Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us
Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Bijaksana & Wibawa
Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.
Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.
Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.
Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.
Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.
Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang.
Tari Topeng Cirebon, kini menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh Raja, namun, raja-raja Cirebon  tak bisa terus menerus menghidupi kelompok kesenian karena kegiatan ekonominya diatur oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga saat itu para penari dan penabuh gamelan akhirnya mencari mata pencaharian dengan mbebarang  atau pentas keliling kampung.
Dahulu pada tahun 1980 an Seni tari Topeng ini sering di peragakan oleh sekelompok penari jalanan untuk mencari nafkah dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Cirebon,  Sejak itu, Tari Topeng Cirebon mulai dikenal di pedesaan. Grup-grup Tari Topeng Cirebon bermunculan dan beberapa grup tari topeng sibuk mbebarang  dari desa ke desa untuk memeriahkan hajatan. tapi entah mengapa saat ini sudah sangat jarang di peragakan oleh para grup tari keliling.
Sejarah Tari Topeng Cirebon
Konon pada awalnya, Tari Topeng ini  diciptakan oleh sultan Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang
Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.
Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng,
Babak Pentas Tari Topeng Khas Cirebon
Pementasan Tari Topeng Cirebon ini berlangsung selama 5 babak, dan setiap babak berjalan 1 jam, Topeng yang muncul ada 5 tokoh, yaitu topeng Panji, Samba, Tumenggung, Kalana dan Rumyang. dan Kelima tokoh ini dibawakan oleh penari yang sama, yaitu dalang topeng.
Kelima topeng itu menggambarkan watak manusia.
Topeng Panji menggambarkan watak manusia yang arif, bijaksana, dan rendah hati.
Topeng Samba menggambarkan watak manusia yang suka hura-hura dan penuh canda.
Topeng Tumenggung menggambarkan watak ksatria yang gagah berani dan percaya diri.
Topeng Kalana menggambarkan sifat manusia yang tamak dan
Topeng Rumyang melambangkan sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk masyakarat Cirebon, kesenian Tari Topeng ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, karena pada awal kemunculannya, kesenian topeng, menjadi sarana penyebaran agama Islam pada masa Sunan Gunung Jati. Tujuannya, agar bisa lebih dekat dengan masyarakat yang dituju.



  1. Unsur-Unsur Pembentuk Topeng Modern Karya Anom

            Topeng merupakan salah satu peninggalan seni budaya Bali yang memiliki bentuk dan karakter yang khas. Unsur-unsur bentuk yang digunakan untuk mewujudkan seni topeng tidak berbeda dengan unsur-unsur seni rupa lainnya seperti titik, garis, bidang, warna, tekstur dan ukuran yang secara visual dapat dilihat. Melalui unsur visual ini, melalui pahatan dan sapuan kuas, seseorang dapat mewujudkan bentuk dan karakter seni topeng sesuai dengan keinginnannya. Selain itu, bagian-bagian yang sangat menentukan terwujudnya suatu bentuk karya seni adalah pemahaman tentang ‘kerangka’ dari pengertian unsur-unsur rupa itu sendiri sehingga seorang seniman akan mampu membuat karya seni rupa menjadi lebih sempurna dan metaksu. Anom mengkombinasi titik dalam karya topengnya, merupakan keunikan dan karakter dari kreativitasnya terutama dalam memberikan ornamen untuk hiasan lainnya. Satu titik saja belum dapat berbicara mengungkapkan suatu ekspresi, namun susunan dari empat sampai lima saja mampu membentuk ragam hias seni topeng yang beraneka bentuk. Seperti misalnya dalam topeng yang berjudul ”Garam dan Merica” merupakan kumpulan titik yang disusun sedemikian rupa sebagai motif topeng untuk menghiasi bentuk topeng dengan nilai keindahan tersendiri sebagai ungkapan karya seni yang memiliki makna ganda yaitu bermakna simbolis dan bermakna estetik. Dalam seni topeng Anom, titik disini tidak saja digunakan sebagai ungkapan ekpresi semata, tetapi juga digunakan sebagai pembentuk karakter yang mempunyai kekuatan magis.
             Kehadiran garis dalam seni topeng dapat membarikan banyak arti, seperti misalnya garis sebagai pembentuk karakter topeng, garis sebagai pembentuk bidang, garis sebagai pembatas bidang, dan garis sebagai simbol. Garis dalam seni topeng modern Anom, dimanfaatkan sesuai dengan bentuk yang mengacu pada fungsi, sehingga garis ungkapannya dapat membentuk simbol, membatasi bidang, pembagi bidang dan juga dapat memberikan karakteristik karyanya. Dengan demikian ungkapan garis dalam karya-karyanya, Anom dalam hal ini dapat memberikan banyak arti baik secara kasat mata maupun secara abstrak yang membentuk keindahan sebagai ungkapan pribadinya. Garis-garis ekpresi yang ditampilkan pada topeng Anom merupakan garis-garis yang tegas. Hal ini membuktikan bahwa Anom merupakan seniman topeng yang sudah sangat berpengalaman, dan terlatih, di dalam mengekpresikan isi hatinya tanpa adanya keraguan. Di dalam mengungkapkan garis-garis baik sebagai pembentuk karater atau pun sebagai simbol, di ungkapkan melalui tehnik sigar mangsi atau dengan gradasi warna muda ke warna tua dan sebaliknya. Ungkapan garisnya terkadang juga di berikan warna keemasan (prada) yang mengalir begitu saja tanpa ada sekat pembatas sehingga ungkapan garisnya menjadi ciri khas ungkapan seniman Bali yang lembut tetapi tegas, seperti terungkap pada garis mata, lekukan pipi, guratan dahi dan garis-garis ornamen penghias topengnya. Ungkapan garis tersebut diatas merupakan olahan seni yang di landasi atas karakter topeng yang akan dibuatnya seperti misalnya garis-garis yang diungkapkan melemgkung turun dapat memberikan kesan kesedihan, tua dan ketakutan. Sedangkan garis-garis yang diungkapkan melengkung ke atas memberikan kesan kegembiraan dan tersenyum. Karakter garis seperti ini amat dikuasai oleh Anom sehingga karya-karyanya terkesan sangat realistik dan penuh dengan nilai-nilai keindahan. Ungkapan garisnya diawali dengan tehnik pahatan yang selajutnya dipertegas dengan warna, baik dalam tehnik sigar mangsi maupun dikontur sehingga garis-garisnya menjadi jelas dan tegas. Dengan demikian garis-garis yang diungkapkannya sangat ekpresif dan tegas, bertujuan pula agar terkesan lebih natural.
         Adanya unsur bidang adalah unsur yang menunjukkan kesan keluasan, kedalaman, cekungan, jauh dan dekat. Dalam karya rupa bidang berfungsi: (a) untuk menekankan nilai ekspresi dan nilai gerak (movement), nilai irama (rhythm) dan nilai arah (direction); (b)  untuk memberikan batas dan bentuk serta ruang seperti yang tampak pada bangunan patung dan topeng; (c) untuk memberikan kesan trimatra (tiga dimensi) yang ditimbulkan oleh batasan panjang, lebar dan tinggi. Selain itu, bidang juga memiliki sifat tersendiri seperti (a) Bidang harizontal dan vertikal yang memberikan kesan tenang, statis, stabil dan gerak; (b) Bidang bundar yang memberikan kesan kadang-kadang stabil, kadang-kadang gerak; (c) Bidang segitiga yang memberikan kesan statis maupun dinamais; (d) Bidang bergelombang (cekung dan cembung) yang memberikan kesan irama dan gerak. Bentuk bidang dalam karya rupa terdiri dari bidang negatif bidang positif. Bidang negatif adalah apabila bidang itu terbentuk dengan tiga garis atau empat garis dan dianggap berlubang atau tembus, hingga garis yang dibuat berfungsi sebagai contur, contoh konkritnya adalah lubang mata pada topeng. Sedangkan Bidang Positif, apabila bidang tersebut terbentuk berjajar dan bersambungan garis-garis yang banyak, contoh konkritnya adalah keras, bidang yang dibuat dari bambu yang dirajut. Dalam seni topeng modern karya Anom, bidang dimanfaatkan sebagai pembentuk karakter dan identitas topeng. Selain itu, juga bidang dimanfaatkan untuk menekankan nilai ekspresi, nilai gerak, nilai irama, dan nilai arah yang terbentuk melalui ruang negatif. Pemanfaatan ruang negatif seperti tersebut di atas juga dapat memberikan ruang gerak yang estetis sehingga kelincahan pemakainya dapat terungkap sesuai dengan keinginannya. Perwujudan Ruang semacam ini juga mempunyai fungsi untuk memudahkan si pemakai dalam berkomunikasi (bersuara) dan melihat disekitarnya disaat topeng tersebut dipergunakan.
Tekstur yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan bidang dibedakan antara tekstur alamiah (artificial textur) dan tekstur buatan (natural texstur). Tekstur alamiah adalah watak bidang yang tercipta oleh alam, seperti urat kayu atau batu. Tekstur buatan atau tiruan ialah watak bidang yang dibuat (disebut juga tekstur simulasi), untuk membuat watak bidang kayu berkesan tertentu dengan cara tehnik gambar tertentu (Kartika,2004: 226).  Dengan demikian tekstur memiliki fungsi untuk memberikan watak tertentu pada bidang permukaan yang dapat menimbulkan nilai estetik. Misalnya tekstur dari urat-urat kayu ditonjolkan pada permukaan bidang sesuai dengan bentuknya. Pembentukan tekstur bisa terjadi dari tiga proses, yaitu proses kimiawi (chemis). proses mekanik, proses alami, proses cetak (buatan tangan). Dalam seni topeng modern karya Anom, tekstur yang diungkapkan merupakan kualitas yang dapat dilihat dan diraba yang diberikan oleh permukaan topeng melalui ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian-bagian topeng tersebut. Fungsi teksturnya dapat menentukan sampai dimana permukaan topeng dapat memantulkan atau menyerap cahaya yang ada mengingat fungsi dari topeng sebagai penutup muka dalam pementasan drama tari. Namun secara umum tekstur Anom dalam karyanya lebih menekankan pada tekstur halus dan tekstur semu. Tekstur halus sebagai ungkapan untuk pencapaian keindahan yang sempurna sehingga karya-karyanya berkesan seperi dilapisi kaca namun tidak memantulkan cahaya dan berkesan doof. Sedangkan tekstur semu sebagai ungkapan untuk memberikan kesan antiques, serperti terungkap dalam karya-karyanya yang memiliki kesan kasar dan berbintik-bintik akan tetapi bila diraba berkesan sangat halus dan merata.
Masa kini, orang mempercayai warna sebagai ungkapan emosi pribadi. Namun pada zaman dahulu tidak akan ditemukan warna sebagai ungkapan pribadi, karena seni pada zaman Hindu - Budha  diabdikan kepada agama, dan raja. Untuk beberapa abad berikutnya para perupa mempergunakan warna dengan meniru warna alam (naturalistik) atau warna sebagai wakil dari benda yang sebenarnya. Penonjolan warna merupakan ekpresi yang kedua bagi perupa-perupa abad tersebut sehingga kurang memberikan kesan ekpresif. Sejak abad 19 para seniman menganggap warna merupakan alat ekspresi yang digunakan secara serius dan konsekuen.


WAYANG KULIT




Wayang kulit adalah kesenian tradisional Indonesia yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat jawa. Kesenian ini banyak ditampilkan ketika ada sebuah perhelatan seperti pesta dan sebagainya. Ternyata, wayang kulit tidak hanya dijadikan sebagai sebuah pertunjukan melainkan juga digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa.

Wayang kulit diyakini sebagai awal dari berbagai jenis wayang yang berkembang saat ini. Wayang jenis ini terbuat dari lembaran kulit kerbau yang sudah dikeringkan sebelumnya. Wayang kulit dibentuik sedemikian rupa agar membuat geraknya menjadi dinamis.Pada bagian siku-siku tubuhnya disambung dengan menggunakan sekrup yang terbuat dari tanduk kerbau. Lalu bagaimanakah sebenarnya asal mula dari Kesenian wayang kulit ini? Siapa pencetus pertamanya? Berikut ini adalah ulasannya.

Asal mula kesenian wayang kulit ini, tidak lepas dari sejarah wayang itu sendiri. Wayang berasal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Ma Hyang” yang berarti berjalan menuju yang maha tinggi (bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun Dewa). Akan tetapi, sebagian orang mengartikan bahwa wayang berasal dari bahasa jawa yang berarti bayangan.

Hal tersebut dikarenakan ketika penonton menyaksikan pertunjukan ini mereka hanya melihat bayangan yang digerakkan oleh para dalang yang juga merangkap tugas sebagai narator. Dalang merupakan singkatan dari kata-kata ngudhal piwulang.

Ngudhal berarti menyebar luaskan atau membuka dan piwulang berarti pendidikan atau ilmu. Hal tersebut menegaskan bahwa posisi dalang adalah sebagai orang yang mempunyai ilmu yang lebih serta membagikannya kepada para penonton yang menyaksikan pertunjukan wayang tersebut.

Sementara itu, untuk asal usul dari sejarah wayang kulit ini belum ada bukti yang konkret. Ada yang mengatakan bahwa wayang kulit ada sebelum abad pertama yang bertepatan dengan munculnya ajaran Hindu dan Budha ke area Asia Tenggara. Hal ini dipercaya sebagai asal mula munculnya wayang kulit datang dari India ataupun Tiongkok.

Pembuatan 

Wayang kulit dibuat dari bahan kulit sapi yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda.

Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.

Jenis-jenis wayang kulit berdasarkan daerah :
Wayang Kulit Cengkok Kedu
Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
Wayang Kulit Gagrag Surakarta
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran
Wayang Bali
Wayang Kulit Banjar ( Kalimantan)
Wayang Palembang (Sumatra Selatan)
Wayang Betawi (Jakarta)
Wayang Kulit Cirebon (Jawa Barat)
Wayang Madura (sudah punah)
Wayang Siam

PAGELARAN WAYANG KULIT
Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan.

Pagelaran wayang kulit dimainkan oleh seorang yang kiranya bisa disebut penghibur publik terhebat di dunia. Bagaimana tidak, selama semalam suntuk, sang dalang memainkan seluruh karakter aktor wayang kulit yang merupakan orang-orangan berbahan kulit kerbau dengan dihias motif hasil kerajinan tatah sungging (ukir kulit). Ia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan dan bahkan menyanyi. Untuk menghidupkan suasana, dalang dibantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan para sinden yang menyanyikan lagu-lagu Jawa.

Tokoh-tokoh dalam wayang keseluruhannya berjumlah ratusan. Orang-orangan yang sedang tak dimainkan diletakkan dalam batang pisang yang ada di dekat sang dalang. Saat dimainkan, orang-orangan akan tampak sebagai bayangan di layar putih yang ada di depan sang dalang. Bayangan itu bisa tercipta karena setiap pertunjukan wayang memakai lampu minyak sebagai pencahayaan yang membantu pemantulan orang-orangan yang sedang dimainkan.

Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas.

Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Sebuah pagelaran wayang semalam suntuk gaya Yogyakarta dibagi dalam 3 babak yang memiliki 7 jejeran (adegan) dan 7 adegan perang. Babak pertama, disebut pathet lasem, memiliki 3 jejeran dan 2 adegan perang yang diiringi gending-gending pathet lasem. Pathet Sanga yang menjadi babak kedua memiliki 2 jejeran dan 2 adegan perang, sementara Pathet Manura yang menjadi babak ketiga mempunyai 2 jejeran dan 3 adegan perang. Salah satu bagian yang paling dinanti banyak orang pada setiap pagelaran wayang adalah gara-gara yang menyajikan guyonan-guyonan khas Jawa.

Dalang wayang kulit
Dalang adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang kulit (wayang purwa). Dalam terminologi bahasa jawa, dalang (halang) berasal dari akronim ngudhal Piwulang. Ngudhal artinya membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang artinya ajaran, pendidikan, ilmu, informasi. Jadi keberadaan dalang dalam pertunjukan wayang kulit bukan saja pada aspek tontonan (hiburan) semata, tetapi juga tuntunan. Oleh karena itu, disamping menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, dalang haruslah seorang yang berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh baik pada permainan tersebut.

Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almarhum Ki Surono (

Banjarnegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogya), almarhum Ki Hadi Sugito (Kulonprogo, Jogjakarta),Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Anom Suroto (gaya Solo), Ki Manteb Sudarsono (gaya Solo), Ki Enthus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur), almarhum ki sugino siswocarito (gaya banyumas). Sedangkan Pesinden yang legendaris adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.





KEANEKARAGAMAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA





Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansakerta adalah BUDDHI yang artinya akal. Budaya merupakan aspek atau elemen yang berkenaan bersama budi dan akal manusia. Indonesia memiliki banyak keanekaragaman kebudayaan yaitu kebudayaan etnik dan juga kebudayaan asing yang telah ikut masuk ke indonesia, sedangkan kebudayaan nasional indonesia itu sendiri sudah ada sejak indonesia merdeka, sehingga kebudayaan yang sangatlah perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi muda saat ini, agar kekayaan kebudayaan yang dimiliki indonesia menjadi ciri khas tersendiri bagia negara indonesia, guna menunjukan betapa banyaknya kesenian budaya yang ada diindonesia telah dilestarikan dan dibudayakan oleh bangsa kita.Karena keanekaragaman budaya dan keunikan yang dimiliki indonesia menjadi yang memiliki indonesia menjadi daya tarik bagi bangsa lain dari belahan dunia yang mau mengetahuinya bahkan mereka pula ikut mempelajarinya.

Indonesia ialah suatu negeri di Asia Tenggara dimana membentang hamparan alam hijau yang luas, dengan beraneka ragam tipe hayati yang mampu menciptakan tiap-tiap orang terkesima.Tanah yang subur bersama beraneka ragam sumber daya alam yang ada dan nyaris seluruhnya bangsa di dunia membutuhkannya. Hal itu yang menjadi sekian banyak negeri mau menguasainya dengan kiat menjajah indonesia.

Budaya sendiri adalah identitas bangsa yang semesti dihormati, dijaga dan butuh dilestarikan biar kebudayaan ini terus ada sanggup jadi warisan anak cucu nanti. Budaya yang ada diindonesia dinamakan bersama budaya nasional.Sebagai contoh adanya kebudayaan diindonesia diantaranya seperti kesenian batik,kesenian reog, kesenian tari pendet, kesenian wayang dan banyak yang lainnya. Kebudayaan tersebut sangat khas dan terkenal diindonesia.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang dapat menghargai dan bangga akan kebudayaan sendiri. karena dari kebudayaan suatu bangsa dapat dilihat tingkat kemajuan dan intelektualitas masyarakat. Indonesia sebagai bangsa yang plural dengan ragam kebudayaannya mampu menarik perhatian dunia.Indonesia adalah salah satu Negara kesatuan yang di dalamnya dipenuhi dengan keragaman serta kekayaan. Ada berbagai suku bangsa dan budaya serta ras, daerah dan juga kepercayaan agama. Selain itu, masih banyak lagi keragaman budaya yang ada di Indonesia.Akan tetapi, sekalipun dipenuhi dengan keragaman, Indonesia bisa mempersatukan hal itu sesuai dengan semboyan yang dimiliki oleh Negara ini, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Adapun makna dari Bhineka Tunggal Ika sendiri adalah sekalipun berbeda-beda namun tetap satu jua.
Keragaman budaya sendiri juga dikenal dengan istilah cultural diversity dan ini sudah menjadi sebuah keniscayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Di Negara ini pula, keragaman budaya merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak lagi keberadaannya.

Di dalam konteks yang dipahami oleh masyarakat majemuk, di samping kebudayaan dan juga suku bangsa, Indonesia juga terdiri dari berbagai adat dan budaya daerah yang sifatnya lebih mengarah kepada kewilayahan yang menjadi pertemuan antara adat yang satu dengan yang lainnya.Kebudayaan sekelompok suku yang ada di kawasan tersebut.Pada sisi yang lain, Indonesia juga memiliki kemampuan untuk menelisik dan juga mengembangkan budaya lokal di tengah maraknya singgungan antara bangsa satu dengan bangsa yang lainnya di kala itu. Dan sejarah sendiri sudah memberikan bukti bahwa kebudayaan yang ada di Indonesia dapat hidup dengan berdampingan, saling mengisi dan juga mampu berjalan secara paralel.

Misalnya saja adalah kebudayaan keraton atau kerajaan yang mampu berdampingan secara paralel dengan kebudayaan berburu serta meramu di beberapa kelompok masyarakat. Di dalam konteks saat ini, kita dapat menjumpai tentang bagaimana suatu kebudayaan dalam masyarakat urban dapat berjalan secara pararel dengan kebudayaan yang terdapat di pedesaan bahkan dengan kebudayaan masyarakat seperti berburu dan juga meramu di beberapa tempat.

Pola relasi dan juga hubungan yang sudah terjalin di antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain tersebut dapat berjalan dengan damai di dalam bingkai semboyan Bhineka Tunggal Ika. Yang di dalamnya tidak hanya mengacu kepada keberagaman suku bangsa dan budaya, namun juga di dalam sebuah konteks kebudayaan.

Masyarakat Indonesia sendiri termasuk ke dalam jenis masyarakat yang bisa dibilang majemuk dan juga memiliki karakter unik. Salah satu ciri khasnya adalah budaya gotong royong yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia khususnya bagi para generasi bangsa sudah selayaknya memiliki kemampuan untuk menjaga dan juga melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa tercinta ini.

Jangan sampai perbedaan yang ada di dalamnya menjadikan manusia semakin lemah dan juga memunculkan adanya konflik antar budaya dan suku. Namun, mari bersama-sama menyongsong Indonesia yang memiliki kejayaan ini dengan penuh harapan indah dan juga semangat yang tinggi.

MANFAAT KEBERAGAMAN BUDAYA



Keragaman budaya yang terdapat di Indonesia sesungguhnya memiliki manfaat tersendiri. Di antara manfaat dari keberagaman budaya adalah sebagai berikut ini.

1. Sebagai Promotor Nilai-Nilai Kemanusiaan
Manfaat dari keragaman budaya yang pertama adalah ia bisa dijadikan sebagai promotor untuk nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Di saat sebuah organisasi memiliki berbagai karyawan yang memiliki berbagai budaya, maka hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa organisasi tersebut sangat menyadari dan mengakui serta merayakan keberagaman yang ada pada seseorang yang pada dasarnya memiliki latar belakang berbeda.

Hal ini tentu saja menjadikan anggota organisasi tersebut berpikiran bahwa kontribusi dan juga nilai mereka sedang direalisasikan di dalam sebuah managemen organisasi yang baik.

2.Meningkatkan Produktifitas dan juga Profitabilitas
Untuk manfaat dari keragaman budaya yang selanjutnya adalah membantu meningkatkan produktifitas dan juga profitabilitas. Terlepas dari berbagai nilai kemanusiaan yang ada, keragaman budaya ternyata juga bisa memberikan manfaat yang nyata kepada bidang bisnis di berbagai belahan dunia.

Persuasi secara aktif soal keberagaman yang ada di berbagai tempat kerja secara langsung tentunya dapat memberikan dampak di dalam meningkatkan produktivitas dan juga profitabilitas organisasi dan juga karyawan. Juga meningkatnya produktivitas dan profitalibitas di dalam organisasi.

3.Membantu Membuat Kolam Bakat
Selain beberapa yang telah disebutkan di atas, manfaat lain dari keragaman budaya di Indonesia adalah dalam membantu membuat suatu kolam bakat. Ketika organisasi telah melakukan investasi dalam keberagaman, maka hasilnya di dalam menciptakan suatu kolam bakat tentu saja juga lebih besar.Ini menjadi sebuah situasi entah itu untuk karyawan dan juga organisasi. Sebagaimana sebuah kolom bakat yang menyediakan organisasi dengan berbagai keunggulan kompetensi yang bisa membantu memajukan dan juga membantu meningkatkan lingkungan yang besar.

4.Bertukar Ide Ide Inovatif
Ketika di dalam sebuah organisasi, di dalamnya ada berbagai orang atau anggota dengan beragam latar belakang, budaya, pengalaman, ide yang kreatif dan juga inovatif di dalamnya, maka itu bisa menopang setiap orang di dalam pikiran yang berbeda-beda.

Hal ini amatlah wajar karena orang-orang hidup dengan beragam pengalaman dan juga beragam prespektif di dalamnya sehingga diharapkan itu akan mampu menghasilkan suatu ide jenius dan juga solusi yang terbaik untuk berbagai masalah yang sedang dihadapi. Ini merupakan sebuah nilai yang besar untuk karyawan dan juga organisasi.

Pertukaran ide yang bisa berjalan secara dinamis akan terjadi di antara orang dengan perbedaan persepsi di dalamnya dan itu bisa membuahkan suatu ide atau hasil yang lebih kreatif. Situasi semacam ini juga pernah dibuat oleh beberapa orang yang memiliki pola pikir serta budaya yang sama.

5.Manfaat Keanekaragaman
Sudah sangat banyak studi yang sangat berhubungan dengan kegiatan organisasi yang bisa menyimpulkan suatu pemahaman bahwa mempromosikan keberagaman budaya ternyata dapat mengurangi adanya ketidak hadiran.

Adanya perputaran dari karyawan yang notabene lebih rendah akan dapat mengurangi biaya yang notabene itu mempunyai hubungan dengan perekrutan karyawan baru dan juga mengurangi adanya tanggung jawab hukum di dalam menggugat diskriminasi.

Di dalam dunia saingan ini, keragaman budaya sendiri ternyata memiliki cukup banyak manfaat di dalamnya. Masyarakat Indonesia sendiri adalah masyarakat yang di dalamnya terdapat berbagai suku bangsa yang lebih dari 13 ribu pulau yang terdapat di berbagai belahan dunia Indonesia.Dan masing-masing suku bangsa sendiri memiliki identitas budaya, sosial, politik, bahasa, adat dan juga tradisi yang ada di Indonesia sendiri.

CIRI KEBERAGAMAN KEBUDAYAAN LOKAL DI INDONESIA
Keragaman budaya itu memiliki beberapa ciri khusus. Berikut ini adalah ciri-ciri keragaman budaya yang wajib diketahui.

1. Keragaman Suku Bangsa

Melalui ilmu antropologi, maka dapat diambil pemahaman bahwa nenek moyang bangsa ini asalnya adalah dari daerah Yunani dan juga Cina Selatan. Sekitar tahun 3000-500 SM, Indonesia sudah menjadi daerah yang ditempati oleh para penduduk migran dari Submongoloid Asia. Sesudah itu, mereka bercampur dengan penduduk asli pribumi Indonesia yang asalnya adalah dari Asia Selatan.
Klasifikasi suku bangsa yang terdapat di Indonesia sendiri menurut Van Vollenhoven yang kemudian membagi Negara ini menjadi 19 kawasan suku bangsa, di antaranya adalah :

1. Keragaman Suku Bangsa

Melalui ilmu antropologi, maka dapat diambil pemahaman bahwa nenek moyang bangsa ini asalnya adalah dari daerah Yunani dan juga Cina Selatan. Sekitar tahun 3000-500 SM, Indonesia sudah menjadi daerah yang ditempati oleh para penduduk migran dari Submongoloid Asia. Sesudah itu, mereka bercampur dengan penduduk asli pribumi Indonesia yang asalnya adalah dari Asia Selatan.
Klasifikasi suku bangsa yang terdapat di Indonesia sendiri menurut Van Vollenhoven yang kemudian membagi Negara ini menjadi 19 kawasan suku bangsa, di antaranya adalah:
  • Aceh
  • Bangka dan juga Belitung
  • Bali dan juga Lombok
  • Gorontalo Melayu
  • Minangkabau, Mentawai
  • Kalimantan
  • Minahasa
  • Ambon
  • Jawa Barat
  • Sulawesi Selatan
  • Ternate
  • Sumatra Selatan
  • Irian
  • Timor
  • Gayo-Alas dan Batak
  • Jawa Tengah dan Jawa Timur
  • Surakarta dan Yogyakarta

2. Keragaman Bahasa

Bangsa ini masuk ke dalam jenis rumpun bahasa Austronesia (Australia-Asia). Salah seorang peneliti yang bernama Gorys Keraf kemudian membagi rumpun bahasa yang ada tersebut menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah sebagai berikut ini:
  • Bahasa Austronesia Barat atau yang dikenal dengan bahasa Indonesia atau Melayu yang terdiri ari Bahasa bahasa Hesperonesia (Indonesia bagian Barat) yang terdiri dari Aceh, Batak, Gayo, Minahasa, Melayu, Minangkabau, Lampung, Melayu Tengah, Bima, Mentawai, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Bali, Sasak, Gorontalo, Bugis, Toraja, Makasar, Manggarai, Nias, Sabu, dan Sumba. Kemudian Bahasa Indonesia Timur yang terdiri dari Bahasa Timor-Ambon, Sula Bacan, Haimahera Selatan-Irian Barat.
  • Bahasa Bahasa Austronesia bagian Timur atau Polinesia yang terdiri dari bahasa bahasa Melanesia (Melanesia dan pantai di bagian Timur Irian). Melanesia sendiri asalnya adalah dari bahasa Yunani yang merupakan suatu wilayah yang bentuknya memanjang dari kawasan Pasifik Barat sampai dengan Laut Arafura, Timur dan juga bagian laut Australia. Kemudian bahasa bahasa Heonesia (bahasa Makronesia dan juga Polinesia).

3. Keragaman Religi

Indonesia juga termasuk Negara yang di dalamnya memiliki berbagai agama atau kepercayaan yang beragam. Di Negara ini setidaknya ada enam agama yang sudah diakui oleh Negara secara resmi. Ke enam agama yang dimaksud tersebut adalah Islam, Budha, Katolik, Konghucu, dan juga Protestan.
Di samping itu, ada juga berbagai kepercayaan lain yang ada di tengah masyarakat dan berkembang di dalamnya.

4. Keragaman Seni dan Budaya

Selain beberapa keragaman yang disebutkan di atas, Indonesia juga memiliki seni dan juga budaya yang sangat beragam antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya.  Contoh dari wujud nyata dari keragaman seni dan budaya ini adalah seni tari, seni sastra, seni musik, seni drama, seni rupa dan masih banyak lagi yang lainnya.



FAKTOR PENYEBAB KEBERAGAMAN BUDAYA



Ada berbagai faktor yang menyebabkan munculnya keragaman budaya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Faktor dari Manusia
Ada beragam budaya yang ada di antaranya adalah disebabkan karena manusia. Secara umum, manusia adalah makhluk yang sangat suka terhadap berbagai jenis seni, misalnya seni musik, tari dan lain sebagainya. Di samping itu, masih ada juga bidang lain yang amat disukai oleh manusia. Karena kesukaan tersebut, maka kebudayaan di Negara ini menjadi amat banyak. Belum lagi, manusia sendiri memang bisa dibilang aktif dalam menciptakan suatu kebudayaan.

2. Faktor Lingkungan Alam
Selain disebabkan oleh manusia, faktor lain yang mempengaruhi keragaman budaya adalah faktor lingkungan alam. Misalnya saja terjadinya gunung meletus, gempa bumi, banjir, longsor dan sebagainya yang menyebabkan musim paceklik sehingga banyak masyarakat yang memilih untuk pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehingga ketika mereka memasuki tempat yang baru, sesudah beradaptasi, maka muncullah kebudayaan yang baru.

3. Faktor Perubahan Nilai dan Sikap
Masing-masing individu senantiasa berpegang teguh kepada yang namanya norma dan juga nilai yang ada di dalam hidup bermasyarakat. Nilai tersebut tentu saja sangat berpengaruh kepada perilaku manusia, baik secara individu atau kelompok.

Sehingga, ketika sebuah nilai tertentu berubah, maka kebudayaan manusia juga akan mengalami perubahan yang akhirnya menyebabkan keragaman budaya di tengah masyarakat.

Demikianlah ulasan mengenai keragaman budaya yang bisa dijadikan sebagai tambahan pengetahuan untuk Anda. Dengan mengetahui keragaman budaya dan berbagai hal yang berkaitan dengannya, maka seseorang akan semakin memahami perbedaan yang ada di mau menghargai budaya lain sehingga akan tercapai kedamaian dan ketentraman di Negara tercinta ini.


MASALAH AKIBAT KERAGAMAN BUDAYA


Mengatur masyarakat yang kesemuanya mempunyai perbedaan tersendiri dalam berbagai hal tentu saja menjadi hal yang lebih sulit jika dibandingkan dengan mengatur atau mengurus masyarakat atau kalangan yang kebetulan memiliki kehendak, ciri, adat istiadat yang sama.

Adapun ide yang menarik untuk digunakan sebagai solusi mengikis kesalahpahaman dan juga pertikaian di antara kelompok satu dengan yang lain dalam rangka membangun benteng yang pengertian adalah dengan multikulturalisme dan juga sikap toleransi dan juga empati di antara budaya yang satu dengan budaya yang lain.

1. Multikulturalisme
Multikulturalisme menjadi suatu istilah yang dipakai untuk menjelaskan suatu pandangan mengenai keragaman hidup di dunia ini. Ia juga bisa di maknai sebagai sebuah kebijakan kebudayaan yang lebih menekankan kepada penerimaan kepada adanya suatu realita keragaman dan juga berbagai jenis budaya yang terdapat di dalam kehidupan bermasyarakat dan itu sangat berkaitan dengan nilai-nilai, sistem, adat atau kebiasaan, budaya serta politik yang mereka anut.

Di dalam multikulturalisme, masyarakat dituntut untuk dapat melihat serta menyikapi adanya perbedaan. Multikulturalisme sendiri juga mengajak kepada segenap masyarakat untuk melihat adanya keragaman di dalam kacamata yang setara. Sehingga tidak ada satu pun budaya yang boleh merasa lebih tinggi dari budaya yang lainnya.

Selain itu, di dalam keragaman yang ada, tidak diperkenankan adanya suatu sikap atau tindakan yang diskriminatif kepada yang lain. Karena inilah yang dapat memicu munculnya konflik antar budaya dan golongan. Sehingga, seluruh suku bangsa dan juga budayanya perlu diperlakukan secara sama dan adil di dalam berbagai sisi kehidupan entah itu secara politik, sosial, hukum, pertahanan ataupun keamanan.Hanya dengan cara ini, semua suku bangsa akan saling bekerja sama dan saling membantu satu sama lain untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik dan maju lagi.

2. Toleransi dan Empati
Yang dimaksud dengan sikap toleransi adalah sebuah sikap menghargai dan juga menerima adanya perbedaan dengan kelompok lain. Sementara untuk empati sendiri adalah sebuah kondisi mental dimana seseorang merasa dirinya ada di dalam suatu kondisi atau perasaan yang sama dengan kelompok atau orang lain.
Kedua sikap ini sangatlah penting untuk ditumbuhkan di tengah masyarakat yang beragam seperti Negara ini. Karena cara berfikir yang demikian akan bisa membawa seseorang kepada sikap dan juga tindakan yang mengharapi satu sama lain.
Cirebon selain terkenal akan kesultanannya juga lekat dengan berbagai kesenian rakyat. Sayangnya beberapa kesenian tradisional ini hampir punah karena tergerus jaman.

Kesenian tradisional ini dulunya digunakan oleh Sunan Gunung Jati dan Wali Songo lainnya untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Selain itu kesenian ini juga digunakan sebagai alat diplomasi ketika Kesultanan Cirebon terancam kalah oleh serangan kerajaan lainnya.

Oleh karena itu patut bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang kesenian tradisional Cirebon yang hampir punah ini.

Minat generasi penerus yang kurang hingga tergerus oleh kesenian modern lainnya, membuat pelaku seni tradisional ini kian sedikit dan sampai sekarang hampir punah.

Misalnya Tarling yang terkenal di tahun 50-an mulai tergerus jaman seiring hadirnya musik dangdut. Selain tarling ada beberapa kebudayaan Cirebon dan tradisi Cirebon yang hampir punah yang akan diulas lebih lanjut berikut ini.

A. Kesenian Tradisional Cirebon Yang Hampir Punah

1. Tarling

Tarling adalah salah satu jenis musik yang populer di wilayah pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, terutama wilayah Indramayu dan Cirebon. Nama tarling diidentikkan dengan nama instrumen itar (gitar) dan suling (seruling) serta istilah Yen wis mlatar gage eling (Andai banyak berdosa segera bertaubat). Asal usul tarling mulai muncul sekitar tahun 1931 di Desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Saat itu, ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada warga setempat yang bernama Mang Sakim, untuk memperbaiki gitar miliknya. Mang Sakim waktu itu dikenal sebagai ahli gamelan. Usai diperbaiki, sang komisaris Belanda itu ternyata tak jua mengambil kembali gitarnya. Kesempatan itu akhirnya dipergunakan Mang Sakim untuk mempelajari nada-nada gitar, dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan.

Masyarakat pantura (Pantai utara) jawa barat diwilayah indramayu,cirebon dan wilayah sekitarnya seperti brebes dan subang pasti mengenal musik tarling.Alunan nada gitar dan sulingnya begitu akrab ditelinga masyarakat,irama musiknya yang dapat memberikan hiburan seakan mampu menghilangkan beban hidup yang menghimpit.Lirik lagu dan kisah didalamnya dapat mengajarkan pesan moral tentang kehidupan yang dibuat dalam bentuk drama atau musik.

Tarling berasal dari akronim yaitu Kitar lan Suling.Namun ada filosofi lain tentang nama tarling yaitu dalam bahasa cirebon Yen wis mlatar kudu eling (Yang sudah berbuat dosa harus ingat/bertobat).
Pada awal perkembangannya Tarling merupakan musik yang diiringi drama pendek bercerita tentang drama kehidupan seperti rumah tangga,kemiskinan,asmara,dan sosial.seperti kisah Saedah saini,Baridin,Nyupang kuntilanak dan ki mardiya yang semuanya bertemakan keadaan sosial masyarakat indramayu dan cirebon.


2. Sintren

Sintren, atau juga dikenal dengan nama Lais adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa, di bagian Barat dan Tengah. Dari Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas hingga Pekalongan.Tarian sintren merupakan sebuah seni tari tradisional dari Cirebon yang mengandung unsur magis. Nama sintren sendiri berasal dari gabungan dua kata, yakni si dan tren. Dalam bahasa Jawa kata si merupakan sebuah ungkapan panggilan yang memiliki arti ia atau dia. Sedangkan kata tren berasal dari kata tri atau putri. Sehingga sintren memiliki arti si putri atau sang penari.

Konon tarian sintren menceritakan kisah cinta Ki Joko Bahu dengan Rantamsari yang tidak disetujui oleh Sultan Agung, Raja Mataram. Ki Joko Bahu dan Rantamsari dipisahkan dan tersiar kabar bahwa Ki Joko Bahu meninggal. Namun Rantamsari tidak percaya dan mencari kekasihnya dengan menyamar sebagai penari sintren.

 3. Tari Topeng

Tari Topeng tak hanya terkenal di Jakarta saja namun juga menjadi kesenian tradisonal Cirebon. seni ini menunjukan berbagai cerita bersejarah dan penuh hikmah dalam bentuk tarian topeng.

Tari topeng berasal dari diplomasi dalam bentuk kesenian. Hal ini karena ketika pada masa Sunan Gunung Jati terjadi serangan dari Pangeran Welang dari Karawang.

Sunan Gunung Jati tidak bisa menandingi pedang Curug Sewu yang dihunus Pangeran Welang dan akhirnya Sultan Cirebon memutuskan diplomasi dengan kesenian untuk berdamai.


4. Kesenian Gambyung

Seni Gembyung adalah pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Seperti halnya kesenian terbang, gembyung digunakan oleh para wali yang dalam hal ini Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Seni ini adalah jenis musik ensambel yang di dominasi oleh alat musik yang disebut waditra.

Melalui perkembangannya Gembyung tak hanya bisa dijumpai dalam lingkungan pesantren saja melainkan sudah berkembang dan dapat ditemukan di acara-acara adat seperti Khitanan, Perkawinan, bongkar bumi, mapag sri, dan perayaan lainnya.

Kesenian Gembyung dalam pementasannya terdiri dari tiga alat musik yaitu kendang, kempling dan bangker. Kidung yang disajikan dalam pagelaranya antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar.Serta pemainnya mengenakan peci, kemeja putih dan sarung.

Kesenian seperti ini harus tetap dipertahankan karena mengandung nilai sejarah yang sangat kental, Gembyung harus tetap dijaga karena ini merupakan ciri khas dari kota yang memiliki segudang keunikan yaitu Cirebon.


B. Penyebab lunturnya budaya daerah


· Kurangnya kesadaran masyarakat

Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan ciri khas dari budaya tersebut.

· Minimnya komunikasi budaya

Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.

· Kurangnya pembelajaran budaya


C. Upaya untuk menjaga keutuhan budaya

Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman.


Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleg negara lain.Berikut beberapa hal yang dapat kita simak dalam rangka melestarikan budaya. Namun setiap usaha dan pembenahan demi kelestarian dan terjaganya budaya asli Indonesia pasti memiliki :

- Strengh (Kekuatan)

- Weakness (Kelemahan)

- Opportunity (Peluang)

- Threatment (Tantangan)

Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA
  • (tanpa judul)
  • Kesenian Tari Wayang Daerah (Tari Gambyong)
  • (tanpa judul)
  • Keunggulan adipati karna
  • TARI DEWI BANOWATI
  • PERTUNJUKAN TARI SINTREN
  • Wayang Kulit

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • Properti Tari Topeng
  • (tanpa judul)
  • TOKOH WAYANG GATOT KACA

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates