Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Indonesia merupaka negaran dengan beraneka ragam macam budaya. Kebudayaan daerah tercermun dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat diseluruh daerah diindonesia. Setiap daerah memiliki ciri khas budaya yang berbeda, salah satu ciri khas kebudayaan setiap daerah diwujudkan dengan tarian khas kebudayaan masing-masing setiap daerah. Dengan music dan gerak menciptakan sebuah tarian yang menceritakan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia. 

Pada masa lalu tarian juga merupakan tercipta dari beberapa tema pada masanya yaitu: 

A. Tari bercorak hindu 

B. Tari bercorak islam 

C. Tari kraton/krajaan. 

Seni tari merupakan suatu gerakan yang berirama, dilakukan di suatu tempat dan waktu tertentu untuk mmengekspresikan suatu perasaan dan menyampaikan pesan dari seseorang maupun kelompok. 

Unsur unsur seni tari 



1. Unsur utamanya 

-wiraga(raga): sebuah tarian harus menampakan gerakan badan, baik dengan posisi baik dengan oisusu duduk ataupun berdiri. 

- wirama(irama): sebuah seni tari harus memiliki unsur irama yangmenyatukan gerakan badan dengan music pengiring, baik dari segi tempo maupun itamanya. 

- wirasa (rasa): sebuah seni tari harus mampu untuk menyampaikan sebuah perasaan yang ada di dalam jiwanya, melalui sebuah tarian dan gerakan juga ekspresi si penari tersebut. 

2. Unsur pendukung Tari 

Ragam gerak, sebuah tarian akan terkesan indah jika semua anggota badan berkolaborasi. Bukan hanya kaki dan tangan saja, kombinasi dari raut muka dan lirikan mata juga akan menambah daya tarik tersendiri. Sehingga tarian tersebut juga akan terlihat lebih estetis. 

Ragam iringan,suatu tarian bisa juga dinikmati apabila diiringi dengan musik yang ritmis,namun, tarian akan jauh lebih indah dan dapat dinikmati apabila diiringi dengan keluarnya suara dari tubuh penarinya sendiri. Baik berupa tepukan,hertakan, maupun terikan. 

Rias dan kostum, sebuah tarian tidak akan lengkap apabila tidak memenuhi senua unsur.begitupun dengan unsur rias dan kostum. 

Pola lantai/blocking, taian akan terlihat berseni apabila pola lantai terlihat sangat indah. Penari tidak hanya berdiri disatu titik saja. Penari juga harus menyesuaikan dengan tempat dan penontonnya. 



3. Fungsi Tari Secara Umum 



















Berikut ini beberapa fungsi tari secara umum, diantaranya: 

a. Untuk upacara adat 

Fungsi tarian salah satunya sebagai sarana untuk upacara adat atau keagamaan, dan selalu memiliki kriteria khusus pada pemenasannya misalnya seperti: dilaksanakan pada waktu tertentu, ditarikan oleh penari yang terpilih, di laksanakan pada tempat tertentu, dan umumnya menggunakan sesajian. Contohnya seperti tarian Gantar yang berasal dari Kalimantan. 

b. Sebagai sarana hiburan 

Tarian sebagai sarana hiburan Umumnya tarian dipentaskan sebagai sarana untuk menghibur penonton, sehingga penonton merasa terhibur atau gemberia karena menyaksikan tarian dengan gerakan tubuh yang indah. 

c. Sebagai media pertunjukan 

Tarian sebagai sarana untuk media pertunjukan. Misalnya seperti tarian Sendratari Ramayana, tarian ini sebagai media pertunjukan di candi parambanan . 

d. Sebagai media pendidikan 

Tarian sebagai media untuk pendidikan, biasanya dalam tarian terdapat kandungan moral-moral dalam kehidupan bermasyarakat. 

c. Sebagai sarana permbersihan jiwa 

Tarian sebagai sarana untuk pembersihan jiwa, maksudnya tarian dimainkan oleh para seniman yang bertujuan untuk memperdalam penghayatan terhadap kesenian tari. 

4. Jenis Tari dan Beberapa Contoh Seni Tari 

Setelah memahami tentang pengertian seni tari di atas, maka mari pahami juga tentang jenis seni tari yang dibagi menjadi beberapa kelompok, diantaranya: 

1. Jenis tari berdasarkan koreografinya 

a. Tari tunggal 

Tari tunggal (solo) merupakan tarian yang dipentaskan hanya oleh seorang penari saja, baik itu penari laki-laki ataupun perempuan. Contohnya seperti tari Gandrung dari Jawa Timur, tari Srimpi dari Mataram, tari gambyong dari Jawa Tengah, dll. 

b. Tari berpasangan 

Merupakan tarian yang dipentaskan oleh dua orang secara berpasangan, Contohnya seperti tari topeng dari Jawa Barat, Tari Bedhaya dari Jogjakarta, Tari Golek Menak dari Jogjakarta, dll. 

c. Tari kelompok 

Merupakan tarian yang dipentaskan lebih dari dua orang. Contohnya seperti tari kecak dari Bali, tari Saman dari Aceh, Tari Kipas Pakarena dari Sulawesi Selatan, dll. 

d. Tari Kolosal 

Merupakan tarian yang dipentaskan oleh banyak penari atau secara masal terdiri dari banyak kelompok, tarian jenis ini biasanya dipentaskan oleh setiap suku bangsa di seluruh daerah yang terdapat di nusantara. 

5. Jenis tari Menurut Fungsi dan Tujuannya 

a. Tari Upacara 

1. Upacara adat atau keagamaan 
untuk pentingan upacara keagamaan, beberapa contohnya seperti tarian yang berasal dari daerah Bali yaitu tari Sang Hyang, Gabor, Wayang Uwong, Gambuh, dll. Lalu dari daerah Jawa Barat tari Ngalase, dari Jawa Timur tari Senyang, Dari Sumatra tari Tortor, dari Papua Tri Tewadan, dll. 

2. Upacara Kebesaran Keistanaan/Kraton 
Merupakan tarian yang digunakan untuk kepentingan upacara kebesaran keistanaan, contohnya seperti Tari Legong Kraton dari daerah Bali, Tari Bedoyo Semang dari Yogyakarta, Bedoyo Kesawang dari Surakarta, Srimpi dari Jawa Timur, dll. 

3. Upacara Penting dalam kehidupan manusia 
Merupakan tarian yang dianggap penting dalam kehidupan manusia. Misalnya seperti tarian upacara panen yang dirayakan dengan Tari Pakerana dari daerah Sulawesi Tenggara, atau ada juga tarian Mamimbo yang berasal dari daerah Toraja. Contoh seni tari lainnya seperti tarian pada upacara kematian yaitu tari Ma’bodang dari daerah Sulawesi, dan Tari kerja dari darah Sulawesi timur. 

b. Tari Pergaulan 

Tari pergaulan adalah jenis tarian yang dipentaskan untuk menyampaikan suatu maksud atau pernyataan mengenai kerukunan antar sesama serta keakraban antara mereka yang ikut menari pata tarian tersebut. Pada jenis tarian ini kita dapat menyaksikan peonton yang ikut menari, penonton biasanya akan ikut terlibat secara langsung pada tarian jenis ini. Contohnya seperti tari tayuban, Tari jaipong, tari bangreng, tari rantak kudo, tari seblang, tari lendo ndao, dll. 

6. Jenis Tari menurut pola garapannya 

a. Tari tradisional 

Merupakan jenis tarian yang memiliki sejarah yang sangat lama, umumnya selalu memiliki ciri khas pola kepada kaidah-kaidah suatu tradisi yang sudah ada sejak jaman dahulu. Berdasarkan nilai artistik garapanya tari tradisional dibedakan menjadi dua macam, diantaranya: 

1. Tari Rakyat 

Disebut juga Tari Tradisi Rakyat, yaitu tarian yang berasal dari kehidupan dan berkembang dikalangan masyarakat atau sekelompok masyarakat. Contohnya seperti Tari Pinring dari Sumatera Barat, Trai pendet dari bali, Tari saman dari aceh, Tari tor tor dari sumatera Utara, Tari Serimpi dari Jawa Tengah, dll. 

2. Tari Klasik 

Disebut juga tari tradisi klasik, yaitu tarian yang mememiliki nilai artistik tinggi dan memiliki standar atau norma-norma yang kuat sehingga terdapat pembaguan meganai gerakannya dan mengandung konsep suatu simbolis maupun filosofis. Salah satu contohnya tari srimpi. Contohnya seperti Tari Topeng Klana dari daerah Cirebon, Tari Bedhoyo Ketawang dari Keraton Kasunanan Surakarta, Tari Gambir Anom dari surakarta, Tari Patolan dari Rembang Jawa Tengah. 

d. Tari Kreasi 

Jenis tarian yang muncul karena ada suatu keinginan untuk mengolah, menciptakan, dan mengubah suatu gerakan yang menjadi dasar tarian. Tari kreasi dapat menjadi media yang memberikan kebebasan bagi seniman-seniman tari, untuk mencari berbagai kemungkinan baru pada seni tari. 

7. Kesimpulan 

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian seni tari adalah sebuah kesenian yang menggunakan gerak tubuh yang dilakukan secara berirama, dilaksanakan pada tempat dan waktu tertentu dengan tujuan sebagai ungkapan perasaan, maksud, maupun pikiran. 

Fungsi tari secara umum yaitu untu 1). sebagai sarana untuk upacara adat atau keagamaan, 2). Sebagai sarana untuk hiburan, 3). Sebagai media pendidikan, 4). Sebagai media pertunjukan. 

Jenis seni tari berdasarkan keografinya yaitu Tari Upacara, Tari Pergaulan. Sedangkan berdasarkan pola garapannya: Tari tradisional, Tari Rakyat, Tari Klasik, dan Tari Kreasi. 






























Tari Gattkaca Raden Ono Lesmana Kartadikusumah menciptakan dua bentuk penyajian Gatotkaca, yaitu tari Gatotkaca bentuk tarian tunggal dan tari Gatotkaca Gandrung yang bentuk tariannya kelompok. Tari Gatotkaca diciptakan oleh Raden Ono Lesmana Kartadikusumah pada tahun 1942 yang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta. Tari Gatot Kaca Gandrung ini diciptakan karena terilhami oleh tari Gatotkaca Gandrung gaya Solo yang ditarikan oleh Risman. Dimana dua putri yang digandrunginya divisualisasikan secara nyata. Akhirnya Raden Ono Lesmana terdorong hatinya untuk membuat tari Gatot Kaca Gandrung menurut versinya sendiri sekitar tahun 1957. Bentuk tarian yang diciptakan Raden Ono Lesmana Kartadikusumah ini berupa petilan dari cerita pewayangan ketika Gatot Kaca dari Pringgandani setelah menemui ibunya dan mengelilingi wilayah negerinya dengan terbang melayang di angkasa, terkena panah asmara dan tergila-gila terhadap Dewi Pergiwa, sehingga jatuh di hutan belantara. Dalam bayangannya selalu sang Dewi kembar tersebut serasa bertaut di matanya. Tetapi alangkah murkanya Gatot Kaca, ketika Dewi yang dipujanya itu adalah Buta raseksa “Cakil” maka terjadilah peperangan yang pada akhirnya dimenangkan oleh Gatotkaca. Yang akan dibahas pada penelitian ini adalah tari Gatotkaca dengan bentuk penyajian tari tunggal.


Adapun struktur gerak tari Gatot Kaca gaya Sumedang adalah sebagai berikut.
1) Trisi hiber
2) Sembahan awal (calik jengkeng) 50 Agus Sudirman
3) Adeg-adeg capang, sawang, cindek
4) Ngaca
5) Laras konda
6) Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek
7) Gedig, capang, sawang, cindek
8) Jangkung ilo, sonteng
9) Gedut
10) Mincid siku
11) Gedig, capang, sawang, cindek
12) Jangkung ilo, tumpang tali
13) Laras konda
14) Ungkleuk
15) Gedig, capang, sawang, cindek
16) Adeg-adeg sabukan
17) Adeg-adeg Makutaan
18) Pakbang
19) Laras konda
20) Ungkleuk
21) Gedig anca
22) Adeg-adeg jurus
23) Nenjrag bumi
24) Trisi hiber






























Struktur Gerak Tari Gatotkaca
1. Trisi Hiber Gerak awal berjalan jinjit/trisi dengan posisi tangan kanan tutup selendang dan tangankiri kesamping kemudian gerak selanjutnya bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat)

2. Sembahan Awal (Calik Jengkeng) Posisi duduk dengan kaki kanan sebagai tumpuan dan kaki kiri ke depan dan ditekuk dengan posisi tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di atas kaki kiri. Kemudian tangan kiri ke depan sedikit ditekuk dan tangan kiri di tengah-tengah tangan kanan, lalu kedua tangan dibuka, tangan kiri ke samping kiri dan tangan kanan kesamping kanan atas dan arah pandangan ke telapak tangan kanan, kemudian posisi tangan kembali lagi ke awal (tangan kiri di atas kaki kiri dan tangan kanan di pinggang). Kemudian kedua tangan ukel lalu kedua tangan ditarik ketengah dengan posisi ujung telapak tangan bersentuhan terlebih dahulu kemudian dirapatkan dan berada di depan wajah.

3. Adeg-adeg capang, sawang, cindek Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, posisi kedua tangan kanan disamping tangan kiri kemudian tangan kanan sejajar dengan kepala, kemudian posisi tangan kiri kesamping kiri dan posisi tangan kanan di depan dada.

4. Ngaca Posisi badan condong ke depan dengan posisi tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan di samping telinga Gesture (gerak maknawi).

5. Laras konda Posisi badan ke depan dengan melakukan gerakan tangan capang (tangan kiri kedepan dan tangan kanan ditekuk sehingga telapak tangan kanan berada di tengah-tengan tangan kiri). Kemudian gerakan selanjutnya tangan kiri di simpan di pinggang dan tangan kanansawang (gerakan tangan ditekuk ke atas dan telapak tangan menghadap ke wajah).

6. Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek posisi kedua kaki dibuka selebat bahu, dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri disamping kiri. Kemudian menggerakan kedua bahu ke atas dan ke bawah.

7. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

8. Jangkung ilo, sonteng Posisi badan menghadap ke kiri kemudian kaki kiri diangkat dan kaki kanan sebagai tumpuan , tangan kanan ke depan dan tangan kiri di pinggang, berikutnya tangan kanan bergerak ukel, setelah ukel kaki kiri di turunkan ke samping kiri dan tangan kanan diayunkan ke kiri dan ke kanan diikuti oleh gerakan kepala .

9. Gedut Posisi awal badan ke depan dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, kemudian posisi badan diangkat dengan posisi mengarah serong kiri kemudian ditahan oleh kaki kanan kemudian posisi badan ke Pure Movement (gerak murni) Begitu pula sebaliknya bergantian ke kiri.

10.Mincid siku Posisi badan ke depan dengan langkah kaki mundur kebelakang yang diikuti oleh gerakan tangan capang kiri dan capang kiri.

11. Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

12. Jangkung ilo, tumpang tali Gerakan awal posisi badan serong ke kanan dengan posisi kaki kiri di depan kemudian gerakan tangan tumpang tali (posisi tangan kanan di atas tangan kiri), gerakan kedua kedua tangan diarahkan di depan atas kepala/mahkota, kemudian arah hadap ke samping kanan dengan posisi tangan sembada kanan (tangan kanan ditekuk di depan dada, tangan kiri kesamping kiri. Gerak tangan selanjutnya melakukan sawang kiri (posisi tangan kiri di atas dan ditekuk dengan posisi telapak tangan kiri menghadap wajah) dan di akhiri dengan posisi tangan kiri ditekuk dan kaki kiri ditarik.

13. Laras konda Posisi badan serong kanan dengan posisi kedua tangan direntangkan serta kedua kaki sedikit dirapatkan dan jinjit, gerakan selanjutnya kaki dibuka dengan tumpuan dikaki kiri dengan posisi kedua tangan tumpang tali dengan posisi sedikit naik ke atas kanan.

14. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah Pure Movement (gerak murni) 15 Gedig, capang, sawang, cindek Gerak melangkah dengan posisi tangan kanan di depan dada dan tangan kiri dipinggang, kemudian langkah selanjutnya gerakan kedua tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan diatas tangan kiri Locomotion (gerak berpindah tempat).

16. Adeg-adeg sabukan Posisi kedua kaki dibuka selebar bahu dengan sikap tangan kanan diatas tangan kiri Gesture (gerak maknawi).

17. Adeg-adeg Makutaan Posisi badan condong ke depan dengan kaki kanan kedepan dan tangan kiri di depan wajah dan tangan kanan didekat telinga.

18. Pakbang Melangkah kanan kiri kanan dengan tangan mengayun, kemudian adeg-adeg tengah dengan kedua tangan lontang kanan dan lontang kiri.

19. Laras konda Posisi badan serong kiri dengan kedua kaki jinjit diikuti posisi kedua tangan ke depan atas kemudian kedua kaki dibuka dan diikuti kedua tangan direntangkan sambil gerakan tersebut diulang dan perputar berlawanan arah jarum jam.

20. Ungkleuk Posisi badan serong ke arah kiri dengan posisi kaki kanan di depan kaki kiri, posisi tangan kiri memegang sampur dan tangan kiri di bawah tangan kanan dengan kepala bergerak ke atas dan ke bawah.

21. Gedig anca Langkah kaki kanan jadi tumpuan dan kaki kiri diangkat posisi tangan kanan ditekuk dan tangan kiri di pinggang kiri dengan arah hadap kepala ke kanan bawah gerakan ini dilakukan secara bergantian Locomotion (gerak berpindah tempat).

22. Adeg-adeg jurus Posisi kaki kanan di depan kaki kiri, dengan sikap tangan kanan kedepan dan tangan kiri disamping tangan kanan.

23. Nenjrag bumi Posisi badan serong kekanan dengan kedua tangan mengepal dan disimpan di samping kiri dengan arah pandangan ke bawah lalu kaki kanan diangkat dan dihentakkan ke bawah sebanyak tiga kali.

24. Trisi hiber Kedua tangan direntangkan kedepan dengan posisi kaki kanan kedepan, tangan kiri tutup selendang tangan kanan lurus kebelakang kemudian diakhiri dengan gerak trisi keluar.

Tarian ini memiliki 9 gerak yang masuk ke dalam kategori Puremovement yaitu gerak murni yang hanya menitikberatkan pada keindahan semata diantaranya, Sembahan awal (calik jengkeng), (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Adeg-adeg capang, sawang, cindek) (Jangkung ilo, sonteng), Laras konda,Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbang dan Ungkleuk. Apabila ditilik dari desain yang terdapat pada gerak Puremovement, maka peneliti mengambil desain atas untuk melihat kekuatan pada setiap geraknya yang terlihat dari depan atau dilihat dari penonton. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Soedarsono bahwa desain atas adalah desain yang berada di atas lantai yang dilihat oleh penonton, yang tampak terlukis pada ruang yang berada di atas lantai. Untuk memudahkan penjelasan ini dilihat dari satu arah penonton saja yaitu dari depan.Dengan desain atas peneliti dapat mengetahui sentuhan emosional pada setiap gerakan. Dan untuk melihat karakter gerak, dilihat dari level yang digunakan, arah, intensitas atau aliran tenaga menggunakan analisis Laban. Seperti yang dikemukakan Rudolf Laban (1975), bahwa gerak merupakan fungsional dari Body (gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), Space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), Time (berhubungan dengan durasi gerak perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), Dinamyc, (kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis, dan penekanan gerak). Berpijak kepada pendapat tersebut, unsur gerak sebagai unsur utama, ruang, waktu, dan tenaga dalam kategori Puremovement pada tari Gatotkaca gaya cenderung menggunakan ruang yang luas, hal tersebut dapat dilihat pada gerak tangan yang cenderung lebar.

Untuk unsur waktu, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement cenderung menggunakan tempo sedang dan cepat. Adapun untuk intensitas tenaga, ragam gerak yang termasuk ke dalam kategori Puremovement ini menggunakan tenaga yang kuat namun tertahan. Pada gerak Sembahan awal (calik jengkeng) termasuk kedalam desain rendah yaitu desain yang dipusatkan pada daerah yang berkisar antara pinggang penari sampai lantai. Desain ini memberikan kesan penuh daya hidup di sini jika dikaitkan dengan tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang diartikan sebagai perjuangan Gatotkaca untuk menjaga wilayah Amarta dengan penuh tanggung jawab. Gerak (Adeg-adeg capang, sawang, cindek), Laras konda, (Sembada, ungkleuk, obah bahu, cindek), (Jangkung ilo, sonteng), Gedut, (Jangkung ilo, tumpang tali), Pakbangdan Ungklek termasuk kedalam desain medium atau tengah dimana desain yang dipusatkan pada daerah sekitar dada ke bawah sampai pinggang penari. Desain ini memberikan kesan penuh emosi. Hampir pada setiap gerak tangan dan kaki menggunakan tekukan-tekukan seperti pada lutut, sikut, pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Pola gerak tersebut termasuk kedalam desain bersudut yang menimbulkan kesan penuh kekuatan.Hal ini senada dengan karakter serta tema tarian pada tari Gatotkaca gaya Sumedang yaitu karakter monggawa lungguh yang memiliki ciri bergerak dengan tenaga yang kuat, anggota tubuhnya terbuka dengan badan dan arah pandangnya sedikit condong ke depan dengan levelnya medium dan tinggi ketika berdiri. Tema pada tari Gatotkaca gaya Sumedang menggambarkan kegagahan Gatotkaca yang sedang mengelilingi wilayah negerinya untuk menjaga wilayah Amarta.

Rias Tari Gatotkaca gaya
tata rias bukan sesuatu yang asing bagi semua orang, khususnya kaum wanita sebab tata rias merupakan aspek untuk mendukung penampilan dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tujuan dari tata rias yaitu untuk mengubah penampilan fisik yang dinilai kurang sempurna. Adapun tata rias untuk koreografi merupakan kelengkapan penampilan atau sebuah pertunjukan. Selain itu, rias merupakan perwujudan dari karakter-karakter yang ditampilkan dalam sebuah tarian. Berikut ini merupakan tata rias tari Gatotkaca gaya Sumedang.
a. Pasu Teleng
b. Alis Masekon .
c. Eye Shadow
d. Eye Liner
e. Pasu Damis
f. Kumis
g. Cedo Foto

Adapun penjelasan tata rias yang dipergunakan pada tari Gatotkaca  adalah sebagai berikut.
a. Alis Masekon Bentuk alis yang ditarik ke atas dari pangkal alis, kemudian dilengkungkan menurun dan ditarik kebelakang.
b. Pasu Teleng Garis rias diantara kedua alis sejajar dengan hidung yang berbentuk seperti tanda seru.
c. Eye Shadow Make Up untuk memperindah mata sekaligus memberi bayangan mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye shadow berwarna hitam untuk bagian pinggir, biru tua untuk bagian tengah dan putih untuk bagian atas.
d. Eye Liner Garis mata yang berfungsi untuk mempertegas mata. Pada tari Gatotkaca  menggunakan eye liner berwarna hitam.
e. Pasu Damis Hiasan pada kedua pipi yang berbentuk seperti tanda petik yang diberi warna putih untuk bagian tengah dan garis pinggiran berwarna hitam.
f. Rambut hidung dan bibir. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang menggunakan kumis buatan supaya terlihat gagah.
g. Cedo Garis di bawah bibir menuju dagu berwarna hitam.
h. Godeg satria Jambang yang menyerupai cerurit atau sabit melengkung ke bawah.

Tata rias Hal ini jelas terlihat bahwa warna dasar pada riasan wajah sesuai dengan warna kulit. Untuk bagian alis masekon, pasu teleng berbentuk tanda seru, eye shadow disesuaikan dengan bentuk kelopak mata, eye liner disesuaikan dengan bentuk mata bagian bawah, tidak menggunakan janggut hanya memakai cedo,dan godegnya pun menyerupai cerurit. Jika ditinjau berdasarkan tata rias karakter, maka tata rias tari Gatotkaca lebih kepada satria ladak, karena hanya terdapat garis-garis rias di kening, alis jambang, kumis, dan dagu. Hanya saja pada satria ladak tidak terdapat garis di pipi atau pasu damis.
Seharusnya seperti yang sudah diterangkan sebelumnya menurut Rusliana bahwa, perbedaan yang mendasar antara garis-garis rias untuk tarian Wayang jenis putri dan putra sebagai berikut.

1) Tarian jenis putri, terdapat garis-garis rias dikening, alis, dan jambang.
2) Tarian jenis putra satria lungguh, terdapat garis-garis rias di kening, alis, dan jambang. 
3) Tarian jenis putra satria ladak, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, dan dagu.
4) Tarian jenis putra monggawa lungguh, monggawa dangah, danawa patih, dan danawa raja, terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Tata rias untuk tari Gatotkaca yang berkarakter monggawa lungguh seharusnya terdapat garis-garis rias di kening, alis, jambang, kumis, pipi, dan dagu. Di mana pada alis berbentuk cagak dua, pada kening terdapat pasu teleng berbentuk huruf V terbalik, cedo dan janggut menyatu, dan godeg atau jambang yang tebal seperti huruf J.

Selain itu, jika ditinjau dari rias karakter monggawa lungguh menurut Richard Corson dalamNarawatimenyatakan, bahwa. Secara Phisiognomi karakter ini memiliki mata yang terbuka lebar dengan kedua ujung matanya segaris dengan pangkalnya, demikian pula alisnya. Hanya saja, karena karakter ini gagah, alisnya yang dikenakan terkesan tebal atau lebat. Hidungnya agak besar, demikian pula mulutnya. Kedua ujung kiri dan kanan mulut hampir segaris, demikian pula kumisnya yang tebal dan lebat di bawah hidung yang besar. Ciri-ciri phisiognomi semacam ini memberikan kesan, bahwa kesatria ini sangat pemberani serta kokoh dalam pendirian.

Busana Tari Gatotkaca
Busana tari wayang Priangan dipengaruhi oleh budaya Jawa Tengah. Jika kita lihat awal terciptanya tari Wayang Priangan ini berasal dari tari Wayang Wong Priangan, sehingga busana tari Wayang Priangan mendapat pengaruh besar dari tari Wayang Wong priangan, seperti yang telah diungkapkan oleh Narawati dalam bukunya Soedarsono sebagai berikut. Secara langsung dan tidak langsung, busana, rias, serta gerak tari wayang wong Priangan mendapat pengaruh yang cukup besar dari karakterisasi busana, rias dan d tari wayang wong Jawa. Memang, pengaruh itu setelah berkembang dan dikembangkan oleh seniman-seniman Priangan menjadi khas Priangan, hingga busana, rias, dan gerak tari wayang wong Priangan menjadi khas gaya Priangan, dan bukan lagi sebagai busana, rias dan gerak tari Jawa gaya Priangan. Terlihat adanya kontak budaya antara budaya Jawa dengan budaya Priangan. Selain adanya pengaruh dari tari wayang wong Priangan, busana tari wayang Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek. Seperti yang diungkapkan Soedarsono sebagai berikut. Maka tak heran apabila busana wayang wong Priangan juga mengikuti karakterisasi pada busana wayang golek Sunda. Sudah barang tentu karena adanya perbedaan antara boneka wayang golek yang terbuat dari kayu dan penari wayang wong Priangan yang manusia, walaupun terdapat banyak persamaan antara keduanya tetapi terdapat beberapa perbedaan. Oleh karena itu, pada busana tari Gatotkaca memiliki kesamaan dengan karakteristik pada busana Wayang Golek Sunda, tetapi terdapat perbedaan pula. Hal ini dikarenakan dengan kebutuhan pada tarian tersebut.

Busana tari merupakan satu bantuan yang nyata pada si penari, khususnya pada tari yang berkembang dari tari tradisional ataupun klasik, karena selain dapat membantu gerak dalam bentuk koreografi yang utuh, juga mempunyai fungsifungsi simbolis. Busana tari yang berhasil, mempunyai nilai yang sejajar dengan keadaan penerangan yang baik, latar belakang, lagu pengiring dan teknis pentas. Busana dalam sebuah karya tari merupakan satu kesatuan fasilitas bagi penari untuk menata rupa visualisai tubuhnya yang sesuai dengan tarian yang disajikan. Untuk itu, dengan adanya busana dalam sebuah tari maka pertunjukan sebuah karya tari tersebut akan lebih hidup. Adapun bentuk busana tari Gatotkaca gaya Sumedang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
a. Mahkota Gelung Pelengkung Garuda Mungkur
b. Susumping
c. Badong
d. Baju Kutung
e. Kilat Bahu
f. Ikat Pinggang/Beubeur
 h. Kewer/Ampleh
g. Gelang Tangan
i. Tali Uncal
j. Sampur
k. Sinjang Dodot
l. Celana Sontog
m. Keris
n. Melati
o. Gelang

Warna Busana yang digunakan dalam tari Gatotkaca menggunakan warna dasar hitam dengan tidak menggunakan banyak motif pada pola busananya dan pada setiap busana yang Raden Ono Lesmana Kartadikusumah memiliki cirri khas motif bunga teratai . Adapun uraian busana tari Gatotkaca gaya Sumedang sebagai berikut.

a. Mahkuta Gelung Pelengkung Garuda Mungkur Bagian busana penutup kepala yang berbentuk melengkung dengan tambahan garuda mungkur atau motif burung garuda yang menghadap ke bawah.
b. Susumping Hiasan telinga yang terbuat dari kulit.
c. Badong Hiasan busana bagian belakang yang terbuat dari kulit yang berbentuk seperti sayap.
d. Baju Kutung warna hitam Baju tanpa lengan yang berwarna hitam dan berbahan bludru denga motif bintang segi delapan.
e. Kilat Bahu Aksesoris terbuat dari kulit yang dikenakan pada tangan bagian atas.
f. Ikat Pinggang/Beubeur Ikat pinggang berbahan dasar bludru berwarna hitam.
g. Gelang Tangan Aksesoris tangan yang terbuat dari bahan bludru yang dipayet.
h. Kewer/Ampleh Kain kecil dan pendek yang merupakan hiasan yang dikenakan menggantung pada kain sabuk.
i. Tali Uncal Aksesoris yang terbuat dari kulit yang mirip tanduk kijang atau dalam bahasa Sunda disebut uncal.
j. Sampur Selendang yang dipergunakan sebagai bagian busana, atau bahkan properti tari. k. Sinjang dodot Kain batik berbentuk lereng yang sudah dilipat atau dilamban.
l. Celana Sontog warna hitam Celana tiga perempat yang terbuat dari bahan bludru. Untuk tari Gatotkaca gaya Sumedang memakai celana sontog berwarna hitam dengan Payet berwarna emas.
m. Keris Keris pada tari Gatotkaca gaya Sumedang dipergunakan sebagai bagian dari busana dan dipasang di belakang.
n. Melati Hiasan pelengkap keris yang dipasang melingkar dipangkal keris.
o. Gelang kaki Aksesoris yang dikenakan pada pergelangan kaki yang berbentuk bulat serta berwarna emas. Busana tari Gatotkaca gaya Sumedang lebih terlihat sederhana, hal ini terlihat pada motif baju dengan motif payet hanya menggunakan satu warna yaitu emas dengan warna busana hitam. Hitam adalah warna tegas, solid, dan kuat), sesuai dengan sosok dari Gatotkaca itu sendiri yang berjiwa tegas, bijaksana dan kuat. Warna emas secara sekilas akan serupa dengan warna kuning, sehingga maknanya pun ada yang sama, yaitu melambangkan kemakmuran. Namun warna emas juga memiliki kesan yang aktif, dan juga dinamis.

Alat musik
Alat musik yang paling dominan di sini adalah tepakan kendang sangat dominan pada tari Gatotkaca gaya Sumedang, istilahnya adalah mungkus atau dibungkus, artinya hampir setiap gerakan diikuti dengan tabuhan kendang. Hanya sebagian kecil saja yang tidak diikuti tepakan kendang. Dalam iringan tari Gatotkaca hanya ada vokal sinden, dan kakawen/Kemunculan Gatotkaca diawali denganirama cepat dengan gerak trisi hiber. Kemudian dari gerak sembahan sampai dengan adeg-adeg jurus masih menggunakan pola irama sedang yang diikuti oleh vokal sinden yang dilakukan oleh sinden. Memang pada umumnya tari-tari tradisional Sunda iringan tarinya disertai dengan adanya vokal, seperti tari Keurseus maupun tari Rakyat, demikian pula dalam tari Wayang, termasuk tari Gatotkaca. Adanya vokal dalam tari Gatotkaca tidak mutlak harus ada, namun adanya vokal ternyata memberi pengaruh terhadap memperkuat suasana yang disajikan. Selain adanya kawih, dalam tari Gatotkaca terdapat kakawen yang dilantunkan ketika akan memperlihatkan ajian untuk dapat terbang. Kakawen ini dilantunkan menjelang akhir tarian.Keunikan pada kakawen serta gerak pada tari Gatotkaca terdapat kakawen serta gerak nenjrag bumi tilu kali atau

Seperti yang dikatakan Dewey dalam Soedarsono, bahwa seni adalah satu pengalaman pribadi. Jadi dapat dikatakan, bahwa terciptanya tari Gatotkaca merupakan sebuah cerminan serta pengalaman dari sosok Raden Ono Lesmana Kartadikusumah.




Sanggar seni adalah suatu tempat atau sarana yang digunakan oleh suatu komunitas atau sekumpulan orang untuk berkegiatan seni seperti seni tari, seni lukis, seni kerajinan atau kriya, seni peran dls. Kegiatan yang ada dalam sebuah sanggar seni berupa kegiatan pembelajaran tentang seni, yang meliputi proses dari pembelajaran, penciptaan hingga produksi dan semua proses hampir sebagian besar dilakukan di dalam sanggar (tergantung ada tidaknya fasilitas dalam sanggar), sebagai contoh apabila menghasilkan karya berupa benda (patung, lukisan, kerajinan tangan dll) maka proses akhir adalah pemasaran atau pameran,apabila karya seni yang dihasilkan bersifat seni pertunjukan (teater, tari, pantomim dll) maka proses akhir adalah pementasan.
Kesenian merupakan salah satu bagian dari budaya serta sarana yang dapat digunakan sebagai cara untuk menuangkan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Kesenian selain sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa keindahan, juga memiliki fungsi lain. Misalnya,mitos berguna dalam menentukan norma untuk mengatur perilaku yang teratur dan meneruskan adat serta nilai-nilai kebudayaan. Pada umumnya, kesenian dapat berguna untuk mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat.
Sanggar seni termasuk ke dalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung dari kondisi masing-masing sanggar ada yang kondisinya sangat terbatas namun ada juga yang memiliki fasilitas lengkap, selain itu sistem atau seluruh kegiatan yang terjadi dalam sanggar seni sangat fleksibel, seperti menyangkut prosedur administrasi, pengadaan sertifikat, pembelajaran yang menyangkut metode pembelajaran hingga evaluasi dll, mengikuti peraturan masing-masing sanggar seni, sehingga antara sanggar seni satu dengan lainnya memiliki peraturan yang belum tentu sama. Karena didirikan secara mandiri, sanggar seni biasanya berstatus swasta, dan untuk penyetaraan hasil pendidikannya harus melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar bisa setara dengan hasil pendidikan formal.
Keberagaman seni dan budaya suatu daerah menjadi penarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri untuk mengunjungi suatu wilayah. Dalam perkembangannya, berbagai aspek dapat mempengaruhi maju mundurnya serta keberhasilan suatu daerah tersebut memelihara seni dan budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman yang salah satunya keberadaan sanggar seni milik pemerintah kabupaten. Dengan adanya sanggar seni yang tersebar di beberapa desa di suatu daerah diharapkan semakin banyak anak-anak generasi penerus bangsa dapat menyalurkan hobby mereka di bidang seni. Dan secara tidak langsung mereka dapat melakukan pelestarian budaya daerah agar tidak punah. 
anggar seni termasuk ke dalam jenis pendidikan nonformal. Sanggar seni biasanya didirikan secara mandiri atau perorangan, mengenai tempat dan fasilitas belajar dalam sanggar tergantung dari kondisi masing-masing sanggar ada yang kondisinya sangat terbatas namun ada juga yang memiliki fasilitas lengkap, selain itu sistem atau seluruh kegiatan yang terjadi dalam sanggar seni sangat fleksibel, seperti menyangkut prosedur administrasi, pengadaan sertifikat, pembelajaran yang menyangkut metode pembelajaran hingga evaluasi dll, mengikuti peraturan masing-masing sanggar seni, sehingga antara sanggar seni satu dengan lainnya memiliki peraturan yang belum tentu sama. Karena didirikan secara mandiri, sanggar seni biasanya berstatus swasta, dan untuk penyetaraan hasil pendidikannya harus melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar bisa setara dengan hasil pendidikan formal.
Banyak anak-anak sejak usia dini sudah memiliki bakat di bidang seni. Bahkan mereka memiliki ketertarikan di bidang seni tradisional namun mereka bingung harus mengasah kemampuan mereka dimana. Maka dari itu penting adanya sanggar seni yang memiliki guru-guru seni yang dapat melatih anak-anak sejak dini dalam berlatih dan mengasah kamampuan mereka dan mampu bersaing dengan seniman-seniman lainnya.
Belakangan, seni tari ini kembali digalakkan setelah sekian lama tidak terdengar. Berkembangnya seni ini bisa dilihat dari ekstrakurikuler di sekolah sehingga membuat regenerasi dari para penari. Jika bukan kita yang akan meneruskan, lalu siapa lagi yang akan meneruskan seni ini?
Dalam sebuah seni tari biasanya terdiri dari berbagai macam jenis tari. Di antaranya adalah tari tunggal, berpasangan, kelompok, dan kolosal. Tari tunggal biasanya diperagakan oleh satu orang, sedangkan untuk tari berpasangan diperagakan oleh dua orang.
Jika penari lebih dari dua orang bisa disebut dengan tari kelompok. Sedangkan untuk tari kolosal merupakan tari yang diperagakan lebih dari banyak kelompok. Biasanya tari kolosal ini dilakukan di seluruh daerah di Indonesia.
Sejarah
Dimulai dari awal sebelum adanya kerajaan di Indonesia, tarian dipercaya sebagai sebuah daya magis nan sakral. Sehingga tercipta tarian yang digunakan berdasarkan kepercayaan mereka. Salah satunya adalah tari hujan, tari eksorsisme, tari kebangkitan, dan lain-lain.
Penciptaan tari ini didasari serta diilhami dari gerakan alam serta meniru gerakan makhluk hidup. Seperti misalnya menirukan gerakan seekor binatang yang ingin diburu. Umumnya, tari di era primitif dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.
Sejarah kesenian tari di Indonesia kemudian berlanjut pada masa penyebaran Hindu Buddha, yang mana terpengaruh oleh budaya yang dibawa pedagang.
Mulai dari era Hindu Buddha, sebuah tarian mulai memiliki standardisasi serta patokan, karena ada sebuah literatur tentang seni tari. Literatur kesenian tari ini dikarang oleh Bharata Muni dengan judul Natya Sastra yang membahas 64 jenis gerak tangan mudra.
Pada era penyebaran agama Islam, tarian hanya diperagakan oleh orang-orang dari luar Indonesia dan dilakukan pada saat hari raya. Kemudian perkembangan seni tari di Indonesia pada era Islam dimulai tahun 1755 saat kerajaan Mataram Islam terbagi dua.
Dengan dibaginya kerajaan Mataram Islam, kedua kerajaan ini mulai menunjukkan identitas mereka lewat seni tari. Sehingga, tarian yang ditampilkan bisa menjadi sebuah ciri khas dan identitas dari masing-masing kerajaan.
Sejarah kesenian tari di Indonesia mengalami kemunduran di era penjajahan dikarenakan suasana saat itu sedang kacau. Akan tetapi, seni tari yang diperagakan di istana tetap dilaksanakan bahkan terpelihara dengan baik. Pada masa penjajahan, kesenian tari hanya diperagakan pada acara-acara penting kerajaan.
Salah satu contoh tarian yang diilhami dari perjuangan rakyat masa penjajahan adalah Tari Prawiroguno. Tarian ini merupakan tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan menggambarkan gagahnya prajurit masa itu. Prajurit dalam tarian ini menggunakan senjata serta tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
Seni tari terus kembali berjalan setelah Indonesia merdeka sehingga tarian bisa dilakukan untuk upacara adat serta keagamaan. Terkadang, tarian ini juga berkembang saat ini sebagai sebuah hiburan. Selain itu, saat ini sudah mulai banyak anak muda yang mulai tertarik dengan dunia tari.
Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang menyukai tari serta dapat memperagakan berbagai macam jenis tari. Mulai dari tari tradisional bahkan hingga tari modern.


Tujuan SANGGAR SENI adalah :
a. Mendidik para generasi muda tentang pentingnya seni dan budaya Polewali Mandar, khususnya seni dan budaya tradisional.
b. Melatih dan membimbing para generasi muda untuk mengangkat, memelihara atau melestarikan seni dan budaya Polewali Mandar.
c. Berpartisipasi secara aktif membantu Pemerintah Daerah dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan daerah.


Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • Pentingnya Melestarikan Budaya
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • (tanpa judul)

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Kesenian Cirebon yang Hampir Punah
  • PERTUNJUKAN TOPENG CIREBON

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates