Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Sosok dibalik penari sintren

Sintrenmerupakansalahsatuwarisansenileluhurmasyarakat Cirebon. Sang penariSintren dilakukanolehseorangperempuan.
Seorangperempuandiikatdandimasukkankedalamkurunganayam yang sudahditutupkain.Beberapasaatsetelahdibacakanmanteraoleh sang pawang, perempuantersebutberubahmenjadipenariSintren yang terkenal.
MenggunakankacamatahitamdanpakaiankhasSintren.PenariSintrendidampingibeberapa orang berpakaianadat.Bakkesurupan, lenggaklenggokpenarisintrenmenaridikawalbeberapapawangdenganwangikemenyan di sekelilingnya.
Gamelan pun ditabuhsebagaipengiringtarianSintren yang sudahdikenalmasyarakat.Sesekaliperempuantersebutterjatuhsaatpenontonmelemparuangketubuhnya.
Saatpenontonmelemparuang, parapengawaldanpawangsintrenmenahannyasaatsebelumjatuhketanah.Serayamembacakansebuahmantera, sintrenkembalimenari.
KesenianTariSintren CireboninimenjadisalahsatupelengkapdalamsuasanaliburLebaran di GuaSunyaragi Cirebon.Sultan Keraton XIV Kasepuhan Cirebon PRA AriefNatadiningratmenjelaskan, tariSintrenmerupakansalahsatuwarisanbudaya Cirebon yang masihlestari.
"Sintren kami pilihmenjadisalahsatupertunjukanseni di GuaSunyaragikarenaantusiasmemasyarakatjuga.Merekatertarikdengansintrenkarenaterjatuhsaatdilemparuang," ujar Sultan Arief, Kamis (12/9/2019).
Dahulu, TariSintrenidentikdengannuansamagis.Sebab, sejumlahatraksi yang dilakukancukupmembuatpenontontakjub.
Namunseiringberkembangnyawaktu, tarisintrendapatdipelajaridalamkeadaansadar.
Menurut Sultan Arief, tariSintrenadalahbagiandarisenitaritradisional yang memilikimaknafilosofisdalamkehidupanmasyarakat, yaknimengingatkan agar manusiatidaklupadiridalamkehidupan di dunia.
"Maknafilosofipenarijatuhkarenadilemparuangyaitumanusiasemakinbanyakuangcenderunglupadiridandari situ bisamenjadipangkalkejatuhannya," ujar dia.
KehadiranTariSintren di GuaSunyaragidiharapkanmembuatpengunjungberkesan.Selainitu, maknaTariSintren yang dipertunjukkankepadapengunjungdapattersampaikan.
MenurutAriefkeseniantakhanyamenjaditontonanmelainkansebuahtuntunandalamberkehidupanpadazamandahulu.
"Membuatpengunjungmenjadiberkesanitu yang kami inginkansehinggamerekatidakbosandatangke Cirebon," harapArief.
SelainTariSintren, situsGuaSunyaragijugamenghadirkanberbagaitariantradisional lain sepertiTopeng Cirebon. Sultan Ariefmengatakan, pertunjukansenitersebutdisuguhkanhanyasaatmomenliburLebaran.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.
Sintrenadalahtarian yang terkenal di wilayah Cirebon dansekitarnya.Biasanyaditampilkandalamperayaankhusus di masyarakatataumomen-momentertentu di Keraton.Kononsintrenmerupakankesenianrakyat yang di dalamnyamengandungunsurmagis.
Hal inidapatdilihatdariadeganpemanggilanrohbidadari yang dilakukanolehpawanguntukmerasukkedalamtubuhpenarisintren.SintrenadalahsebutanuntukperanutamabagipenariSintren, akhirnyasebutanitumenjadisalahsatunamajeniskesenian, yaituSintren.
MenurutMamadNurahmadselakubudayawanSintren, senitariiniterciptadarikondisimasyarakatpesisiran.Menurut Warta, selakuanggotaseniSintren, adabeberapapersepsimengenaiSintren. Sintrenberasaldari kata Sasantrian yang artinyamenirusantriketikabermainLais, Debus, Rudat yang memakai magic (ilmuGhaib).
Keseniantradisionalsemakinmemprihatinkanseiringkemajuanteknologi.Keberadaanya di tengahmasyarakatmakindilupakan.Salah satunyaadalahkeseniansintren.
Indonesia merupakannegara paling banyakmemilikikeseniantradisional.MulaidariSabanghinggaMerauke, setiapdaerahmemilikikeseniantradisional yang
berbeda-beda.
Salah satukeseniantradisional yang makindilupakansalahsatunyaadalahkeseniansintren.Sintrenmerupakankeseniantradisional yang berasaldaripesisirutarapantaiJawa Barat danJawa Tengah.Daerah persebarankesenianini di antaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, danPekalongan.
PemerhatisenibudayaErwindhomenjelaskan, keberadaankeseniansintrenhampirpunahkarenatidakadawarga yang menanggap.Jikatidakadaupayamelestarikan, menurutErwindho, keseniansintrensebagaisalahsatukekayaanbudayadankearifanlokalinitidakmenutupkemungkinanakanpunahdariperbendaharaanbudayabangsa.
salahsatuusahauntukmelestarikankeseniansintrenadalahdenganseringdigelarnyapertunjukansintren. Utamanyasaatacarasedekahbumimaupunacarapesta di suatudaerah, akanmenarikjikamenampilkankeseniansintren.
Karenanyadiasangatmendukungjika di tiap-tiapkecamatanataukelurahan, perludigelarkesenianrakyat, takterkecualikeseniansintren.Minimal pertunjukanrakyatdigelarsetiapduabulan, sehinggawarganyasalingsilaturahmi.Salingtegursapa.
Kalausetiapkecamatanataukelurahan, nantinyaada agenda pertunjukankesenianrakyatsemisalitupertunjukanwayangkulitataugolek.Ataupertunjukankesenianlain, sehinggaiklimkesenian di Kota Tegaldansekitarnyasemakindinamis.
Dalamsejarahnya yang namanyasenitradisional, selainmelekatfungsihiburanjugasebagaisaranakegiatanupacarabersama.Lebihjauh, kesenianjugadapatmenumbuhkansemangatnasionalisme.Keseniansebagaibagiandarikehidupanmasyarakat, keberadaannyaharustetapdilestarikan.
Sintrendikenaljugadengannama lain yaitulais. Keseniantradisionalsintreninisebenarnyamerupakantarianmistis, karena di dalamritualnyamulaidaripermulaanhinggaakhirpertunjukanbanyak ritual magisuntukmemanggilrohataudewa.Agar kesenianinisemakinmemilikisensasiseni yang kuatdanunik.
Asalmulamunculnyakesenianinitidakterlepasdarisebuahcerita yang melatarbelakangikesenianini.KeseniansintrentidakbisadilepaskandengankisahantaraSulasihdan R. Sulandono, seorangputrabupati di MataramJokoBahuataudikenaldengannamaBahureksodanRr. Rantamsari.
PercintaanantaraSulasihdan R. Sulandonotidakdirestuioleh orang tua R. Sulandono.Sehingga R. Sulandonodiperintahkanibundanyauntukbertapadandiberikanselembarkain (saputangan) sebagaisaranakelakuntukbertemudenganSulasihsetelahmasabertapanyaselesai.
SedangkanSulasihdiperintahkanuntukmenjadipenaripadasetiapacarabersihdesadiadakan, sebagaisyaratdapatbertemu R. Sulandono.
Tepatpadasaatbulanpurnamadiadakanupacarabersihdesa, berbagaipertunjukanrakyatdigelar, makapadasaatitulahSulasihmenarisebagaibagianpertunjukan. R. Sulandonoturundaripertapaannyasecarasembunyi-sembunyidenganmembawasaputanganpemberianibunya.
Sulasih yang menarikemudiandimasukikekuatan spirit Rr. Rantamsarisehinggamengalami “trance” dansaatitupulalah R. SulandonomelemparkansaputangannyasehinggaSulasihpingsan.
SaatSulasih trance ataukemasukanrohhalusataukesurupan yang disebut ‘Sintren’ danpadasaat R. Sulandonomelemparsaputangannyadisebutsebagai ‘balangan’. Balanganyaitupadasaatpenarisintrensedangmenarimakadariarahpenontonada yang melemparsesuatukearahpenarisintren.
Setiappenariterkenalemparanmakasintrenakanjatuhpingsan. Padasaatitulahpawangdenganmenggunakan mantra-mantra tertentukeduatanganpenarisintrendiasapidengankemenyandanditeruskannyadenganmengusapwajahpenarisintrendengantujuan agar rohbidadaridatanglagisehinggapenarisintrenitudapatmelanjutkanmenarilagi.




  1. Unsur-Unsur Pembentuk Topeng Modern Karya Anom

            Topeng merupakan salah satu peninggalan seni budaya Bali yang memiliki bentuk dan karakter yang khas. Unsur-unsur bentuk yang digunakan untuk mewujudkan seni topeng tidak berbeda dengan unsur-unsur seni rupa lainnya seperti titik, garis, bidang, warna, tekstur dan ukuran yang secara visual dapat dilihat. Melalui unsur visual ini, melalui pahatan dan sapuan kuas, seseorang dapat mewujudkan bentuk dan karakter seni topeng sesuai dengan keinginnannya. Selain itu, bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya suatu bentuk karya seni adalah pemahaman tentang ‘kerangka’ dari pengertian unsur-unsur rupa itu sendiri sehingga seorang seniman akan mampu membuat karya seni rupa menjadi lebih sempurna dan metaksu. Anom mengkombinasi titik dalam karya topengnya, merupakan keunikan dan karakter dari kreativitasnya terutama dalam memberikan ornamen untuk hiasan lainnya. Satu titik saja belum dapat berbicara mengungkapkan suatu ekspresi, namun susunan dari empat sampai lima saja mampu membentuk ragam hias seni topeng yang beraneka bentuk. Seperti misalnya dalam topeng yang berjudul ”Garam dan Merica” merupakan kumpulan titik yang disusun sedemikian rupa sebagai motif topeng untuk menghiasi bentuk topeng dengan nilai keindahan tersendiri sebagai ungkapan karya seni yang memiliki makna ganda yaitu bermakna simbolis dan bermakna estetik. Dalam seni topeng Anom, titik disini tidak saja digunakan sebagai ungkapan ekpresi semata, tetapi juga digunakan sebagai pembentuk karakter yang mempunyai kekuatan magis.
             Kehadiran garis dalam seni topeng dapat membarikan banyak arti, seperti misalnya garis sebagai pembentuk karakter topeng, garis sebagai pembentuk bidang, garis sebagai pembatas bidang, dan garis sebagai simbol. Garis dalam seni topeng modern Anom, dimanfaatkan sesuai dengan bentuk yang mengacu pada fungsi, sehingga garis ungkapannya dapat membentuk simbol, membatasi bidang, pembagi bidang dan juga dapat memberikan karakteristik karyanya. Dengan demikian ungkapan garis dalam karya-karyanya, Anom dalam hal ini dapat memberikan banyak arti baik secara kasat mata maupun secara abstrak yang membentuk keindahan sebagai ungkapan pribadinya. Garis-garis ekpresi yang ditampilkan pada topeng Anom merupakan garis-garis yang tegas. Hal ini membuktikan bahwa Anom merupakan seniman topeng yang sudah sangat berpengalaman, dan terlatih, di dalam mengekpresikan isi hatinya tanpa adanya keraguan. Di dalam mengungkapkan garis-garis baik sebagai pembentuk karater atau pun sebagai simbol, di ungkapkan melalui tehnik sigar mangsi atau dengan gradasi warna muda ke warna tua dan sebaliknya. Ungkapan garisnya terkadang juga di berikan warna keemasan (prada) yang mengalir begitu saja tanpa ada sekat pembatas sehingga ungkapan garisnya menjadi ciri khas ungkapan seniman Bali yang lembut tetapi tegas, seperti terungkap pada garis mata, lekukan pipi, guratan dahi dan garis-garis ornamen penghias topengnya. Ungkapan garis tersebut diatas merupakan olahan seni yang di landasi atas karakter topeng yang akan dibuatnya seperti misalnya garis-garis yang diungkapkan melemgkung turun dapat memberikan kesan kesedihan, tua dan ketakutan. Sedangkan garis-garis yang diungkapkan melengkung ke atas memberikan kesan kegembiraan dan tersenyum. Karakter garis seperti ini amat dikuasai oleh Anom sehingga karya-karyanya terkesan sangat realistik dan penuh dengan nilai-nilai keindahan. Ungkapan garisnya diawali dengan tehnik pahatan yang selajutnya dipertegas dengan warna, baik dalam tehnik sigar mangsi maupun dikontur sehingga garis-garisnya menjadi jelas dan tegas. Dengan demikian garis-garis yang diungkapkannya sangat ekpresif dan tegas, bertujuan pula agar terkesan lebih natural.
         Adanya unsur bidang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dalam karya rupa bidang berfungsi: (a) untuk menekankan nilai ekspresi dan nilai gerak (movement), nilai irama (rhythm) dan nilai arah (direction); (b)  untuk memberikan batas dan bentuk serta ruang seperti yang tampak pada bangunan patung dan topeng; (c) untuk memberikan kesan trimatra (tiga dimensi) yang ditimbulkan oleh batasan panjang, lebar dan tinggi. Selain itu, bidang juga memiliki sifat tersendiri seperti (a) Bidang harizontal dan vertikal yang memberikan kesan tenang, statis, stabil dan gerak; (b) Bidang bundar yang memberikan kesan kadang-kadang stabil, kadang-kadang gerak; (c) Bidang segitiga yang memberikan kesan statis maupun dinamais; (d) Bidang bergelombang (cekung dan cembung) yang memberikan kesan irama dan gerak. Bentuk bidang dalam karya rupa terdiri dari bidang negatif bidang positif. Bidang negatif adalah apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh konkritnya adalah lubang mata pada topeng. Sedangkan Bidang Positif, apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis yang banyak, contoh konkritnya adalah keras, bidang yang dibuat dari bambu yang dirajut. Dalam seni topeng modern karya Anom, bidang dimanfaatkan sebagai pembentuk karakter dan identitas topeng. Selain itu, juga bidang dimanfaatkan untuk menekankan nilai ekspresi, nilai gerak, nilai irama, dan nilai arah yang terbentuk melalui ruang negatif. Pemanfaatan ruang negatif seperti tersebut di atas juga dapat memberikan ruang gerak yang estetis sehingga kelincahan pemakainya dapat terungkap sesuai dengan keinginannya. Perwujudan Ruang semacam ini juga mempunyai fungsi untuk memudahkan si pemakai dalam berkomunikasi (bersuara) dan melihat disekitarnya disaat topeng tersebut dipergunakan.
Tekstur yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan bidang dibedakan antara tekstur alamiah (artificial textur) dan tekstur buatan (natural texstur). Tekstur alamiah adalah watak bidang yang tercipta oleh alam, seperti urat kayu atau batu. Tekstur buatan atau tiruan ialah watak bidang yang dibuat (disebut juga tekstur simulasi), untuk membuat watak bidang kayu berkesan tertentu dengan cara tehnik gambar tertentu (Kartika,2004: 226).  Dengan demikian tekstur memiliki fungsi untuk memberikan watak tertentu pada bidang permukaan yang dapat menimbulkan nilai estetik. Misalnya tekstur dari urat-urat kayu ditonjolkan pada permukaan bidang sesuai dengan bentuknya. Pembentukan tekstur bisa terjadi dari tiga proses, yaitu proses kimiawi (chemis). proses mekanik, proses alami, proses cetak (buatan tangan). Dalam seni topeng modern karya Anom, tekstur yang diungkapkan merupakan kualitas yang dapat dilihat dan diraba yang diberikan oleh permukaan topeng melalui ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian-bagian topeng tersebut. Fungsi teksturnya dapat menentukan sampai dimana permukaan topeng dapat memantulkan atau menyerap cahaya yang ada mengingat fungsi dari topeng sebagai penutup muka dalam pementasan drama tari. Namun secara umum tekstur Anom dalam karyanya lebih menekankan pada tekstur halus dan tekstur semu. Tekstur halus sebagai ungkapan untuk pencapaian keindahan yang sempurna sehingga karya-karyanya berkesan seperi dilapisi kaca namun tidak memantulkan cahaya dan berkesan doof. Sedangkan tekstur semu sebagai ungkapan untuk memberikan kesan antiques, serperti terungkap dalam karya-karyanya yang memiliki kesan kasar dan berbintik-bintik akan tetapi bila diraba berkesan sangat halus dan merata.
Masa kini, orang mempercayai warna sebagai ungkapan emosi pribadi. Namun pada zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, karena seni pada zaman Hindu - Budha  diabdikan kepada agama, dan raja. Untuk beberapa abad berikutnya para perupa mempergunakan warna dengan meniru warna alam (naturalistik) atau warna sebagai wakil dari benda yang sebenarnya. Penonjolan warna merupakan ekpresi yang kedua bagi perupa-perupa abad tersebut sehingga kurang memberikan kesan ekpresif. Sejak abad 19 para seniman menganggap warna merupakan alat ekspresi yang digunakan secara serius dan konsekuen.

Adipati Karno Gugur
28 Desember 2019   5:35 |

Oleh Deni Hidayat
Arjuna dan Karno ibaratnya seperti saudara kembar. Meskipun mereka hanya saudara seibu lain Bapak, tetapi wajah keduanya bagai pinang dibelah dua. Bahkan karena begitu miripnya, Dewa Kahyangan Bathara Narada pun tidak mampu membedakan mana Arjuna yang mana Adipati Karno kala itu.
Kedua senopati perang telah bersiap di kereta perang masing – masing. Adipati karno dikusiri oleh mertuanya Prabu Salya. Adipati Karno tahu bahwa Prabu Salya tidak dengan sepenuh hatinya dalam mengendalikan kereta perangnya. Prabu Salya, juga tidak sepenuh hatinya dalam mendukung Kurawa dalam perang ini. Hati dan jiwanya berpihak kepada Pandawa meskipun jasadnya di pihak Kurawa. Karena putri – putrinya istri Duryudono dan Karno, maka dengan keterpaksaan yang dipaksakan Prabu Salya memihak Kurawa pada perang besar ini.
Meskipun demikian, berulang kali sebelum perang terjadi Prabu Salya membujuk Duryudono agar perang ini dibatalkan. Bahkan dengan memberikan Kerajaan Mandaraka kepada Duryudono pun, Prabu Salya merelakan asal perang ini tidak terjadi. Namun tekat dan kemauan Duryodono tidak dapat dibelokkan barang sejengkal pun. Tekad Duryudono yang keras dan kaku ini juga karena dukungan Adipati Karno yang menghendaki agar perang tetap dilaksanakan.
Adipati Karno, berkepentingan dengan kelanjutan perang ini demi mendapatkan media balas budi kepada Duryudono dan kurawa yang telah mengangkat derajatnya dan memberikan kedudukan yang terhormat sebagai Adipati Awangga yang masih bawahan Hastina Pura. Maka latar belakang ini pula yang menambah kebencian Salya kepada menantunya, Adipati Karno.
Atas permintaan Prabu Kresna, Arjuna menghampiri dan menemui Adipati Karno untuk mengaturkan sembah dan hormatnya.
Dengan menahan tangis sesenggukan Arjuna menghampiri kakak tertuanya ”Kakang Karno salam hormat saya untuk Kakanda. Kakang, jangan dikira saya mendatangi Kakang ini untuk mengaturkan tantangan perang. Kakang, dengan segala hormat, marilah Kakang saya iringkan ke perkemahan Pandawa kita berkumpul dengan saudara pandawa yang lain layaknya saudara Kakang…”
Adipati Karno ”Aduh adikku, Arjuna. Adikku yang bagus rupanya, tinggi kesaktiannya, mulya budi pekertinya. Sudah berapa kali kalian dan Kakang Prabu Kresna membujuk Kakang untuk meninggalkan Astina dan bersatu dengan kalian Para Pandawa.
Aduh..adikku, jikalau aku mau mengikuti ajakan dan permintaan itu, Kakang tidak ada bedanya dengan burung dalam sangkar emas. Kelihatannya enak, kelihatannya mulia, kelihatannya nyaman. Tapi adikku, kalau begitu, sejatinya Kakang ini adalah seorang pengecut, seseorang yang tidak dapat memegang omongan dan amanah yang telah diniatinya sendiri. Adikku…bukan dengan menyenangkan jasad dan jasmani Kakang jikalau kalian berkehendak membantu Kakang mencari kebahagiaan sejati.
Adikku, Arjuna, jalan sebenarnya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatiku adalah dengan mengantarkan kematianku di tangan kalian, sebagai satria sejati yang memegang komitmen dan amanah yang Kakang menjadi tanggung jawab Kakang.
Oleh karena itu Adikku, ayo kita mulai perang tanding ini layaknya senopati perang yang menunaikan tugas dan tanggung jawab yang sejati. Ayo yayi, perlihatkan keprigelanmu, sampai sejauh mana keprawiranmu, keluarkan semua kesaktinmu. Antarkan kakangmu ini memenuhi darma kesatriaannya. Lalu sesudah itu, mohon kanlah pamit Kakang kepada ibunda Dewi Kunti. Mohonkan maaf kepadanya, dari bayi sampai tua seperti ini belum pernah sekalipun mampu membuatnya mukti bahagia meskipun hanya sejengkal saja.”
”Aduh Kakang Karno yang hamba sayangi, adinda mohon maaf atas segala kesalahan. Silakan Kakang kita mulai perang tanding ini”
Setelah saling hormat antara keduanya, perang tanding kedua senopati perang yang mewakili kepentingan berbeda namun demi prinsip. Keduanya mengerahkan segala kemampuan perang darat yang dimiliki. Perkelahian tangan kosong ini telah berlangsung sampai matahari sampai di tengah kubah langit. Tidak ada yang kalah tidak ada yang unggul sampai sejauh ini. Keduanya menyerang dengan sama baik, keduanya menghindar dengan sama sempurna.
Pertarungan tangan kosong dilanjutkan dengan pertarungan dengan senjata keris. Karno memulai dengan menerjang mengarahkan keris ke ulu hati Arjuna. Kini keduanya saling menerjang dengan keris terhunus di tangan. Masing – masing mencari sasaran yang mematikan sekaligus menghindar dari sergapan lawan. Adu ketangkasan keris ini berlangsung sampai matahari condong ke barat, hampir mencapai paraduannya di akhir hari. Tidak ada yang cedera dan mampu mencedarai, tidak ada yang kalah dan mampu mengalahkan.
Keduanya memutuskan perang tanding dilanjutkan dari atas kereta. Arjuna sekali melompat sudah sampai pada kereta Jaladara. Demikian juga Karno, sekali langkah dalam sekejap sudah bersiap di kereta perangnya.
Adipati Karna menyiapkan anak panah dengan ajian Naraca Bala, begitu dilepaskan dari busurnya terjadilah hujan panah yang mengerikan.Namun di sisi lain, Arjuna adalah satria kinasih Dewata dengan kesaktian tanpa tanding. Meski terkena ratusan anak panah Naraca Bala, tidak tergores sedikitpun.
Adipati Karno melihat kesaktiannya tidak mempan, maka disiapkannya Anak Panak Kunta Drewasa pemberian Dewa Surya. Jagad sudah mendengar bagaimana kesaktian anak panah ini, jangankan tubuh manusia gunung pun akan hancur lebur jika terkena anak panah ini. Prabu Salya tidak rela anak – anaknya Pandawa kalah dalam perang ini. Maka disentaknya kendali kerata perang, Tangan Karno pun goyah, dan lepasnya anak panah meleset dari sasaran.
Di sisi lain, Kresna tahu kesaktian pusaka itu dan apa yang akan terjadi kepada Arjuna jika Kunta Drewasa tepat mengenai sasarannya. Maka dihentaknya kereta kuda dengan kaki dan kesaktiannya. Roda kereta amblas dua jengkal menghujam bumi. Anak panah Kunta Drewasa terlepas, namun meleset tak menerjang leher dan mengenai gelung rambut Arjuna. Jebolnya gelung rambut Arjuna disertai dengan lepasnya topong keprabon yang dikenakannya. Arjuna malu karena gelung rambutnya ambrol dan topongnya, maka dengan sigap Kresna, menyambung rambut Arjuna dengan rambutnya sendiri. Digantikannya topong Arjuna dengan yang lebih bagus.
”Arjuna…,kelihatannya ini sudah sampai waktunya Adipati Karno menyelesaikan darma baktinya. Siapkanlah anak panah Pasopati dengan busurnya. Kiranya itu yang akan menjadi sarana menghantarkan Kakangmu Adipati Karno menuju kebahagiaan sejatinya”
Arjuna menyiapkan Panah Pasopati yang anak panahnya berbentuk bulan sabit. Ketajaman bulan sabit ini tak ada yang meragukannya. Arjuna adalah satria dengan tingkat keahlilan memanah mendekati sempurna. Dia membidik bukan dengan mata lahirnya namun dengan mata batinnya. Oleh karena itu, sangat akurat dalam mengenai bidikannya.
Sekarang anak panah Pasopati telah siap di busurnya. dikerahkan segala konsentrasinya, dibidiknya leher Adipati Karno. Dalam konsentrasi yang dalam ini, terikut serta dalam keraguan dan kegamangan, terbayang masih teringat, kakak sedarah dan asalnya yang sama, saudara yang dia cintainya. Tetapi dengan kematanganya sebagai seorang Satriya, Tugas amanah adalah janji yang harus dilaksanakan, mengikuti jalannya menyambut takdir yang sudah ditakdirkan, lalu di bidikkannya dan dilepaskan anak panah Pasopati, mengarah kepada leher Adipati Karno. Ditetapkannya hatinya, inilah cara yang dikehandaki sang Kakak untuk membuatnya bahagia. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha tunggal, agar kiranya mengampuni kesalahannya ini.





 Tari Wayang sendiri merupakan salah satu tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Barat sendiri. Dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian ini mempunyai beberapa gerakan dan juga hal yang sangat menarik untuk disaksikan oleh berbagai orang yang ada pada daerah itu sendiri maupun orang lain yang datang berkunjung ke daerah tersebut hanya untuk sekedar melihat tarian tersebut sendiri. Tarian ini sendiri pun pada dasarnya sangat kental dengan berbagai adat yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, hal ini sendiri disebabkan oleh masih banyak warga masyarakat umum Jawa Barat yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual-ritual dengan menggunakan beberapa tarian yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, sehingga beberapa tari yang ada di sini sangat-sangat identik dengan semua hal tersebut.
 Tarian yang ada di daerah Jawa Barat ini sendiri tentu saja memiliki beberapa hal yang terkadang menyimpan sebuah misteri yang terkadang tidak kita ketahui. Hal ini sendiri dapat berupa asal usul dari tarian itu sendiri yang terkadang bisa kita ketahui bahwa sangat berhubungan sekali dengan kekuatan mistis ataupun terkadang hanya dari beberapa sejarah yang telah ada pada daerah tersebut. Pada dasarnya sendiri tarian yang ada di Jawa Barat ini tentu saja biasanya menjadi salah satu hiburan yang bisa dinikmati oleh para masyarakat umum yang ada disana, dan terkadang pun sering dipakai pada saat penyambutan beberapa tamu agung yang datang ke provinsi Jawa Barat tersebut. Tarian pada daerah ini sendiri tentu saja memiliki beberapa makna yang sudah tidak asing lagi pada masyarakat umum yang ada di kota ini, sehingga mereka pun lebih mengenal bagaimana cara menggunakan tarian tersebut dalam berbagai event yang ada, baik event yang berupa adat ataupun acara umum seperti pesta perkawinan. Karena seperti yang kita tahu dua hal tersebut merupakan hal yang sangat berbeda dan oleh sebab itu maka tarian dari beberapa hal itu tentu saja sangat-sangat berbeda sehingga dapat menciptakan gerakan-gerakan dan juga mempunyai makna dan juga arti yang berbeda dari
semuanya itu.Tarian dari Jawa Barat ini sendiri terdiri dari Tari Topeng, Tari Jaipong, Tari Kursus, Tari Wayang, dan Tari Merak. Untuk khusus tari topeng sendiri mempunyai berbagai macam tarian topeng dengan beberapa jenis yang lainnya, pada hal ini sendiri tarian topeng tersebut sangat berbeda, dimana pada beberapa jenis yang ada, tarian tersebut dibuat berdasarkan arti yang berbeda sama sekali dengan berbagai tarian yang telah ada pada tarian topeng pada umumnya sendiri.Tari Wayang merupakan salah satu tarian yang berasal dari Jawa Barat sendiri, dimana tarian ini sendiri merupakan tarian yang dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 pada saat itu oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya. Tari Wayang ini sendiri memiliki tingkatan ataupun beberapa jenis karakter yang berbeda misalnya saja pada karakter pria dan juga wanita yang memiliki perbedaan. Karakter Tari wanita sendiri terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta juga Ladak untuk tokoh Srikandi.
sedangkan karakter tari pria terdiri dari :
  • Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu.
  • Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa
  • Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, adipati Karna dan sebagainya
  • Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima
  • Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca
  • Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.
Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu
Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan
Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu:
  1. Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya
  2. Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti:
Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,
Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,
Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
Tari Gatotkaca, wataknya keras
Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro
Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri
Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:
  1. Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,
  2. Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,
  3. Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal
Pengertian Wayang Secara Filosofis Wayang merupakan bayangan, gambaran atau lukisan mengenai kehidupan alam semesta. Di dalam wayang digambarkan bukan hanya mengenai manusia, namun kehidupan manusia dalam kaitannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan. Alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi, tidak lepas satu dengan yang lain dan senantiasa berhubungan. Unsur yang satu dengan yang lain di dalam alam semesta berusaha keras ke arah keseimbangan. Kalau salah satu goncang maka goncanglah keseluruhan alam sebagai suatu keutuhan (system kesejagadan)
Fungsi Wayang
Wayang sebagai penggambaran alam pikiran Orang yang dualistik Ada dua hal, pihak atau kelompok yang saling bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin, serta halus dan kasar Keduanya bersatu dalam diri manusia untuk mendapat keseimbangan Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat humor Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan


Kandungan Dalam Wayang
  1. Wayang Bersifat “Momot Kamot”. Wayang merupakan media pertunjukan yang dapat memuat segala aspek kehidupan manusia (momot kamot). Pemikiran manusia, baik terkait dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum maupun pertahanan keamanan dapat termuat di dalam wayang.
  2. Wayang Mengandung Tatanan, Tuntunan, dan Tontonan. Di dalam wayang dikandung tatanan, yaitu suatu norma atau konvensi yang mengandung etika (filsafat moral). Norma atau konvensi tersebut disepakati dan dijadikan pedoman bagi para seniman dalang. Di dalam pertunjukan wayang dikandung aturan main beserta tata cara mendalang dan bagaimana memainkan wayang, secara turun temurun dan mentradisi, lama kelamaan menjadi sesuatu yang disepakati sebagai pedoman (konvensi).
  3. Wayang Merupakan Teater Total. Pertunjukan wayang dapat dipandang sebagai pertunjukan teater total, artinya menyajikan aspek-aspek seni secara total (seni drama, seni musik, seni gerak tari, seni sastra, dan seni rupa). Dialog antar tokoh (antawecana), ekspresi narasi (janturan, pocapan, carita), suluk, kombangan, dhodhogan, kepyakan, adalah unsur-unsur penting dalam pendraman




Wayang Gong adalah seni pertunjukan sejenis wayang orang. Pertunjukan ini mengangkat cerita dari pakem Ramayana versi Banjar. Wayang ini dimainkan dengan pengolahan vokal pemain dan ditambah basik tari dalam lakon yang terdiri dari beberapa tilisasi. Tak hanya itu, pemain diiringi musik gamelan, elemen dramatik dan kating tari yang diiringi bunyi tambahan seperti ketopong yang membuatnya makin khas. Para pemain dirias sebagaimana layaknya tokoh yang ada di dalam kisah Ramayana. 

Menurut pakar Wayang Gong Banjar, Zulfansyah Bondan, kesenian ini di era 1960-1970an mendapat respon yang bagus dari generasi muda saat itu, namun dalam tiga dasawarsa terakhir yakni sekitar tahun 2000an kesenian ini mengalami kemunduran dan nyaris punah. Nyaris punah? Ya, dikatakan nyaris punah karena kesenian ini sudah jarang dimainkan. Salah satu kesenian tertua di Kalimantan Selatan ini kini hanya menunggu kepunahannya saja karena kelompok-kelompok yang memainkan kesenian ini sudah tak banyak lagi.


Dulu, kesenian ini sering dimainkan saat acara adat dan seni pertunjukan sosial kemasyarakatan seperti Mawlid Nabi, saprah amal, hajatan hingga nazar pasca panen padi. 

Namun sekarang sudah jarang dimainkan. 

Beruntung masih ada salah satu sanggar seni yang masih eksis memainkan kesenian ini walaupun insidential. Sanggar seni Kencana Ungu yang berada di Cirebon, yang di pimpin Bapak E. Panji Jaya Prawirakusuma lah yang membuat kesenian ini masih bertahan, walaupun dalam kondisi yang tak memungkinkan.

Dulu wayang gong dimainkan semalaman suntuk, sama halnya dengan wayang kulit banjar. Setiap lakon atau tokoh biasanya disertai dengan menambang atau nembang yang dibawakan oleh sinden. Sekarang agar tidak ditinggal oleh para penontonnya, permainan dipersingkat hingga sekitar 3 – 4 jam saja. Pada Wayang Gong, sekitar 10 orang yang memainkan alat musik tradisional, yang terdiri dari babun, gong besar dan kecil, sarun besar dan kecil, kenong dan lima alat. Pada saat memulai pertunjukan, terlebih dahulu dilakukan mamucukani, yakni tiga dalang membuka pagelaran untuk menyampaikan cerita apa yang akan dimainkan. Layaknya seperti sinetron di televisi, dari pemain utama hingga pemain pendukung disampaikan lebih dahulu kepada penonton.

Saat ini hanya sanggar seni Kencana Ungu yang memainkan kesenian wayang gong ini, karena saat ini nyaris tidak ada lagi sanggar seni lain yang memainkan salah satu kesenian tertua ini. Kalaupun ada, hanya dilakukan dengan cara bon”. Artinya para pemain diambil dari berbagai kelompok seni daerah dengan sistem cabutan. Misalnya mengambil pemain dari kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tapin.

Melihat keadaan memprihatinkan seperti ini, perlu diadakan upaya untuk melestarikan kebudayaan ini.
Dalam jangka Pendek, bisa dengan melakukan pendidikan dan pelatihan sistematik generasi muda dengan narasumber tokoh yang masih ada sekarang ini. Membuat proyek pembinaan kesenian sebagai program lanjutan pendidikan serta membuat wadah khusus berupa balai seni ditiap kota atau kabupaten di Kalimantan Selatan.

Dalam jangka panjang bisa dilakukan dengan cara merancang kemasan baru dalam pagelaran seni wayang gong dalam hal ini bisa dilakukan dengan cara tumbuh dan berkembang berupa diklat wayang gong bagi anak-anak dan remaja.
Nah, sekarang nasib kesenian daerah ada ditangan kita para generasi muda. Apakah kesenian tersebut akan kehilangan peminat dan hilang dari permukaan, atau kesenian tersebut akan kembali berjaya dengan penanggulangan dini.
Budaya yang besar mencerminkan betapa besar pula peradaban masyarakatnya. 



Wayang gong merupakan cabang kesenian dari sejarah wayang kulit yang tidak lepas dari induknya. Menurut G.A.J. Hazeu dan J.L.A. Brandes yang meniliti kesenian wayang, di peroleh satu kesimpulan bahwa kesenian wayang di Indonesia berinduk kepada kebudayaan asli jawa, meskipun cerita yang di sadur dari pengaruh kebudayaan Hindu. 

Bentuk kesenian wayang yang tertua adalah wayang purwa, dari sini kemudian dikembangkan menjadi jenis jenis wayang yang beragam. Di Kalimantan selatan seni wayang jelas menunjukan pengaruh dari kebudayaan suku Jawa. Dengan membandingkan jenis wayang kulit banjar dengan wayang kulit jawa bahkan dapat diketahui bahwa bentuk wayang, 

lakon dan kelengkapannya menunjukan bahwa ada kemiripan dengan kesenian wayang dari daerah jawa, di segi lain ukuran wayang, bahasa yang digunakan serta tata cara untuk melakukan pementasan sudah menunjukan adanya perkembangan yang khas sebagai “wayang banjar”. 

Perkembangan 
Sejarah wayang di Kalimantan selatan secara kronologis belum diketahui detailnya. Dalam “hikayat banjar” disebutkan bahwa seni wayang sudah tumbuh di Kalimantan selatan sejak hampir 6 abad silam. Maka semakin jelas bahwa wayang gong bukan pengaruh langsung dari jawa, melainkan perkembangan khas dari daerah kalimantan selatan. Menurut penuturan dari para seniman wayang gong, jenis wayang tersebut muncul setelah wayang banjar telah terlalu jauh berkembang baik ceritera maupun pementasannya. 

Kreasi yang Ditampilkan 
Wayang orang banyak melakonkan kisah kisah syair di luar pakam. Seni pentasnya juga cenderung surut. Maka wayang gong merupakan kreasi yang ingin mengangkat kembali kesenian ditengah masyarakat banjar. Kisah syair yang sering ditampilkan dalam kesenian wayang orang adalah “syair abdul muluk” dari melayu, selain itu kisah saduran “damarwulan”. 

Maka kemudian sangat dikenal dengan adanya seni abdul muluk atau “mada muluk” dan juga “badamarwulan”. Perkembangan selanjutnya, abdul muluk berkembang menjadi dua yaitu abdul muluk cabang adalah abdul muluk yang menggunakan “cabang” (kuluk atau ketopang) yang kemudian lebih dikenal sebagai “wayang gong”. 

Sedangkan yang lainnya adalah abdul muluk ceritera, yang kemudian dikenal sebagai “mamanda”. Wayang gong sendiri kemudian menurunkan kesenian “kuda gepang cerita” dan tarian kuda gepang. Sampai saat ini masih bisa disaksikan antara kesenian kesenian tersebut memiliki unsur pementasan (dalam hal kostum, baju tata rias dan gamelan) yang sama. 

Ciri dan Perkembangannya: 
Hal ini menunjukan perkembangan antara yang satu dengan yang lain sangat erat, bahkan mempunyai akar yang sama. Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri antara lain : Wayang orang mengambil kisah dari pakem mahabarata, sedangkan wayng gong selalu dari pakem ramayana. 

Watang orang tidak membedakan secara nyata tokoh peannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang gong membedakan tokohnya dengan kostum penutup kepala yang disebut dengan katopan atau cabang, atau kuluk yang masing masing menggambarkan tokoh wayang orang lebih bebas sehingga lebih dapat melakonkan kisah kisah yang diadur dari kitab kitab syair melayu banjar, 

sedangkan wayang gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem ramayana. Wayang gong pada kurung waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di kalimantan selatan. Tidak seperti kesenian wayan pada seni wayang orang, 

wayang gong lebih luas perkembangannya di kalimantan selatan. Hampir pada setiap daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh, dan berkembang pula kesenian wayang gong-nya. Akan tetapi perkembanagn terakhir wayang gong dinilai kurang menggembirakan. 

Hal ini berkaitan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian wayang gong mulai jarang dipentaskan. Kelompok kelompok ksenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Demikian ulasan singkat mengenai tari wayang gong dan penjelasannya dapat menambah wawasan anda. 

Adapun antara “wayang orang” dengan “wayang Gong” dibedakan berdasarkan beberapa ciri, antara lain: 
Wayang orang mengambil kisah dari pakem Mahabharata, sedangkan wayang Gong selalu dari pakem Ramayana. 
Wayang orang tidak membedakan secara nyata tokoh perannya berdasarkan kostum yang dikenakan (meskipun terdapat penekanan tertentu untuk mendukung karakter), sedangkan wayang Gong membedakan tokohnya dengan kostum tutup kepala yang disebut “katopon” atau “cabang”, atau “kuluk” yang masing-masing menggambarkan tokoh 
Wayang Orang lebih bebas sehingga dapat melakonkan kisah-kisah yang disadur dari kitab-kitab syair Melayu-Banjar, sedangkan Wayang Gong berdasarkan katopong yang dikenakan, lebih terikat kepada pakem Ramayana. 



Wayang Gong pada kurun waktu tertentu mempunyai peranan penting dalam sejarah seni pertunjukan di Kalimantan Selatan. Tidak seperti pada Wayang Orang, Wayang Gong lebih luas perkembangannnya di Kalimantan selatan. Hampir pada daerah yang berkembang wayang kulitnya, tumbuh dan berkembang pula wayang Gong nya. 

Akan tetapi perkembangan terakhir Wayang Gong dinilai kurang menggembirakan. Hal ini berkaitan dengan arus perubahan yang terjadi sangat kuat menerpa tatanan kehidupan tradisional. Maka saat ini, kesenian Wayang Gong mulai jarang dipentaskan.Kelompok-kelompok kesenian tersebut jumlahnya juga semakin surut. Sehingga tidak mengherankan saat ini tidak ada lagi kelompok kesenian Wayang Gong yang lengkap untuk pementasan besar, yang dipentaskan semalam suntuk. 

Sebab-sebab dari surutnya kesenian wayang Gong antara lain, karena : 

1. Minimnya pemain yang sungguh-sungguh menekuni kesenian ini. Dengan bekal-bekal yang seadanya, seseoprang bermain Wayang Gong hanya “beramaian” atau turut meramaikan saja sehingga nilai semuanya dan kandungan filosofinya tidak diperhatikan. 

2. Adanya kebiasaan tidak baik dari sementara dalang di wilayah ini, yang tidak mau menyampaikan pengetahuannya tentang wayang kepada orang yang bukan keluarganya. 


KEUTAMAAN DAN KETERCELAAN ADIPATI KARNA
DALAM PERANG BHARATAYUDHA





Pada saat perang, Karna bertemu dengan masing-masing Pandawa (kecuali Arjuna), mengalahkan mereka, dan bahkan mampu untuk membunuh mereka. Tetapi Karna menepati janjinya kepada Kunti untuk tidak membunuh mereka. Pada perang hari ketigabelas, Drona mengatur formasi pasukan yang disebut Chakravyuha. Hanya Khrisna dan Arjuna di pihak Pandava yang mengetahui cara membuyarkan formasi ini; tetapi Khrisna dan Arjuna dengan sengaja dialihkan perhatiannya oleh pihak Kaurava ke bagian lain dari pertempuran. Abhimanyu, anak Arjuna, memiliki sebagian pengetahuan tentang formasi ini. Ia mendengarnya ketika masih dalam kandungan saat Khrisna menjelaskan tentang formasi ini kepada ibunya (ibu Abhimanyu adalah Subhadra, adik Khrisna). 

Tetapi saat itu Khrisna tidak menjelaskan sampai selesai. Sehingga Abhimanyu mengetahui cara memasuki formasi tersebut, tetapi tidak mengetahui cara keluar darinya. Pada hari itu tidak seorang pun sanggup mengalahkan Abhimanyu yang telah berada di dalam formasi Chakravyuha. Sendirian ia menandingi jendral-jendral pihak Kaurava termasuk Karna, Drona, dan Duryodhana. Atas perintah Drona, Duryodhana dan Karna mengeroyok Abhimanyu (Karna memanah busur Abhimanyu dan melumpuhkan keretanya, kemudian para Kaurava membunuh Abhimanyu. Jadi bukan Karna sendiri yang membunuh Abhimanyu). 

Pada perang hari keempatbelas, perang berlangsung sampai malam. Ghatotkacha, putra Bhima yang setengah raksasa, makin memporak porandakan barisan Kaurava (golongan Asura, termasuk raksasa, makin kuat di malam hari). Karna terpaksa memakai senjata Shakti yang dipinjamnya dari Indra untuk membunuh Ghatotkacha. Karena Indra hanya memperbolehkan Karna memakai senjata Shakti sekali saja, maka Karna kini tanpa senjata pamungkas dan baju besi serta antingnya yang tak tertembus senjata. Karna hanya bisa mengandalkan kesaktiannya sendiri dalam melawan Arjuna nanti.Pada perang hari kelimabelas, Drona terbunuh dan Karna menjadi senapati pasukan Kaurava. 

Pada hari ketujuhbelas, Karna akhirnya bertemu dengan Arjuna dalam pertempuran yang seru dan setanding. Karena telah kehilangan senjata pamungkas dan baju besinya, Karna hanya mengandalkan keahlian dan kesaktiannya sendiri. Dalam suatu kesempatan, Karna melakukan trik cerdik dengan keahliannya. Ia membuat Arjuna lumpuh sejenak dengan memanah dada Arjuna. Ketika Arjuna belum pulih dari pukulan pertama tadi, Karna melepaskan panah ke arah kepala Arjuna untuk membunuhnya. Khrisna menyelamatkan Arjuna dengan menekan kereta mereka sampai amblas ke tanah beberapa senti, sehingga panah Karna meleset dari kepala Arjuna. Banyak orang menganggap kejadian ini sebagai bukti superioritas Karna dari adiknya itu, paling tidak dari sisi keahlian dan kesaktian. 

Saat pertempuran berlangsung, salah satu roda kereta Karna selip di tanah berlumpur. Ini diakibatkan oleh kutukan Brahmana yang telah disebutkan di atas. Shalya yang menjadi kusir kereta Karna tidak bisa membantu karena telah dilumpuhkan oleh Arjuna. Karna meminta Arjuna untuk menghentikan pertempuran untuk menunggunya mengeluarkan roda kereta dari tanah berlumpur tadi. Arjuna setuju. Tetapi Khrisna menyuruh Arjuna melanggar kode keprajuritan dan membunuh Karna yang sedang tidak berdaya. Roda kereta Karna tidak bisa digerakkan dan kutukan Parashurama membuatnya tidak bisa membela diri. Khrisna mengingatkan Arjuna kekejaman Karna ketika ikut mengeroyok Abhimanyu yang sampai mati bertarung tanpa kereta dan senjata. 

Dengan penuh kemarahan dan kesedihan Arjuna melepaskan panah Anjalika ke arah Karna. Karna jatuh ke tanah dengan luka yang mematikan. Tetapi ujian untuknya belumlah berakhir. Khrisna menyamar sebagai seorang pertapa dan meminta sedekah kepadanya. Karna yang terluka parah tidak memiliki apa pun untuk diberikan, kemudian ia ingat masih memiliki satu gigi emas. Dengan penuh kesakitan Karna melepaskan gigi emasnya, membersihkannya kemudian memberikannya kepada Khrisna. Dengan demikian Karna menjadi satu-satunya manusia yang telah memberikan sedekah kepada Vishnu sendiri. Terharu dengan kemurahan hati Karna, Khrisna memberikan kesempatan kepada Karna untuk mengajukan satu permintaan kepadanya. Karna meminta agar jenasahnya diperabukan di tempat yang paling suci di dunia. Sebagai Vishnu, Khrisna kemudian memperabukan jenasah Karna ditelapak tangannya. 

Setelah kematian Karna, Kunti memberitahu Pandava bahwa Karna adalah putranya dan saudara tertua mereka. Para Pandava kemudian berkabung untuk Karna. Yudhistira, terutama, begitu terpukul mengetahui ibunya merahasiakan kenyataan bahwa Karna adalah saudara tertua mereka yang seharusnya mereka hormati dan patuhi. Ia kemudian mengeluarkan sabda agar sejak saat itu semua perempuan tidak lagi bisa menyimpan rahasia apapun untuk diri mereka sendiri. Pada hari kedelapanbelas, Kaurava tertumpas. Perang Bharatayudha berakhir, dan Yudhistira menjadi raja Hastinapura. Perbedaan dengan Arjuna
banyak persamaan antara Arjuna dan Karna. Keduanya adalah ahli memanah, dan saling bersaing untuk mendapatkan Draupadi. Keduanya juga mempunyai ikatan yang erat dengan kaurava, baik karena pertalian darah maupun karena persahabatan. Percakapan Karna dengan Khrisna sangat mirip dengan Bhagavad Gita yang terkenal itu, dalam mana Khrisna menjelaskan kepada Arjuna tentang kewajibannya sebagai seorang Khsatriya. Perbedaan mereka terletak pada keputusan yang diambil oleh masing-masing: Arjuna mengutamakan tugasnya sebagai seorang Khsatriya yang harus membela kebenaran apapun yang terjadi dan Karna mengutamakan persahabatanya dengan Duryodhana. 

Beberapa Pendapat yang mendukung Superioritas Karna atas Arjuna
Banyak pendapat bahwa alasan Bhisma untuk tidak memperbolehkan Karna bertempur bersamanya ketika ia menjadi senapati adalah rasa cintanya kepada Pandava. Jika Bhisma dan Karna muncul bersamaan di medan perang, Pandava tidak akan mampu memenangkan Bharatayudha. Saat itu Bhisma berdalih bahwa karena Karna berasal dari kasta yang lebih rendah. Dalam suatu kejadian saat pertempuran Karna dan Arjuna, kereta Arjuna terpental ke belakang beberapa meter oleh panah Karna. Khrisna memuji kehebatan Karna karena hal ini. Arjuna, yang panahnya mementalkan kereta Karna berpuluh-puluh meter, heran atas pujian Khrisna ini dan meminta penjelasan kepadanya. Khrisna menjawab, “Arjuna, aku sendiri yang memiliki berat seluruh alam semesta duduk di kereta ini dan kereta ini juga dilindungi oleh Hanuman (kereta Arjuna memakai bendera Hanuman). Bila hanya engkau sendiri yang ada di kereta ini, kereta ini akan terlempar mengeliling. 

Kelahiran Karna
Ibu dari Karna dan Panca Pandawa yaitu Kunti, pernah mencoba sebuah aji pada masa kecilnya untuk memanggil seorang Dewa. Yang dipanggilnya adalah Dewa Matahari dan beliau membuatnya hamil. Putranya akan keluar dari telinga untuk menjaga keperawanan Kunti, maka dinamakannya Karna. Nama-nama Karna lainnya berhubungan dengan statusnya sebagai putra Dewa Matahari, yaitu Arkasuta, Suryatmaja dan lain sebagainya. Oleh ibunya, Karna dihanyutkan di sungai sampai ia ditemukan oleh seorang Prabu Radeya dan diangkat anak, sayangnya kerajaan Prabu Radeya tunduk kepada Hastinapura dan ia dibesarkan oleh seorang sais prabu Dretarastra, yang bernama Nandana atau Adirata. 
Meskipun Karna masih saudara seibu dengan Yudistira, Werkodara, dan Arjuna, tetapi para Pandawa tidak mengetahuinya sampai ia gugur di perang Bharatayuddha. Sehingga mereka suka menghinanya. 

Pemanah tangguh
Karna sangat mahir menggunakan senjata panah. Kesaktiannya setara dengan Arjuna. Mempunyai senjata andalan bernama Kunta. Suatu ketika, ketika terjadi uji tanding antara Korawa dengan Pandawa sebagi murid-murid Dorna, Karna berhasil menandingi kesaktian Arjuna. Namun karena Karna bukan raja atau anak raja maka beliau diusir dari arena. Karena mengetahui kesaktiannya, maka Duryodana, ketua para Korawa mengangkatnya menjadi raja Awangga. Sejak itu Karna bersumpah setia kepada Duryodana. 

Senjata andalannya, panah kunta adalah pemberian batara Narada karena beliau mengira bahwa Karna adalah Arjuna karena kemiripannya. Panah tersebut adalah senjata yang paling ampuh, bahkan melebihi cakra prabu kresna dan pasopati Arjuna, namun untungnya hanya sekali pakai. Sarung dari panah tersebut yang masih disimpan Batara Narada kemudian dititpkan ke Bima untuk diberikan ke Arjuna adalah saat para pandawa mengetahui bahwa Batara Narada salah alamat. Sarung dari Kunta tersebut kemudian dipakai untuk memutus tali pusar bayi Tetuka/ Gatotkaca. 

Kesaktian yang didapat Karna dalam versi lain
Karna dilahirkan memakai anting-anting dan baju kebal pemberian ayahnya (Batara Surya). Kunti, ibunya, mengenal dirinya saat adu ketrampilan murid-murid Dorna karena melihat anting-anting tersebut. Selama memakai kedua benda ini Karna tidak akan mati oleh senjata apapun. Hal ini diketahui oleh Batara Indra yang sangat menyayangi Arjuna. Oleh karena itu beliau meminta benda tersebut dengan menyamar sebagai seorang pengemis. Batara Surya mendahuluinya dengan menemui Karna terlebih dulu dan memperingatkan Karna. Tapi Karna menganggap mati dalam perang tanding lebih terhormat daripada panjang umur. Batara Surya kemudian menyarankan Karna untuk meminta senjata ampuh sebagai kompensasi atas kedua benda tersebut. Hal ini disanggupi Karna. Ketika pengemis itu datang, Karna langsung mengenalinya dan memberi hormat dan pengemis itu berubah kembali menjadi Batara Indra. Sebagai kompensasi, Batara Indra memberi senjata Kunta kepada Karna. 

Peran Karna dalam Bharatayuddha
Kresna mengetahui bahwa Karna adalah pandawa sulung, namun lain ayah. Dan semua tahu bahwa Karna lah pemilik Kunta. Kresna sempat ingin membuat Karna memihak pandawa pada Bharatayuda mendatang dan ia mengatur sebuah pertemuan rahasia antara Karna dan ibunya Kunti. Karna pun memelas setelah ia melihat ibunya menangis namun ia menganjurkan ibunya untuk tetap tegar karena ia melakukan kewajiban bela negara ia juga memberi tahu ibunya bahwa selain dia berkorban demi negara ia juga akan menyelamatkan para Pandawa lima karena ia tidak akan menggunakan panah Kunta untuk membunuh Arjuna dan saat ia berperang dengan Arjuna dia memastikan bahwa Arjuna tidak tahu bahwa Karna adalah kakaknya sendiri sehingga tidak segan membunuhnya. 
Pada perang Bharatayuddha, ia membunuh Gatotkaca dan hampir membunuh Arjuna. Tetapi Arjuna menang bertanding dan Karna pun gugur. Baru setelah Karna gugur, para Pandawa mengetahui asal usulnya dan mereka sangat terpukul oleh hal ini.
Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • (tanpa judul)
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Wayang Kulit

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates