda dari
semuanya itu.Tarian dari Jawa Barat ini sendiri terdiri dari Tari Topeng, Tari Jaipong, Tari Kursus, Tari Wayang, dan Tari Merak. Untuk khusus tari topeng sendiri mempunyai berbagai macam tarian topeng dengan beberapa jenis yang lainnya, pada hal ini sendiri tarian topeng tersebut sangat berbeda, dimana pada beberapa jenis yang ada, tarian tersebut dibuat berdasarkan arti yang berbeda sama sekali dengan berbagai tarian yang telah ada pada tarian topeng pada umumnya sendiri.Tari Wayang merupakan salah satu tarian yang berasal dari Jawa Barat sendiri, dimana tarian ini sendiri merupakan tarian yang dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 pada saat itu oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya. Tari Wayang ini sendiri memiliki tingkatan ataupun beberapa jenis karakter yang berbeda misalnya saja pada karakter pria dan juga wanita yang memiliki perbedaan. Karakter Tari wanita sendiri terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta juga Ladak untuk tokoh Srikandi.
sedangkan karakter tari pria terdiri dari :
  • Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu.
  • Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa
  • Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, adipati Karna dan sebagainya
  • Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima
  • Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca
  • Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.
Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu
Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan
Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu:
  1. Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya
  2. Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti:
Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,
Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,
Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Gatotkaca, wataknya keras
Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro
Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri
Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:
  1. Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,
  2. Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,
  3. Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal
Pengertian Wayang Secara Filosofis Wayang merupakan bayangan, gambaran atau lukisan mengenai kehidupan alam semesta. Di dalam wayang digambarkan bukan hanya mengenai manusia, namun kehidupan manusia dalam kaitannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan. Alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi, tidak lepas satu dengan yang lain dan senantiasa berhubungan. Unsur yang satu dengan yang lain di dalam alam semesta berusaha keras ke arah keseimbangan. Kalau salah satu goncang maka goncanglah keseluruhan alam sebagai suatu keutuhan (system kesejagadan)
Fungsi Wayang
Wayang sebagai penggambaran alam pikiran Orang yang dualistik Ada dua hal, pihak atau kelompok yang saling bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin, serta halus dan kasar Keduanya bersatu dalam diri manusia untuk mendapat keseimbangan Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat humor Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan


Kandungan Dalam Wayang
  1. Wayang Bersifat “Momot Kamot”. Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan dapat termuat di dalam wayang.
  2. Wayang Mengandung Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan. Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
  3. Wayang Merupakan Teater Total. Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai pertunjukan teater total, artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam pendraman




Wayang Gong adalah seni pertunjukan sejenis wayang orang. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari pakem Ramayana versi Banjar. Wayang ini dimainkan dengan pengolahan vokal pemain dan ditambah basik tari dalam lakon yang terdiri dari beberapa tilisasi. Tak hanya itu, pemain diiringi musik gamelan, elemen dramatik dan kating tari yang diiringi bunyi tambahan seperti ketopong yang membuatnya makin khas. Para pemain dirias sebagaimana layaknya tokoh yang ada di dalam kisah Ramayana. 

Menurut pakar Wayang Gong Banjar, Zulfansyah Bondan, kesenian ini di era 1960-1970an mendapat respon yang bagus dari generasi muda saat itu, namun dalam tiga dasawarsa terakhir yakni sekitar tahun 2000an kesenian ini mengalami kemunduran dan nyaris punah. Nyaris punah? Ya, dikatakan nyaris punah karena kesenian ini sudah jarang dimainkan. Salah satu kesenian tertua di Kalimantan Selatan ini kini hanya menunggu kepunahannya saja karena kelompok-kelompok yang memainkan kesenian ini sudah tak banyak lagi.


Dulu, kesenian ini sering dimainkan saat acara adat dan seni pertunjukan sosial kemasyarakatan seperti Mawlid Nabi, saprah amal, hajatan hingga nazar pasca panen padi. 

Namun sekarang sudah jarang dimainkan. 

Beruntung masih ada salah satu sanggar seni yang masih eksis memainkan kesenian ini walaupun insidential. Sanggar seni Kencana Ungu yang berada di Cirebon, yang di pimpin Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma lah yang membuat kesenian ini masih bertahan, walaupun dalam kondisi yang tak memungkinkan.

Dulu wayang gong dimainkan semalaman suntuk, sama halnya dengan wayang kulit banjar. Setiap lakon atau tokoh biasanya disertai dengan menambang atau nembang yang dibawakan oleh sinden. Sekarang agar tidak ditinggal oleh para penontonnya, permainan dipersingkat hingga sekitar 3 – 4 jam saja. Pada Wayang Gong, sekitar 10 orang yang memainkan alat musik tradisional, yang terdiri dari babun, gong besar dan kecil, sarun besar dan kecil, kenong dan lima alat. Pada saat memulai pertunjukan, terlebih dahulu dilakukan mamucukani, yakni tiga dalang membuka pagelaran untuk menyampaikan cerita apa yang akan dimainkan. Layaknya seperti sinetron di televisi, dari pemain utama hingga pemain pendukung disampaikan lebih dahulu kepada penonton.

Saat ini hanya sanggar seni Kencana Ungu yang memainkan kesenian wayang gong ini, karena saat ini nyaris tidak ada lagi sanggar seni lain yang memainkan salah satu kesenian tertua ini. Kalaupun ada, hanya dilakukan dengan cara bon”. Artinya para pemain diambil dari berbagai kelompok seni daerah dengan sistem cabutan. Misalnya mengambil pemain dari kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin.

Melihat keadaan memprihatinkan seperti ini, perlu diadakan upaya untuk melestarikan kebudayaan ini.
Dalam jangka Pendek, bisa dengan melakukan pendidikan dan pelatihan sistematik generasi muda dengan narasumber tokoh yang masih ada sekarang ini. Membuat proyek pembinaan kesenian sebagai program lanjutan pendidikan serta membuat wadah khusus berupa balai seni ditiap kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan.

Dalam jangka panjang bisa dilakukan dengan cara merancang kemasan baru dalam pagelaran seni wayang gong dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara tumbuh dan berkembang berupa diklat wayang gong bagi anak-anak dan remaja.
Nah, sekarang nasib kesenian daerah ada ditangan kita para generasi muda. Apakah kesenian tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau kesenian tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya. 



Wayang gong merupakan cabang kesenian dari sejarah wayang kulit yang tidak lepas dari induknya. Menurut G.A.J. Hazeu dan J.L.A. Brandes yang meniliti kesenian wayang, di peroleh satu kesimpulan bahwa kesenian wayang di Indonesia berinduk kepada kebudayaan asli jawa, meskipun cerita yang di sadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. 

Bentuk kesenian wayang yang tertua adalah wayang purwa, dari sini kemudian dikembangkan menjadi jenis jenis wayang yang beragam. Di Kalimantan selatan seni wayang jelas menunjukan pengaruh dari kebudayaan suku Jawa. Dengan membandingkan jenis wayang kulit banjar dengan wayang kulit jawa bahkan dapat diketahui bahwa bentuk wayang, 

lakon dan kelengkapannya menunjukan bahwa ada kemiripan dengan kesenian wayang dari daerah jawa, di segi lain ukuran wayang, bahasa yang digunakan serta tata cara untuk melakukan pementasan sudah menunjukan adanya perkembangan yang khas sebagai “wayang banjar”. 

Perkembangan 
Sejarah wayang di Kalimantan selatan secara kronologis belum diketahui detailnya. Dalam “hikayat banjar” disebutkan bahwa seni wayang sudah tumbuh di Kalimantan selatan sejak hampir 6 abad silam. Maka semakin jelas bahwa wayang gong bukan pengaruh langsung dari jawa, melainkan perkembangan khas dari daerah kalimantan selatan. Menurut penuturan dari para seniman wayang gong, jenis wayang tersebut muncul setelah wayang banjar telah terlalu jauh berkembang baik ceritera maupun pementasannya. 

Kreasi yang Ditampilkan 
Wayang orang banyak melakonkan kisah kisah syair di luar pakam. Seni pentasnya juga cenderung surut. Maka wayang gong merupakan kreasi yang ingin mengangkat kembali kesenian ditengah masyarakat banjar. Kisah syair yang sering ditampilkan dalam kesenian wayang orang adalah “syair abdul muluk” dari melayu, selain itu kisah saduran “damarwulan”. 

Maka kemudian sangat dikenal dengan adanya seni abdul muluk atau “mada muluk” dan juga “badamarwulan”. Perkembangan selanjutnya, abdul muluk berkembang menjadi dua yaitu abdul muluk cabang adalah abdul muluk yang menggunakan “cabang” (kuluk atau ketopang) yang kemudian lebih dikenal sebagai “wayang gong”. 

Sedangkan yang lainnya adalah abdul muluk ceritera, yang kemudian dikenal sebagai “mamanda”. Wayang gong sendiri kemudian menurunkan kesenian “kuda gepang cerita” dan tarian kuda gepang. Sampai saat ini masih bisa disaksikan antara kesenian kesenian tersebut memiliki unsur pementasan (dalam hal kostum, baju tata rias dan gamelan) yang sama. 

Ciri dan Perkembangannya: 
Hal ini menunjukan perkembangan antara yang satu dengan yang lain sangat erat, bahkan mempunyai akar yang sama. Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri antara lain : Wayang orang mengambil kisah dari pakem mahabarata, sedangkan wayng gong selalu dari pakem ramayana. 

Watang orang tidak membedakan secara nyata tokoh peannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang gong membedakan tokohnya dengan kostum penutup kepala yang disebut dengan katopan atau cabang, atau kuluk yang masing masing menggambarkan tokoh wayang orang lebih bebas sehingga lebih dapat melakonkan kisah kisah yang diadur dari kitab kitab syair melayu banjar, 

sedangkan wayang gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem ramayana. Wayang gong pada kurung waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di kalimantan selatan. Tidak seperti kesenian wayan pada seni wayang orang, 

wayang gong lebih luas perkembangannya di kalimantan selatan. Hampir pada setiap daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh, dan berkembang pula kesenian wayang gong-nya. Akan tetapi perkembanagn terakhir wayang gong dinilai kurang menggembirakan. 

Hal ini berkaitan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian wayang gong mulai jarang dipentaskan. Kelompok kelompok ksenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Demikian ulasan singkat mengenai tari wayang gong dan penjelasannya dapat menambah wawasan anda. 

Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang Gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri, antara lain: 
Wayang orang mengambil kisah dari pakem Mahabharata, sedangkan wayang Gong selalu dari pakem Ramayana. 
Wayang orang tidak membedakan secara nyata tokoh perannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang Gong membedakan tokohnya dengan kostum tutup kepala yang disebut “katopon” atau “cabang”, atau “kuluk” yang masing-masing menggambarkan tokoh 
Wayang Orang lebih bebas sehingga dapat melakonkan kisah-kisah yang disadur dari kitab-kitab syair Melayu-Banjar, sedangkan Wayang Gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem Ramayana. 



Wayang Gong pada kurun waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di Kalimantan Selatan. Tidak seperti pada Wayang Orang, Wayang Gong lebih luas perkembangannnya di Kalimantan selatan. Hampir pada daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh dan berkembang pula wayang Gong nya. 

Akan tetapi perkembangan terakhir Wayang Gong dinilai kurang menggembirakan. Hal ini berkaitan dengan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian Wayang Gong mulai jarang dipentaskan.Kelompok-kelompok kesenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian Wayang Gong yang lengkap untuk pementasan besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Sebab-sebab dari surutnya kesenian wayang Gong antara lain, karena : 

1. Minimnya pemain yang sungguh-sungguh menekuni kesenian ini. Dengan bekal-bekal yang seadanya, seseoprang bermain Wayang Gong hanya “beramaian” atau turut meramaikan saja sehingga nilai semuanya dan kandungan filosofinya tidak diperhatikan. 

2. Adanya kebiasaan tidak baik dari sementara dalang di wilayah ini, yang tidak mau menyampaikan pengetahuannya tentang wayang kepada orang yang bukan keluarganya. 



Tarian Wayang ini merupakan salahsatu tari wayang dari Sanggar Seni Kencana Ungu yang dipimpin oleh Bapak E.Panji Jaya Prawirakusuma,di Cirebon. 

Kisah ini menceritakan tentang Banowati putri Prabu Salya dari kerajaan Mandaraka. Banowati adalah gambaran seorang wanita yang dipuja sekaligus dibenci. Dipuja karena dia adalah putri nan cantik jelita dan seakan tiada bandingnya di dunia. Tak heran para Ksatria, Raja bahkan rakyat jelata bermimpi untuk dapat mempersuntingnya. Banowati juga dibenci karena sebagian orang menganggapnya sebagai wanita yang tidak setia terhadap kodratnya sebagai seorang istri. Ia dianggap mengkhianati Duryudana, suaminya. Setelah menikah dengan Duryudana, ternyata Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna.


Banowati jatuh cinta pada Arjuna, sejak pertama berkenalan. Sebenarnya Arjuna juga tidak menolak cinta Banowati, namun cinta keduanya kandas, karena akhirnya Banowati terpaksa menjadi istri Duryudana atas desakan ayahnya karena Duryudana memberikan harta yang berlimpah ruah. Akhirnya setelah menikah, Banowati sangat menderita karena cinta sejatinya tak dapat diraih. Karena itulah, selama menjadi istri Duryudana, Banowati selalu mencari kesempatan untuk dapat bertemu dan mengungkapkan rasa kasihnya yang meluap-luap kepada Arjuna.

Cinta memang dapat membuat seseorang menjadi lupa diri dan berani mengambil tindakan yang menurut pandangan umum salah. Tetapi apakah tudingan menghakimi dan menyalahkan juga adil untuk dia? Setelah penderitaan dan hancurnya perasaan yang dialami setiap saat dalam hidupnya? Siapa yang bisa mengukur sebuah kesetiaan? Banowati hanya menuruti kata hati, sebuah tekad untuk membuktikan bahwa dia layak untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Arjuna. Apa yang diilakukannya telah dipertimbangkan, perbuatan salah dan benar hanyalah semudah membalikan telapak tangan. Mungkin Banowati memang bersalah dan mengakibatkan kerugian panjang dalam hidupnya. Tetapi Banowati hanyalah sekedar berjuang untuk meraih sedikit kebahagiaan di tengah ketidakadilan yang menikam hidupnya. Banowati hanyalah salah satu karakter yang dikorbankan dalam perselisihan besar antara Pandawa dan Kurawa.

Mahabharata memang menyimpan berbagai ajaran moral yang tak pernah lekang oleh jaman. Kehadiran kisah ini semoga dapat menjadi inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya dan meningkatkan rasa cinta pada budaya sendiri. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia. Karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia. 

BANOWATI, DEWI, yang cantik dan manja, adalah permaisuri Prabu Anom Suyudana atau Duryudana dari Astinapura. Puteri Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka ini bersaudara lima orang. Kakaknya, Dewi Erawati, setelah dewasa menjadi istri Prabu Baladewa. Dewi Surtikanti menjadi istri Adipati Karna. Banowati anak ketiga, menjadi istri Suyudana, walaupun sebenarnya ia amat mencintai Arjuna. Ia masih punya dua orang adik, yaitu Burisrawa dan Rukmarata. Ketika Arjuna membantu Baladewa menemukan Dewi Erawati yang diculik oleh Kartawiyoga, Banowati berkenalan dengan ksatria tampan itu. Segera ia jatuh cinta pada Arjuna. Walaupun sebenarnya Arjuna juga tidak menolak cinta putri Prabu Salya itu, namun cinta remajanya kandas, karena akhirnya Dewi Banowati terpaksa menjadi istri Prabu Anom Suyudana atas desakan ayahnya dan kakak iparnya, Baladewa. Ia bersedia diperistri Suyudana dengan syarat agar waktu akan menjadi pengantin, Arjunalah yang memandikan dan merias dirinya. Meskipun syarat itu sebenarnya amat menyinggung perasaan Suyudana, namun penguasa Astina itu akhirnya menyetujuinya. Sebagian dalang menyebutkan pada saat dimandikan dan dirias, Dewi Banowati mendapat mantera ajian dari Arjuna yang menyebabkannya tetap seperti perawan, walaupun kelak setelah melahirkan anak. 

Dalam pewayangan Dewi Banowati adalah contoh karakter wanita yang tidak setia pada suami. Setelah kawin dengan Suyudana, Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna. Perasaan cinta ini pula yang menyelamatkan jiwa Burisrawa, adik Banowati. Burisrawa suatu saat masuk ke kediaman Arjuna di Kasatrian Madukara dan berusaha memperkosa Dewi Wara Subadra, istri Arjuna. Dalam usaha mempertahankan kehormatannya Dewi Subadra mati tertusuk keris Burisrawa. Putra Prabu Salyapati ini akhirnya tertangkap dan seharusnya akan dihukum mati, tetapi Dewi Banowati segera datang dan membujuk Arjuna, sehingga Burisrawa diampuni dan akhirnya dibebaskan. 

Dalam pewayangan Dewi Banowati adalah contoh karakter wanita yang tidak setia pada suami. Setelah kawin dengan Suyudana, Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna. Perasaan cinta ini pula yang menyelamatkan jiwa Burisrawa, adik Banowati. Burisrawa suatu saat masuk ke kediaman Arjuna di Kasatrian Madukara dan berusaha memperkosa Dewi Wara Subadra, istri Arjuna. Dalam usaha mempertahankan kehormatannya Dewi Subadra mati tertusuk keris Burisrawa. Putra Prabu Salyapati ini akhirnya tertangkap dan seharusnya akan dihukum mati, tetapi Dewi Banowati segera datang dan membujuk Arjuna, sehingga Burisrawa diampuni dan akhirnya dibebaskan. 

Dalam berbagai cerita pedalangan sering dikisahkan secara samar tentang hubungan gelap dan perselingkuhan Banowati dan Arjuna. Ketika Banowati melahirkan anaknya yang pertama, wajah bayi itu temyata amat mirip dengan Arjuna. Kenyataan ini amat menggelisahkan Banowati dan Arjuna, karena mereka khawatir perselingkuhannya terbongkar. Karenanya Arjuna lalu memohon pada para dewa agar anak Banowati jangan mirip dirinya. Permohonan itu dikabulkan, dan wajah bayi itu berubah menjadi mirip Suyudana. Anak pertama Banowati ini diberi nama Lesmana Mandrakumara, yang tingkah lakunya seperti orang lemah mental. Anak keduanya diberi nama Lesmanawati, lahir sebagai putri cantik. Lesmana Mandrakumara mati dibunuh Abimanyu dalam Baratayuda, sedangkan Dewi Lesmanawati diperistri Warsakusuma, putra Adipati Karna.

Menjelang dan selama Baratayuda berlangsung, beberapa tokoh Kurawa mencurigai Dewi Banowati sering membocorkan rahasia pihak Kurawa kepada pihak Pandawa. Bambang Aswatama, putra tunggal Begawan Drona, termasuk tokoh pengikut Kurawa yang amat membenci Dewi Banowati. Terlebih lagi ketika selesai Baratayuda, Banowati yang waktu itu sudah janda, dengan senang hati ternyata bersedia menjadi istri Arjuna. Dengan dendam yang meluap dan kebencian yang membara, pada suatu malam Aswatama berhasil menyusup ke Keraton Astina dan membunuh Banowati.

Walaupun kecantikan dan kemolekan tubuhnya tidak ada celanya, Dewi Banowati memang bukan contoh karakter wanita yang baik dalam pewayangan. Cintanya pada Arjuna membuat Banowati sebagai seorang istri bukan saja mengabaikan dan merendahkan wibawa suaminya, namun juga mengkhianatinya. Sebagian dalang Wayang Kulit Purwa bahkan menempatkan Banowati sebagai sasaran olok-olok. Ki Dalang antara lain mengunakan tokoh panakawan untuk mengungkapkan si 

Selain itu pada beberapa lakon carangan Banowati juga diberi peran sebagai wanita gampangan. Misalnya, dalam lakon Brajadenta-Brajamusti, atau Brajadenta Mbalela, dikisahkan Brajadenta beralih rupa menjadi Gatotkaca, dan kemudian merayu Dewi Banowati. Mengenai tabiat Dewi Banowati yang tidak terpuji itu, sebenarnya seluruh keluarga Kurawa juga mengetahui atau mencurigainya. Tetapi karena sikap Duryudana yang tetap melindungi istrinya, membuat mereka tidak bereaksi secara terang-terangan. Mereka takut pada saudara tuanya. Hanya Aswatama, putra tunggal Begawan Drona, yang diam-diam menaruh dendam pada permaisuri Astina itu. Nama Banowati, dalam Kitab Mahabarata ditulis Bhanu-matti, yang artinya 'wanita bercahaya bagaikan sinar matahari'. Kata 'banu' atau 'bhanu' artinya matahari, sedangkan kata 'matti' atau 'wati' menunjukkan bahwa ia seorang wanita.

Dalam seni kriya Wayang Kulit Purwa tokoh Dewi Banowati dilukiskan dalam dua wanda, yakni wanda Golek dan wanda Berok. Selain pada Wayang Purwa, nama Dewi Banowati juga terdapat pada Wayang Krucil atau Klitik, dan di pentas Langendriyan. Banowati yang ini adalah istri Adipati Ranggalawe dari Tuban. Mereka mempunyai tiga anak, yakni Dewi Sekati, Watangan, dan Buntaran. 

Berikur ini lakon-lakon yang melibatkan Banowati:

1. Kartawiyoga Maling 





































2. Alap-Alapan Surtikanti

3. Suyudana Rabi








































4. Subdra Larung





































5. Brajadenta-Brajamusti





































6. Aswatama Nglandak 







Sanggar seni adalah suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk berkegiatan seni seperti seni tari, seni lukis, seni kerajinan atau kriya, seni peran dls. Kegiatan yang ada dalam sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua proses hampir sebagian besar dilakukan di dalam sanggar (tergantung ada tidaknya fasilitas dalam sanggar), sebagai contoh apabila menghasilkan karya berupa benda (patung, lukisan, kerajinan tangan dll) maka proses akhir adalah pemasaran atau pameran,apabila karya seni yang dihasilkan bersifat seni pertunjukan (teater, tari, pantomim dll) maka proses akhir adalah pementasan.

Sanggar seni termasuk ke dalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung dari kondisi masing-masing sanggar ada yang kondisinya sangat terbatas namun ada juga yang memiliki fasilitas lengkap, selain itu sistem atau seluruh kegiatan yang terjadi dalam sanggar seni sangat fleksibel, seperti menyangkut prosedur administrasi, pengadaan sertifikat, pembelajaran yang menyangkut metode pembelajaran hingga evaluasi dll, mengikuti peraturan masing-masing sanggar seni, sehingga antara sanggar seni satu dengan lainnya memiliki peraturan yang belum tentu sama. Karena didirikan secara mandiri, sanggar seni biasanya berstatus swasta, dan untuk penyetaraan hasil pendidikannya harus melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar bisa setara dengan hasil pendidikan formal.

Keberagaman seni dan budaya suatu daerah menjadi penarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri untuk mengunjungi suatu wilayah. Dalam perkembangannya, berbagai aspek dapat mempengaruhi maju mundurnya serta keberhasilan suatu daerah tersebut memelihara seni dan budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman yang salah satunya keberadaan sanggar seni milik pemerintah kabupaten. Dengan adanya sanggar seni yang tersebar di beberapa desa di suatu daerah diharapkan semakin banyak anak-anak generasi penerus bangsa dapat menyalurkan hobby mereka di bidang seni. Dan secara tidak langsung mereka dapat melakukan pelestarian budaya daerah agar tidak punah.

Banyak anak-anak sejak usia dini sudah memiliki bakat di bidang seni. Bahkan mereka memiliki ketertarikan di bidang seni tradisional namun mereka bingung harus mengasah kemampuan mereka dimana. Maka dari itu penting adanya sanggar seni yang memiliki guru-guru seni yang dapat melatih anak-anak sejak dini dalam berlatih dan mengasah kamampuan mereka dan mampu bersaing dengan seniman-seniman lainnya.

Sanggar Kencana Ungu merupakan salah satu dari banyaknya sanggar yang berada di Cirebon, tepatnya berada di Jl. Raya Sunan Gunung Jati Desa Mertasinga No.007 Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Sanggar Kencana Ungu dipimpin oleh Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma, sanggar ini berdiri tahun 1980 namun dalam mengembangkan sanggar ini tidak berjalan mulus banyak jatuh bangun dan rintangan yang didapat oleh beliau, pada tahun 1989 sanggar ini dapat berdiri dan berkembang hingga sekarang. Nama awal sanggar ini adalah Putra Kusuma, namun ada perubahan nama menjadi Sanggar Seni Kencana Ungu yang saat ini banyak dikenal oleh masyarakat khususnya di wilayah Cirebon.

Sekurang kurangnya ada 6 jenis kesenian di sanggar ini yaitu, Tari Topeng, Wayang, Wayang Gong, Sintren, Upacara Adat dan Gembyung.

1. Tari wayang

Tari Wayang yaitu tari yang mengambil gerak dasarnya dan gerak intinya dari penokohan wayang. Tari wayang biasanya menggambarkan penokohan dan jabatan dalam cerita wayang. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu:

- Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya.

- Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti:

1. Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,

2. Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,

3. Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,

4. Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,

5. Tari Gatotkaca, wataknya keras. Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:

· Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,

· Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,

· Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal.

Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro. Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri.



2. Sintren

Sintren atau juga dikenal dengan Lais adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Jatibarang, Majalengka, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

1. Syawalan Gunung Jati
Salah satu upacara adat di Cirebon adalah upacara adat yang dikenal dengan nama Syawalan Gunung Jati yang mana merupakan sebuah tradisi ziarah yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Cirebon dengan mengunjungi makam Sunan Gunung Jati, upacara adat ini dilakukan pada bulan Syawal atau setelah perayaan Idul Fitri yang mana akan sangat ramai masyarakat mengunjungi makam tersebut.

2. Ganti Walit
Upacara adat yang adalah upacara adat ganti walit yang merupakan sebuah upacara adat untuk mengganti atap makam dari keluarga Ki Buyut Trusmi yang mana atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa, upacara adat ini dinamakan ganti walit karena mengganti atap makam yang terbuat dari welit atau anyaman daun kelapa

3. Rajaban
Upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Cirebon adalah upacara adat yang dikenal dengan nama Rajaban, sesuai dengan namanya upacara adat ini dilaksanakan setiap tanggal 27 Rajab.

4. Muludan
Upacara adat yang dilaksanakn oleh masyarakat Cirebon adalah upacara adat yang disebut Muludan dan diadakan setiap bulan Mulud dengan lokasi ada di makam Sunan Gunung Jati, upacara adat ini dilaksanakan untuk mencuci atau membersihkan benda pusaka milik keraton yang bernama Panjang Jimat, upacara adat ini diadakan pada setiap tanggal 8 hingga tanggal 12 Mulud.

3. Seni Gembyung 
Seni Gembyung merupakan salah satu kesenian peninggalan para wali di Cirebon. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian tembang yang hidup di lingkungan . Konon seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal in Sunan Bonang pesantren dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah.


    



Sanggar seni merupakan suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk berkegiatan seperti tari. Kegiatan yang ada di dalam  sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran. Sanggar seni termasuk kedalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung kondisi masing-masing sanggar. Sanggar Seni Kencana Ungu adalah sebuah barometer bagi seluruh pecinta seni dilingkungan masyarakat Cirebon. Terbukti dengan adanya respon positif dari semua kalangan masyarakat sekitar dan mengapresiasi setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni  Kencana Ungu. 
Sanggar Kencana Ungu ini merupakan sebuah sanggar yang bergerak dibidang Kesenian. Sanggar ini salahsatu dari banyaknya sanggar yang ada di Cirebon. Sanggar Kencana ungu berada di Jl. Raya Sunan Gunung Jati Ds.Mertasinga No.007 RT.1/3 Kec. Gunung Jati Kab.Cirebon. Sanggar ini dipimpin oleh Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma, dan berdiri pada tahun 1980. Nama awal sanggar ini adalah Putra Kusuma, namun ada perubahan menjadi Kencana unggu.
Sanggar seni Kencana Unggu memiliki kurang lebih 70 anak didik yang digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu, kelompok pemula dan madya. Sanggar ini setiap minggu rutin melakukan latihan, untuk hari senin dan selasa kelompok pemula dan jumat,sabtu,minggu untuk kelompok madya. Banyak anak-anak sejak usia dini sudah memiliki bakat di bidang seni, bahkan mereka memiliki ketertarikan di bidang seni tradisyonal namun mereka bingung harus mengasah kemampuan mereka dimana. Maka dari itu penting dengan adanya sanggar seni yang memiliki guru-guru seni yang dapat melatih anak-anak sejak dini dalam berlatih dan mengasah kemampuan mereka dan mampu bersaing dengan yang lainnya. Sanggar ini masih terus diajarkan kepada anak didiknya dari usia TK,SD,SMP,dan lainnya. Alas an dibagi 2 kelompok yaitu agar mempermudah melatih/melihat perkembangan anak didiknya. Setiap setahun sekali sanggar kencana ungu mengadakan tes ujian kemampuan tarinya. Sanggar Kencana Ungu juga penah diundang di Newzeland dan Taiwan mewakili Indonesia di Festival Budaya ada tahun 2004.

Kurang lebihnya ada 6 jenis kesenian disanggar ini yaitu, Tari Topeng,Wayang, Wayang Gong, Sintren, Uacara Adat, dan Gambyung. Tari wayang terdiri dari beberapa jenis diantaranya :

1.      Tari Wayang Adipati Karna
Tari Wayang Adipati Karna termas kedalam kategori tari wayang. Berdasarkan tarinya tari ini juga disebut tari Putra Halus. Tari Wayang Adipati Karna berasal dari Cirebon dan mulai dipopulerkan sekitar tahun 1970, alat musik yang digunakan untuk tari ini  biasanya menggunakan gamelan lengkap atau kaset namun, saat ini yang sering digunakan adalah kaset selain praktis, dalam hal biaya pun terbilang lebih murah.
Jumlah penari Adipati Karna biasanya berjumlah 1, 3, 5, atau 7 orang tergantung dari kebutuhan atau permintaan, lagu utama yang digunakan untuk mengiringi tari wayang Adipati Karna yaitu lagu Semarangan, perwatakan tokoh wayang ini dalam bahasa jawa disebut Satria Ladak yang artinya ksatria.

2.      Tari Raden Ganda Mana
Gandamana adalah putra Gandabayu Raja Kerajaan Pancala yang lahir dari permaisuri bernama Trilaksmi. Memiliki kakak perempuan bernama Gandawati yang menikah dengan Drupada, raja Pancala selanjutnya. Gandamana sendiri merupakan reinkarnasi seorang pendeta muda bernama Resi Jurwada yang pernah menyerang kahyangan menantang pada dewa. Dalam pedalangan gaya Surakarta,bentuk fisik wayang kulit Gandamana sangat mirip dengan Antareja putra sulung Bimasena.
3.      Tari Jayang Rana
Tari Jayengrana merupakan salah satu genre tari Wayang gaya Sumedang yang berkarakter satria ladak. Pada koreografi bagian awal dan akhir ditambahkan ragam gerak sebagai upaya pengayaan, bagian tengah dilakukan pemadatan dan pengolahan variasi. Unsur iringan tari otomatis ada perubahan juga menyesuaikan dengan koreografinya. Bagian awal ditambah kakawen, bagian tengah tetap menggunakan lagu tumenggungan, serta bagian akhir ditambah dengan senandung dalang dan ending rubuh. Pada aspek rias diberikan penegasan garis wajah pada bagian kumis dan cedo. Adapun aspek busana tidak mengalami perkembangan apapun, karena sudah mewakili ciri khas tari Wayang.

4.      Tari Dewi Banowati
Banowati adalah gambaran seorang wanita yang dipuja sekaligus dibenci. Dipuja karena dia adalah putri nan cantik jelita dan seakan tiada bandingnya di dunia. Tak heran para Ksatria,Raja bahkan rakyat jelata bermimpi untuk mempersuntingnya.
Banowati juga dibenci karena sebagian orang menganggapnya sebagai wanita yang tidak setia terhadap kodratnya sebagai seorang istri. Ia dianggap mengkhianati Duryudana, suaminya. Setelah menikah dengan Duryudana, ternyata Banowati masih tetap saja mencintai Arjuna.

Banowati jatuh cinta pada Arjuna, sejak pertama berkenalan. Sebenarnya Arjuna juga tidak menolak cinta Banowati, namun cinta keduanya kandas, karena akhirnya Banowati terpaksa menjadi istri Duryudana atas desakan ayahnya karena Duryudana memberikan harta yang berlimpah ruah. Akhirnya setelah menikah, Banowati sangat menderita karena cinta sejatinya tak dapat diraih.Cintanya tidak pernah padam, hingga setelah tewasnya Prabu Duryudana dalam perang Baratayuda barulah Banowati dapat memenuhi angan-angannya untuk diperisteri Arjuna. Akan tetapi kesenangan itu tidak lama dinikmatinya. Malam itu juga, ia mati dibunuh oleh Aswatama, putera Resi Durna, yang membalas dendam atas kematian para Kurawa.

5.      Tari Raden Gatot Kaca
Tari Gatot Kaca menceritakan ksatria Gatot Kaca yang dilanda asmara. Sesuai hal itu, tarian ini adalah kisah cinta seorang ksatria yang sangat terlenal dalam cerita mahambrata.   Mahkota, dipakai diatas kepala berwarna emas yang menggambarkan bahwa ia adalah seorang pangeran.
Hiasan pada kaki dan tangan, biasanya gelang berwarna kuning keemasan.
Hiasan pada kaki dan tanga, biasanya gelang berwarna kuning keemasan. Kain/baju dan celana setengah panjang , terbuat dari kain beledu hitam berhias permata dari manik manik beraneka warna gemerlapan. Ikst pinggsng terbuat dari logam berkilauan,disebut pending.
Selendang ,sampur. Hiasan belakang berupa sayap, yang menggambarkan bahwa gathot kaca seorang ksatria yang mampu terbuang ke angkasa.
Gatot kaca bermata telengan(membeledak), hidung dempak, berkumis dan bernyangut. Berjamang 3 susun. Bersunting waderan,sanggul kadal-menek , bergaruda membelakang, berpraba, berkalung ulur-ulur, bergelang, berpontoh dan berkeroncong.
Berkain kerajaan lengkap gatot kaca berwanda 1 , 2 kilat 3 Tatit. 4 Tatit sepuh, 5 Mega dan 6 mendunga.Ari disebut menuntut ketepatan gerak dengan iringan dan aba-aba dari alat iringan (semacam kentongan) yang disebut keprak, serta tembang yang mengiringinya yaitu lagu gunung sari, biasanya ada jugayang diiringi dengan musik pelengkap seperti kendang dan gong (kalau di acara yang sangat besar ). 

Jenis tari dibedakan berdasarkan busana, karaker topeng ,properti , gerakan , susuna letak penari , dan tata rias yang digunakan. Fungsi seni tari sebagai bentuk bagian dari upacara keagamaan masih banyak kita jumpai, sebagai upacara adat, sarana hiburan, sosialisasi , sarana Pendidikan , dan sarana Kartasis. 
Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • (tanpa judul)
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Wayang Kulit

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates