Kehidupan Adipati Karna

KEHIDUPAN ADIPATI KARNA


Dalam perjalanan hidupnya, Karna sebenarnya melewati cobaan yang sangat sulit. Kehadiran Karna di dunia pada dasarnya dapat dikatakan percobaan dewi Kunti terhadap mantera Adithyahrehdaya yang dianugerahkan kepadanya. Setelah terbukti berhasil, bayi yang seharusnya menjadi anugerah terbaik dari mantera itu justru dibuang begitu saja. Latar belakang kelahiran Adipati Karna tersebut dapat dianggap sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Di samping itu, statusnya sebagai anak kusir membuat Karna mengalami banyak cobaan dalam hidupnya, berbagai penolakan serta penghinaan kerap datang kepadanya, terutama dari para Pandawa. Sebagai seorang putera dewa, Karna ternyata dapat melewati semua cobaan tersebut dengan tabah, hingga akhirnya derajatnya sebagai seorang ksatria ”dikembalikan” oleh Duryudana. 


Dalam kehidupannya sebagai seorang Adipati di Awangga, Karna dikenal sebagai seorang bangsawan yang angkuh dan sombong. Jika ditelaah lebih dalam, pada dasarnya wajar-wajar saja ia bersikap seperti itu. Keangkuhan dan kesombongannya dapat dikatakan sebagai defense mekanisme dari dirinya. Mengingat pada masa lalunya ia selalu direndahkan dan dihina. Namun di balik keangkuhan dan kesombongannya tersebut, ia pun dikenal sebagai seorang ksatria yang sangat dermawan. Bahkan menurut salah satu versi Mahabharata, kedermawanannya tersebut mendapat pengakuan dari sang dewa Indra.

Di sisi yang lain, Adipati Karna sebagai seorang ksatria banyak melakukan rose si-manuver yang dapat dikatakan licik. Atas dasar itu pula akhirnya banyak orang memandang sosok Karna dengan stigma rose si. Kelicikan Karna antara lain, ketika ia mencoba memadu kasih dengan dewi Surtikanti, putera prabu Salya. Meskipun belum memiliki suami, namun Karna sebenarnya sudah mengetahui bahwa pujaan hatinya tersebut merupakan calon istri Duryudana. Tindakan Karna itu sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebuah pengkhianatan, mengingat ia dengan terang-terangan selalu berkata tentang hutang budinya kepada Duryudana. Hal ini pula yang menjadi indikasi bahwa Adipati Karna tidak dapat ditundukkan oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang berjasa besar terhadap hidupnya. Manuver lain yang dilakukan oleh Karna adalah berpura-pura menjadi resi ketika berguru kepada resi Parasurama demi mendapat kesaktian.

Pada perang Bharatayudha Adipati Karna sempat berselisih dengan Bisma Dewabrata, kakek para Pandawa dan Kurawa. Perselisihan tersebut dipicu oleh penolakan Bisma akan kehadiran Karna dalam pasukannya. Sang resi Bisma tidak ingin Karna yang angkuh dan sombong menjadi salah satu punggawanya. Karena perselisihan itulah, Karna bersumpah tidak akan berperang di padang Kurusetra selama Bisma menjadi panglima perangnya. Meskipun demikian kondisi itu tidak berlangsung lama. Karna akhirnya menemui Bisma yang sedang berada di penghujung ajalnya. Mereka berdua saling meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Di akhir perbincangan mereka, sang resi Bisma meminta agar Karna bertempur di pihak Pandawa, apalagi Karna telah mengetahui bahwa mereka adalah adik-adik kandungnya sendiri. Namun pada saat itu Karna bersikukuh menolak permintaan sang resi dan tetap akan membela Kurawa.

Sebenarnya sebelum perang Bharatayudha terjadi, Karna sempat bertemu dengan dewi Kunti, ibu kandungnya. Pada pertemuan tersebut dewi Kunti memohon maaf atas kejadian masa lalu dan meminta agar Karna kembali bersama para Pandawa pada saat perang Bharatayudha nanti. Saat pertemuan itulah Karna menunjukkan keikhlasannya untuk memaafkan ibu yang pernah membuangnya. Meskipun ia menolak untuk membela para Pandawa, Adipati Karna menunjukkan dharma baktinya kepada dewi Kunti dengan bersumpah tidak akan membunuh adik-adiknya sendiri. Ia menjelaskan bahwa pemihakkannya kepada Kurawa tidak lain daripada pengabdiannya kepada ”kebenaran”, tanpa kehadirannya di pihak Kurawa, ia yakin kejahatan para Kurawa tidak akan pernah hancur. Alasan ini pula yang disampaikannya kepada Kresna ketika mencoba membujuknya untuk berada di pihak Pandawa. Meskipun telah ikhlas menerima dan memaafkan masa lalunya serta menerima posisinya sebagai kakak dari para Pandawa, tetap saja Adipati Karna selalu menunjukkan keangkuhannya ketika bertemu dengan adik-adik kandungnya itu. Walaupun pada akhirnya ia memang tetap memegang teguh janjinya kepada dewi Kunti untuk tidak membunuh para Pandawa di perang Bhatarayudha.

Adipati Karna dengan segala kompleksitasnya sebenarnya merefleksikan manusia pada umumnya. Ada nilai-nilai rose s yang terkandung dalam kompleksitasnya itu. Nilai-nilai itulah yang selalu hadir dalam sosok manusia pada umumnya. Adipati Karna menunjukkan kepada kita bahwa dalam kehidupannya, orang baik tidak selalu melakukan kebaikan, ada kalanya orang itu pun melakukan kejahatan. Sebaliknya, manusia yang dinilai jahat ada kalanya pernah berbuat kebaikan. Sosok Basusena memang penuh dengan rose s, dari silsilahnya saja dapat dilihat bahwa ia merupakan perpaduan antara manusia dengan dewa. Ia berasal dari golongan ksatria namun dibesarkan oleh rakyat biasa. Ia ikhlas serta dermawan, namun dikenal pula sebagai ksatria yang angkuh dan sombong. Di samping itu, Adipati Karna pun merefleksian sifat-sifat ambisius manusia. Untuk memuaskan hasratnya, terkadang ia dapat melakukan segala cara, termasuk rose si-manuvernya yang penuh tipu muslihat.

Di sisi yang lain, Adipati Karna menunjukkan sebuah arti pengorbanan serta pengabdian kepada kebenaran. Sejak kecil ia sudah diminta untuk berkorban, ia dibuang ke sungai Aswa, dijauhkan dari status kebangsawanannya dan akhirnya rose sebagian hidupnya dilalui tanpa pernah mengenal orangtua kandungnya sendiri. Semua pengorbannya tersebut harus ia jalani demi terjaganya kehormatan dewi Kunti, ibundanya. Beranjak dewasa, menjelang perang Bharatayudha, ia pun harus berjiwa besar memaafkan kesalahan ibunya, mengikhlaskan masa lalunya serta mengorbankan ambisinya untuk mengungguli Arjuna dalam perang Bharatayudha. Meskipun pengorbanan yang ia lakukan sudah sedemikan banyak, ternyata Karna pun harus mengorbankan dirinya pada perang di padang Kurusetra. Dengan menolak berpihak kepada Pandawa, ia secara tidak langsung telah mengorbankan kejayaan, kehormatan, kemenangan serta tahta yang akan dimilikinya. Sebaliknya ia memilih kekalahan dan kematian yang sudah menjadi takdirnya dengan memilih memihak kepada Kurawa.

Pengorbanan Karna sebenarnya merupakan pengabdian pada kebenaran, tentunya dalam konteks yang luas. Ia mengabdi pada sebuah ”karmapala” tentang kejahatan yang selalu dihancurkan oleh kebenaran. Dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa sebenarnya dalam dirinya, Karna sudah mengetahui peranannya dalam dunia dan roda dharma. Ia sadar bahwa ia dilahirkan untuk membantu keseimbangan dalam dunia. Keinsyafan itulah yang sempat ia ucapkan dua kali, yaitu kepada Kresna sebagai titisan Wisnu dan Ibundanya, dewi Kunti.

Pemaparan tadi tentunya sedikit banyak dapat menjadi titik terang dalam menjawab keraguan akan penasbihan Adipati Karna sebagai ksatria agung. Pada akhirnya, penasbihannya tersebut harus dilihat dalam konteks yang luas. Dalam hal ini kita tidak dapat menilai Adipati Karna secara pragmatis. Jika ditelaah lebih jauh dapat kita lihat bahwa sang Basusena justru melepaskan dirinya dari nilai-nilai praktis. Dalam hidupnya ia merupakan sosok yang dermawan, ikhlas serta berani berkorban. Tindakan-tindakan seperti itu tentu saja memunculkan berbagai penilaian positif terhadap dirinya, namun di sisi lain, ia pun menunjukkan kelicikkan, keangkuhan serta kesombongan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang hidupnya ia selalu melakukan hal-hal yang paradoksal — bertentangan. Bukankan hal tersebut justru menandakan bahwa Karna adalah sosok yang munafik? Meskipun demikian, harus dilihat pula bahwa keangkuhan serta kesombongan yang selalu ia tunjukkan, justru ditunjukkannya kepada para kaum bangsawan dan ksatria. Sementara hal-hal baik justru ia tunjukkan kepada rakyat jelata yang memang seharusnya menjadi ayoman para bangsawan dan ksatria. Dari perilakunya tersebut dapat dilihat bahwa pada dasarnya Adipati Karna melakukan berbagai hal-hal baik hanya demi kebenaran yang ia percaya, bukan demi penilaian-penilaian baik dari manusia terhadap dirinya.

Dari keistimewaan sang Basusena itu, tentunya kita paham jika pada akhirnya, sosok Adipati Karna yang erat dengan keikhlasan dan pengorbanan tersebut memiliki posisi istimewa di kalangan masyarakat Jawa, bahkan Sunda. Keistimewaan sosok Karna dapat kita lihat pula dalam dunia pewayangan, untuk pertunjukkan dramatari wayang wong Priangan, tokoh Adipati Karna memakai aksesoris mahkota Ketu Topong. Makhota itu pula yang dipakai oleh tokoh Bhatara Guru, selain kedua tokoh tersebut, tidak ada lagi yang memakainya. Tentu saja ada alasan tertentu mengapa Karna mendapat keistimewaan untuk memakai mahkota seperti Bhatara Guru. Padahal jika dilihat dari status kebangsawanannya, Karna hanyalah raja bawahan di Awangga.

Salah satu contoh keistimewaan sosok Karna di kalangan masyarakat Jawa dapat kita lihat pada akhir tahun 2010 kemarin, ketika gunung Merapi mengamuk, mata orang banyak tertuju pada sosok Mbah Maridjan. Setelah akhirnya Si Mbah meninggal dunia karena wedus gembel Merapi, banyak orang yang kemudian mengasosiasikan Si Mbah dengan sosok Adipati Karna. Dari perspektif kelompok masyarakat tertentu, kedua tokoh tersebut dihormati karena keberanian serta keikhlasan mereka untuk berkorban demi sebuah kebenaran yang mereka percaya. Tak banyak orang yang berani memilih cara hidup seperti kedua tokoh tersebut. Di dalam dunia yang semakin pragmatis ini, sosok Mbah Maridjan tampil mencolok, sepanjang hidup hingga ajal menjemputnya, ia setia dengan prinsip kebenaran yang ia percayai tanpa mempedulikan nilai-nilai pragmatis yang timbul di kalangan masyakarat. Dari sisi tertentu, sosok Si Mbah akhirnya mengajak sebagian masyarakat Jawa untuk bernostalgia kepada sosok Adipati Karna. Atas dasar itulah akhirnya Mbah Maridjan diasosiasikan dengan sosok Adipati Karna yang agung. Tentu saja sekali lagi, harus dilihat dalam konteks yang luas, bukan pragmatisnya saja.

Pada akhirnya penilaian terhadap sosok Adipati Karna akan bergantung pada perspektif mana yang akan dipilih, luas? Atau pragmatis? Yang pasti agar semakin terang dan jelas, dibutuhkan pemahaman dan penelaahan lebih mendalam terhadap sosok Adipati Karna serta tokoh-tokoh lain di wiracarita Mahabharata. rose situ tentu saja akan sangat bermanfaat bagi kekayaan khazanah budaya Nusantara, mengingat banyak sekali kandungan filosofis serta nilai-nilai luhur dari mahakarya sastra tersebut yang dapat dipetik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.








0 komentar