Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Sosok dibalik penari sintren

Sintrenmerupakansalahsatuwarisansenileluhurmasyarakat Cirebon. Sang penariSintren dilakukanolehseorangperempuan.
Seorangperempuandiikatdandimasukkankedalamkurunganayam yang sudahditutupkain.Beberapasaatsetelahdibacakanmanteraoleh sang pawang, perempuantersebutberubahmenjadipenariSintren yang terkenal.
MenggunakankacamatahitamdanpakaiankhasSintren.PenariSintrendidampingibeberapa orang berpakaianadat.Bakkesurupan, lenggaklenggokpenarisintrenmenaridikawalbeberapapawangdenganwangikemenyan di sekelilingnya.
Gamelan pun ditabuhsebagaipengiringtarianSintren yang sudahdikenalmasyarakat.Sesekaliperempuantersebutterjatuhsaatpenontonmelemparuangketubuhnya.
Saatpenontonmelemparuang, parapengawaldanpawangsintrenmenahannyasaatsebelumjatuhketanah.Serayamembacakansebuahmantera, sintrenkembalimenari.
KesenianTariSintren CireboninimenjadisalahsatupelengkapdalamsuasanaliburLebaran di GuaSunyaragi Cirebon.Sultan Keraton XIV Kasepuhan Cirebon PRA AriefNatadiningratmenjelaskan, tariSintrenmerupakansalahsatuwarisanbudaya Cirebon yang masihlestari.
"Sintren kami pilihmenjadisalahsatupertunjukanseni di GuaSunyaragikarenaantusiasmemasyarakatjuga.Merekatertarikdengansintrenkarenaterjatuhsaatdilemparuang," ujar Sultan Arief, Kamis (12/9/2019).
Dahulu, TariSintrenidentikdengannuansamagis.Sebab, sejumlahatraksi yang dilakukancukupmembuatpenontontakjub.
Namunseiringberkembangnyawaktu, tarisintrendapatdipelajaridalamkeadaansadar.
Menurut Sultan Arief, tariSintrenadalahbagiandarisenitaritradisional yang memilikimaknafilosofisdalamkehidupanmasyarakat, yaknimengingatkan agar manusiatidaklupadiridalamkehidupan di dunia.
"Maknafilosofipenarijatuhkarenadilemparuangyaitumanusiasemakinbanyakuangcenderunglupadiridandari situ bisamenjadipangkalkejatuhannya," ujar dia.
KehadiranTariSintren di GuaSunyaragidiharapkanmembuatpengunjungberkesan.Selainitu, maknaTariSintren yang dipertunjukkankepadapengunjungdapattersampaikan.
MenurutAriefkeseniantakhanyamenjaditontonanmelainkansebuahtuntunandalamberkehidupanpadazamandahulu.
"Membuatpengunjungmenjadiberkesanitu yang kami inginkansehinggamerekatidakbosandatangke Cirebon," harapArief.
SelainTariSintren, situsGuaSunyaragijugamenghadirkanberbagaitariantradisional lain sepertiTopeng Cirebon. Sultan Ariefmengatakan, pertunjukansenitersebutdisuguhkanhanyasaatmomenliburLebaran.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.Kononsintrenmerupakankesenianrakyat yang di dalamnyamengandungunsurmagis.
Hal inidapatdilihatdariadeganpemanggilanrohbidadari yang dilakukanolehpawanguntukmerasukkedalamtubuhpenarisintren.SintrenadalahsebutanuntukperanutamabagipenariSintren, akhirnyasebutanitumenjadisalahsatunamajeniskesenian, yaituSintren.
MenurutMamadNurahmadselakubudayawanSintren, senitariiniterciptadarikondisimasyarakatpesisiran.Menurut Warta, selakuanggotaseniSintren, adabeberapapersepsimengenaiSintren. Sintrenberasaldari kata Sasantrian yang artinyamenirusantriketikabermainLais, Debus, Rudat yang memakai magic (ilmuGhaib).
Keseniantradisionalsemakinmemprihatinkanseiringkemajuanteknologi.Keberadaanya di tengahmasyarakatmakindilupakan.Salah satunyaadalahkeseniansintren.
Indonesia merupakannegara paling banyakmemilikikeseniantradisional.MulaidariSabanghinggaMerauke, setiapdaerahmemilikikeseniantradisional yang
berbeda-beda.
Salah satukeseniantradisional yang makindilupakansalahsatunyaadalahkeseniansintren.Sintrenmerupakankeseniantradisional yang berasaldaripesisirutarapantaiJawa Barat danJawa Tengah.Daerah persebarankesenianini di antaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, danPekalongan.
PemerhatisenibudayaErwindhomenjelaskan, keberadaankeseniansintrenhampirpunahkarenatidakadawarga yang menanggap.Jikatidakadaupayamelestarikan, menurutErwindho, keseniansintrensebagaisalahsatukekayaanbudayadankearifanlokalinitidakmenutupkemungkinanakanpunahdariperbendaharaanbudayabangsa.
salahsatuusahauntukmelestarikankeseniansintrenadalahdenganseringdigelarnyapertunjukansintren. Utamanyasaatacarasedekahbumimaupunacarapesta di suatudaerah, akanmenarikjikamenampilkankeseniansintren.
Karenanyadiasangatmendukungjika di tiap-tiapkecamatanataukelurahan, perludigelarkesenianrakyat, takterkecualikeseniansintren.Minimal pertunjukanrakyatdigelarsetiapduabulan, sehinggawarganyasalingsilaturahmi.Salingtegursapa.
Kalausetiapkecamatanataukelurahan, nantinyaada agenda pertunjukankesenianrakyatsemisalitupertunjukanwayangkulitataugolek.Ataupertunjukankesenianlain, sehinggaiklimkesenian di Kota Tegaldansekitarnyasemakindinamis.
Dalamsejarahnya yang namanyasenitradisional, selainmelekatfungsihiburanjugasebagaisaranakegiatanupacarabersama.Lebihjauh, kesenianjugadapatmenumbuhkansemangatnasionalisme.Keseniansebagaibagiandarikehidupanmasyarakat, keberadaannyaharustetapdilestarikan.
Sintrendikenaljugadengannama lain yaitulais. Keseniantradisionalsintreninisebenarnyamerupakantarianmistis, karena di dalamritualnyamulaidaripermulaanhinggaakhirpertunjukanbanyak ritual magisuntukmemanggilrohataudewa.Agar kesenianinisemakinmemilikisensasiseni yang kuatdanunik.
Asalmulamunculnyakesenianinitidakterlepasdarisebuahcerita yang melatarbelakangikesenianini.KeseniansintrentidakbisadilepaskandengankisahantaraSulasihdan R. Sulandono, seorangputrabupati di MataramJokoBahuataudikenaldengannamaBahureksodanRr. Rantamsari.
PercintaanantaraSulasihdan R. Sulandonotidakdirestuioleh orang tua R. Sulandono.Sehingga R. Sulandonodiperintahkanibundanyauntukbertapadandiberikanselembarkain (saputangan) sebagaisaranakelakuntukbertemudenganSulasihsetelahmasabertapanyaselesai.
SedangkanSulasihdiperintahkanuntukmenjadipenaripadasetiapacarabersihdesadiadakan, sebagaisyaratdapatbertemu R. Sulandono.
Tepatpadasaatbulanpurnamadiadakanupacarabersihdesa, berbagaipertunjukanrakyatdigelar, makapadasaatitulahSulasihmenarisebagaibagianpertunjukan. R. Sulandonoturundaripertapaannyasecarasembunyi-sembunyidenganmembawasaputanganpemberianibunya.
Sulasih yang menarikemudiandimasukikekuatan spirit Rr. Rantamsarisehinggamengalami “trance” dansaatitupulalah R. SulandonomelemparkansaputangannyasehinggaSulasihpingsan.
SaatSulasih trance ataukemasukanrohhalusataukesurupan yang disebut ‘Sintren’ danpadasaat R. Sulandonomelemparsaputangannyadisebutsebagai ‘balangan’. Balanganyaitupadasaatpenarisintrensedangmenarimakadariarahpenontonada yang melemparsesuatukearahpenarisintren.
Setiappenariterkenalemparanmakasintrenakanjatuhpingsan. Padasaatitulahpawangdenganmenggunakan mantra-mantra tertentukeduatanganpenarisintrendiasapidengankemenyandanditeruskannyadenganmengusapwajahpenarisintrendengantujuan agar rohbidadaridatanglagisehinggapenarisintrenitudapatmelanjutkanmenarilagi.



     Tradisi dan modernitas tari sintren

Tahap pertama, penari Sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain biasa (pakaian sehari-hari). Tahap kedua, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana Sintren dikeluarkan. Tahap ketiga, kurungan dibuka, penari Sintren sudah berpakain biasa dalam keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan penari Sintren dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra sampai Sintren sadar kembali, pertunjukan Sintren selesai. Dahulu pertunjukan Sintren sering dilakukan oleh para juragan padi sesaat setelah panen, sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertaniannya atau pada musim kemarau untuk meminta hujan, maka dalam pertunjukannya akan dilantunkan lagu yang syairnya memohon agar diturunkan hujan. Namun kini pertunjukan Sintren sangat jarang. Penulis teringat saat kecil pada periode waktu tahun 1975-1990-an masih sering menjumpai di desa dan desa tetangga banyak dijumpai warga yang menanggap pertunjukan Sintren, kini sangat sulit menjumpainya. Pertunjukan Sintren kini dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain oleh pelaku seni Sintren. Bahkan berdasar pengetahuan penulis, saat ini hanya ada satu desa yang masih mempunyai grup kesenian Sintren yang tetap eksis yaitu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa dan Kabupaten Pemalang yaitu Paguyuban Sintren Lintang Kemukus dan Paguyuban Sintren Slamet Rahayu yang diketuai oleh Radin Anom dengan jumlah pengurus 15 orang, selain itu kesenian sintren dapat juga dijumpai di Desa Banjarmulya Kecamatan Pemalang. Sintren dalam tarikan antara tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan menggunakan teori modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasar asumsi bahwa setiap unsur budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahan yang disebaban oleh arus modernisasi. Di mana salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyaraat menuju modern adalah teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme. Teori modernisasi ini dipelopori oleh Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkhiem.8 Sintren sebagai suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas arus modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses akulturasi budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke, mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan yang mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian tradisional. Modernitas dalam bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian tradisional. Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami dan menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant. Di sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan keberadaan kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Dalam kasus ini, benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian tradisional. Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Dari fakta tersebut menjadikan kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman. Salah satu bentuk kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah kesenian tradisional Sintren. Para pekerja seni Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus berjuang melawan modernitas, sebagai kaum minoritas yang menyampaikan nilai-nilai egalitarian dalam pementasannya, mereka telah ikut andil dengan caranya dalam pelaksanaan mengisi pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial demi kelangsungan hidup para seniman Sintren tersebut. Dalam pertunjukan Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat saja. Dari luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya setempat langgeng sampai anak cucu. Dalam perspektif lain sebenarnya kehadiran Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku seni sintren maupun masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian tersebut, untuk pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan globalisasi yang secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik kesederhanaan, keikhlasan, kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata sedikit banyak mampu mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis penduduk suatu desa. Di mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala mikro melalui usaha dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak, pecel, serundeng lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu mengikuti pertunjukan keliling sintren darisatu desa ke desa lain.
Keberdayaan kesenian tari Sintren Opini masyarakat Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang mewakili berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat. Pertama, kelompok masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar keagamaan (penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi kesenian Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para seniman dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak ambil pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti. Faktor yang membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan, pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Selain itu juga tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesama anggota dan para pemerhati seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai juga ikut memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya dikelola secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun festival namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dalam pandangan masyarakat pelaku seni tradisional. menghidupkan kesenian Sintren seakan tidak lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai kearifan yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa. Jadi, mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa menari. Kini Sintren di Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan modernitas hampir menjadi sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak yang berusaha melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group Sintren yang tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet Rahayu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.


WAYANG KULIT




Wayang kulit adalah kesenian tradisional Indonesia yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat jawa. Kesenian ini banyak ditampilkan ketika ada sebuah perhelatan seperti pesta dan sebagainya. Ternyata, wayang kulit tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pertunjukan melainkan juga digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa.

Wayang kulit diyakini sebagai awal dari berbagai jenis wayang yang berkembang saat ini. Wayang jenis ini terbuat dari lembaran kulit kerbau yang sudah dikeringkan sebelumnya. Wayang kulit dibentuik sedemikian rupa agar membuat geraknya menjadi dinamis.Pada bagian siku-siku tubuhnya disambung dengan menggunakan sekrup yang terbuat dari tanduk kerbau. Lalu bagaimanakah sebenarnya asal mula dari Kesenian wayang kulit ini? Siapa pencetus pertamanya? Berikut ini adalah ulasannya.

Asal mula kesenian wayang kulit ini, tidak lepas dari sejarah wayang itu sendiri. Wayang berasal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Ma Hyang” yang berarti berjalan menuju yang maha tinggi (bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun Dewa). Akan tetapi, sebagian orang mengartikan bahwa wayang berasal dari bahasa jawa yang berarti bayangan.

Hal tersebut dikarenakan ketika penonton menyaksikan pertunjukan ini mereka hanya melihat bayangan yang digerakkan oleh para dalang yang juga merangkap tugas sebagai narator. Dalang merupakan singkatan dari kata-kata ngudhal piwulang.

Ngudhal berarti menyebar luaskan atau membuka dan piwulang berarti pendidikan atau ilmu. Hal tersebut menegaskan bahwa posisi dalang adalah sebagai orang yang mempunyai ilmu yang lebih serta membagikannya kepada para penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang tersebut.

Sementara itu, untuk asal usul dari sejarah wayang kulit ini belum ada bukti yang konkret. Ada yang mengatakan bahwa wayang kulit ada sebelum abad pertama yang bertepatan dengan munculnya ajaran Hindu dan Budha ke area Asia Tenggara. Hal ini dipercaya sebagai asal mula munculnya wayang kulit datang dari India ataupun Tiongkok.

Pembuatan 

Wayang kulit dibuat dari bahan kulit sapi yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.

Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.

Jenis-jenis wayang kulit berdasarkan daerah :
Wayang Kulit Cengkok Kedu
Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
Wayang Kulit Gagrag Surakarta
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran
Wayang Bali
Wayang Kulit Banjar ( Kalimantan)
Wayang Palembang (Sumatra Selatan)
Wayang Betawi (Jakarta)
Wayang Kulit Cirebon (Jawa Barat)
Wayang Madura (sudah punah)
Wayang Siam

PAGELARAN WAYANG KULIT
Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan.

Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa.

Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan diletakkan dalam batang pisang yang ada di dekat sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan tampak sebagai bayangan di layar putih yang ada di depan sang dalang. Bayangan itu bisa tercipta karena setiap pertunjukan wayang memakai lampu minyak sebagai pencahayaan yang membantu pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan.

Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas.

Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dibagi dalam 3 babak yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak pertama, disebut pathet lasem, memiliki 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua memiliki 2 jejeran dan 2 adegan perang, sementara Pathet Manura yang menjadi babak ketiga mempunyai 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu bagian yang paling dinanti banyak orang pada setiap pagelaran wayang adalah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa.

Dalang wayang kulit
Dalang adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bahasa jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal Piwulang. Ngudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, disamping menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh baik pada permainan tersebut.

Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almarhum Ki Surono (

Banjarnegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogya), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Jogjakarta),Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Anom Suroto (gaya Solo), Ki Manteb Sudarsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur), almarhum ki sugino siswocarito (gaya banyumas). Sedangkan Pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.































Tari Gattkaca Raden Ono Lesmana Kartadikusumah menciptakan dua bentuk penyajian Gatotkaca, yaitu tari Gatotkaca bentuk tarian tunggal dan tari Gatotkaca Gandrung yang bentuk tariannya kelompok. Tari Gatotkaca diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah pada tahun 1942 yang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta. Tari Gatot Kaca Gandrung ini diciptakan karena terilhami oleh tari Gatotkaca Gandrung gaya Solo yang ditarikan oleh Risman. Dimana dua putri yang digandrunginya divisualisasikan secara nyata. Akhirnya Raden Ono Lesmana terdorong hatinya untuk membuat tari Gatot Kaca Gandrung menurut versinya sendiri sekitar tahun 1957. Bentuk tarian yang diciptakan Raden Ono Lesmana Kartadikusumah ini berupa petilan dari cerita pewayangan ketika Gatot Kaca dari Pringgandani setelah menemui ibunya dan mengelilingi wilayah negerinya dengan terbang melayang di angkasa, terkena panah asmara dan tergila-gila terhadap Dewi Pergiwa, sehingga jatuh di hutan belantara. Dalam bayangannya selalu sang Dewi kembar tersebut serasa bertaut di matanya. Tetapi alangkah murkanya Gatot Kaca, ketika Dewi yang dipujanya itu adalah Buta raseksa “Cakil” maka terjadilah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Gatotkaca. Yang akan dibahas pada penelitian ini adalah tari Gatotkaca dengan bentuk penyajian tari tunggal.


Adapun struktur gerak tari Gatot Kaca gaya Sumedang adalah sebagai berikut.
1) Trisi hiber
2) Sembahan awal (calik jengkeng) 50 Agus Sudirman
3) Adeg-adeg capang, sawang, cindek
4) Ngaca
5) Laras konda
6) Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek
7) Gedig, capang, sawang, cindek
8) Jangkung ilo, sonteng
9) Gedut
10) Mincid siku
11) Gedig, capang, sawang, cindek
12) Jangkung ilo, tumpang tali
13) Laras konda
14) Ungkleuk
15) Gedig, capang, sawang, cindek
16) Adeg-adeg sabukan
17) Adeg-adeg Makutaan
18) Pakbang
19) Laras konda
20) Ungkleuk
21) Gedig anca
22) Adeg-adeg jurus
23) Nenjrag bumi
24) Trisi hiber






























Struktur Gerak Tari Gatotkaca
1. Trisi Hiber Gerak awal berjalan jinjit/trisi dengan posisi tangan kanan tutup selendang dan tangankiri kesamping kemudian gerak selanjutnya bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat)

2. Sembahan Awal (Calik Jengkeng) Posisi duduk dengan kaki kanan sebagai tumpuan dan kaki kiri ke depan dan ditekuk dengan posisi tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di atas kaki kiri. Kemudian tangan kiri ke depan sedikit ditekuk dan tangan kiri di tengah-tengah tangan kanan, lalu kedua tangan dibuka, tangan kiri ke samping kiri dan tangan kanan kesamping kanan atas dan arah pandangan ke telapak tangan kanan, kemudian posisi tangan kembali lagi ke awal (tangan kiri di atas kaki kiri dan tangan kanan di pinggang). Kemudian kedua tangan ukel lalu kedua tangan ditarik ketengah dengan posisi ujung telapak tangan bersentuhan terlebih dahulu kemudian dirapatkan dan berada di depan wajah.

3. Adeg-adeg capang, sawang, cindek Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, posisi kedua tangan kanan disamping tangan kiri kemudian tangan kanan sejajar dengan kepala, kemudian posisi tangan kiri kesamping kiri dan posisi tangan kanan di depan dada.

4. Ngaca Posisi badan condong ke depan dengan posisi tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan di samping telinga Gesture (gerak maknawi).

5. Laras konda Posisi badan ke depan dengan melakukan gerakan tangan capang (tangan kiri kedepan dan tangan kanan ditekuk sehingga telapak tangan kanan berada di tengah-tengan tangan kiri). Kemudian gerakan selanjutnya tangan kiri di simpan di pinggang dan tangan kanansawang (gerakan tangan ditekuk ke atas dan telapak tangan menghadap ke wajah).

6. Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek posisi kedua kaki dibuka selebat bahu, dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri disamping kiri. Kemudian menggerakan kedua bahu ke atas dan ke bawah.

7. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

8. Jangkung ilo, sonteng Posisi badan menghadap ke kiri kemudian kaki kiri diangkat dan kaki kanan sebagai tumpuan , tangan kanan ke depan dan tangan kiri di pinggang, berikutnya tangan kanan bergerak ukel, setelah ukel kaki kiri di turunkan ke samping kiri dan tangan kanan diayunkan ke kiri dan ke kanan diikuti oleh gerakan kepala .

9. Gedut Posisi awal badan ke depan dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, kemudian posisi badan diangkat dengan posisi mengarah serong kiri kemudian ditahan oleh kaki kanan kemudian posisi badan ke Pure Movement (gerak murni) Begitu pula sebaliknya bergantian ke kiri.

10.Mincid siku Posisi badan ke depan dengan langkah kaki mundur kebelakang yang diikuti oleh gerakan tangan capang kiri dan capang kiri.

11. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

12. Jangkung ilo, tumpang tali Gerakan awal posisi badan serong ke kanan dengan posisi kaki kiri di depan kemudian gerakan tangan tumpang tali (posisi tangan kanan di atas tangan kiri), gerakan kedua kedua tangan diarahkan di depan atas kepala/mahkota, kemudian arah hadap ke samping kanan dengan posisi tangan sembada kanan (tangan kanan ditekuk di depan dada, tangan kiri kesamping kiri. Gerak tangan selanjutnya melakukan sawang kiri (posisi tangan kiri di atas dan ditekuk dengan posisi telapak tangan kiri menghadap wajah) dan di akhiri dengan posisi tangan kiri ditekuk dan kaki kiri ditarik.

13. Laras konda Posisi badan serong kanan dengan posisi kedua tangan direntangkan serta kedua kaki sedikit dirapatkan dan jinjit, gerakan selanjutnya kaki dibuka dengan tumpuan dikaki kiri dengan posisi kedua tangan tumpang tali dengan posisi sedikit naik ke atas kanan.

14. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah Pure Movement (gerak murni) 15 Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

16. Adeg-adeg sabukan Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu dengan sikap tangan kanan diatas tangan kiri Gesture (gerak maknawi).

17. Adeg-adeg Makutaan Posisi badan condong ke depan dengan kaki kanan kedepan dan tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan didekat telinga.

18. Pakbang Melangkah kanan kiri kanan dengan tangan mengayun, kemudian adeg-adeg tengah dengan kedua tangan lontang kanan dan lontang kiri.

19. Laras konda Posisi badan serong kiri dengan kedua kaki jinjit diikuti posisi kedua tangan ke depan atas kemudian kedua kaki dibuka dan diikuti kedua tangan direntangkan sambil gerakan tersebut diulang dan perputar berlawanan arah jarum jam.

20. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah.

21. Gedig anca Langkah kaki kanan jadi tumpuan dan kaki kiri diangkat posisi tangan kanan ditekuk dan tangan kiri di pinggang kiri dengan arah hadap kepala ke kanan bawah gerakan ini dilakukan secara bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat).

22. Adeg-adeg jurus Posisi kaki kanan di depan kaki kiri, dengan sikap tangan kanan kedepan dan tangan kiri disamping tangan kanan.

23. Nenjrag bumi Posisi badan serong kekanan dengan kedua tangan mengepal dan disimpan di samping kiri dengan arah pandangan ke bawah lalu kaki kanan diangkat dan dihentakkan ke bawah sebanyak tiga kali.

24. Trisi hiber Kedua tangan direntangkan kedepan dengan posisi kaki kanan kedepan, tangan kiri tutup selendang tangan kanan lurus kebelakang kemudian diakhiri dengan gerak trisi keluar.

Tarian ini memiliki 9 gerak yang masuk ke dalam kategori Puremovement yaitu gerak murni yang hanya menitikberatkan pada keindahan semata diantaranya, Sembahan awal (calik jengkeng), (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Adeg-adeg capang, sawang, cindek) (Jangkung ilo, sonteng), Laras konda,Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbang dan Ungkleuk. Apabila ditilik dari desain yang terdapat pada gerak Puremovement, maka peneliti mengambil desain atas untuk melihat kekuatan pada setiap geraknya yang terlihat dari depan atau dilihat dari penonton. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Soedarsono bahwa desain atas adalah desain yang berada di atas lantai yang dilihat oleh penonton, yang tampak terlukis pada ruang yang berada di atas lantai. Untuk memudahkan penjelasan ini dilihat dari satu arah penonton saja yaitu dari depan.Dengan desain atas peneliti dapat mengetahui sentuhan emosional pada setiap gerakan. Dan untuk melihat karakter gerak, dilihat dari level yang digunakan, arah, intensitas atau aliran tenaga menggunakan analisis Laban. Seperti yang dikemukakan Rudolf Laban (1975), bahwa gerak merupakan fungsional dari Body (gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), Space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), Time (berhubungan dengan durasi gerak perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), Dinamyc, (kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis, dan penekanan gerak). Berpijak kepada pendapat tersebut, unsur gerak sebagai unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga dalam kategori Puremovement pada tari Gatotkaca gaya cenderung menggunakan ruang yang luas, hal tersebut dapat dilihat pada gerak tangan yang cenderung lebar.

Untuk unsur waktu, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement cenderung menggunakan tempo sedang dan cepat. Adapun untuk intensitas tenaga, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement ini menggunakan tenaga yang kuat namun tertahan. Pada gerak Sembahan awal (calik jengkeng) termasuk kedalam desain rendah yaitu desain yang dipusatkan pada daerah yang berkisar antara pinggang penari sampai lantai. Desain ini memberikan kesan penuh daya hidup di sini jika dikaitkan dengan tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang diartikan sebagai perjuangan Gatotkaca untuk menjaga wilayah Amarta dengan penuh tanggung jawab. Gerak (Adeg-adeg capang, sawang, cindek), Laras konda, (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Jangkung ilo, sonteng), Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbangdan Ungklek termasuk kedalam desain medium atau tengah dimana desain yang dipusatkan pada daerah sekitar dada ke bawah sampai pinggang penari. Desain ini memberikan kesan penuh emosi. Hampir pada setiap gerak tangan dan kaki menggunakan tekukan-tekukan seperti pada lutut, sikut, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Pola gerak tersebut termasuk kedalam desain bersudut yang menimbulkan kesan penuh kekuatan.Hal ini senada dengan karakter serta tema tarian pada tari Gatotkaca gaya Sumedang yaitu karakter monggawa lungguh yang memiliki ciri bergerak dengan tenaga yang kuat, anggota tubuhnya terbuka dengan badan dan arah pandangnya sedikit condong ke depan dengan levelnya medium dan tinggi ketika berdiri. Tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta.

Rias Tari Gatotkaca gaya
tata rias bukan sesuatu yang asing bagi semua orang, khususnya kaum wanita sebab tata rias merupakan aspek untuk mendukung penampilan dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tujuan dari tata rias yaitu untuk mengubah penampilan fisik yang dinilai kurang sempurna. Adapun tata rias untuk koreografi merupakan kelengkapan penampilan atau sebuah pertunjukan. Selain itu, rias merupakan perwujudan dari karakter-karakter yang ditampilkan dalam sebuah tarian. Berikut ini merupakan tata rias tari Gatotkaca gaya Sumedang.
a. Pasu Teleng
b. Alis Masekon .
c. Eye Shadow
d. Eye Liner
e. Pasu Damis
f. Kumis
g. Cedo Foto

Adapun penjelasan tata rias yang dipergunakan pada tari Gatotkaca  adalah sebagai berikut.
a. Alis Masekon Bentuk alis yang ditarik ke atas dari pangkal alis, kemudian dilengkungkan menurun dan ditarik kebelakang.
b. Pasu Teleng Garis rias diantara kedua alis sejajar dengan hidung yang berbentuk seperti tanda seru.
c. Eye Shadow Make Up untuk memperindah mata sekaligus memberi bayangan mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye shadow berwarna hitam untuk bagian pinggir, biru tua untuk bagian tengah dan putih untuk bagian atas.
d. Eye Liner Garis mata yang berfungsi untuk mempertegas mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye liner berwarna hitam.
e. Pasu Damis Hiasan pada kedua pipi yang berbentuk seperti tanda petik yang diberi warna putih untuk bagian tengah dan garis pinggiran berwarna hitam.
f. Rambut hidung dan bibir. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang menggunakan kumis buatan supaya terlihat gagah.
g. Cedo Garis di bawah bibir menuju dagu berwarna hitam.
h. Godeg satria Jambang yang menyerupai cerurit atau sabit melengkung ke bawah.

Tata rias Hal ini jelas terlihat bahwa warna dasar pada riasan wajah sesuai dengan warna kulit. Untuk bagian alis masekon, pasu teleng berbentuk tanda seru, eye shadow disesuaikan dengan bentuk kelopak mata, eye liner disesuaikan dengan bentuk mata bagian bawah, tidak menggunakan janggut hanya memakai cedo,dan godegnya pun menyerupai cerurit. Jika ditinjau berdasarkan tata rias karakter, maka tata rias tari Gatotkaca lebih kepada satria ladak, karena hanya terdapat garis-garis rias di kening, alis jambang, kumis, dan dagu. Hanya saja pada satria ladak tidak terdapat garis di pipi atau pasu damis.
Seharusnya seperti yang sudah diterangkan sebelumnya menurut Rusliana bahwa, perbedaan yang mendasar antara garis-garis rias untuk tarian Wayang jenis putri dan putra sebagai berikut.

1) Tarian jenis putri, terdapat garis-garis rias dikening, alis, dan jambang.
2) Tarian jenis putra satria lungguh, terdapat garis-garis rias di kening, alis, dan jambang. 
3) Tarian jenis putra satria ladak, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, dan dagu.
4) Tarian jenis putra monggawa lungguh, monggawa dangah, danawa patih, dan danawa raja, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Tata rias untuk tari Gatotkaca yang berkarakter monggawa lungguh seharusnya terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Di mana pada alis berbentuk cagak dua, pada kening terdapat pasu teleng berbentuk huruf V terbalik, cedo dan janggut menyatu, dan godeg atau jambang yang tebal seperti huruf J.

Selain itu, jika ditinjau dari rias karakter monggawa lungguh menurut Richard Corson dalamNarawatimenyatakan, bahwa. Secara Phisiognomi karakter ini memiliki mata yang terbuka lebar dengan kedua ujung matanya segaris dengan pangkalnya, demikian pula alisnya. Hanya saja, karena karakter ini gagah, alisnya yang dikenakan terkesan tebal atau lebat. Hidungnya agak besar, demikian pula mulutnya. Kedua ujung kiri dan kanan mulut hampir segaris, demikian pula kumisnya yang tebal dan lebat di bawah hidung yang besar. Ciri-ciri phisiognomi semacam ini memberikan kesan, bahwa kesatria ini sangat pemberani serta kokoh dalam pendirian.

Busana Tari Gatotkaca
Busana tari wayang Priangan dipengaruhi oleh budaya Jawa Tengah. Jika kita lihat awal terciptanya tari Wayang Priangan ini berasal dari tari Wayang Wong Priangan, sehingga busana tari Wayang Priangan mendapat pengaruh besar dari tari Wayang Wong priangan, seperti yang telah diungkapkan oleh Narawati dalam bukunya Soedarsono sebagai berikut. Secara langsung dan tidak langsung, busana, rias, serta gerak tari wayang wong Priangan mendapat pengaruh yang cukup besar dari karakterisasi busana, rias dan d tari wayang wong Jawa. Memang, pengaruh itu setelah berkembang dan dikembangkan oleh seniman-seniman Priangan menjadi khas Priangan, hingga busana, rias, dan gerak tari wayang wong Priangan menjadi khas gaya Priangan, dan bukan lagi sebagai busana, rias dan gerak tari Jawa gaya Priangan. Terlihat adanya kontak budaya antara budaya Jawa dengan budaya Priangan. Selain adanya pengaruh dari tari wayang wong Priangan, busana tari wayang Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek. Seperti yang diungkapkan Soedarsono sebagai berikut. Maka tak heran apabila busana wayang wong Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek Sunda. Sudah barang tentu karena adanya perbedaan antara boneka wayang golek yang terbuat dari kayu dan penari wayang wong Priangan yang manusia, walaupun terdapat banyak persamaan antara keduanya tetapi terdapat beberapa perbedaan. Oleh karena itu, pada busana tari Gatotkaca memiliki kesamaan dengan karakteristik pada busana Wayang Golek Sunda, tetapi terdapat perbedaan pula. Hal ini dikarenakan dengan kebutuhan pada tarian tersebut.

Busana tari merupakan satu bantuan yang nyata pada si penari, khususnya pada tari yang berkembang dari tari tradisional ataupun klasik, karena selain dapat membantu gerak dalam bentuk koreografi yang utuh, juga mempunyai fungsifungsi simbolis. Busana tari yang berhasil, mempunyai nilai yang sejajar dengan keadaan penerangan yang baik, latar belakang, lagu pengiring dan teknis pentas. Busana dalam sebuah karya tari merupakan satu kesatuan fasilitas bagi penari untuk menata rupa visualisai tubuhnya yang sesuai dengan tarian yang disajikan. Untuk itu, dengan adanya busana dalam sebuah tari maka pertunjukan sebuah karya tari tersebut akan lebih hidup. Adapun bentuk busana tari Gatotkaca gaya Sumedang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
a. Mahkota Gelung Pelengkung Garuda Mungkur
b. Susumping
c. Badong
d. Baju Kutung
e. Kilat Bahu
f. Ikat Pinggang/Beubeur
 h. Kewer/Ampleh
g. Gelang Tangan
i. Tali Uncal
j. Sampur
k. Sinjang Dodot
l. Celana Sontog
m. Keris
n. Melati
o. Gelang

Warna Busana yang digunakan dalam tari Gatotkaca menggunakan warna dasar hitam dengan tidak menggunakan banyak motif pada pola busananya dan pada setiap busana yang Raden Ono Lesmana Kartadikusumah memiliki cirri khas motif bunga teratai . Adapun uraian busana tari Gatotkaca gaya Sumedang sebagai berikut.

a. Mahkuta Gelung Pelengkung Garuda Mungkur Bagian busana penutup kepala yang berbentuk melengkung dengan tambahan garuda mungkur atau motif burung garuda yang menghadap ke bawah.
b. Susumping Hiasan telinga yang terbuat dari kulit.
c. Badong Hiasan busana bagian belakang yang terbuat dari kulit yang berbentuk seperti sayap.
d. Baju Kutung warna hitam Baju tanpa lengan yang berwarna hitam dan berbahan bludru denga motif bintang segi delapan.
e. Kilat Bahu Aksesoris terbuat dari kulit yang dikenakan pada tangan bagian atas.
f. Ikat Pinggang/Beubeur Ikat pinggang berbahan dasar bludru berwarna hitam.
g. Gelang Tangan Aksesoris tangan yang terbuat dari bahan bludru yang dipayet.
h. Kewer/Ampleh Kain kecil dan pendek yang merupakan hiasan yang dikenakan menggantung pada kain sabuk.
i. Tali Uncal Aksesoris yang terbuat dari kulit yang mirip tanduk kijang atau dalam bahasa Sunda disebut uncal.
j. Sampur Selendang yang dipergunakan sebagai bagian busana, atau bahkan properti tari. k. Sinjang dodot Kain batik berbentuk lereng yang sudah dilipat atau dilamban.
l. Celana Sontog warna hitam Celana tiga perempat yang terbuat dari bahan bludru. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang memakai celana sontog berwarna hitam dengan Payet berwarna emas.
m. Keris Keris pada tari Gatotkaca gaya Sumedang dipergunakan sebagai bagian dari busana dan dipasang di belakang.
n. Melati Hiasan pelengkap keris yang dipasang melingkar dipangkal keris.
o. Gelang kaki Aksesoris yang dikenakan pada pergelangan kaki yang berbentuk bulat serta berwarna emas. Busana tari Gatotkaca gaya Sumedang lebih terlihat sederhana, hal ini terlihat pada motif baju dengan motif payet hanya menggunakan satu warna yaitu emas dengan warna busana hitam. Hitam adalah warna tegas, solid, dan kuat), sesuai dengan sosok dari Gatotkaca itu sendiri yang berjiwa tegas, bijaksana dan kuat. Warna emas secara sekilas akan serupa dengan warna kuning, sehingga maknanya pun ada yang sama, yaitu melambangkan kemakmuran. Namun warna emas juga memiliki kesan yang aktif, dan juga dinamis.

Alat musik
Alat musik yang paling dominan di sini adalah tepakan kendang sangat dominan pada tari Gatotkaca gaya Sumedang, istilahnya adalah mungkus atau dibungkus, artinya hampir setiap gerakan diikuti dengan tabuhan kendang. Hanya sebagian kecil saja yang tidak diikuti tepakan kendang. Dalam iringan tari Gatotkaca hanya ada vokal sinden, dan kakawen/Kemunculan Gatotkaca diawali denganirama cepat dengan gerak trisi hiber. Kemudian dari gerak sembahan sampai dengan adeg-adeg jurus masih menggunakan pola irama sedang yang diikuti oleh vokal sinden yang dilakukan oleh sinden. Memang pada umumnya tari-tari tradisional Sunda iringan tarinya disertai dengan adanya vokal, seperti tari Keurseus maupun tari Rakyat, demikian pula dalam tari Wayang, termasuk tari Gatotkaca. Adanya vokal dalam tari Gatotkaca tidak mutlak harus ada, namun adanya vokal ternyata memberi pengaruh terhadap memperkuat suasana yang disajikan. Selain adanya kawih, dalam tari Gatotkaca terdapat kakawen yang dilantunkan ketika akan memperlihatkan ajian untuk dapat terbang. Kakawen ini dilantunkan menjelang akhir tarian.Keunikan pada kakawen serta gerak pada tari Gatotkaca terdapat kakawen serta gerak nenjrag bumi tilu kali atau

Seperti yang dikatakan Dewey dalam Soedarsono, bahwa seni adalah satu pengalaman pribadi. Jadi dapat dikatakan, bahwa terciptanya tari Gatotkaca merupakan sebuah cerminan serta pengalaman dari sosok Raden Ono Lesmana Kartadikusumah.



A.      Tari Topeng Cirebon Kurang diminati Generasi Muda
Pada saat ini rasa bangga dan kepedulian melestarikan budaya kurang tertanam di generasi muda Indonesia. Minat mereka untuk mempelajarinya sudah sangat kurang. Padahal seharusnya generasi muda tersebut dapat berpartisipasi aktif dalam melestarikan kebudayaan Indonesia agar kebudayaan tersebut akan tetap ada sampai kapan pun. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya informasi mengenai kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Generasi muda zaman sekarang ini lebih tertarik untuk mengenal dan mempelajari budaya-budaya asing yang kini telah masuk ke Indonesia ketimbang mempelajari tarian dari kebudayaan sendiri. Maraknya aksi-aksi moral yang tidak baik memang sudah sangat memprihatinkan, apalagi di tambah dengan kurangnya nilai-nilai budaya lokal yang semakin memperburuk keadaan. Meskipun demikian generasi muda Indonesia tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Masuknya budaya asing ke Indonesia memang membawa dampak yang cukup besar terhadap generasi muda saat ini.

Dari semua budaya asing yang masuk, tidak semuanya membawa pengaruh positif bagi generasi muda maka dari itu para generasi muda harus dapat memilah-milah sendiri mana yang harus ditinggalkan dan mana yang dapat diterima ke dalam nilai-nilai moral budaya lokal untuk di kembangkan ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam menanggapi hal tersebut generasi  muda harus berusaha agar jati diri mereka sebagai generasi muda penerus bangsa tidak rusak. Banyaknya tindak kejahatan sekarang ini akibat dari generasi muda yang tidak bisa membedakan baik buruknya budaya asing yang masuk. Oleh sebab itu seharusnya para generasi muda tidak bisa begitu saja menerima budaya asing yang masuk agar generasi muda Indonesia tidak hancur dan generasi muda dapat membangun Indonesia menjadi negara maju tanpa terpengaruh oleh budaya asing.
Pengaruh globalisasi juga sangat besar terhadap generasi muda. Pengaruh tersebut menyebabkan banyak anak muda yang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya

 Padahal,Budaya tradisional di Indonesia sebenarnya lebih kreatif dan tidak bersifat meniru, yang menjadi masalah adalah mempertahankan jati diri bangsa. Sebagai contoh sederhana, budaya gotong royong di Indonesia saat ini hampir terkikis habis, individual dan tidak mau tahu dengan orang lain adalah cerminan yang tampak saat ini. Perlu dipikirkan agar kebudayaan kita tetap dapat mencerminkan kepribadian  bangsa. Kebudayaan tradisional adalah sebuah warisan luhur.Sebagai generasi penerus bangsa Indonesia sangat diharapkan mampu memilah-milah dan mengantisipasi terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia karena budaya tersebut ada yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita dan akan berdampak sangat buruk terhadap budaya Indonesia.

B. Perkembangan Tari Topeng Cirebon
Walaupun pada era globalisasi ini  dimana budaya asing masuk ke Indonesia namun ternyata tari topeng cirebon saat ini mengalami sedikit kemajuan , menurut berbagai sumber yang saya baca dari media cetak maupun elektronik banyak orang menanggapi dan mengapresiasikan dengan berbagai cara,di beberapa situs internet banyak menampilkan tarian topeng cirebon dari berbagai gaya yang masing masing memilki ciri khas tersendiri,bahkan dari benua amerika juga ikut andil walaupun dari segi gerak masi kaku ,tapi saya bangga kepada mereka yang mau mendalami seni tradisi cirebon .menurut saya anak muda mudi sekarang sedikit banyak yang kurang peduli dalam hal ini  walaupun seni ini menjadi kebanggan tersendiri.walaupun sekarang banyak sekolah seni yang mempelajari tarian ini,tujuannya supaya kesenian jangan sampai puna ditelan jaman yang semakin pesat dan penu persaingan dalam di segala bidang.
C. Peran Generasi Muda Terhadap Budaya Daerah
Generasi Muda memiliki peran yang sangat penting dalam memajukan budaya daerah.Dalam konteks keberlanjutan budaya apabila Generasi Muda sudah tidak lagi peduli terhadap budaya daerahnya maka budaya tersebut akan mati. Namun jika generasi mudanya memiliki kecintaan dan mau ikut serta dalam melestarikan budaya daerahnya budaya tersebut akan tetap ada disetiap generasi.
Generasi muda juga harus menjadi aktor terdepan dalam memajukan budaya daerah, sehingga budaya asing yang masuk yang  ke daerah  tidak merusak atau mematikan budaya daerah tersebut.Besarnya pengaruh budaya asing terhadap budaya daerah ini yang membuat para generasi muda yang peduli terhadap budaya daerahnya harus bekerja keras dan memfilter setiap budaya yang masuk ke daerah.Jangan sampai generasi muda lengah dan bahkan mengikuti budaya-budaya yang bertentangan dengan budaya daerahnya.
Setidaknya ada beberapa peran generasi muda dalam memajukan budaya daerah,diantaranya :
A.      Memperkuat Akidah
Akidah merupakan pondasi dasar yang harus dimiliki oleh para generasi muda untuk meneruskan nilai budaya luhur bangsa Indonesia. Kuat dan tidaknya pondasi ini juga akan menetukan seberapa kuat karakter suatu bangsa.

Bila para generasi mudanya sudah tidak memiliki jati diri yang kuat maka budaya asing pun akan mudah dengan leluasanya menggeser budaya suatu daerah.dan sebaliknya jika suatu daerah memiliki jati diri yang kuat maka akan sangat sulit budaya asing untuk bisa masuk,apalagi mengantikan budaya daerah tersebut.Maka dari itu,generasi muda seharusnya lebih menguatkan jatidiri dan kecintaanya pada suatu budaya yang akan mereka warisi nantinya.
b. Meningkatkan Intelektualitas
Intelektualitas menjadi sesuatu yang di anggap penting karena melalui intelektualitas ini para generasi muda bisa menyelamatkan memajukan budaya daerah di mana mereka tinggal dan melalui intelektualitas ini akan lahir moral dan etika serta menjunjung tinggi nilai nilai suatu budaya. Keluasan ilmu pengetahuan juga bisa dijadikan sebagai jalan untuk membangun negeri ini,sehingga dengan keluasan ilmu tersebut para generasi muda bisa memberikan pemahaman dan pembelajaran kepada masyarakat dan menjadi filter masuknya budaya asing ke daerah masing-masing.

Penyebaran budaya asing yang semakin hari semakin memprihatinkan saat ini, yang mulai mengikis nilai-nilai budaya daerah seharusnya menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual muda. Kecenderungan kepada budaya asing yang melanda generasi muda indonesia mestinya bisa ditanggulangi dengan ilmu dan pembelajaran budaya daerah yang mengadung nilai-nilai luhur dimasanya termasuk penerapan muatan lokal di tingkat pendidikan.

c. Generasi muda sebagai aset masa depan
Sudah selayaknya dan sudah menjadi kewajiban kita para generasi muda  untuk terus berusaha dan berupaya untuk terus melestarikan peninggalan sejarah nenek moyang kita yang telah ditinggalkan dalam bentuk budaya maupun bentuk bangunan bersejarah. Sebagai generasi penerus sudah seharusnya jika para generasi muda menggali potensi dirinya dan berupaya untuk mengaktifkan lagi kebudayaan daerah yang sebagian besar sudah tergeserkan oleh nilai budaya asing yang secara nyata bertentangan dengan budaya dasar daerah kita.

Pemuda sebagai aset penerus eksistensi budaya daerah sudah menjadi kewajiban baginya untuk berusaha dan berupaya untuk melestarikan kebudayaan daerah yang sebagian sudah hampir punah,sehingga kebudayaan  yang hampir punah itu bisa dibangkitkan lagi Kecintaan kita pada budaya dan berusaha membentuk kelompok-kelompok pecinta budaya daerah serta bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu berdirinya sarana dan prasarana agar terwujudnya kelestarian budaya daerah tersebut.

Dengan berdirinya kelompok sanggar muda tersebut diharapakan dapat melestarikan budaya daerah yang ada dan menumbuhkan kecintaan serta kesadaran generasi muda akan pentingnya untuk melestarikan budaya daerahnya.Sehingga apa yang menjadi tradisi dan khasan suatu daerah akan tetap ada dan kejayaan dimasa lalu menjadi sejarah tersendiri yang bisa dibanggakan di oleh generasi penerusnya kelak.
d. Kesadaran melestarikan budaya
Sesungguhnya, “Melestarikan suatu budaya lebih sulit dari pada membuat budaya yang baru”, demikian ungkapan orang bijak. Tapi itulah kenyataanya saat ini yang terjadi kita lebih sulit mempelajari budaya daerah yang tak lain milik kita sendiri.Seperti halnya generasi muda sekarang lebih banyak mengetahui gerakan tarian luar negeri seperti gangnam style,shuffle dance dan harlem shake ketimbang tarian topeng cirebon.Sejatinya, kesadaran untuk melestarikan budaya daerah ini idealnya memang harus dimulai dari para generasi muda, karena di pundaknyalah ada potensi besar yang perlu mendapat motivasi dari berbagai pihak.
D. Perlunya mengenalkan budaya daerah sejak dini
Ada beberapa cara yang Anda bisa lakukan agar anak-anak Anda mau mencintai budaya asli tradisionalnya dengan senang hati dan tanpa paksaan. Beberapa cara tersebut di antaranya:
1. Menjadi teladan
Orang tua harus pertama-tama mencintai budaya asli leluhurnya atau budaya daerah setempat di mana Anda tinggal. Ketika anak melihat teladan dari orang tuanya bahwa mereka sangat menghargai dan mencintai budayanya maka kemungkinan besar anak akan meniru dengan senang hati.
2. Menggunakan bahasa daerah di rumah
Indonesia memiliki banyak bahasa daerah. Gunakan bahasa daerah dari mana Anda berasal ketika berada di rumah seperti halnya bahasa Cirebon,dengan cara demikian kelestarian masing-masing bahasa daerah akan tetap terjaga.
 3. Mengikuti les keterampilan
Kegiatan ektrakulikuler baik yang diadakan oleh pihak sekolah atau secara pribadi dapat memotivasi anak-anak untuk mempelajari kesenian-kesenian daerah. Mengikut sertakan putra atau putri Anda ke dalam sanggar-sanggar kesenian adalah salah satu cara memperkenalkan sekaligus untuk mempelajari keterampilan-keterampilan kesenian daerah, tidak hanya dari daerah Cirebon tetapi juga kesenian dari daerah lain.
 4. Rekreasi budaya keluarga
Alih-alih pergi ke mall atau tempat-tempat hiburan untuk anak-anak, jika tersedia di daerah Cirebon,Maka anda dapat sesekali membuat ide mengajak mereka untuk mengunjungi pusat-pusat kesenian daerah setempat, seperti: pusat kesenian membatik, pusat kesenian musik tradisional, museum budaya, dan lain sebagainya.
Budaya tradisional di masing-masing daerah di Indonesia sangat beragam. Keragaman budaya tersebut menambah keunikan kita sebagai bangsa yang besar. Zaman boleh berubah, generasi boleh berganti, namun kelestarian budaya tradisional adalah tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya. Tidak hanya untuk di Indonesia, dari negara mana pun Anda berasal, nilai-nilai luhur sebuah budaya asli daerah patut dipertahankan, sehingga dunia ini akan semakin indah dan beragam.



Sanggar seni adalah suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk berkegiatan seni seperti seni tari, seni lukis, seni kerajinan atau kriya, seni peran dls. Kegiatan yang ada dalam sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua proses hampir sebagian besar dilakukan di dalam sanggar (tergantung ada tidaknya fasilitas dalam sanggar), sebagai contoh apabila menghasilkan karya berupa benda (patung, lukisan, kerajinan tangan dll) maka proses akhir adalah pemasaran atau pameran,apabila karya seni yang dihasilkan bersifat seni pertunjukan (teater, tari, pantomim dll) maka proses akhir adalah pementasan.
Kesenian merupakan salah satu bagian dari budaya serta sarana yang dapat digunakan sebagai cara untuk menuangkan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Kesenian selain sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa keindahan, juga memiliki fungsi lain. Misalnya,mitos berguna dalam menentukan norma untuk mengatur perilaku yang teratur dan meneruskan adat serta nilai-nilai kebudayaan. Pada umumnya, kesenian dapat berguna untuk mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat.
Sanggar seni termasuk ke dalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung dari kondisi masing-masing sanggar ada yang kondisinya sangat terbatas namun ada juga yang memiliki fasilitas lengkap, selain itu sistem atau seluruh kegiatan yang terjadi dalam sanggar seni sangat fleksibel, seperti menyangkut prosedur administrasi, pengadaan sertifikat, pembelajaran yang menyangkut metode pembelajaran hingga evaluasi dll, mengikuti peraturan masing-masing sanggar seni, sehingga antara sanggar seni satu dengan lainnya memiliki peraturan yang belum tentu sama. Karena didirikan secara mandiri, sanggar seni biasanya berstatus swasta, dan untuk penyetaraan hasil pendidikannya harus melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar bisa setara dengan hasil pendidikan formal.
Keberagaman seni dan budaya suatu daerah menjadi penarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri untuk mengunjungi suatu wilayah. Dalam perkembangannya, berbagai aspek dapat mempengaruhi maju mundurnya serta keberhasilan suatu daerah tersebut memelihara seni dan budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman yang salah satunya keberadaan sanggar seni milik pemerintah kabupaten. Dengan adanya sanggar seni yang tersebar di beberapa desa di suatu daerah diharapkan semakin banyak anak-anak generasi penerus bangsa dapat menyalurkan hobby mereka di bidang seni. Dan secara tidak langsung mereka dapat melakukan pelestarian budaya daerah agar tidak punah. 
anggar seni termasuk ke dalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung dari kondisi masing-masing sanggar ada yang kondisinya sangat terbatas namun ada juga yang memiliki fasilitas lengkap, selain itu sistem atau seluruh kegiatan yang terjadi dalam sanggar seni sangat fleksibel, seperti menyangkut prosedur administrasi, pengadaan sertifikat, pembelajaran yang menyangkut metode pembelajaran hingga evaluasi dll, mengikuti peraturan masing-masing sanggar seni, sehingga antara sanggar seni satu dengan lainnya memiliki peraturan yang belum tentu sama. Karena didirikan secara mandiri, sanggar seni biasanya berstatus swasta, dan untuk penyetaraan hasil pendidikannya harus melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar bisa setara dengan hasil pendidikan formal.
Banyak anak-anak sejak usia dini sudah memiliki bakat di bidang seni. Bahkan mereka memiliki ketertarikan di bidang seni tradisional namun mereka bingung harus mengasah kemampuan mereka dimana. Maka dari itu penting adanya sanggar seni yang memiliki guru-guru seni yang dapat melatih anak-anak sejak dini dalam berlatih dan mengasah kamampuan mereka dan mampu bersaing dengan seniman-seniman lainnya.
Belakangan, seni tari ini kembali digalakkan setelah sekian lama tidak terdengar. Berkembangnya seni ini bisa dilihat dari ekstrakurikuler di sekolah sehingga membuat regenerasi dari para penari. Jika bukan kita yang akan meneruskan, lalu siapa lagi yang akan meneruskan seni ini?
Dalam sebuah seni tari biasanya terdiri dari berbagai macam jenis tari. Di antaranya adalah tari tunggal, berpasangan, kelompok, dan kolosal. Tari tunggal biasanya diperagakan oleh satu orang, sedangkan untuk tari berpasangan diperagakan oleh dua orang.
Jika penari lebih dari dua orang bisa disebut dengan tari kelompok. Sedangkan untuk tari kolosal merupakan tari yang diperagakan lebih dari banyak kelompok. Biasanya tari kolosal ini dilakukan di seluruh daerah di Indonesia.
Sejarah
Dimulai dari awal sebelum adanya kerajaan di Indonesia, tarian dipercaya sebagai sebuah daya magis nan sakral. Sehingga tercipta tarian yang digunakan berdasarkan kepercayaan mereka. Salah satunya adalah tari hujan, tari eksorsisme, tari kebangkitan, dan lain-lain.
Penciptaan tari ini didasari serta diilhami dari gerakan alam serta meniru gerakan makhluk hidup. Seperti misalnya menirukan gerakan seekor binatang yang ingin diburu. Umumnya, tari di era primitif dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.
Sejarah kesenian tari di Indonesia kemudian berlanjut pada masa penyebaran Hindu Buddha, yang mana terpengaruh oleh budaya yang dibawa pedagang.
Mulai dari era Hindu Buddha, sebuah tarian mulai memiliki standardisasi serta patokan, karena ada sebuah literatur tentang seni tari. Literatur kesenian tari ini dikarang oleh Bharata Muni dengan judul Natya Sastra yang membahas 64 jenis gerak tangan mudra.
Pada era penyebaran agama Islam, tarian hanya diperagakan oleh orang-orang dari luar Indonesia dan dilakukan pada saat hari raya. Kemudian perkembangan seni tari di Indonesia pada era Islam dimulai tahun 1755 saat kerajaan Mataram Islam terbagi dua.
Dengan dibaginya kerajaan Mataram Islam, kedua kerajaan ini mulai menunjukkan identitas mereka lewat seni tari. Sehingga, tarian yang ditampilkan bisa menjadi sebuah ciri khas dan identitas dari masing-masing kerajaan.
Sejarah kesenian tari di Indonesia mengalami kemunduran di era penjajahan dikarenakan suasana saat itu sedang kacau. Akan tetapi, seni tari yang diperagakan di istana tetap dilaksanakan bahkan terpelihara dengan baik. Pada masa penjajahan, kesenian tari hanya diperagakan pada acara-acara penting kerajaan.
Salah satu contoh tarian yang diilhami dari perjuangan rakyat masa penjajahan adalah Tari Prawiroguno. Tarian ini merupakan tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan menggambarkan gagahnya prajurit masa itu. Prajurit dalam tarian ini menggunakan senjata serta tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
Seni tari terus kembali berjalan setelah Indonesia merdeka sehingga tarian bisa dilakukan untuk upacara adat serta keagamaan. Terkadang, tarian ini juga berkembang saat ini sebagai sebuah hiburan. Selain itu, saat ini sudah mulai banyak anak muda yang mulai tertarik dengan dunia tari.
Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang menyukai tari serta dapat memperagakan berbagai macam jenis tari. Mulai dari tari tradisional bahkan hingga tari modern.


Tujuan SANGGAR SENI adalah :
a. Mendidik para generasi muda tentang pentingnya seni dan budaya Polewali Mandar, khususnya seni dan budaya tradisional.
b. Melatih dan membimbing para generasi muda untuk mengangkat, memelihara atau melestarikan seni dan budaya Polewali Mandar.
c. Berpartisipasi secara aktif membantu Pemerintah Daerah dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan daerah.



mulai dari gerak pokok, sederhana, dan utuh. Gerak dalam bentuk penyajian Tari Topeng Klana Udeng yang berkembang, terdapat beberapa gerakan yang diambil dari gerakan dasar Topeng seperti adeg-adeg, mincid + seblak tangan, ngumis. Adapun gerak yang diambil dari pencak silat seperti, pukul, dan tangkisan. Walaupun Wangi membakukan gerakannya sederhana dan nama-nama gerakannya tidak neko-neko tetapi gerakannya mudah dicerna atau diserap oleh anak didiknya. mengenai analisis terhadap struktur gerak tari topeng Klana Udeng dengan mengacu kepada teori struktur gerak yaitu (locomotion) atau disebut juga dengan perpindahan tempat, kemudian gerak murni (pure movement), gerak maknawi (gesture), ditambah dengan gerak penguat ekspresi (baton signal), di bawah ini struktur gerak topeng Klana Udeng. Tata rias wajah adalah kegiatan mengubah penampilan dari bentuk sebenarnya, dengan bantuan bahan dan alat kosmetik. Untuk kebutuhan pendukung sebuah tarian, rias mempunyai kedudukan yang penting dalam membantu memperkuat karakter serta mempercantik penari seperti yang di ungkapkan Endang Caturwati dkk bahwa: Tata rias tari tujuan khusus untuk memenuhi kebutuhan watak atau cerita berdasarkan konsep dan tujuan isi penciptaan tarian. Rias tari dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan pertunjukan. Menerapkan rias tari berpedoman pada watak tari sebagaimana interprestasi pencipta tarian atau penata rias. Olesan rias yang diterapkan pada muka penari berupa riasan yang disesuaikan dengan tokoh atau peran yang diinginkan. (1997:29). Sebagai penunjang dalam mengungkapkan karakter pada penari dalam pertunjukan Tari Topeng Klana Udeng tersebut, busana juga dapat dijadikan sebagai penunjang dalam menentukan karakter penari dalam pertunjukan Tari Topeng Klana Udeng, busana yang digunakan adalah selendang/samping, baju sontog, sampur, stagen, juna/kerodong, kace, boro/angkin/badong(ketimang), udeng, kalung ringgit/koin mas, dasi, gelang tangan, gelang kaki untuk kebutuhan pertunjukan Tari Topeng Klana Udeng sebagai pelengkap tari tersebut, maka dibuatlah beberapa stel kostum (busana) yang dirancang sedemikian rupa, sehingga tarian tersebut dapat menarik masyarakat penggemarnya dan menjadi keutuhan seni pertunjukan. Busana tari selain memiliki fungsi dan tujuan yaitu menampilkan keindahan dan menggambarkan identitas tariannya. Oleh karena itu tari busana harus serasi, enak dipakai, nyaman, dan aman sehingga peran yang dimainkan bisa lenih menonjol. Tari Topeng Klana Udeng adalah merupakan tari yang melalui perubahan dari pertunjukan yang atraksi menjadi sebuah tarian yang baku dan banyak di gemari oleh anak-anak. Kemudian terdapat beberapa unsur seperti unsur gerak. Gerak dalam bentuk penyajian Tari Topeng Klana Udeng yang berkembang, terdapat beberapa gerakan yang diambil dari gerakan dasar Topeng seperti adeg-adeg, mincid + seblak tangan, ngumis. Adapun gerak yang diambil dari pencak silat seperti, pukul, dan tangkisan. Walaupun Wangi membakukan gerakannya sederhana dan nama-nama gerakannya tidak neko-neko tetapi gerakannya mudah dicerna atau diserap oleh anak didiknya. Kemudian rias dan busana berdasarkan keseluruhan dari bentuk koreografinya. Pertunjukan tari tersebut menggunakan bentuk rias cantik, kesan karakter cantik disesuaikan dengan kebutuhan pada saat pentas yang diperlukan, karena pada saat menarikan Tari Topeng Klana Udeng memakai topeng atau kedok. Rias yang digunakan merupakan rias pertunjukan 6
 Busana yang digunakan adalah selendang/samping, baju sontog, sampur, stagen, juna/kerodong, kace, boro/angkin/badong(ketimang), udeng, kalung ringgit/koin mas, dasi, gelang tangan, gelang kaki. Hal ini dapat terlihat dari penggunaan warna, aksesoris, dan busana yang dipakai. Akhir dari tulisan ini penulis ingin menyampaikan beberapa saran pada berbagai pihak sebagai berikut: pelaku seni, Dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan dan mengembangkan tari Topeng Klana Udeng yang berkembang di sanggar Mulya Bhakti yang berada di Desa Tambi- Indramayu. Dalam tari Topeng Klana Udeng ini perlu penjelasan lebih rinci atau detail masalah arti dan makna darisetiap gerakan dalam tarian ini. Untuk lebih mendalami dan menjiwai sebuah karakter dari tari Topeng Klana Udeng dan instansi terkait Dalam hal ini adalah pemerintahan daerah yang diharapkan mampu meningkatkan kebudayaan dan kesenian yang ada di Indramayu. Masyarakat juga agar mendukung dalam pengembangan, pelestarian kebudayaan dan kesenian, untuk bisa mensejahterakan kehidupan bermasyarakat. Daftar Pustaka Caturwati, Endang. (2009). Tari Tatar Sunda. Sunan Ambu STSI Bandung. Masunah, Juju. (2000). Sawitri: Penari Topeng Losari. Yogyakarta: Tarawang Suanda, A.T. (2009). Tari Topeng Cirebon. Sunan Ambu STSI Bandung. Soedarsono. (1981). Tari-tarian Indonesia I.Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. RIWAYAT HIDUP Nama : Arsyanah Sugiarto Tempat Tanggal Lahir : Indramayu, 07 September 1990 Jenis Kelamin Agama Nama Ayah Nama Ibu : Perempuan : Islam : Iis Sugiarto : Hj. Sa anah 7
Saya tertarik dengan karakter Kelana yang berwajah merah dan terkesan menyeramkan. Dari Mamih pula saya mengetahui jika Kelana pada daerah Indramayu ada 2, yang menjadi ciri khasnya. Banyak cerita yang saya dapat yang mengarahkan saya untuk mengetahui tentang pembuatan topeng ini. Mamih kemudian menyarankan saya untuk menemui salah satu pembuat topeng, sekaligus dalang Wayang Golek. Pak Warsad namanya.
Kami pun diantar untuk menemui Pak Warsad. Beliau dan anaknya banyak memberikan cerita Panji dan membaritahukan tentang perbedaan dari topeng Kelana Udeng dan Kelana Gandrung.
Cerita panji lazim pada masyarakat Jawa. Pada Masyarakat Cirebon, Panji diceritakan dalam bentuk tari topeng. Berbagai macam topeng memiliki cerita masing-masing. Dahulu, karakter topeng berjumlah sepuluh, yang terdiri dari Panji, Pemindo, Samba, Rumyang, Tumenggung, Pati, Kelana Muda, Kelana Godek, Kelana Udeng, dan Jingga Nanom.
Pada zaman modern, Tarian Topeng dipatenkan menjadi 5 jenis yang terdiri dari Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana (Gandrung). Untuk daerah Indramayu, selain Kelana (Gandrung) ditambah satu karakter topeng Kelana Udeng yang tidak ada pada daerah lain.
Kelana udeng adalah salah satu karakter dalam cerita topeng yang diceritakan juga di golek cepak dari Sunda. Bercerita tentang seorang Raja Blambangan yang hendak melamar Dewi Sekar Taji. Disaat bersamaan Panji juga hendak melamar Sekar Taji. Keduanya harus terlibat dalam pertarungan untuk mendapatkan Dewi Sekar Taji. Kelana udeng bercerita tentang Raja Blambangan saat kasmaran yang kalah bertarung dengan Panji. Ciri khas dari Kelana Udeng adalah karakter Kelana yang memiliki “bewok”



PERTUNJUKAN TARI SINTREN
 Alat Musik dan Perlengkapan Tari Sintren
Adapun alat-alat atau instrumen pokok yang ada pada tari Sintren adalah buyung, lodong, alat untuk mengambil air dari batang bambu yang besar, tingtung berupa dua ruas bambu, sepotong karet, dan kecrek. pada dasarnya alat-alat tersebut merupakan alat dapur, sehingga mereka hanya perlu memakai barang yang sudah ada.
Sebagai properti yang tidak kalah penting dan selalu harus ada dalam pementasan tari Sintren adalah parukuyan dan ranggap atau kurungan ayam. Parukuyan adalah benda yang dipakai tempat kemenyan dan terbuat dari tanah liat (gerabah). Sedangkan kurungan atau ranggap terbuat dari bambu dengan tinggi 2,5 m dan berdiameter 1 m yang ditutupi kain.
Kurungan ayam yang berarti simbol kehidupan, yang berarti pada setiap lengkungan kurungan ayam adalah kehidupan manusia yang bisa sewaktu-waktu berada di atas atau berada di bawah.
Posisi ranggap selalu ditempatkan pada kiri belakang panggung atau kiri depan para pesinden, sedangkan parukuyan setelah dipergunakan disimpan di pinggir panggung yang mudah dijangkau pawang. Walaupun Sintren bisa dipentaskan dimana saja, tetapi pementasan ini tetap memerlukan ruang yang bisa menampung semua perlengkapan dan arena untuk atraksinya minimal 4x4 m2.
A.      Bentuk pertunjukan tari Sintren
Dalam pertunjukan Tari Sintren biasanya diawali dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada Tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren yaitu Paripurna, Balangan, dan Temohan.
Pada bagian Paripurna, pawang menyiapkan seseorang yang akan dijadikan Sintren dengan ditemani oleh 4 pemain sebagai Dayang. Pada bagian ini, terdiri dari tiga tahap yaitu: Tahap Pertama, pawang memegang kedua tangan calon penari sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra, selanjutnya calon penari sintren dengan tali melilit ke seluruh tubuh. Tahap Kedua, calon penari sintren dimasukkan ke dalam sangkar (kurungan) ayam bersama busana sintren dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat kemudian kurungan dibuka, sintren sudah berdandan dalam keadaan terikat tali, lalu sintren ditutup kurungan kembali. Tahap Ketiga, setelah ada tanda-tanda sintren sudah jadi (biasanya ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, sintren sudah lepas dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya sintren melakukan akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari.
Pada bagian Balangan pawing melempar sesuatu (biasanya berwujud bunga atau ikat kepala pawang) kearah penari Sintren. Saat penari terkena lemparan itu, maka penari Sintren akan pingsan. Menghadapi kondisi yang demikian ini, pawang mendatangi penari yang pingsan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh bidadari datang lagi dan melanjutkan tariannya.
Pada bagian Temohan, para penari Sintren dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih dengan uang seiklasnya.
PELESTARIAN KESENIAN
Saat ini, Tari Sintren sudah jarang di tampilkan, sekalipun di daerah asalnya. Seiring dengan perkembangan, Tari Sintren sudah banyak perubahan pada bentuk aslinya. Banyaknya kreasi yang di tambahkan agar tarian ini terlihat menarik. Tarian ini merupakan tarian yang langka dan jarang di temukan. Selain dari segi artistik tarian ini juga memiliki nilai–nilai yang dapat kita pelajari di dalamnya. Tari Sintren ini harus kita lestarikan dan di jaga keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa kita. Salah satu bentuk pelestarian kesenian Sintren, sekarang sintren digelar pada upacara pernikahan/hajatan atau upacara laut.
Tari Sintren merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa tengah dan Jawa barat. selain gerak tarinya, tarian ini juga terkenal dengan unsur mistis di dalamnya karena adanya ritual khusus untuk pemangilan roh atau dewa. Tari Sintren ini tersebar di beberapa tempat di Jawa tengah dan Jawa barat seperti di Cirebon, Majalengka, Indramayu, Brebes, Pemalang, Pekalongan dan Banyumas.

Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari percintaan Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu dari orang tua Raden Sulandono. Sehingga Raden Sulandono di perintahkan oleh ibunya untuk bertapa dan diberikan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah pertapaannya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari di setiap acara bersih desa yang di adakan sebagai syarat untuk bertemu Raden Sulandono.

Saat pertunjukan rakyat yang diadakan untuk memeriahkan bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian pertunjukan. Malam itu saat bulan purnama, Raden Sulandono pun turun dari pertapaannya dengan cara bersembunyi sambil membawa kain yang diberikan oleh ibunya. Pada saat Sulasih menari, dia pun di rasuki kekuatan Dewi Rantamsari sehingga mengalami trance. Melihat seperti itu Raden Sulandono pun melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pingsan. Dengan kekuatan yang di miliki oleh Raden Sulandono, maka Sulasih dapat dibawa kabur dan keduanya mewujudkan cita – citanya untuk bersatu dalam cinta. Sejak saat itulah sebutan Sintren dan balangan muncul sebagai cikal bakal dari Tari Sintren ini. Istilah Sintren adalah keadaan saat penari mengalami kesurupan atau trance. Dan istilah Balangan adalah saat Raden Sulandono melempar kain yang di berikan oleh ibunya.
Dalam pertunjukan Tari Sintren biasanya diawali dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon perlindungan dari mara bahaya kepada Tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren yaitu Paripurna, Balangan dan Temohan. Pada bagian Paripurna adalah bagian dimana pawang menyiapkan seorang yang akan di jadikan Sintren dengan di temani oleh 4 pemain sebagi Dayang. Awalnya seorang penari yang dijadikan Sintren masih memakai pakaian biasa. Pada bagian ini diawali dengan membacakan mantra dengan meletakkan kedua tangan calon penari Sintren di atas asap kemenyan, setelah itu penari di ikat dengan tali di seluruh tubuhnya. Kemudian calon penari Sintren dimasukan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Setelah sudah jadi maka akan di tandai dengan kurngan yang bergetar dan kurungan akan di buka. Penari Sintren tersebut pun sudah siap untuk menari.

Pada bagian Balangan adalah saat penonton melempar sesuatu kearah penari Sintren. Saat penari terkena lemparan itu maka penari Sintren akan pingsan. Lalu pawang mendatangi penari yang pingsan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh bidadari datang lagi dan melanjutkan menarinya. Penonton yang melemparnya tadi di perbolehkan untuk menari dengan penari Sintren. Pada bagian Temohan adalah bagian dimana para penari Sintren dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih dengan uang seiklasnya.

Untuk menjadi penari Sintren ada beberapa syarat yang harus di miliki calon penari, terutama sebagai penari Sintren harus masih gadis atau masih perawan karena penari Sintren harus dalam keadaan suci. Selain itu para penari Sintren di wajibkan berpuasa terlebih dahulu, agar tubuh si penari tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa dan berzina. Sehingga dapat menyulitkan bagi roh ataun dewa yang akan masuk dalam tubuhnya.

Dalam pertunjukannya, Busana yang di gunakan oleh penari Sintren adalah baju golek, yaitu baju tanpa lengan yang biasa digunakan dalam tari golek. Pada bagian bawah biasanya menggunakan kain jarit dan celana cinde. Untuk bagian kepala biasanya menggunakan jamang, yaitu hiasan untaian bunga melati di samping kanan dan koncer di bagian kiri telinga. Aksesoris yang di gunakan biasanya adalah sabuk, sampur, dan kaos kaki hitam/putih. Selain itu yang juga sebagai ciri khas dari penari Sintren adalah kaca mata hitam yang berfungsi sebagi penutup mata. Karena penari Sintren selalu memejamkan mata saat keadaan trance atau kesurupan, selain itu juga sebagai mempercantik penampilan.Dalam pertunjukan Tari Sintren juga di iringi oleh alat musik seperti Gending. Dan di iringi dengan lagu Jawa. Namun, pada saat ini alat musik yang digunakan adalah alat musik modern seperti orkes.




Dalam pertunjukan topeng Cirebon, Klana Udeng adalah salah satu tari yang biasanya ditampilkan pada bagian terakhir. Disebut Klana Udeng, karena salah satu bagian kostum kepalanya memakai udeng atau ikat kepala. Tarian ini muncul setelah topeng Klana selesai ditarikan. Gerakan dan musik pengiringnya berbeda dengan topeng Klana.
Dari sekian banyak gaya topeng Cirebon, Klana Udeng hanya terdapat di beberapa gaya, antara lain di daerah Pekandangan, Tambi, Indramayu, dan di daerah Cipunagara, Subang. Topeng gaya daerah lainnya, seperti Gegesik, Kalianyar, Losari, Slangit, Palimanan, dan lain-lain, tidak pernah menampilkan tari yang satu ini. Tari topeng ini menjadi sangat terkenal setelah Rasinah menarikannya di berbagai pertunjukan, baik di Indramayu, Cirebon maupun di daerah lainnya serta di luar negeri. Tarian ini kemudian malah menjadi salah satu materi ajar di beberapa sanggat tari topeng di Indramayu.
Berbeda dengan topeng Klana yang sering kita lihat, sebagian gerakan Klana Udeng ditarikan secara komikal. Gerakannya terkadang menirukan orang yang tengah mabuk bahkan melucu. Dalang topeng Carini dari Cipunagara, misalnya, menarikan topeng ini dengan penuh kelucuan. Selain menggambarkan seseorang yang tengah mabuk sebagian gerakannya juga mirip dengan gerakan orang yang kaki, tangan dan kepalanya lemas. Sebagian lagi gerakannya mirip dengan gerakan tari dalam Terbang Randu Kentir.
Penulis: Toto Amsar Suanda
meski di tengah keadaan zaman yang krisis budaya seperti ini, masih bisa kita temui salah satu sanggar budaya pelestari Tarian Topeng Mimi Rasina, Banyak yang belajar mengenal Tari Topeng mulai anak-anak sampai orang dewasa meskipun Mimi Rasinah sekarang sudah berpulang sanggar tari topeng masih tetap ramai.
“Ujian kemahiran tari topeng tahun 2018 ini persiapannya mungkin sangat singkat sekali, karena melalui persetujuan dari orang tua murid, dan kita swadaya artinya anggarannya dari orang tua murid sanggar dalam melaksanakan acara ini,” ujar Edi Supriyadi, S. Pd ketua yayasan sanggar tari topeng.
Lanjut Edi, pihaknya memang sengaja memanggil tim penilai dari Bandung untuk meningkatkan kwalitas anak beserta murid sanggar topeng Mimi Rasinah agar kwalitas penari topengnya lebih baik lagi.
Sementara Kasi Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indramayu, Asep Ruchyat Soemantri, mengatakan, jika ia sangat bangga dengan semangat anak-anak dan juga dukungan orang tua sehingga menjadi berkembang.
“Mudah-mudahan sanggar Mimi Rasinah, sanggar Mulya Bakti, sanggar cinta damai mama Dargi, sanggar carpan menjadi salah satu Destinasi Wisata Budaya” ucapnya.
Asep berharap, semoga keberadaan sanggar-sanggar seni tradisi tari topeng dan kesenian adat yang lainnya berkembang di Indramayu dan bisa terkenal, sehingga suatu saat Indramayu menjadi salah satu tujuan Destinasi Wisata Budaya di Jawa Barat.
Menurut Indra Rachmat Yusuf, murid sanggar Mimi Rasinah baru saja usai melakukan ujian kenaikan tinggat.
“Saya kira sudah layak dengan tingkat tari yang dipelajarinya dan nampaknya keluarga Mimi Rasinah berhasil membina anak-anaknya sehingga mereka mampu menari apa yang diberikan dan diajarkan,” Ucapnya.
Lanjut dia. Suatu kebanggaan bagi bangsa kita bangsa Indonesia karena salah satu kesenian tari khususnya tari topeng gaya Indramayu terus dilestarikan dan terus berkembang.
Topeng Klana Udeng. Dalam Tarian Topeng Cirebon lazim dikenal istilah Panca Wanda atau lima rupa untuk mengkategorikan karakter topengnya sebagai perwakilan watak manusia. Topeng-topeng yang dimaksud adalah Topeng Klana, Topeng Tumenggung, Topeng Rumyang, Topeng Samba, dan Topeng Panji.
Masing-masing topeng dalam Panca Wanda tidak menutup kemungkinan untuk berkembang sesuai dengan gaya tarian. Seperti diketahui Topeng Cirebon memiliki sejumlah gaya tari dari desa-desa asli yang melahirkan tari topeng atau yang menciptakan gaya baru yang secara adat diakui berbeda dengan gaya lainnya.
Di antara gaya tarian topeng, salah satunya tersebar di sekitar wilayah Indramayu. Di daerah inilah lahir varian dari salah satu topeng Panca Wanda, yakni Topeng Klana yang diberi nama Topeng Klana Udeng. Dinamakan seperti itu karena di bagian kostum hiasan kepala penarinya mengenakan udeng atau ikat kepala.
bagian tari topeng Klana adalah adanya ngarayuda(nyarayuda, sunda) atau disebut juga brimanan(baramaen, Sunda) atau ngemis, yakni meminta uang kepada penonton, pemangku hajat, pengobeng (yang bekerja di dapur hajatan), atau kepada siapa saja yang ada di sekitar tempat pertunjukan. Ngarayudayang dilakukan pada bagian topeng Klana terkait dengan makna simbolis tarian tersebut. Klana digambarkan sebagai raja sabrang (seberang) yang kaya raya, namun bertabiat rakus atau tamak. Kalaupun ia sudah punya segalanya, namun dirinya tetap saja merasa kurang. Oleh karena sebab itu, ia tidak saja meminta akan tetapi bahkan mengambil, kalaupun yang diambilnya punya orang lain dan bukan pula haknya. Oleh karena itu makna simbolis itu pula, maka ngarayuda itu dilakukan dengan cara nyadong memakai kedok Klana yang dipakai dalang atau dengan bendo. Dahulu masyarakat mengenal Klana Udeng sebuah atraksi, yang pada saat pertunjukan tari Topeng Klana, kemudian disambung dengan Klana Udeng yang tidak perlu berganti pakaian, hanya membuka atau mengganti sobra atau tekesdengan kain iket atau Udeng. Topeng klana udeng ini berkisahkan seperti cerita Rama gandrung Sinta dan kalau lakon dari majapahitnya, cerita golek cepak yang di Indramayu. Yang menceritakan tentang menak arnol yang dari negara blambangan, yang diantaranyadewi sekar taji. Jadi Topeng Klana Udeng ini gerakan yang terakhirnya yaitu seperti gandrung.tetapi itu adalah kepintaran seorang dalang yang gandrung, setelah gandung dilanjutkan menarikan yang berbagai macam tarian (sesuka-suka penari), ketika penari tersebut kelelahan, biasanya melakukan ngarayuda terlebih dahulu, yang dimaksud ngarayuda adalah meminta saweran kepada penonton, hal tersebut bersimbolkan bahwa bentuk keserakahan seorang pemimpin. Seorang raja tersebut yang sudah kaya-raya tetapi masih meminta-minta ke rakyat, hal tersebut adalah kata sindiran pada zaman dulu untuk para penjajah yang tidak tahu malu mengambil harta masyarakat yang ada di indramayu. Jadi di gambarkan oleh ngarayudaan.setelah ngarayuda, disambung gandrung yang memakai irah-irah.kemudian dilanjutkan oleh tari Topeng Klana Udeng yang hanya mengganti sobra dengan udeng saja. Ketika menarikan Klana Udeng, si penari melakukan gerakan silat, kayang sambil menjilat koin, menari di atas tambang. Jadi tari Topeng Klana Udeng lebih ke ekspresi atau kepintaran seorang penari, bisa disebut atraksi. Awal mulanya Wangi melihat Sang Maestro Topeng yaitu Alm.Rasinah menari, kemudian berapresiasi, jadi tanpa belajar, dalam waktu khusus Wangi sudah bisa meskipun ada sedikit perbedaan-perbedaan. Wangi membuat gerakan tari Topeng Klana Udeng terinspirasi dari gambaran seseorang yang sedang gandrung, memiliki sisi positif dan negatif.topeng Klana Udeng ini lebih identik dengan ego manusia dan lebih menggambarkan seorang manusia yang ambisius, egois, punya power, jadi dituangkan dalam gerakan atau tarian tersebut. Yang digambarkan dalam gerakan-gerakannya rata-rata seseorang yang sedang mabok, menginginkan sesuatu. Jatuh cinta terhadap sesuatu apapun. Wangi lebih memilih Klana Udeng, karena lebih cepat masuk ke anak-anak dan lebih efektif karena gerakannya lebih simple, enerjik, dan anak bisa melakukan, seperti senam.beliau membakukan gerak-gerak topeng klana udeng yaitu tidak jauh berbeda dengan gerak dasarnya yaitu dari Topeng Kelana. pertunjukan Tari Topeng Klana Uden

Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates