Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Adipati Karno Gugur
28 Desember 2019   5:35 |

Oleh Deni Hidayat
Arjuna dan Karno ibaratnya seperti saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak, tetapi wajah keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Adipati Karno kala itu.
Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Adipati karno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Adipati Karno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini.
Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan.
Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.
Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.
Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa.
Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati.
Adikku, Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang.
Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”
Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna.
Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.
Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya.
Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan.Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tidak tergores sedikitpun.
Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak mempan, maka disiapkannya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang, Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.
Di sisi lain, Kresna tahu kesaktian pusaka itu dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktiannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset tak menerjang leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya. Arjuna malu karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya, maka dengan sigap Kresna, menyambung rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong Arjuna dengan yang lebih bagus.
”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adipati Karno menyelesaikan darma baktinya. Siapkanlah anak panah Pasopati dengan busurnya. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Adipati Karno menuju kebahagiaan sejatinya”
Arjuna menyiapkan Panah Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tak ada yang meragukannya. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, sangat akurat dalam mengenai bidikannya.
Sekarang anak panah Pasopati telah siap di busurnya. dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, terikut serta dalam keraguan dan kegamangan, terbayang masih teringat, kakak sedarah dan asalnya yang sama, saudara yang dia cintainya. Tetapi dengan kematanganya sebagai seorang Satriya, Tugas amanah adalah janji yang harus dilaksanakan, mengikuti jalannya menyambut takdir yang sudah ditakdirkan, lalu di bidikkannya dan dilepaskan anak panah Pasopati, mengarah kepada leher Adipati Karno. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.





 Setelah sekian lama ditunggu-tunggu akhirnya Dewi Arimbi mengandung anak dari Bima. Seluruh rakyat Pringgandani sangat bersukacita, dikarenakan anak ini akan menjadi generasi penerus sebagai Raja di Pringgandani bila Dewi Arimbi sudah tiada.Saat itu seluruh putra Pandawa disertai Sri Batara Kresna tidak ketinggalan seluruh punakawan Semar, Astrajingga, Dawal dan Gareng berkumpul di Istana Pringgandani, merka sedang berkumpul menunggu saat kelahiran sang putra Bima. Tidak lama berselang terdengar tangisan bayi menggelegar menggentarkan seantero Pringgandani, seluruhnya yang berada di bangsal menarik nafas panjang. Sesaat kemudian ada emban yang menghaturkan berita bahwasanya sang putra mahkota laki-laki telah lahir dalam keadaan sehat begitu juga dengan kondisi sang ibu. Mendengar hal tersebut bertambahlah kebahagian semuanya, satu persatu dari mereka memberikan selamat kepada Raden Aria Werkudara alias Bima atas kelahiran putrannya.
Beberapa waktu kemudian mereka bisa masuk menjenguk kedalam kamar, disana terlihat Dewi Arimbi sedang berbaring diatas ranjang berhiaskan emas permata beralaskan sutera berwarna biru terlihat senang dengan senyum mengembang dibibirnya menyambut kedatangan Bima diiringi oleh seluruh kadang wargi (saudara). Tidak jauh dari tempatnya berbaring terlihat sebuah tempat tidur yang lebih kecil, diatasnya tergolek seorang bayi laki-laki sangat gagah dan tampat layaknya ksatria trah dewa, hanya saja ari-ari dari bayi tersebut masih menempel belum diputus. Ketika hal tersebut ditanyakan emban menjawab bahwa seluruh upaya untuk memotong tali ari-ari tersebut selalu gagal. Tidak ada satu senjatapun yang berhasil memotongnya.
Mendengar hal tersebut Bima sangat gusar dan meminta tolong kepada saudara-saudaranya untuk memotong tali ari-ari anaknya yang diberinama Jabang Tutuka. Bima mencoba memotong dengan kuku pancana gagal, diikuti oleh Arjuna mencoba menggunakan seluruh senjatanya diawali dengan keris Pancaroba, keris Kalandah, panah Sarotama bahkan panah Pasopati semuanya gagal. Sri Batara Kresna yang saat itu hadir mencoba dengan senjata saktinya Cakra Udaksana, hanya menghasilkan percikan-percikan api ketika dicoba memotong tali ari-ari itu. Semuanya terbengong-bengong merasa takjub dan heran disertai rasa putus asa, Dewi Arimbi hanya bisa menangis melihat hal tersebut dirundung rasa khawatir jika anaknya harus membawa tali ari-ari hingga dewasa. Ditengah suasana tersebut tanpa diketahui sebelumnya Begawan Abiyasa yang tak lain kakek dari para Pandawa atau buyut dari Jabang Tutuka telah hadir ditempat tersebut, semua yang hadir memberikan sembah sungkem kepadanya. Begawan yang sakti mandraguna ini mengatakan bahwa tali ari-ari itu hanya akan bisa dipotong oleh senjata kadewatan yang berasal dari Batar Guru. Untuk itu Sang Begawan meminta Arjuna untuk pergi ke Kahyangan mencari senjata tersebut. Setelah mendapat perintah dari kakeknya dan meminta ijin kepada saudara-saudaranya Arjuna disertai oelh para punakawan segera menuju Kahyangan untuk mencari senjata yang dimaksud oleh Begawan Abiyasa, sedangkan Sang Begawan sendiri bergegas pulang kembali ke Padepokan setelah memberikan do’a serta merapal beberapa mantra untuk buyut / cicitnya tersebut.
Nun jauh di Kahyangan sana keadaan sedang gonjang-ganjing dikarenakan serangan dari Naga Percona yang ingin memperistri salah satu bidadari yang bernama Dewi Supraba. Dikarenakan Naga Percona bukan sembarang makhluk, dia adalah raja yang mempunyai kesaktian mumpuni dan bisa dikatakan sama bahkan sedikit diatas diatas para dewa, jelas sangat merepotkan barisan dewa-dewa yang dipimpin oleh Batara Indra dalam menghadapi nya. Serangan petir Batara Indra tidak ubahnya lemparan daun-daun kering dari anak-anak, kobaran api Batara Brahma hanya menjadi menjadi mainan saja. Batara Bayu yang mendoronganya dengan badai besar tidak membutnya mundur walaupun seujung kuku, bahkan badannya tidak goyang sedikitpun. Cakra Udaksana dari Batar Wisnu sama sekali tidak mencenderainya, singkatnya para dewa dipukul mundur dengan kondisi babak-belur.
Batara Guru merapal mantra dan melihat Kaca Trenggana, diperoleh keterangan bahwa yang bisa mengalahkan Naga Percona hanyalah Jabang Tutuka anak Bima yang baru lahir. Selanjutnya Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk memberikan senjata darinya yang bernama panah Konta Wijayadanu kepada Arjuna untuk memotong ari-ari Jabang Tutuka dengan imbalan bayi tersebut harus menjadi panglima perang mengahadapi Naga Percona. Disaat yang bersamaan Aradeya atau Karna sedang bertapa di tepi Sungai Gangga mencari senjata sakti untuk dirinya, pada saat Batara Narada mendekati tempat tersebut hatinya senang karena Aradeya ini disangkanya Arjuna, karena rupanya benar-benar mirip dan Batara Surya yang merupakan ayah dari Aradeya sengaja mengeluarkan sinar berkilauan disekitar Aradeya sehingga Batara Narada tidak terlalu jelas melihatnya, sehingga tidak sadar bahwa orang yang diserahi senjata tersebut bukanlah Arjuna.
Setelah mendapatkan senjata sakti kadewatan Aradeya sangat gembira dan langsung berlari tanpa mengucapkan terima kasih kepada Batara Narada, hal itu membuat Batara Narada tersadar bahwa dia salah orang, tidak lama kemudian Arjuan disertai oleh para Punakawan datang ketempat tersebut, dengan sedih Batara Narada bercerita bahwa dirinya telah salah orang menyerahkan senjata kadewatan yang seharusnya diserahkan kepada Jabang Tutuka lewat tangan Arjuna, malah diserahkan kepada orang yang tidak dikenal dan mempunyai rupa mirip dengan Arjuna. Mendengar hal tersebut Semar sangat menyalahkan Batara Narada karena gegabah menyerahkan senjata sakti kepada orang asing, serta segera meminta Arjuna mengejar orang tersebut.
Arjuna berlari dan berhasil menyusul Aradeya, awalnya senjata tersebut diminta baik-baik dan dikatakan akan digunakan olehnya untuk memotong tali ari-ari keponakannya. Aradeya tidak menggubrisnya akhirnya terjadi perang-tanding memperebutkan senjata tersebut, sampai suatu ketika Arjuna berhasil memegang sarung senjata tersebut sedangkan Aradeya memegang gagang panah Konta Waijayadanu. Mereka saling tarik dan akhirnya terjerembab dikarenakan senjata Konta lepas dari warangka / sarungnya. Kemudian Aradeya berlari kembali dan kali ini Arjuna kehilangan jejak.
Dengan sedih hati Arjuna menunjukkan warangka senjata Konta kepada Semar, kemudian atas saran Semar mereka kembali ke Pringgandani sedangkan Batara Narad disuruh pulang ke Kahyangan dan dikatakan bahwa Jabang Tutuka akan segera dibawa ke Kahyangan. Sesampainya di Keraton Pringgandani warangka tersebut digunakan untuk memotong tali ari-ari Jabang Tutuka, ajaib sekali tali ari-ari putus sedangkan warangka senajata kadewatan itu masuk kedalam udel Jabang Tutuka. Hal ini menurut Semar sudah menjadi suratan bahwa nanti diakhir cerita peperangan besar / Bharata Yuda senjata itu akan masuk kembali kewarangkanya, dengan kata lain Jabang Tutuka akan mati jika menghadapi senjata Konta Wijayadanu.
Setelah tali ari-ari berhasil dipotong Arjuna hendak membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan untuk memenuhi janji kepada Batara Narada, bahwa Jabang Tutuka akan menjadi panglima perang dan menghadapi Naga Percona. Awalnya Bima melarang karena anaknya masih bayi dan dirinya sanggup untuk menggantikan melawan Naga Percona. Setelah Semar berkata bahwa Jabang Tutukalah yang harus berangkat karena dia yang dipercaya oleh dewa dan Jabang Tutuka pula yang telah menggunakan senjata kadewatan bukan yang lain. Disamping itu Semar menjamin jika terjadi suatu hal yang menyebabkan Jabang Tutuka celaka, Semar berani menaruhkan nyawanya kepada Bima. Mendengar hal tersebut dari Semar, Bima yang mempunyai pandangan linuwih dan menyadari siapa sesungguhnya Semar ini, akhirnya mengijinkan putra berperang melawan Naga Percona.
Arjuna disertai par Punakawan segera membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan, setelah mendekati gerbanga Selapa Tangkep tepatnya di Tegal Ramat Kapanasan Arjuna meletakkan Jabang Tutuka ditengah jalan menuju gerbang. Selanjutnya Arjuna memperhatikan dari jauh bersama dengan para dewa, tak lama berselang Naga Percona datang dan melihat ada bayi ditengah jalan. Dia meledek Batara Guru yang dikatakannya sudah gila karena menyuruhnya bertarung dengan bayi yang hanya bisa menangis. Kemudia dia mengangkat Jabang Tutuka dan mendekatkan wajahnya ke wajah bayi tersebut, tidak disangkan tangan Jabang Tutuka mengayun dan berhasil meluaki satu matanya sehingga berdarah. Kontan Naga Percona marah dan membanting Jabang Tutuk kea rah pintu gerba hingga mati. Melihat hal tersebut para dewa tak terkecuali Batar Guru, Batara Narada dan Arjuna kaget dan was-was jika Bima sampai tahu anaknya mati oleh Naga Percona pasti akan mengamu ke Kahyangan. Hanya saja Semar dengan cepat berbisik ke Batara Guru untuk segera menggodok Jabang Tutuka di Kawah Candradimuka, Batara Guru segera memerintahkan Batara Yamadipati untuk segera membawa tubuh Jabang Tutuka ke Kawah Candradimuka dan menggodoknya. Selanjutnya para dewa disuruhnya melemparkan / mencampurkan senajata yang dimilikinya untuk membentuk tuduh Jabang Tutuka lebih kuat, lama-kelamaan terbentuklah tubuh satria gagah dari dalam godogan tersebut. Kemudian para dewa membirkannya pakaian dan perhiasan untuk Jabang Tutuka yang baru tersebut, selanjutnya diakarenakan dia mati belum waktunya berhasil dihidupkan kembali oleh Batar Guru.
Selain mendapat anugerah berupa pakaian, perhiasan dan senjata yang sudah membentuk tubuhnya Jabang Tutuka juga memperoleh beberanama dari para dewa diantaranya : KrincingWesi, Kaca Negara, Purabaya, Kancing Jaya, Arimbi Suta, Bima Putra dan Gatotkaca. Nama terakhir inilah yang kemudian digunakan dalam dunia pewayangan. Dengan tampilan yang sangat beda dari sebelumnya Jabang Tutuka yang menggunakan nama baru Gatotkaca bertempur kembali dengan Naga Percona, dan akhirnya behasil merobek mulut dan tubuh Naga Percona menjadi dua bagian. Itulah akhir dari hidupnya Naga Percona yang membawa kedamaian di Kahyangan, sekaligus menjadi awal kepahlawanan Gatotkaca sang putra Bima


TARI WAYANG ADIPATI KARNA






Sanggar Seni Kencana Ungu merupakan salah satu dari banyaknya sanggar yang berada di Cirebon, tepatnya berada di JL.Raya Sunan Gunung Jati Desa Mertasinga No 007 kecamatan Gunung Jati kabupaten Cirebon.Sanggar Kencana Ungu dipimpin oleh Bapak E.Panji Jaya Prawirakusuma, sanggar ini berdiri tahun 1980 namun dalam mengembangkan sanggar ini tidak berjalan mulus banyak jatuh bangun dan rintangan yang didapat oleh beliau, pada tahun 1989 sanggar ini dapat berdiri dan berkembang hingga sekarang.Nama awal sanggar ini adalah Putra Kusuma, namun ada perubahan nama menjadi Sanggar kencana Ungu yang saat ini banyak dikenal oleh masyarakat khususnya di wilayah Cirebon.

Sekurang-kurangnya ada 6 jenis kesenian di sanggar ini yaitu : Tari topeng, Wayang, Wayang Gong, Sintren, Upacara adat dan Gembyung. Tari wayang terdiri dari beberapa jenis diantaranya :

1. Tari wayang Adipati karna
2. Tari Raden Ganda mana
3. Tari jayang Rana
4. Tari Dewi Banowati
5. Tari Raden Gatot Kaca

Jenis tari ini dibedakan berdasarkan busana, karakter topeng, gerakan, susunan letak penari, dan tat arias yang digunakan. Tari Wayang Adipati karna berasal dari Cirebon dan mulai dipopulerkan sekitar tahun 1970, alat music yang digunakan biasanya menggunakan gamelan lengkap atau kaset namun, saat ini yang sering digunakan adalah kaset selain praktis, dalam hal biaya pun terbilang lebih murah.

Jumlah penariAdipati Karna biasanya jumlah 1,3,5 atau 7 orang tergantung dari kebutuhan atau permintaan, lagu utama yang digunakan untuk mengiringi tari wayang Adipati Karna yaitu lagu Semarangan, pewatak tokoh wayang ini dalam bahasa jawa disebut Satria Ladak yang artinya Ksatria. Pagelaran seni wayang ini biasanya digelar di Keraton Kesepuhan Cirebon ataupun di acara pementasan sebuah instansi. Seni tari wayang ini bisa digunakan untuk acara resmi maupun tidak contohnya seperti memperingati hari jati Kabupaten Cirebon, memperingati haul, upacara adat pernikahan. Namun sayangnya pada zaman sekarang, tari wayang Adipati Karna kurang populer di kalangan masyarakat karena sedikitnya jumlah orang yang bisa menari wayang tersebut dan tidak semua sanggar seni memiliki wayang Cirebon, hal ini lah yang membuat tari wayang semakin tidak populer.

Sanggar seni tari ini memiliki 70 anak didik yang digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu Pemula dan Madya. Setiap minggu rutin melakukan latihan, untuk hari senin selasa kelompok pemula dan jumat, sabtu, minggu untuk kelompok madya. Sanggar ini masih terus diajarkan kepada anak didiknya dari usia TK,SD,SMP, dan lainnya. Setiap setahun sekali sanggar seni ini melakukan tes ujian kemampuan tarinya.

Sanggar seni tari ini juga pernah pernah diundang di Newland dan Taiwan sebagai perwakilan Indonesia di festival Budaya pada tahun 2004, sanggar ini memiliki banyak prestasi.
Tari Adipati Karna termasuk kedalam kategori Tari wayang. Berdasarkan Gerakan Dasar tarinya, Tarian ini juga termasuk kedalam Tari Putra Halus.

Seperti yang kita ketahui dalam cerita pewayangan, Adipati Karna adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping).Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.

Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamade, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamade. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamade itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamade (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamade membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.

Pamade dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga.

Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.
Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri.

Sosok Adipati Karna memang memancing beragam anggapan dan penilaian. Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata, sosok ini mungkin dapat digolongkan sebagai tokoh yang istimewa. Keistimewaan sang raja Awangga tersebut bukan hanya dari segi silsilahnya saja, tetapi juga dari sisi perjalanan hidup serta kompleksitas kepribadiannya yang sulit ditebak. Sebelum berbicara lebih banyak tentang sosok Radheya ini, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu uraian singkat perjalanan hidupnya.

Adipati Karna dikenal dengan nama Karna, adalah salah satu tokoh dari wiracarita Mahabharata yang terkenal dan sangat menarik. Ia sebenarnya adalah masih saudara satu ibu dengan para Pandawa; Yudistira, Werkodara dan Arjuna (Nakula dan Sadewa bukan saudara langsung Karna, melainkan saudara sepupunya).

Adipati Karna adalah tokoh yang sombong dan angkuh. Selain itu, sang raja Awangga pun dianggapnya mengkhianati para Pandawa yang merupakan adik-adik kandungnya sendiri. Atas pandangannya itu, ia kemudian mempertanyakan penasbihan Adipati Karna sebagai seorang ksatria agung.

Sosok Adipati Karna memang memancing beragam anggapan dan penilaian. Jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata, sosok ini mungkin dapat digolongkan sebagai tokoh yang istimewa. Keistimewaan sang raja Awangga tersebut bukan hanya dari segi silsilahnya saja, tetapi juga dari sisi perjalanan hidup serta kompleksitas kepribadiannya yang sulit ditebak. Sebelum berbicara lebih banyak tentang sosok Radheya ini, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu uraian singkat perjalanan hidupnya.

Dalam perspektifnya, ia melihat bahwa sosok Adipati Karna adalah tokoh yang sombong dan angkuh. Selain itu, sang raja Awangga pun dianggapnya mengkhianati para Pandawa yang merupakan adik-adik kandungnya sendiri. Atas pandangannya itu, ia kemudian mempertanyakan penasbihan Adipati Karna sebagai seorang ksatria agung.

Dalam perspektifnya, ia melihat bahwa sosok Adipati Karna adalah tokoh yang sombong dan angkuh. Selain itu, sang raja Awangga pun dianggapnya mengkhianati para Pandawa yang merupakan adik-adik kandungnya sendiri. Atas pandangannya itu, ia kemudian mempertanyakan penasbihan Adipati Karna sebagai seorang ksatria agung.



Tari Adipati Karna termasuk kedalam kategori Tari wayang. Berdasarkan Gerakan Dasar tarinya, Tarian ini juga termasuk kedalam Tari Putra Halus. Seperti yang kita ketahui dalam cerita pewayangan, Karna, alias Radeya adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa: Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Adipati Karna adalah putra dari Dewi Kunti, yaitu putri Prabu Kuntiboja di Madura. Waktu muda ia bernama Suryaputra. Waktu Dewi Kunti belum bersuami ia telah hamil karena mempunyai ilmu dari Begawan Druwasa, dan ilmu itu tidak boleh diucapkan dalam sinar matahari (siang hari). Jika diucapkan dalam sinar matahari ia akan jadi. hamil. Tetapi Dewi. Kunti lupa akan larangan itu, maka hamillah ia. Oleh pertolongan Begawan Druwasa, kandungan itu dapat dilahirkan keluar dari lubang kuping, maka diberi anak itu diberi nama Karna (karna berarti kuping). Karna diaku anak angkat oleh Hyang Surya. Waktu Karna dilahirkan lalu dibuang ia ditemukan oleh Prabu Radea, raja di Petapralaya, terus diaku anak dan diberi nama Radeaputra.



Setelah dewasa, ia berkenalan dengan seorang puteri di Mandraka bernama Dewi Surtikanti. Perkenalan itu diketahui oleh Raden Pamade, hingga terjadi perang tanding. Karna mendapat luka di pelipis dan akan dibunuh oleh Pamade. Tetapi Hyang Narada, turun dari Kahyangan untuk mencegah kehendak Pamade itu dan Narada menerangkan, bahwa Kama itu saudara Pamade (Pandawa) yang tertua, malah seharusnya Pamade membantu perkawinan Karna dengan Surtikanti. Dan seketika itu juga Hyang Narada menghadiahkan mahkota. pada Karna untuk menutup luka di pelipisnya.



Pamade dan Karna pergi ke Awangga dan membunuh raja raksasa di Awangga bernama Prabu Kalakarna, yang, mencuri Dewi Surtikanti. Kemudian Surtikanti dihadiahkan kepada Karna untuk jadi isterinya dan Karna bertahta sebagai raja di Awangga berpangkat Adipati, suatu pangkat yang hampir setara raja, dan bergelar Adipati Awangga. Karna kesatria sakti dan mempunyai senjata bernama Kunta Wijayadanu.

Dalam perang Baratayudha, Karna berperang dengan Arjuna, saudara sendiri, hingga Karna mati dalam perang sebagai kesatria. Tewasnya Adipati Karna dalam perang Baratayuda dianggap utama karena ia mati dalam perang untuk membela negeri Hastinapura, setia hingga mati, tak memandang bermusuhan dengan saudara sendiri. Teladan keutamaan Adipati Kama ini dikarang oleh KGPAA Mangkunegara IV untuk pengajaran pada kerabat dan tentara Mangkunegaran, tetapi umumnya juga diikuti oleh khalayak. Buku tersebut berjudul Tripama.



Salah satu contoh keistimewaan sosok Karna di kalangan masyarakat Jawa dapat kita lihat pada akhir tahun 2010 kemarin, ketika gunung Merapi mengamuk, mata orang banyak tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Setelah akhirnya Si Mbah meninggal dunia karena wedus gembel Merapi, banyak orang yang kemudian mengasosiasikan Si Mbah dengan sosok Adipati Karna. Dari perspektif kelompok masyarakat tertentu, kedua tokoh tersebut dihormati karena keberanian serta keikhlasan mereka untuk berkorban demi sebuah kebenaran yang mereka percaya. Tak banyak orang yang berani memilih cara hidup seperti kedua tokoh tersebut. Di dalam dunia yang semakin pragmatis ini, sosok Mbah Maridjan tampil mencolok, sepanjang hidup hingga ajal menjemputnya, ia setia dengan prinsip kebenaran yang ia percayai tanpa mempedulikan nilai-nilai pragmatis yang timbul di kalangan masyakarat. Dari sisi tertentu, sosok Si Mbah akhirnya mengajak sebagian masyarakat Jawa untuk bernostalgia kepada sosok Adipati Karna. Atas dasar itulah akhirnya Mbah Maridjan diasosiasikan dengan sosok Adipati Karna yang agung. Tentu saja sekali lagi, harus dilihat dalam konteks yang luas, bukan pragmatisnya saja.

Pada akhirnya penilaian terhadap sosok Adipati Karna akan bergantung pada perspektif mana yang akan dipilih, luas? Atau pragmatis? Yang pasti agar semakin terang dan jelas, dibutuhkan pemahaman dan penelaahan lebih mendalam terhadap sosok Adipati Karna serta tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata. Proses itu tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kekayaan khazanah budaya Nusantara, mengingat banyak sekali kandungan filosofis serta nilai-nilai luhur dari mahakarya sastra tersebut yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Tari wayang Adipati Karna berasal dari Cirebon dan mulai dipopulerkan sekitar tahun 1970, alat musik yang digunakan biasanya menggunakan gamelan lengkap atau kaset namun, saat ini yang sering digunakan adalah kaset selain praktis, dalam hal biaya pun terbilang lebih murah.

Jumlah penari Adipati Karna biasanya berjumlah ganjil yaitu 1 orang, 3 orang, 5 orang, atau 7 orang bahkan bisa tergantung dari kebutuhan atau permintaan, lagu utama yang digunakan untuk mengiringi tari wayang Adipati Karna yaitu lagu Semarangan, pewatakan tokoh wayang ini dalam bahasa jawa disebut Satria Ladak yang artinya Ksatria, disebut ksatria karena seseorang yang gagah, berani, berjiwa juang, mampu berkorban, jujur, setia, dan dapat menjadi pemimpin yang baik. Pagelaran seni wayang ini biasanya digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon ataupun di acara pementasan sebuah instansi.

Seni tari wayang ini bisa digunakan untuk acara resmi maupun tidak contohnya seperti memperingati hari jadi Kabupaten Cirebon, memperingati haul, upacara adat pernikahan, khitanan, pengisi acara dalam pagelaran seni, karnaval, festival seni dan lain sebagainya. Namun sayangnya pada zaman sekarang yang telah berkembang ini, tari wayang Adipati Karna kurang populer di kalangan masyarakat karena sedikitnya jumlah orang yang bisa menari wayang tersebut dan tidak semua sanggar seni memiliki wayang Cirebon, hal ini lah yang membuat tari wayang Adipati Karna semakin tidak populer di wilayah kota Cirebon terutama di kalangan anak-anak.

Aktualisasi Spirit Karna

Adipati Karna, di dalam Serat Tripamama Yasa, dinyatakan sebagai sosok ksatria yang dinyatakan layak diteladani, bersama Bambang Sumantri – sang patih bagi Prabu Arjuna Sasrabahu di Kraton Maespati, dan Kumbakarna – adik Raja Rahwana dari Kerajaan Alengka. Tentunya ada keistimewaan pada kepribadian Adipati Karna sehingga KGPAA Mangkunegoro IV memilihnya sebagai role model bagi para ksatria Jawa.

Menurut hemat saya, ada beberapa karakter utama Adipati Karna yang layak diteladani dan dihidupkan pada keseharian kita, yaitu: pertama, kesadaran akan lakonnya sebagai seorang ksatria – dan itu membuatnya berani menanggung resiko kalah ataupun menang dalam satu pertarungan. Ia berprinsip, nilai atau derajat seorang ksatria bukan terletak dalam kemenangan atau kekalahan dalam sebuah pertarungan, melainkan dalam bagaimana ia menjalani pertarungan itu. Seorang ksatria sejati adalah mereka yang bertarung dengan penuh kesungguhan, mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, tak peduli menang atau kalah. Bahkan, dalam kasus Adipati Karna, ketika ia sadar pasti kalah melawan Arjunapun, ia tetap bertarung gigih hingga titik darah penghabisan, sehingga pertarungannya melawan Arjuna menjadi salah satu pertarungan paling agung dalam sejarah pewayangan. Kedua, Adipati Karna adalah pribadi yang rela mengorbankan diri untuk kepentingan lebih besar, yaitu kepentingan sosial dan tegaknya keadilan. Ketika ia memilih untuk memihak Kurawa, itu bukan semata-mata karena tindakan balas budi atas kebaikan Prabu Duryudana. Juga bukan karena rasa dendam terhadap saudara-saudara tirinya di pihak Pendawa. Tapi itu dilakukan untuk memuluskan terjadinya Bharata Yudha yang diyakini memang harus terjadi agar Pendawa tak selalu tertindas, dan agar keadilan bisa tegak
Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates