Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Bijaksana & Wibawa
Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.
Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.
Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.
Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.
Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.
Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang.
Tari Topeng Cirebon, kini menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh Raja, namun, raja-raja Cirebon  tak bisa terus menerus menghidupi kelompok kesenian karena kegiatan ekonominya diatur oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga saat itu para penari dan penabuh gamelan akhirnya mencari mata pencaharian dengan mbebarang  atau pentas keliling kampung.
Dahulu pada tahun 1980 an Seni tari Topeng ini sering di peragakan oleh sekelompok penari jalanan untuk mencari nafkah dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Cirebon,  Sejak itu, Tari Topeng Cirebon mulai dikenal di pedesaan. Grup-grup Tari Topeng Cirebon bermunculan dan beberapa grup tari topeng sibuk mbebarang  dari desa ke desa untuk memeriahkan hajatan. tapi entah mengapa saat ini sudah sangat jarang di peragakan oleh para grup tari keliling.
Sejarah Tari Topeng Cirebon
Konon pada awalnya, Tari Topeng ini  diciptakan oleh sultan Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang
Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.
Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng,
Babak Pentas Tari Topeng Khas Cirebon
Pementasan Tari Topeng Cirebon ini berlangsung selama 5 babak, dan setiap babak berjalan 1 jam, Topeng yang muncul ada 5 tokoh, yaitu topeng Panji, Samba, Tumenggung, Kalana dan Rumyang. dan Kelima tokoh ini dibawakan oleh penari yang sama, yaitu dalang topeng.
Kelima topeng itu menggambarkan watak manusia.
Topeng Panji menggambarkan watak manusia yang arif, bijaksana, dan rendah hati.
Topeng Samba menggambarkan watak manusia yang suka hura-hura dan penuh canda.
Topeng Tumenggung menggambarkan watak ksatria yang gagah berani dan percaya diri.
Topeng Kalana menggambarkan sifat manusia yang tamak dan
Topeng Rumyang melambangkan sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk masyakarat Cirebon, kesenian Tari Topeng ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena pada awal kemunculannya, kesenian topeng, menjadi sarana penyebaran agama Islam pada masa Sunan Gunung Jati. Tujuannya, agar bisa lebih dekat dengan masyarakat yang dituju.



  1. Unsur-Unsur Pembentuk Topeng Modern Karya Anom

            Topeng merupakan salah satu peninggalan seni budaya Bali yang memiliki bentuk dan karakter yang khas. Unsur-unsur bentuk yang digunakan untuk mewujudkan seni topeng tidak berbeda dengan unsur-unsur seni rupa lainnya seperti titik, garis, bidang, warna, tekstur dan ukuran yang secara visual dapat dilihat. Melalui unsur visual ini, melalui pahatan dan sapuan kuas, seseorang dapat mewujudkan bentuk dan karakter seni topeng sesuai dengan keinginnannya. Selain itu, bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya suatu bentuk karya seni adalah pemahaman tentang ‘kerangka’ dari pengertian unsur-unsur rupa itu sendiri sehingga seorang seniman akan mampu membuat karya seni rupa menjadi lebih sempurna dan metaksu. Anom mengkombinasi titik dalam karya topengnya, merupakan keunikan dan karakter dari kreativitasnya terutama dalam memberikan ornamen untuk hiasan lainnya. Satu titik saja belum dapat berbicara mengungkapkan suatu ekspresi, namun susunan dari empat sampai lima saja mampu membentuk ragam hias seni topeng yang beraneka bentuk. Seperti misalnya dalam topeng yang berjudul ”Garam dan Merica” merupakan kumpulan titik yang disusun sedemikian rupa sebagai motif topeng untuk menghiasi bentuk topeng dengan nilai keindahan tersendiri sebagai ungkapan karya seni yang memiliki makna ganda yaitu bermakna simbolis dan bermakna estetik. Dalam seni topeng Anom, titik disini tidak saja digunakan sebagai ungkapan ekpresi semata, tetapi juga digunakan sebagai pembentuk karakter yang mempunyai kekuatan magis.
             Kehadiran garis dalam seni topeng dapat membarikan banyak arti, seperti misalnya garis sebagai pembentuk karakter topeng, garis sebagai pembentuk bidang, garis sebagai pembatas bidang, dan garis sebagai simbol. Garis dalam seni topeng modern Anom, dimanfaatkan sesuai dengan bentuk yang mengacu pada fungsi, sehingga garis ungkapannya dapat membentuk simbol, membatasi bidang, pembagi bidang dan juga dapat memberikan karakteristik karyanya. Dengan demikian ungkapan garis dalam karya-karyanya, Anom dalam hal ini dapat memberikan banyak arti baik secara kasat mata maupun secara abstrak yang membentuk keindahan sebagai ungkapan pribadinya. Garis-garis ekpresi yang ditampilkan pada topeng Anom merupakan garis-garis yang tegas. Hal ini membuktikan bahwa Anom merupakan seniman topeng yang sudah sangat berpengalaman, dan terlatih, di dalam mengekpresikan isi hatinya tanpa adanya keraguan. Di dalam mengungkapkan garis-garis baik sebagai pembentuk karater atau pun sebagai simbol, di ungkapkan melalui tehnik sigar mangsi atau dengan gradasi warna muda ke warna tua dan sebaliknya. Ungkapan garisnya terkadang juga di berikan warna keemasan (prada) yang mengalir begitu saja tanpa ada sekat pembatas sehingga ungkapan garisnya menjadi ciri khas ungkapan seniman Bali yang lembut tetapi tegas, seperti terungkap pada garis mata, lekukan pipi, guratan dahi dan garis-garis ornamen penghias topengnya. Ungkapan garis tersebut diatas merupakan olahan seni yang di landasi atas karakter topeng yang akan dibuatnya seperti misalnya garis-garis yang diungkapkan melemgkung turun dapat memberikan kesan kesedihan, tua dan ketakutan. Sedangkan garis-garis yang diungkapkan melengkung ke atas memberikan kesan kegembiraan dan tersenyum. Karakter garis seperti ini amat dikuasai oleh Anom sehingga karya-karyanya terkesan sangat realistik dan penuh dengan nilai-nilai keindahan. Ungkapan garisnya diawali dengan tehnik pahatan yang selajutnya dipertegas dengan warna, baik dalam tehnik sigar mangsi maupun dikontur sehingga garis-garisnya menjadi jelas dan tegas. Dengan demikian garis-garis yang diungkapkannya sangat ekpresif dan tegas, bertujuan pula agar terkesan lebih natural.
         Adanya unsur bidang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dalam karya rupa bidang berfungsi: (a) untuk menekankan nilai ekspresi dan nilai gerak (movement), nilai irama (rhythm) dan nilai arah (direction); (b)  untuk memberikan batas dan bentuk serta ruang seperti yang tampak pada bangunan patung dan topeng; (c) untuk memberikan kesan trimatra (tiga dimensi) yang ditimbulkan oleh batasan panjang, lebar dan tinggi. Selain itu, bidang juga memiliki sifat tersendiri seperti (a) Bidang harizontal dan vertikal yang memberikan kesan tenang, statis, stabil dan gerak; (b) Bidang bundar yang memberikan kesan kadang-kadang stabil, kadang-kadang gerak; (c) Bidang segitiga yang memberikan kesan statis maupun dinamais; (d) Bidang bergelombang (cekung dan cembung) yang memberikan kesan irama dan gerak. Bentuk bidang dalam karya rupa terdiri dari bidang negatif bidang positif. Bidang negatif adalah apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh konkritnya adalah lubang mata pada topeng. Sedangkan Bidang Positif, apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis yang banyak, contoh konkritnya adalah keras, bidang yang dibuat dari bambu yang dirajut. Dalam seni topeng modern karya Anom, bidang dimanfaatkan sebagai pembentuk karakter dan identitas topeng. Selain itu, juga bidang dimanfaatkan untuk menekankan nilai ekspresi, nilai gerak, nilai irama, dan nilai arah yang terbentuk melalui ruang negatif. Pemanfaatan ruang negatif seperti tersebut di atas juga dapat memberikan ruang gerak yang estetis sehingga kelincahan pemakainya dapat terungkap sesuai dengan keinginannya. Perwujudan Ruang semacam ini juga mempunyai fungsi untuk memudahkan si pemakai dalam berkomunikasi (bersuara) dan melihat disekitarnya disaat topeng tersebut dipergunakan.
Tekstur yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan bidang dibedakan antara tekstur alamiah (artificial textur) dan tekstur buatan (natural texstur). Tekstur alamiah adalah watak bidang yang tercipta oleh alam, seperti urat kayu atau batu. Tekstur buatan atau tiruan ialah watak bidang yang dibuat (disebut juga tekstur simulasi), untuk membuat watak bidang kayu berkesan tertentu dengan cara tehnik gambar tertentu (Kartika,2004: 226).  Dengan demikian tekstur memiliki fungsi untuk memberikan watak tertentu pada bidang permukaan yang dapat menimbulkan nilai estetik. Misalnya tekstur dari urat-urat kayu ditonjolkan pada permukaan bidang sesuai dengan bentuknya. Pembentukan tekstur bisa terjadi dari tiga proses, yaitu proses kimiawi (chemis). proses mekanik, proses alami, proses cetak (buatan tangan). Dalam seni topeng modern karya Anom, tekstur yang diungkapkan merupakan kualitas yang dapat dilihat dan diraba yang diberikan oleh permukaan topeng melalui ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian-bagian topeng tersebut. Fungsi teksturnya dapat menentukan sampai dimana permukaan topeng dapat memantulkan atau menyerap cahaya yang ada mengingat fungsi dari topeng sebagai penutup muka dalam pementasan drama tari. Namun secara umum tekstur Anom dalam karyanya lebih menekankan pada tekstur halus dan tekstur semu. Tekstur halus sebagai ungkapan untuk pencapaian keindahan yang sempurna sehingga karya-karyanya berkesan seperi dilapisi kaca namun tidak memantulkan cahaya dan berkesan doof. Sedangkan tekstur semu sebagai ungkapan untuk memberikan kesan antiques, serperti terungkap dalam karya-karyanya yang memiliki kesan kasar dan berbintik-bintik akan tetapi bila diraba berkesan sangat halus dan merata.
Masa kini, orang mempercayai warna sebagai ungkapan emosi pribadi. Namun pada zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, karena seni pada zaman Hindu - Budha  diabdikan kepada agama, dan raja. Untuk beberapa abad berikutnya para perupa mempergunakan warna dengan meniru warna alam (naturalistik) atau warna sebagai wakil dari benda yang sebenarnya. Penonjolan warna merupakan ekpresi yang kedua bagi perupa-perupa abad tersebut sehingga kurang memberikan kesan ekpresif. Sejak abad 19 para seniman menganggap warna merupakan alat ekspresi yang digunakan secara serius dan konsekuen.

KEHIDUPAN ADIPATI KARNA


Dalam perjalanan hidupnya, Karna sebenarnya melewati cobaan yang sangat sulit. Kehadiran Karna di dunia pada dasarnya dapat dikatakan percobaan dewi Kunti terhadap mantera Adithyahrehdaya yang dianugerahkan kepadanya. Setelah terbukti berhasil, bayi yang seharusnya menjadi anugerah terbaik dari mantera itu justru dibuang begitu saja. Latar belakang kelahiran Adipati Karna tersebut dapat dianggap sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Di samping itu, statusnya sebagai anak kusir membuat Karna mengalami banyak cobaan dalam hidupnya, berbagai penolakan serta penghinaan kerap datang kepadanya, terutama dari para Pandawa. Sebagai seorang putera dewa, Karna ternyata dapat melewati semua cobaan tersebut dengan tabah, hingga akhirnya derajatnya sebagai seorang ksatria ”dikembalikan” oleh Duryudana. 

Dalam kehidupannya sebagai seorang Adipati di Awangga, Karna dikenal sebagai seorang bangsawan yang angkuh dan sombong. Jika ditelaah lebih dalam, pada dasarnya wajar-wajar saja ia bersikap seperti itu. Keangkuhan dan kesombongannya dapat dikatakan sebagai defense mekanisme dari dirinya. Mengingat pada masa lalunya ia selalu direndahkan dan dihina. Namun di balik keangkuhan dan kesombongannya tersebut, ia pun dikenal sebagai seorang ksatria yang sangat dermawan. Bahkan menurut salah satu versi Mahabharata, kedermawanannya tersebut mendapat pengakuan dari sang dewa Indra.

Di sisi yang lain, Adipati Karna sebagai seorang ksatria banyak melakukan rose si-manuver yang dapat dikatakan licik. Atas dasar itu pula akhirnya banyak orang memandang sosok Karna dengan stigma rose si. Kelicikan Karna antara lain, ketika ia mencoba memadu kasih dengan dewi Surtikanti, putera prabu Salya. Meskipun belum memiliki suami, namun Karna sebenarnya sudah mengetahui bahwa pujaan hatinya tersebut merupakan calon istri Duryudana. Tindakan Karna itu sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebuah pengkhianatan, mengingat ia dengan terang-terangan selalu berkata tentang hutang budinya kepada Duryudana. Hal ini pula yang menjadi indikasi bahwa Adipati Karna tidak dapat ditundukkan oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang berjasa besar terhadap hidupnya. Manuver lain yang dilakukan oleh Karna adalah berpura-pura menjadi resi ketika berguru kepada resi Parasurama demi mendapat kesaktian.

Pada perang Bharatayudha Adipati Karna sempat berselisih dengan Bisma Dewabrata, kakek para Pandawa dan Kurawa. Perselisihan tersebut dipicu oleh penolakan Bisma akan kehadiran Karna dalam pasukannya. Sang resi Bisma tidak ingin Karna yang angkuh dan sombong menjadi salah satu punggawanya. Karena perselisihan itulah, Karna bersumpah tidak akan berperang di padang Kurusetra selama Bisma menjadi panglima perangnya. Meskipun demikian kondisi itu tidak berlangsung lama. Karna akhirnya menemui Bisma yang sedang berada di penghujung ajalnya. Mereka berdua saling meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Di akhir perbincangan mereka, sang resi Bisma meminta agar Karna bertempur di pihak Pandawa, apalagi Karna telah mengetahui bahwa mereka adalah adik-adik kandungnya sendiri. Namun pada saat itu Karna bersikukuh menolak permintaan sang resi dan tetap akan membela Kurawa.

Sebenarnya sebelum perang Bharatayudha terjadi, Karna sempat bertemu dengan dewi Kunti, ibu kandungnya. Pada pertemuan tersebut dewi Kunti memohon maaf atas kejadian masa lalu dan meminta agar Karna kembali bersama para Pandawa pada saat perang Bharatayudha nanti. Saat pertemuan itulah Karna menunjukkan keikhlasannya untuk memaafkan ibu yang pernah membuangnya. Meskipun ia menolak untuk membela para Pandawa, Adipati Karna menunjukkan dharma baktinya kepada dewi Kunti dengan bersumpah tidak akan membunuh adik-adiknya sendiri. Ia menjelaskan bahwa pemihakkannya kepada Kurawa tidak lain daripada pengabdiannya kepada ”kebenaran”, tanpa kehadirannya di pihak Kurawa, ia yakin kejahatan para Kurawa tidak akan pernah hancur. Alasan ini pula yang disampaikannya kepada Kresna ketika mencoba membujuknya untuk berada di pihak Pandawa. Meskipun telah ikhlas menerima dan memaafkan masa lalunya serta menerima posisinya sebagai kakak dari para Pandawa, tetap saja Adipati Karna selalu menunjukkan keangkuhannya ketika bertemu dengan adik-adik kandungnya itu. Walaupun pada akhirnya ia memang tetap memegang teguh janjinya kepada dewi Kunti untuk tidak membunuh para Pandawa di perang Bhatarayudha.

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai rose s yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan rose s, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk rose si-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Di sisi yang lain, Adipati Karna menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya rose sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang akan dimilikinya. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa.

Pengorbanan Karna sebenarnya merupakan pengabdian pada kebenaran, tentunya dalam konteks yang luas. Ia mengabdi pada sebuah ”karmapala” tentang kejahatan yang selalu dihancurkan oleh kebenaran. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa sebenarnya dalam dirinya, Karna sudah mengetahui peranannya dalam dunia dan roda dharma. Ia sadar bahwa ia dilahirkan untuk membantu keseimbangan dalam dunia. Keinsyafan itulah yang sempat ia ucapkan dua kali, yaitu kepada Kresna sebagai titisan Wisnu dan Ibundanya, dewi Kunti.

Pemaparan tadi tentunya sedikit banyak dapat menjadi titik terang dalam menjawab keraguan akan penasbihan Adipati Karna sebagai ksatria agung. Pada akhirnya, penasbihannya tersebut harus dilihat dalam konteks yang luas. Dalam hal ini kita tidak dapat menilai Adipati Karna secara pragmatis. Jika ditelaah lebih jauh dapat kita lihat bahwa sang Basusena justru melepaskan dirinya dari nilai-nilai praktis. Dalam hidupnya ia merupakan sosok yang dermawan, ikhlas serta berani berkorban. Tindakan-tindakan seperti itu tentu saja memunculkan berbagai penilaian positif terhadap dirinya, namun di sisi lain, ia pun menunjukkan kelicikkan, keangkuhan serta kesombongan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya ia selalu melakukan hal-hal yang paradoksal — bertentangan. Bukankan hal tersebut justru menandakan bahwa Karna adalah sosok yang munafik? Meskipun demikian, harus dilihat pula bahwa keangkuhan serta kesombongan yang selalu ia tunjukkan, justru ditunjukkannya kepada para kaum bangsawan dan ksatria. Sementara hal-hal baik justru ia tunjukkan kepada rakyat jelata yang memang seharusnya menjadi ayoman para bangsawan dan ksatria. Dari perilakunya tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya Adipati Karna melakukan berbagai hal-hal baik hanya demi kebenaran yang ia percaya, bukan demi penilaian-penilaian baik dari manusia terhadap dirinya.

Dari keistimewaan sang Basusena itu, tentunya kita paham jika pada akhirnya, sosok Adipati Karna yang erat dengan keikhlasan dan pengorbanan tersebut memiliki posisi istimewa di kalangan masyarakat Jawa, bahkan Sunda. Keistimewaan sosok Karna dapat kita lihat pula dalam dunia pewayangan, untuk pertunjukkan dramatari wayang wong Priangan, tokoh Adipati Karna memakai aksesoris mahkota Ketu Topong. Makhota itu pula yang dipakai oleh tokoh Bhatara Guru, selain kedua tokoh tersebut, tidak ada lagi yang memakainya. Tentu saja ada alasan tertentu mengapa Karna mendapat keistimewaan untuk memakai mahkota seperti Bhatara Guru. Padahal jika dilihat dari status kebangsawanannya, Karna hanyalah raja bawahan di Awangga.

Salah satu contoh keistimewaan sosok Karna di kalangan masyarakat Jawa dapat kita lihat pada akhir tahun 2010 kemarin, ketika gunung Merapi mengamuk, mata orang banyak tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Setelah akhirnya Si Mbah meninggal dunia karena wedus gembel Merapi, banyak orang yang kemudian mengasosiasikan Si Mbah dengan sosok Adipati Karna. Dari perspektif kelompok masyarakat tertentu, kedua tokoh tersebut dihormati karena keberanian serta keikhlasan mereka untuk berkorban demi sebuah kebenaran yang mereka percaya. Tak banyak orang yang berani memilih cara hidup seperti kedua tokoh tersebut. Di dalam dunia yang semakin pragmatis ini, sosok Mbah Maridjan tampil mencolok, sepanjang hidup hingga ajal menjemputnya, ia setia dengan prinsip kebenaran yang ia percayai tanpa mempedulikan nilai-nilai pragmatis yang timbul di kalangan masyakarat. Dari sisi tertentu, sosok Si Mbah akhirnya mengajak sebagian masyarakat Jawa untuk bernostalgia kepada sosok Adipati Karna. Atas dasar itulah akhirnya Mbah Maridjan diasosiasikan dengan sosok Adipati Karna yang agung. Tentu saja sekali lagi, harus dilihat dalam konteks yang luas, bukan pragmatisnya saja.

Pada akhirnya penilaian terhadap sosok Adipati Karna akan bergantung pada perspektif mana yang akan dipilih, luas? Atau pragmatis? Yang pasti agar semakin terang dan jelas, dibutuhkan pemahaman dan penelaahan lebih mendalam terhadap sosok Adipati Karna serta tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata. rose situ tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kekayaan khazanah budaya Nusantara, mengingat banyak sekali kandungan filosofis serta nilai-nilai luhur dari mahakarya sastra tersebut yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.









Tahap pertama, penari Sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain biasa (pakaian sehari-hari). Tahap kedua, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana Sintren dikeluarkan. Tahap ketiga, kurungan dibuka, penari Sintren sudah berpakain biasa dalam keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan penari Sintren dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra sampai Sintren sadar kembali, pertunjukan Sintren selesai. Dahulu pertunjukan Sintren sering dilakukan oleh para juragan padi sesaat setelah panen, sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertaniannya atau pada musim kemarau untuk meminta hujan, maka dalam pertunjukannya akan dilantunkan lagu yang syairnya memohon agar diturunkan hujan. Namun kini pertunjukan Sintren sangat jarang. Penulis teringat saat kecil pada periode waktu tahun 1975-1990-an masih sering menjumpai di desa dan desa tetangga banyak dijumpai warga yang menanggap pertunjukan Sintren, kini sangat sulit menjumpainya. Pertunjukan Sintren kini dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain oleh pelaku seni Sintren. Bahkan berdasar pengetahuan penulis, saat ini hanya ada satu desa yang masih mempunyai grup kesenian Sintren yang tetap eksis yaitu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa dan Kabupaten Pemalang yaitu Paguyuban Sintren Lintang Kemukus dan Paguyuban Sintren Slamet Rahayu yang diketuai oleh Radin Anom dengan jumlah pengurus 15 orang, selain itu kesenian sintren dapat juga dijumpai di Desa Banjarmulya Kecamatan Pemalang. Sintren dalam tarikan antara tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan menggunakan teori modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasar asumsi bahwa setiap unsur budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahan yang disebaban oleh arus modernisasi. Di mana salah satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyaraat menuju modern adalah teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme. Teori modernisasi ini dipelopori oleh Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkhiem.8 Sintren sebagai suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas arus modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses akulturasi budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke, mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan yang mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian tradisional. Modernitas dalam bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian tradisional. Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami dan menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant. Di sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan keberadaan kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag adalah perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut. Dalam kasus ini, benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian tradisional. Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur perubahan (mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur yang satu tertinggal oleh unsur lainnya. Dari fakta tersebut menjadikan kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman. Salah satu bentuk kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah kesenian tradisional Sintren. Para pekerja seni Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus berjuang melawan modernitas, sebagai kaum minoritas yang menyampaikan nilai-nilai egalitarian dalam pementasannya, mereka telah ikut andil dengan caranya dalam pelaksanaan mengisi pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial demi kelangsungan hidup para seniman Sintren tersebut. Dalam pertunjukan Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat saja. Dari luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya setempat langgeng sampai anak cucu. Dalam perspektif lain sebenarnya kehadiran Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku seni sintren maupun masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian tersebut, untuk pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan globalisasi yang secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik kesederhanaan, keikhlasan, kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata sedikit banyak mampu mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis penduduk suatu desa. Di mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala mikro melalui usaha dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak, pecel, serundeng lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu mengikuti pertunjukan keliling sintren darisatu desa ke desa lain.
Keberdayaan kesenian tari Sintren Opini masyarakat Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang mewakili berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat. Pertama, kelompok masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar keagamaan (penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi kesenian Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para seniman dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak ambil pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti. Faktor yang membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan, pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Selain itu juga tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesama anggota dan para pemerhati seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai juga ikut memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya dikelola secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun festival namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dalam pandangan masyarakat pelaku seni tradisional. menghidupkan kesenian Sintren seakan tidak lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai kearifan yang tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa. Jadi, mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa menari. Kini Sintren di Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan modernitas hampir menjadi sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak yang berusaha melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group Sintren yang tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet Rahayu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.

Adipati Karna

Konsistensi Panglima Perang Hastina

Oleh  Deni Hidayat


Wonten malih, kinarya palupi, Basukarna  narpati   Ngawangga,
lan Pandhawa tur kadange, len yayah tunggil ibu, suwita  mring
Sri Kurupati, aneng nagri Ngastina kinarya gul-agul,   manggala
Golonganing prang, Bharatayuda ingadeken senopati, ngalaga ing Kurawa


Tembang Dhandhanggula di atas mengingatkan kita pada karya Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama yang sampai saat ini masih tetap melegenda dalam konsepsi  budaya Jawa. Serat Tripama merupakan tulisan yang menampilkan tiga tokoh wayang  yang patut dan dianjurkan untuk dijadikan teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri  dalam bidang keparajuritan dan   kewiraan. Tokoh wayang tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Basukarna dari Hastina.
Adapun tembang Dhandhanggula di atas bila diterjemahkan bebas kurang lebih sebagai berikut : “Ada lagi teladan yang pantas dicontoh. Basukarna seorang raja dari Ngawangga, dengan Pandawa yang masih bersaudara, lain ayah tetapi sekandung (sama ibu), yang dengan setia mengabdi  kepada Prabu Kurupati dari negeri Hastina sebagai benteng, panglima perang, dalam perang Bharatayuda menjadi Panglima Perang untuk membela Kurawa”.
            Menelusuri tokoh wayang yang satu ini memang sangat menarik. Basukarna atau nama kecilnya Karna dilahirkan ke mayapada, akibat kesalahan Dewi Kunti. Putri Mandura itu bermain-main dengan mantra Druwasa. Ia ingin bertatap muka dengan Batara Surya yang cakap dan tampan. Dari perbuatannya yang kurang hati-hati itu, akhirnya beberapa bulan ia mengandung. Alangkah aib peristiwa itu. Beruntung, Resi Druwasa berkenan untuk menolong. Sang bayi dilahirkan lewat telinga. Itulah sebabnya, dia dinamakan Karna yang berarti telinga. Lengkapnya Basukarna, karena sesungguhnya, ia putra seorang basu. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai putra Resi Druwasa, karena dialah penyebabnya. Disebut pula dengan nama Suryaputra, karena putra Dewa Surya, sang penguasa matahari.
Demi menjaga nama keluarga dan kehormatan negeri Mandura, Karna harus dibuang. Sebelum dibuang dengan air mata bercucuran layaknya seorang ibu Dewi Kunti mendekap bayi itu erat-erat sembari menciuminya dengan penuh kasih sayang. Diam-diam ia menyematkan kalung berliontin  separuh pada lehernya. Yang separuhnya disimpannya. Siapa tahu, Karna dapat diketemukan kembali di kemudian hari. Sedangkan liontin yang terbagi dua dengan diukir setengah namanya pula, akan menjadi tanda bukti yang tak terbantahkan lagi. Dengan hati-hati, anak itu dimasukkan ke dalam kotak. Sepintas ketika mengamati untuk terakhir kalinya, Kunti melihat anak itu ternyata beranting-anting dan dadanya mengenakan perisai yang bersembunyi dibalik kulit dagingnya.




                                           Adipati Karna naik Kereta Jathisura dalam perang
                                                Bharatayuda    (Foto:Koleksi Pribadi)

            Kotak itu membawa Karna  terapung-apung di atas sungai Gangga.Adirata yang sedang mencari ikan menemukannya dan dengan girang anak itu dipelihara layaknya anak sendiri, karena sudah sekian lama berkeluarga ia belum dikaruniai momongan. Adirata adalah seorang sais istana Hastina. Dengan penuh kasih sayang, ia membesarkan Basukarna. Dan Basukarna tumbuh menjadi seorang pemuda yang cekatan dan berotak cerdas. Ia tidak hanya pandai menyerap semua ajaran ayah angkatnya sebagai sais kereta, tetapi ia juga mengenal ilmu bintang. Dengan mudah ia menguasai  dan menaklukkan kuda betapa binalpun. Bahkan harimau yang masih ganas tunduk pada perintah-perintahnya.



         
                                                  Adipati Karna menerima Panah Kuntawijayandanu
                                                               (Foto: Koleksi Pribadi)
             Pada suatu hari ia ikut Adirata ke istana. Ia tertarik kepada para Kurawa dan Pandawa yang sedang belajar ilmu perang. Dengan penuh perhatian ia mengamati mereka. Tampak di hadapannya, ia melihat kesalahan dan kecanggungan Kurawa  melakukan petunjuk Resi Druna dan ajaran Resi Krepa. Sebaliknya, ia kagum menyaksikan ketangkasan dan kecerdasan Pandawa berolah berbagai senjata. Timbullah suatu kegelisahan di dalam hatinya.
 “ Dapatkah aku ikut berlatih bersama mereka ayah ?” tanya Karna.
 “ Oh tidak, anakku,” jawab Adirata.
 “ Mengapa ayah ?” kejar anak angkatnya itu
Dengan terbata-bata sang ayah menjawab,”Karena engkau hanya anak seorang sais kereta kerajaan.”
Pedih dan pahit benar bunyi jawaban itu. Tetapi ayah angkatnya menjawab dengan jujur. Menghadapi kenyataan itu, terjadilah suatu pemberontakan dalam  hatinya. Kenapa ia dilahirkan sebagai anak seorang kusir ?
Jiwa yang berontak itu melebihi perasaan rendah diri. Ia tak mau kalah, karena merasa lebih mampu daripada ketangkasan Pandawa. Mulailah ia mencari akal. Diam-diam ia selalu  hadir untuk mengintip semua ajaran Resi Druna dan Resi Krepa ketika memberi pelajaran kepada keturunan darah Bharata itu. Sesampainya di rumah, ia berlatih dengan tekun. Tujuannya, ia ingin mempunyai kepandaian sejajar dengan mereka. Dengan didukung kemauan kuat, kekerasan hati dan ketekunannya, jadilah ia berhasil mengatasi perasaan rendah diri. Semua pelajaran Resi Druna dan Krepa dapat dikuasai dalam waktu relatif singkat. Kemudia ia menjelma menjadi seorang pemuda yang berhak mengangkat diri di tengah pergaulan masyarakatnya.  Hal itu terjadi tak lama kemudian.
Pada suatu hari, penduduk berbondong-bondong memenuhi arena laga putra-putra Raja Hastina. Kurawa dan Pandawa hendak mempertontonkan ketangkasannya berolah senjata yang diajarkan Resi Druna dan Krepa. Ketika pertandingan dimulai, segala macam keahlian dipertunjukkan. Kurawa merasa gelisah, resah, cemburu, iri, mendongkol, dan dendam karena menyaksikan  betapa Pandawa jauh lebih tangkas dan  mahir daripada kelompok mereka. Apalagi Arjuna. Ksatria berwajah tampan ini, kelihatan paling menonjol. Segala macam senjata dikuasainya dengan sempurna. Bidikan anak panahnya tak pernah meleset dari sasaran. Bahkan mampu menembus sasaran berlapis tujuh sekali bidik. Semua penonton berdiri mengelu-elukan dan menyanjungnya tiada henti.
Dalam kegemparan yang diliputi tarik ulur tersebut, tiba-tiba semua hadirin dikejutkan oleh suara lantang yang bergema laksana halilintar menyambar. Ternyata ada seorang penonton yang masih muda belia telah meloncat masuk gelanggang. Itulah Basukarna yang sudah tak kuasa menahan diri melihat kesuksesan Arjuna dan  menyaksikan Kurawa junjungannya selalu mendapat kekalahan,  hatinya berontak.
Tanpa pikir panjang, ia kemudian memperlihatkan semua apa yang dilakukan oleh Arjuna dengan sangat sempurna. Penonton pun dibuat kagum dibuatnya termasuk para ketua Hastina. Sedangkan Kunti yang berada di atas panggung sudah berdebar-debar hatinya. Kemiripan wajah Basukarna dengan Arjuna tak lepas dari perhatiannya. Dan setelah melihat dengan jelas pemuda itu memakai anting-anting bergambar matahari bercahaya, persis dengan kalung yang ia pakai sendiri. Kunti tak ragu-ragu lagi, itulah Suryaputra putra pertamanya. Bahkan ketika Arjuna dan Karna siap berlaga dilindungi simbol-simbol kekuatan Batara Surya dan Batara Indra yakni matahari dan guntur saling berkejaran, seketika itu mata Dewi Kunti menjadi berkunang-kunang.
Dalam keadaan kalut Resi Krepa melerai mereka, dan menegur Karna yang tak pantas masuk ke gelanggang karena bukan dari golongan ksatria. Seketika itu dada Basukarna seperti terbelah, karena menahan kepedihan yang tak terkira. Beruntung Duryudana tanggap, saat itu juga derajat Basukarna diangkat menjadi Adipati di Awangga. Kedudukannya sejajar dengan golongan ksatria. Kata-kata Duryudana inilah yang menyebabkan Basukarna setia kepadanya. Sebab kata-kata itu sendiri berarti memberinya hak hidup.  Sekaligus ia terangkat dari lembah hina sebagai seorang yang mulia. Kemuliaan sekaligus kehormatan itu pantas ditebus dengan taruhan jiwa dan raga.



Seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari lima abad. Membawa kisah Ramayana dan Mahabharata, pagelaran selama semalam suntuk ini menjadi ruang yang tepat untuk melewatkan malam, berefleksi dan memahami filosofi tentang kehidupan.

Beberapa jam sebelum sebelum pagi, sebelum gelombang pertempuran meledak lagi di Kurusetra, Karna tepekur sendirian di dalam kemahnya. Istrinya tidur pulas di peraduan. Karna tahu, hidupnya tak lama lagi. Karena itu, ia menulis sepucuk surat kepada Surtikanti istrinya.

“Peramal menujum aku akan tewas dalam perang ini. Tapi jangan dengarkan mereka, Surtikanti. Dengarkanlah aku. Nasib mungkin memihak musuh. Tapi aku akan menghadapi mereka – juga bila harus melalui mati.

“Mati, saat ini, rasanya bukan lagi soalku, Istriku. Mungkin karena alasan perangku lebih besar ketimbang hidup. Atau setidaknya alasan itu adalah alasan kehidupan sendiri: aku berperang untuk mengukuhkan siapa aku. Di pagi nanti, Karna tewas atau Karna menang, keduanya akan menentukan siapa dia. Sebab, siapa sebenarnya aku, Surtikanti, selama ini, selain seorang yang tak jelas kastanya, tak jelas asal-usul, tak jelas kaumnya?

“Jangan kau sedih. Aku memang mengulang kegetiranku. Di dunia kita yang telah dinubuat ini, Istriku, seseorang hanya mendapatkan dirinya tak jauh dari pintunya berangkat. Betapa menyesakkan! Sebab itu, Istriku, aku harus membuktikan bahwa seseorang ada, seseorang menjadi, karena tindakannya, karena pilihannya – bukan karena ia telah selesai dirumuskan.

Seorang resi pernah berkata: pada mulanya adalah Sabda, dan Sabda menjadi Kodrat. Bagiku, pada mulanya adalah perbuatan. Dari perbuatan lahir pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu aku bisa merumuskan diriku. Bagiku, Surtikanti, Kodrat adalah sesuatu yang tidak ada; dewa-dewa tak pernah menyabdakannya. Telah kuduga itu ketika namaku masih Si Radheya. Dulu.

“Kini bisa kuceritakan kepadamu apa yang terjadi pada Si Radheya, ketika ia berumur 16 tahun: hari itu ia tahu bahwa ibunya bukanlah ibunya yang sebenarnya, dan bapaknya — seorang sais — bukanlah bapaknya yang sebenarnya. Ia anak pungut, Surtikanti.

Ada yang menduga, seorang putri bangsawan tinggi melahirkan bayi yang tak dikehendaki dan membuangnya ke air. Dan itulah aku. Aku menangis ketika semua itu dituturkan padaku oleh wanita yang selama ini kusebut ibuku. Ternyata, aku bukan lagi bagian seasal dari dirinya, betapapun ikhlasnya kasih sayang.

Dan mulai saat itu, aku kembali terbuang, seorang bocah yang hanyut, di sepanjang tepian.

“Lalu kucari ilmu, istriku. Kau tahu, mengapa? Ilmu akan mengukuhkan aku bukan cuma anak suta yang hina. Meskipun kukatakan kepada Radha, ibuku, bahwa ilmu tak mengenal kasta, tak memandang harta — dan karena itu di sanalah aku akan bebas — sesungguhnya aku berjusta, juga pada diriku sendiri: diam-diam aku ingin ingkar kepada kelas orang-orang yang mengasihiku. Sebab, ternyata di dunia kita yang menyesakkan ini, Surtikanti, ilmu pun telah jadi lambang tentang mana yang rendah, mana yang tinggi.

“Aku datang berguru kepada Durna, tapi Durna menolakku karena aku bukan ningrat, bukan kesatria. Aku datang kepada Bhargawa, mengaku anak brahmana dan jadi muridnya – tapi kemudian ia mengutukku ketika ia menuduhku anak kesatria, kelas yang dibencinya itu, yang berbohong.

“Memang, setelah kukuasai semua astra dan semua senjata, aku tahu ilmu bisa melepaskan kita dari perbedaan susunan rendah dan tinggi. Tapi akhirnya hanya tindakan besar yang membebaskanku tindakan Pangeran Duryudana. Dialah yang mengangkatku jadi penguasa di Angga, istriku, dan dari sanalah aku seakan lahir kembali: kini benar aku bukan anak kasta yang dihinakan. Dan aku meminangmu.

“Ya, aku tahu mengapa Duryudana mengangkatku, ketika para Pandawa menghinaku, di pertandingan memanah di arena Hastina belasan tahun yang lalu itu; mereka menolak melawanku karena bagi mereka, anak sais tak berhak bertanding dengan anak raja.

Duryudana ingin memperlihatkan, di depan rakyat yang menonton, betapa tak adilnya para Pandawa. Dan Putra Mahkota Kurawa itu mungkin juga memperhitungkan aku bisa digunakannya buat menghadap musuhnya yang lima itu.

“Tapi apa pun niat hatinya, tindakannya adil dan kata-katanya benar: ‘Keberanian bisa datang dari siapa saja, karena seorang kesatria ada bukan hanya karena ayahbundanya, tapi toh bisa keluar dari batu gunung yang tak dikenal.

“Rasanya, akulah salah satu batu gunung itu, Surtikanti, yang menerbitkan perciknya sendiri. Inilah kemerdekaanku. Arjuna memilih pihaknya karena darah yang mengalir di tubuhnya, aku memilih pihakku karena kehendakku sendiri. Arjuna berperang untuk sebidang kerajaan yang dulu haknya, aku berperang bukan untuk memperoleh. Maka, jika aku esok mau, istriku, kenanglah kebahagiaan itu. Satu-satunya kesedihanku ialah bahwa aku tak akan lagi bisa memandangmu, ketika kau memandangku.”

Sampai di situ Karna berhenti; tangannya tergetar. Tapi segera ia mengusap busur panah di sisi duduknya. Kurusetra senyap. Malam mengerang kesakitan. Keesokan harinya, Karna memang gugur di tangan Arjuna, saudara seibunya.




Adhipati Karna utawa Basukarna iku ratu ing Ngawangga (Awangga), negara cilik kebawah negara Astina. Garwané asma Dèwi Surtikanti, putrané Prabu Salya ratu ing Mandaraka. Dèwi Surtikanthi iku mbakyuné Dèwi Banowati (garwané Prabu Duryudana), mula ing padhalangan Prabu Duryudana yèn ngaturi Prabu Karna, “Kaka Prabu Karna” utawa “Kaka Adipati Karna”.

Karna pancen putrané Bathara Surya lan Dèwi Kunthi, mula Karna iku klebu drajating Wasu, yakuwi manungsa setengah déwa. Mula ora mokal yèn Karna kasinungan kadigdayan kang linuwih. Prigel ulah warastra (jemparing) prasasat timbang karo keprigelané Arjuna. Kejaba panah Kuntawijayadanu (Kunta Druwasa), pusakané Karna wujud keris aran Kiai Kaladete (yèn ing padhalangan gagrak Sala sinebut Kiai Jalak). Aji-ajiné Karna yakuwi aji Kalalupa (bisa ngetokaké buta akèh banget), lan Naracabala (bisa ngetokaké gegaman manéka warna).

Tembung Karna kuwi dhéwé sejatiné nduwéni teges kuping, amarga lairé seka kuping. Critané mangkéné: nalika Dèwi Kunthi isih kenya naté meguru marang resi Druwasa kang sekti. Karo sang resi Druwasa, Dèwi Kunthi diparingi mantram panggendhaming déwa aran Adityahredaya iya Punta Wekasing Rasa Tunggal Sabda Tanpa Lawanan, kang dayané yèn diwateg bakal nekakaké déwa sing lagi sela. Welingé sang resi, Dèwi Kunthi ora éntuk ngrapal mantra kuwi sembarangan, yèn perlu temenan waé. Amarga péngén ngerti kasiaté mantra kuwi sawijining dina Dèwi Kunthi ngrapal mantra saka sang resi. Kabeneran Déwa sing lagi sela yaiku Bhatara Surya kang nguwasani srengéngé. Kocap kacarita Bhatara Surya seneng karo Kunthi. Nalika ngerti yèn Dèwi Kunthi anggarbini banjur Bhatara Surya mbudidaya supaya jabang bayi bisa lahir tanpa liwat guwa garba. Kanthi kasektenané Bhatara Surya, si jabang bayi bisa dilairké saka kuping utawa karna. Mula banjur diparingi asma Karna. (Basukarna). Bayi Karna nuli diwadhahi kendhaga, banjur dikelekaké ing bengawan Gangga. Ing tembé bayi Karna ditemu déning kusir Adhirata.

Nanging miturut crita padhalangan jabang bayi Karna dadi puta angkaté Prabu Radeya ratu ing Pethapralaya. Sawisé diwasa Karna bisa jumeneng ratu ing Awangga, amarga bisa ngalahaké Prabu Karnamandra (Kala Karna), ratu ing negara iki. Patihé Karna asmané Patih Adimanggala (Surahadimanggala).

Ing perang Bharatayudha, Karna mbélani Kurawa. Satria iki ngerti yèn sejatiné Kurawa kang salah. Nanging dhèwèké ngugemi jejer ing satriya kudu mbela sapa wong sing mbiyèn mbela dhèwèké. Ing perang kuwi, Karna bisa maténi Gathotkaca nganggo pusaka Kuntowijoyondanu. Dhèwèké uga méh maténi Arjuna. Nanging panahé luput amarga Prabu Salya nyendhal jarané. Salya nalika iku dadi kusiré Karna, kang sejatiné mantuné dhéwé. Déné Arjuna dikusiri déning Kresna. Lakon iki kondhang kanthi irah-irahan Karna Tandhing amarga Arjuna uga macak kaya Karna. Ing kéné, Karna mati kena panahé Arjuna, kyai Pasopati.

Adhipati Karna iku salah sijining tokoh wayang sing kalebu antagonis ning bisa diarani simpatik. Dhèwèké bisa kaanggep anti hero. Kaya déné Kumbakarna, Adhipati Karna asring dadi panutan ing perkara nasionalisme

Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates