Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
KEHIDUPAN ADIPATI KARNA


Dalam perjalanan hidupnya, Karna sebenarnya melewati cobaan yang sangat sulit. Kehadiran Karna di dunia pada dasarnya dapat dikatakan percobaan dewi Kunti terhadap mantera Adithyahrehdaya yang dianugerahkan kepadanya. Setelah terbukti berhasil, bayi yang seharusnya menjadi anugerah terbaik dari mantera itu justru dibuang begitu saja. Latar belakang kelahiran Adipati Karna tersebut dapat dianggap sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Di samping itu, statusnya sebagai anak kusir membuat Karna mengalami banyak cobaan dalam hidupnya, berbagai penolakan serta penghinaan kerap datang kepadanya, terutama dari para Pandawa. Sebagai seorang putera dewa, Karna ternyata dapat melewati semua cobaan tersebut dengan tabah, hingga akhirnya derajatnya sebagai seorang ksatria ”dikembalikan” oleh Duryudana. 

Dalam kehidupannya sebagai seorang Adipati di Awangga, Karna dikenal sebagai seorang bangsawan yang angkuh dan sombong. Jika ditelaah lebih dalam, pada dasarnya wajar-wajar saja ia bersikap seperti itu. Keangkuhan dan kesombongannya dapat dikatakan sebagai defense mekanisme dari dirinya. Mengingat pada masa lalunya ia selalu direndahkan dan dihina. Namun di balik keangkuhan dan kesombongannya tersebut, ia pun dikenal sebagai seorang ksatria yang sangat dermawan. Bahkan menurut salah satu versi Mahabharata, kedermawanannya tersebut mendapat pengakuan dari sang dewa Indra.

Di sisi yang lain, Adipati Karna sebagai seorang ksatria banyak melakukan rose si-manuver yang dapat dikatakan licik. Atas dasar itu pula akhirnya banyak orang memandang sosok Karna dengan stigma rose si. Kelicikan Karna antara lain, ketika ia mencoba memadu kasih dengan dewi Surtikanti, putera prabu Salya. Meskipun belum memiliki suami, namun Karna sebenarnya sudah mengetahui bahwa pujaan hatinya tersebut merupakan calon istri Duryudana. Tindakan Karna itu sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebuah pengkhianatan, mengingat ia dengan terang-terangan selalu berkata tentang hutang budinya kepada Duryudana. Hal ini pula yang menjadi indikasi bahwa Adipati Karna tidak dapat ditundukkan oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang berjasa besar terhadap hidupnya. Manuver lain yang dilakukan oleh Karna adalah berpura-pura menjadi resi ketika berguru kepada resi Parasurama demi mendapat kesaktian.

Pada perang Bharatayudha Adipati Karna sempat berselisih dengan Bisma Dewabrata, kakek para Pandawa dan Kurawa. Perselisihan tersebut dipicu oleh penolakan Bisma akan kehadiran Karna dalam pasukannya. Sang resi Bisma tidak ingin Karna yang angkuh dan sombong menjadi salah satu punggawanya. Karena perselisihan itulah, Karna bersumpah tidak akan berperang di padang Kurusetra selama Bisma menjadi panglima perangnya. Meskipun demikian kondisi itu tidak berlangsung lama. Karna akhirnya menemui Bisma yang sedang berada di penghujung ajalnya. Mereka berdua saling meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Di akhir perbincangan mereka, sang resi Bisma meminta agar Karna bertempur di pihak Pandawa, apalagi Karna telah mengetahui bahwa mereka adalah adik-adik kandungnya sendiri. Namun pada saat itu Karna bersikukuh menolak permintaan sang resi dan tetap akan membela Kurawa.

Sebenarnya sebelum perang Bharatayudha terjadi, Karna sempat bertemu dengan dewi Kunti, ibu kandungnya. Pada pertemuan tersebut dewi Kunti memohon maaf atas kejadian masa lalu dan meminta agar Karna kembali bersama para Pandawa pada saat perang Bharatayudha nanti. Saat pertemuan itulah Karna menunjukkan keikhlasannya untuk memaafkan ibu yang pernah membuangnya. Meskipun ia menolak untuk membela para Pandawa, Adipati Karna menunjukkan dharma baktinya kepada dewi Kunti dengan bersumpah tidak akan membunuh adik-adiknya sendiri. Ia menjelaskan bahwa pemihakkannya kepada Kurawa tidak lain daripada pengabdiannya kepada ”kebenaran”, tanpa kehadirannya di pihak Kurawa, ia yakin kejahatan para Kurawa tidak akan pernah hancur. Alasan ini pula yang disampaikannya kepada Kresna ketika mencoba membujuknya untuk berada di pihak Pandawa. Meskipun telah ikhlas menerima dan memaafkan masa lalunya serta menerima posisinya sebagai kakak dari para Pandawa, tetap saja Adipati Karna selalu menunjukkan keangkuhannya ketika bertemu dengan adik-adik kandungnya itu. Walaupun pada akhirnya ia memang tetap memegang teguh janjinya kepada dewi Kunti untuk tidak membunuh para Pandawa di perang Bhatarayudha.

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai rose s yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan rose s, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk rose si-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Di sisi yang lain, Adipati Karna menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya rose sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang akan dimilikinya. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa.

Pengorbanan Karna sebenarnya merupakan pengabdian pada kebenaran, tentunya dalam konteks yang luas. Ia mengabdi pada sebuah ”karmapala” tentang kejahatan yang selalu dihancurkan oleh kebenaran. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa sebenarnya dalam dirinya, Karna sudah mengetahui peranannya dalam dunia dan roda dharma. Ia sadar bahwa ia dilahirkan untuk membantu keseimbangan dalam dunia. Keinsyafan itulah yang sempat ia ucapkan dua kali, yaitu kepada Kresna sebagai titisan Wisnu dan Ibundanya, dewi Kunti.

Pemaparan tadi tentunya sedikit banyak dapat menjadi titik terang dalam menjawab keraguan akan penasbihan Adipati Karna sebagai ksatria agung. Pada akhirnya, penasbihannya tersebut harus dilihat dalam konteks yang luas. Dalam hal ini kita tidak dapat menilai Adipati Karna secara pragmatis. Jika ditelaah lebih jauh dapat kita lihat bahwa sang Basusena justru melepaskan dirinya dari nilai-nilai praktis. Dalam hidupnya ia merupakan sosok yang dermawan, ikhlas serta berani berkorban. Tindakan-tindakan seperti itu tentu saja memunculkan berbagai penilaian positif terhadap dirinya, namun di sisi lain, ia pun menunjukkan kelicikkan, keangkuhan serta kesombongan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya ia selalu melakukan hal-hal yang paradoksal — bertentangan. Bukankan hal tersebut justru menandakan bahwa Karna adalah sosok yang munafik? Meskipun demikian, harus dilihat pula bahwa keangkuhan serta kesombongan yang selalu ia tunjukkan, justru ditunjukkannya kepada para kaum bangsawan dan ksatria. Sementara hal-hal baik justru ia tunjukkan kepada rakyat jelata yang memang seharusnya menjadi ayoman para bangsawan dan ksatria. Dari perilakunya tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya Adipati Karna melakukan berbagai hal-hal baik hanya demi kebenaran yang ia percaya, bukan demi penilaian-penilaian baik dari manusia terhadap dirinya.

Dari keistimewaan sang Basusena itu, tentunya kita paham jika pada akhirnya, sosok Adipati Karna yang erat dengan keikhlasan dan pengorbanan tersebut memiliki posisi istimewa di kalangan masyarakat Jawa, bahkan Sunda. Keistimewaan sosok Karna dapat kita lihat pula dalam dunia pewayangan, untuk pertunjukkan dramatari wayang wong Priangan, tokoh Adipati Karna memakai aksesoris mahkota Ketu Topong. Makhota itu pula yang dipakai oleh tokoh Bhatara Guru, selain kedua tokoh tersebut, tidak ada lagi yang memakainya. Tentu saja ada alasan tertentu mengapa Karna mendapat keistimewaan untuk memakai mahkota seperti Bhatara Guru. Padahal jika dilihat dari status kebangsawanannya, Karna hanyalah raja bawahan di Awangga.

Salah satu contoh keistimewaan sosok Karna di kalangan masyarakat Jawa dapat kita lihat pada akhir tahun 2010 kemarin, ketika gunung Merapi mengamuk, mata orang banyak tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Setelah akhirnya Si Mbah meninggal dunia karena wedus gembel Merapi, banyak orang yang kemudian mengasosiasikan Si Mbah dengan sosok Adipati Karna. Dari perspektif kelompok masyarakat tertentu, kedua tokoh tersebut dihormati karena keberanian serta keikhlasan mereka untuk berkorban demi sebuah kebenaran yang mereka percaya. Tak banyak orang yang berani memilih cara hidup seperti kedua tokoh tersebut. Di dalam dunia yang semakin pragmatis ini, sosok Mbah Maridjan tampil mencolok, sepanjang hidup hingga ajal menjemputnya, ia setia dengan prinsip kebenaran yang ia percayai tanpa mempedulikan nilai-nilai pragmatis yang timbul di kalangan masyakarat. Dari sisi tertentu, sosok Si Mbah akhirnya mengajak sebagian masyarakat Jawa untuk bernostalgia kepada sosok Adipati Karna. Atas dasar itulah akhirnya Mbah Maridjan diasosiasikan dengan sosok Adipati Karna yang agung. Tentu saja sekali lagi, harus dilihat dalam konteks yang luas, bukan pragmatisnya saja.

Pada akhirnya penilaian terhadap sosok Adipati Karna akan bergantung pada perspektif mana yang akan dipilih, luas? Atau pragmatis? Yang pasti agar semakin terang dan jelas, dibutuhkan pemahaman dan penelaahan lebih mendalam terhadap sosok Adipati Karna serta tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata. rose situ tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kekayaan khazanah budaya Nusantara, mengingat banyak sekali kandungan filosofis serta nilai-nilai luhur dari mahakarya sastra tersebut yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.








PALAGAN KURUSHETRA, GUGURNYA ADIPATI KARNA



Terlahir dari perawan Kunti akibat mantera yang diucapkan secara coba-coba ke Dewa Surya, bayi Karna dibuang ke sungai Aswa untuk menjaga keberadaan ibunya sebagai perempuan yang belum menikah. Karna kecil akhirnya ditemukan Adirata, kusir kereta di kerajaan Astina dan ia tumbuh besar dalam asuhan keluarga wong cilik”

Hari itu, Vrishasena, anak Karna, maju ke arah tentara Pandawa. Panah tajam Arjuna membunuhnya sementara Karna yang melihat. Sekarang, Karna sangat ingin memerangi Arjuna. Dua prajurit terbesar tersebut saling berhadapan.

Duel mereka dimulai, mereka mulai dengan panah biasa, kemudian melakukan pemanasan dengan penggunaan Astra Dewata. Mereka menggunakan Astra dari Agni, Baruna, Indra secara bergantian dan menetralkan Astra yang lain. Sekarang, Karna mengirimkan astra mengerikan, hadiah khusus dari gurunya, Parasurama, yang disebutBhargavastra. Ini astra lebih kuat daripada semua Astra yang digunakan selama ini oleh mereka. Tentara Pandawa telah banyak diserang oleh astra ini. Bima marah besar, katanya kepada Arjuna untuk mengakhiri Karna kalau tidak, ia yang akan membunuhnya dengan gadanya. Krishna meminta Arjuna bertempur sepenuh hati, jika tidak, tidak akan mudah untuk membunuh Karna.

Arjuna memanggil Brahmastra, gejolak besar terjadi di semua arah. Astra itu membersihkan awan panah yang dibuat oleh Karna. Karna membalas dengan mengirimkan astra lain yang mematikan. Astra ini bersinar menerangi seluruh medan perang. Ia melesat bagai kilat. Semua orang menonton dengan napas tertahan. Bahkan para dewa seperti Surya dan Indra pun menyaksikan duel kedua anak mereka.

Krishna melakukan hal yang tidak biasa. Dia menekan kereta kudanya sehingga tenggelam 15 senti ke dalam tanah. Akibatnya astra yang menuju ke leher Arjuna hanya menyentuh mahkotanya saja. Mahkota Kiriti yang terkenal itu jatuh ke tanah, tetapi Arjuna selamat. 

Sekarang tidak ada astra kuat lagi yang tersisa di dalam simpanan senjata Karna. Tapi dia terus bertarung. Pandawa bisa bernapas lebih lega setelah mereka melihat bahwa Arjuna lolos dari Magastra mengerikan.
Sekarang nasib telah mulai bekerja melawan Karna. Bumi ini menjadi lunak, mendadak roda-roda kereta Karna masuk jauh di dalam ke tanah. Pelindung rodanya pun terlepas. Karna mulai marah.

Karna melompat turun, hendak membetulkan roda itu. “Tunggu! Keretaku masuk lumpur. Sebagai kesatria besar yang memahami dharma, hendaknya engkau berbuat adil dan tidak memanfaatkan kecelakaan ini sebagai kesempatan untuk menggempur aku. Setelah aku berhasil keluar dari lumpur ini, kita bertarung lagi!” demikian teriak Karna.

Arjuna sudah siap mengangkat Gandiwanya. Ia memilih anak panah yang pantas untuk melumpuhkan lawannya. Sementara itu, Karna bingung karena ingat akan sumpah Arjuna. Ia berteriak lagi, meminta Arjuna memegang kehormatan dan tata krama kaum kesatria, yaitu tidak menyerang musuh yang tidak berdaya.
Krishna memotong kata-kata Karna dengan lantang, “Hai, Karna, sungguh baik engkau masih ingat kata-kata ‘adil dan kehormatan kesatria’. Sayang, baru sekarang kauingat. Dulu waktu Duryodhana, Duhsasana dan Sakuni menghina Draupadi, engkau lupa dan berlagak bodoh .

Engkau juga membantu Duryodhana yang menipu dan jahat terhadap Pandawa. Ingatkah engkau akan permainan dadu, meracuni dan membakar Pandawa hidup-hidup, lalu mengusir mereka ke dalam hutan. Apa yang kaumaksud dengan ‘kehormatan dan tata krama ksatria’? Dan dharma mana yang kauingat?

Mulutmu yang lancang telah menghina Draupadi seperti ini: ‘Suamimu, Pandawa telah meninggalkan engkau. Kawinlah dengan laki-laki lain.’

“Sekarang engkau bicara tentang keadilan, kehormatan kesatria dan dharma. Setelah bicara tentang itu, apakah engkau tidak malu ikut membunuh Abhimanyu beramai-ramai? Engkau bicara tentang keadilan, kehormatan dan budi pekerti, tetapi kau justru mengingkarinya.”

Mendengar kata-kata Krishna, Karna menundukkan kepala. Ia malu dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Ia bangkit lalu naik kembali ke keretanya, mengambil busur, dan melepaskan anak panah yang nyaris mengenai Arjuna.

Dhananjaya terhenyak sesaat. Dengan cepat Karna turun untuk membetulkan roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur. Ia mencoba mengingat mantra brahmastra pemberian Parasurama, tetapi seperti telah diramalkan oleh Parasurama, Karna tak bisa mengingatnya .

“Jangan membuang-buang waktu lagi, Dhananjaya,” kata Krishna kepada Arjuna. “Panahlah dia! Bunuhlah manusia jahat itu!”

Mula-mula Arjuna ragu, tangannya gemetar. Tetapi setelah mendengar kata-kata Krishna, Arjuna mengirimkan panah, yang bernama Vajr, senjata Indra. Senjata itu memotong kepala Karna. Kepala Karna berguling-guling di tanah. Seberkas cahaya meninggalkan tubuh Karna menuju ke langit.

Karna sudah mati dan sekarang tidak ada yang tersisa untuk Duryodana. Matahari tenggelam seolah meratapi kematian anaknya. Sinar matahari telah kehilangan hati mereka. Sinar telah menjadi lembut seperti itu dari sinar bulan.

Sesungguhnya, menurut aturan perang, siapa pun tidak dibenarkan menyerang atau membunuh musuh yang tidak berdaya, luka parah, atau berada dalam posisi tak bisa melawan atau mempertahankan diri. Jika itu dilakukan, artinya orang itu melanggar dharma! Tetapi di padang Kurukshetra waktu itu, aturan perang sudah tidak diindahkan, bahkan dilanggar. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan menjalankan dharma-nya sebagai kesatria jika saudara dan kerabat saling membunuh? Bukankah peperangan sebenarnya adalah adharma atau kejahatan? 
Salya merasa kecewa dan dia pergi menghadap Duryodana. Raja tenggelam dalam keputusasaan. Air matanya mengalir tanpa henti. Dia tidak bisa berbicara. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Karna sudah meninggal. Melihat Salya, busur dan kereta Karna, Duryodana pun semakin terpuruk.
Salya merasa sangat sulit untuk menghibur raja. Dia sendiri sangat terguncang. Aswatama dan lain-lain datang untuk menghibur Duryodana, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. 

Di pihak Pandawa, Kresna dan Arjuna pergi menemui Yudistira dan memberi mereka kabar baik yang telah ditunggu oleh Yudistira dengan penuh harap. Yudistira pun segera berangkat ke lapangan untuk meliha jasad Karna. Dilihatnya tubuh Karna yang bersinar dan juga ketiga anaknya.
Pada tengah malam Duryodana pergi ke kakeknya dan menangis di kakinya. Bisma menyentuh kepala Duryodana dengan lembut dan berkata "Mengapa engkau menangis anakku? Apa yang membuat kamu begitu bersedih?" Duryodana menceritakan kepadanya tentang kematian Karna. Bisma berkata, "Jangan bersedih, Radheya ingin mati sebagai Ksatria. Dia adalah seorang Ksatria dan dia meninggal sebagai Ksatria.
Duryodana terkejut, Ia bertanya kepada kakeknya apa yang dimaksud dengan kata-katanya.
Dia berkata, "Aku selalu percaya bahwa Karna yang ksatria, tindakan-tindakannya seperti ksatria semua. Tapi karena Anda mengatakan, bahwa ia Ksatria.. Saya meminta Anda untuk memberitahu saya tentang hal itu."

Bisma berkata, "Hanya jika kau berjanji padaku bahwa rahasia ini tidak akan pernah diberitahu olehmu kepada siapa pun, hanya kemudian saya dapat memberitahu Anda ini. Radheya menginginkannya seperti itu. Saya telah memberikan janji kepadanya bahwa saya akan menceritakan tentang rahasia kelahirannya padamu, hanya setelah kematiannya dan itu juga dengan syarat bahwa kau tidak menceritakannya kepada siapa pun yang lain. "
Duryodana berkata, "Jika Karna ingin dengan cara itu, saya harus menghormati keinginan teman saya, saya tidak akan memberitahu rahasia ini kepada siapa pun."
Bisma kemudian berkata "Radheya adalah Kaunteya. Dia adalah Pandawa.."
Selanjutnya Bisma menceritakan seluruh kisah tragis kehidupan Karna. Dari kelahirannya hingga pertemuannya dengan kunti sebelum perang.

Duryodana berusaha menyerap sejauh mana keagungan sahabatnya dan pengabdiannya yang begitu hebat kepadanya. Dia menangis bahwa mengapa dia tidak terbunuh sebagai pengganti Karna. Ia menjadi kehilangan akal karena kesedihan.

Akhirnya Bisma menghiburnya. Tapi Duryodana telah kehilangan kemauannya untuk hidup. Dia ingin mati saja.
Dia berjalan kembali ke markasnya. Dia berpikir tentang kehebatan seorang yang bernama Karna. Karna mengetahui bahwa dia adalah Pandawa yang tertua, namun ia tidak pergi bergabung dengan saudara-saudaranya. Dia memilih untuk tetap dengan Duryodana temannya. Dia menyerahkan hidupnya demi persahabatan saat berperang melawan saudaranya sendiri. Hujan airmata dari matanya tak terbendung juga.

KISAH  ADIPATI KARNA


           


Karna adalah salah satu tokoh penting dalam Mahabharata. Ia adalah putra tertua Kunti, Sehingga saudaramya merupakan yang tertua dari keenam saudara tersebut. Walaupun Duryodhana menunjuknya sebagai raja Angga, perannya dalam kisah Mahabharata jauh melebihi peran seorang raja. Karna bertarung di pihak Kaurava dalam perang di Kurukshetra.

Karna adalah nama Raja angga dalamwiracita mahabrata. Ia menjadi pendukung utama pihak korawa dalam perang besar melawan pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa: Yudhistira, Bimasena dan Arjuna. Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, dan akhirnya gugur di tangan Arjuna. Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Karna menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski angkuh, ia juga seorang dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir miskin dan kaum Brahmana . Menurut legenda, Karna merupakan pendiri kota Karnal, terletak di negara bagian Haryana india selatan.

Semasa mudanya, Kunti merawat Resi Durvasa selama satu tahun. Sang resi sangat senang dengan pengabdian yang diberikan olehnya sehingga memberikan anugerah untuk memanggil salah satu dari para dewa dan dewa yang dipilihnya tersebut akan memberiknya seorang putra yang mempunyai sifat baik menyamai dewa tersebut. Karena ragu-ragu apakah anugerah tersebut benar, Kunti, selagi masih belum menikah, memutuskan untuk mencoba mantra tersebut dan memanggil dewa matahari, Surya. Ketika Surya menampakkan diri didepannya, Kunti terpesona. Karena terikat mantra Durvasa, Surya memberinya seorang anak secemerlang dan sekuat ayahnya, walaupun Kunti sendiri tidak menginginkan anak. Dengan kesaktian Surya, Kunti tetap tidak ternodai keperawanannya. Sang bayi adalah Karna, lahir dengan baju besi dan anting-anting untuk melindunginya. 

Kunti kini berada dalam posisi yang memalukan sebagai seorang ibu seorang anak tanpa ayah. Karena tidak mau menanggung malu ini, ia meletakkan Karna ke dalam keranjang dan menghanyutkannya bersama dengan perhiasannya (mirip dengan kisah Nabi Musa), berdoa agar bayi tersebut selamat. 

Bayi Karna terhanyut di sungai dan ditemukan oleh seorang pengemudi kereta bernama Adhiratha, seorang Suta (campuran antara Brahmin dengan Khsatriya). Adhiratha dan istrinya Radha membesarkan Karna sebagai anak mereka dan memberinya nama Vasusena karena baju besi dan antingnya. Mereka mengetahui latar belakang Karna dari perhiasan yang ditemukan bersamanya, dan tidak pernah menyembunyikan kenyataan bahwa mereka bukan orang tua Karna yang sebenarnya. Karna juga disebut Radheya karena nama ibunya Radha. Adiknya, Shon, lahir dari Adhiratha dan Radha setelah kedatangan Karna. 

Ikatan antara Karna dan keluarga angkatnya merupakan hubungan berdasarkan cinta dan rasa hormat yang murni. Karna menghormati Adhiratha di depan teman-teman khsatriyanya, dan dengan penuh rasa cinta tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang anak dalam keluarga angkatnya meskipun ia telah menjadi raja Angga dan mengetahui asal usul kelahirannya. 

Karna ingin menjadi seorang prajurit besar. Maka ia mengembara ke Hastinapura bersama dengan ayah dan adik angkatnya. Di sana menguasai ilmu kanuragan dengan belajar kepada Drona, walaupun ia belajar tidak bersama dengan para pangeran (Pandava dan Kaurava) karena dipandang berasal dari kasta yang rendah. Karna menguasai semua ilmu yang diajarkan, terutama ilmu memanah. Ketika Pandava diusir ke hutan selama 14 tahun, Duryodhana meminta Karna untuk menguasai Brahmastra, salah satu senjata terkuat yang ada. Hanya beberapa orang yang mengetahui hal ini termasuk Drona, Arjuna, Bhisma dan Ashwathama (anak Drona). Ia pertama-tama mendekati Drona, guru Pandava dan Kaurava, tetapi Drona menolak untuk mengajarinya karena kastanya yang rendah. Ia kemudian meminta Parashurama, guru besar yang lain, untuk mengajarinya seni berperang terutama untuk mnguasai Bhramashtra. Parashurama tidak akan mengajari seorang khsatriya karena rasa bencinya pada kaum khsatriya yang telah membunuh orang tuanya. Maka untuk mendapatkan ilmu, Karna berbohong tentang asal usulnya dan mengaku sebagai seorang Brahmin. 

Suatu saat, ketika Parashurama sedang tidur dengan kepala di pangkuan Karna, seekor serangga menggigit pahanya. Ini menyebabkan paha Karna berdarah dan ia pun merasakan kesakitan yang amat sangat. Namun Karna bertahan untuk tidak bergerak agar gurunya tidak terbangun. Darah yang menetes dari paha Karna memercik ke muka Parashurama dan membuatnya terbangun. Melihat apa yang terjadi Parashurama mengetahui bahwa Karna bukanlah seorang Brahmin karena hanya seorang khsatriya yang dapat menahan sakit seperti itu. Karna mengaku bahwa ia telah berbohong, dan Parashurama yang marah mengutuk Karna: ia tidak akan bisa mengeluarkan ilmunya pada saat di mana ia paling membutuhkannya. Sebelum Parashurama, seorang brahmin yang lain pernah mengutuk Karna bahwa Karna akan dibunuh ketika ia dalam keadaan tak berdaya, hal ini disebabkan karena Karna telah membunuh sapi kesayangan brahmin tersebut. 

Suatu saat sebuah turnamen diadakan untuk menentukan perajurit yang terkuat setelah ‘lulus’ dari pendidikan Drona. Dalam perlombaan itu Arjuna keluar sebagai yang terbaik dan Duryodhana takut padanya. Kemudian Karna muncul dan menantang Arjuna. Dalam pertanding yang berlangsung kemudian, Karna dapat mengimbangi semua keahlian Arjuna. Untuk menentukan pemenang yang sesungguhnya, Karna menantang Arjuna untuk bertempur satu lawan satu di mana kemenangan salah satu pihak ditentukan dengan kematian lawannya. Dengan alasan bahwa Karna berasal dari kasta yang lebih rendah dari Arjuna, Drona menolak usul Karna tersebut. Duryodhana yang memang menyimpan rasa iri dan takut kepada Pandava seketika memberikan tahta kerajaan Anga kepada Karna, sehingga Karna menjadi seorang raja dan dengan demikian pantas untuk menantang Arjuna berduel sampai mati. Tindakan Duryodhana ini menanamkan benih kesetiaan Karna kepadanya. Tetapi akhirnya duel tersebut tetap tidak terwujud. 

Ketika Pandawa mengasingkan diri, Karna membebankan kepada dirinya sendiri tugas untuk menjadikan Duryodhana penguasa dunia. Karna memimpin pasukan ke negara-negara sekitar untuk menaklukkan raja-rajanya di bawah kekuasaan Duryodhana. Karna berhasil menang dalam semua pertempuran yang dilaluinya, walaupun kepatuhan raja-raja tersebut tidak semuanya berlangsung lama (sebagian tetap memihak kepada Pandava dalam perang Bharatayudha). 

Di akhir pendidikan para Pandawa dan Kurawa, resi Dorna mencoba memperlihatkan kemampuan para anak didiknya tersebut. Sebagai hasilnya, Dorna mengumumkan bahwa Arjuna-lah yang terbaik, namun pada saat itu, Basusena tiba-tiba maju untuk menantang Arjuna, karena ia merasa dapat mengalahkannya dalam ilmu memanah. Tantangan dari Basusena kontan saja ditolak oleh Dorna, alasannya masih sama, karena Basusena adalah putera seorang kusir dan bukan dari golongan ksatria. Namun pada saat itu, Duryudana yang merupakan sulung dari para Kurawa datang untuk membela Basusena. Duryudana yang telah mengetahui kemampuan si anak kusir itu meminta kepada ayahnya, prabu Destarata untuk mengangkat Basusena sebagai Adipati atau raja bawahan di Awangga. Permintaan Duryudana tersebut bertujuan untuk mengangkat derajat Basusena menjadi seorang ksatria. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik balik dari kehidupan Basusena. Kebaikan dari Kurawa tersebut kelak dijadikannya sebagai hutang budi. Karena kemampuannya yang mumpuni dalam ilmu berperang maka Basusena pun disebut dengan nama Karna. Versi lain menyebutkan bahwa nama Karna berasal dari kata ”telinga” yang merupakan bagian dari proses kelahiran sang Basusena. Setelah peristiwa pengangkatan Basusena sebagai Adipati di Awangga, maka selanjutnya, ia dikenal dengan nama Adipati Karna. 

Dalam hal percintaan, Adipati Karna mulai menunjukkan kompleksitas kepribadiannya. Wanita yang ia pilih sebagai kekasih hatinya adalah Surtikanti puteri prabu Salya. Surtikanti ini sebenarnya adalah calon permaisuri Hastinapura, calon isteri dari Duryudana, kawan dan sahabat dekat Karna. Dikisahkan dari sebuah versi, Arjuna menangkap basah Karna yang sedang berkasih-kasihan dengan puteri Surtikanti. Mereka pun akhirnya berkelahi, namun pertarungan tersebut dilerai oleh dewa Narada. Pada saat itu pula dewa Narada memberitahu kepada Karna tentang asal-usulnya yang merupakan putera dari dewi Kunti. 

Versi lain mengatakan bahwa Karna mengetahui asal-usulnya justru dari Kresna yang pada waktu itu berniat untuk membujuk Karna agar kelak memihak Pandawa di perang Bhatarayudha. Pada saat itu Karna menolak bujukan Kresna, meskipun ia menerima dan memaafkan apa yang terjadi pada dirinya dulu. Hutang budi adalah alasan mengapa Karna tetap membela Kurawa, namun ada versi lain yang menyebutkan pula bahwa Karna tetap membela Kurawa agar Duryudana mendapat suntikan moral dalam pasukannya, sehingga sang pangeran Hastina tersebut tidak mundur dari perang Bharatayudha. Ia berpendapat bahwa hanya Pandawa yang dapat menghancurkan kejahatan Kurawa dan untuk itu Kurawa harus tetap ikut berperang. Sesaat sebelum dimulainya Bharatayudha, Karna bertemu terlebih dahulu dengan dewi Kunti, ibu kandungnya. Pada pertemuan itu, Karna memaafkan ibunya dan bersumpah tidak akan membunuh satu pun adik-adiknya dalam perang Bhatarayudha. 



Tari Adipati Karna termasuk kedalam kategori Tari wayang. Berdasarkan Gerakan Dasar tarinya, Tarian ini juga termasuk kedalam Tari Putra Halus. Seperti yang kita ketahui dalam cerita pewayangan, Karna, alias Radeya adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa: Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Adipati Karna adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping). Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.



Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamade, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamade. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamade itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamade (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamade membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.



Pamade dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga. Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.

Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri. Teladan keutamaan Adipati Kama ini dikarang oleh KGPAA Mangkunegara IV untuk pengajaran pada kerabat dan tentara Mangkunegaran, tetapi umumnya juga diikuti oleh khalayak. Buku tersebut berjudul Tripama.



Salah satu contoh keistimewaan sosok Karna di kalangan masyarakat Jawa dapat kita lihat pada akhir tahun 2010 kemarin, ketika gunung Merapi mengamuk, mata orang banyak tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Setelah akhirnya Si Mbah meninggal dunia karena wedus gembel Merapi, banyak orang yang kemudian mengasosiasikan Si Mbah dengan sosok Adipati Karna. Dari perspektif kelompok masyarakat tertentu, kedua tokoh tersebut dihormati karena keberanian serta keikhlasan mereka untuk berkorban demi sebuah kebenaran yang mereka percaya. Tak banyak orang yang berani memilih cara hidup seperti kedua tokoh tersebut. Di dalam dunia yang semakin pragmatis ini, sosok Mbah Maridjan tampil mencolok, sepanjang hidup hingga ajal menjemputnya, ia setia dengan prinsip kebenaran yang ia percayai tanpa mempedulikan nilai-nilai pragmatis yang timbul di kalangan masyakarat. Dari sisi tertentu, sosok Si Mbah akhirnya mengajak sebagian masyarakat Jawa untuk bernostalgia kepada sosok Adipati Karna. Atas dasar itulah akhirnya Mbah Maridjan diasosiasikan dengan sosok Adipati Karna yang agung. Tentu saja sekali lagi, harus dilihat dalam konteks yang luas, bukan pragmatisnya saja.

Pada akhirnya penilaian terhadap sosok Adipati Karna akan bergantung pada perspektif mana yang akan dipilih, luas? Atau pragmatis? Yang pasti agar semakin terang dan jelas, dibutuhkan pemahaman dan penelaahan lebih mendalam terhadap sosok Adipati Karna serta tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata. Proses itu tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kekayaan khazanah budaya Nusantara, mengingat banyak sekali kandungan filosofis serta nilai-nilai luhur dari mahakarya sastra tersebut yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Tari wayang Adipati Karna berasal dari Cirebon dan mulai dipopulerkan sekitar tahun 1970, alat musik yang digunakan biasanya menggunakan gamelan lengkap atau kaset namun, saat ini yang sering digunakan adalah kaset selain praktis, dalam hal biaya pun terbilang lebih murah.

Jumlah penari Adipati Karna biasanya berjumlah ganjil yaitu 1 orang, 3 orang, 5 orang, atau 7 orang bahkan bisa tergantung dari kebutuhan atau permintaan, lagu utama yang digunakan untuk mengiringi tari wayang Adipati Karna yaitu lagu Semarangan, pewatakan tokoh wayang ini dalam bahasa jawa disebut Satria Ladak yang artinya Ksatria, disebut ksatria karena seseorang yang gagah, berani, berjiwa juang, mampu berkorban, jujur, setia, dan dapat menjadi pemimpin yang baik. Pagelaran seni wayang ini biasanya digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon ataupun di acara pementasan sebuah instansi.

Seni tari wayang ini bisa digunakan untuk acara resmi maupun tidak contohnya seperti memperingati hari jadi Kabupaten Cirebon, memperingati haul, upacara adat pernikahan, khitanan, pengisi acara dalam pagelaran seni, karnaval, festival seni dan lain sebagainya. Namun sayangnya pada zaman sekarang yang telah berkembang ini, tari wayang Adipati Karna kurang populer di kalangan masyarakat karena sedikitnya jumlah orang yang bisa menari wayang tersebut dan tidak semua sanggar seni memiliki wayang Cirebon, hal ini lah yang membuat tari wayang Adipati Karna semakin tidak populer di wilayah kota Cirebon terutama di kalangan anak-anak.

Aktualisasi Spirit Karna

Adipati Karna, di dalam Serat Tripamama Yasa, dinyatakan sebagai sosok ksatria yang dinyatakan layak diteladani, bersama Bambang Sumantri – sang patih bagi Prabu Arjuna Sasrabahu di Kraton Maespati, dan Kumbakarna – adik Raja Rahwana dari Kerajaan Alengka. Tentunya ada keistimewaan pada kepribadian Adipati Karna sehingga KGPAA Mangkunegoro IV memilihnya sebagai role model bagi para ksatria Jawa.

Menurut hemat saya, ada beberapa karakter utama Adipati Karna yang layak diteladani dan dihidupkan pada keseharian kita, yaitu: pertama, kesadaran akan lakonnya sebagai seorang ksatria – dan itu membuatnya berani menanggung resiko kalah ataupun menang dalam satu pertarungan. Ia berprinsip, nilai atau derajat seorang ksatria bukan terletak dalam kemenangan atau kekalahan dalam sebuah pertarungan, melainkan dalam bagaimana ia menjalani pertarungan itu. Seorang ksatria sejati adalah mereka yang bertarung dengan penuh kesungguhan, mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, tak peduli menang atau kalah. Bahkan, dalam kasus Adipati Karna, ketika ia sadar pasti kalah melawan Arjunapun, ia tetap bertarung gigih hingga titik darah penghabisan, sehingga pertarungannya melawan Arjuna menjadi salah satu pertarungan paling agung dalam sejarah pewayangan. Kedua, Adipati Karna adalah pribadi yang rela mengorbankan diri untuk kepentingan lebih besar, yaitu kepentingan sosial dan tegaknya keadilan. Ketika ia memilih untuk memihak Kurawa, itu bukan semata-mata karena tindakan balas budi atas kebaikan Prabu Duryudana. Juga bukan karena rasa dendam terhadap saudara-saudara tirinya di pihak Pendawa. Tapi itu dilakukan untuk memuluskan terjadinya Bharata Yudha yang diyakini memang harus terjadi agar Pendawa tak selalu tertindas, dan agar keadilan bisa tegak
Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates