Sanggar Seni Kencana Ungu
  • Home
  • Profil
  • Foto
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Sejarah Perkembangan Angklung

Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk primitifnya, ada dugaan bahwa alat musik tradisional ini telah digunakan dalam kultur Neolitikum. Berkembang di Nusantara hingga awal penanggalan modern. Hal ini juga berarti bahwa Angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Dalam sejarahnya, sumber berupa catatan baru ditemukan ketika merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 hingga abad ke-16). Dikatakan bahwa instrumen musik bambu hadir dalam lingkup budaya agraris.

Menurut I Ketut Yasa, masyarakat agraris untuk upaya mencapai keberhasilannya menggunakan dua jalur, yaitu yang bersifat rasional dan irrasional

Jalur rasional bisa dilihat dari bagaimana masyarakat agraris di Tatar Sunda dalam mengolah lahan, membuat alat-alat bantu dan lain sebagainya. Adapun jalur irasional, ada kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Orang-orang Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa Suku Sunda asli, menerapkan alat musik bambu sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi.

Selanjutnya, permainan alat musik bambu dengan membawakan lagu-lagu sebagai persembahan terhadap Dewi Sri disertai dengan pengiring tabuh.

Pengiring tersebut terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur musik bambu yang kemudian dikenal sebagai Angklung.

Dalam ritual padi, pertunjukan musik ini biasanya berupa arak-arakan atau helaran, bahkan di beberapa tempat menjadi iring-iringan Rengkong, Dongdang, serta Jampana (usungan pangan).

Di Jasinga (Bogor) ada permainan Angklung Gubrag yang tetap lestari hingga saat ini. Kemunculan permainan tersebut bermula dari ritus padi yang ada sejak lebih dari 400 tahun lampau.


Dalam hal ini, Angklung difungsikan sebagai media untuk mengundang Dewi Sri untuk turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada tanaman. Jenis yang tertua dikenal sebagai Angklung Buhun yang hingga saat ini masih digunakan dalam berbagai perayaan, termasuk dalam Seren Taun.

Di zaman Kerajaan Sunda (Pasundan), alat musik tersebut difungsikan salah satunya untuk penggugah semangat dalam pertempuran. Bahkan fungsi ini masih terus terasa hingga pada masa penjajahan Belanda.


Pada masa itu, kolonial Belanda sempat melarang masyarakat menggunakannya, sehingga membuat popularitasnya menurun dan hanya dimainkan oleh anak-anak saja. Namun, selanjutnya kesenian ini tetap hidup, berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

Pada 1908, ada sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, diantaranya ditandai penyerahan Angklung. Sejak itu, permainan musik bambu ini menyebar di negara tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, dikenallah dua tokoh yang sangat berperan dalam pelestarian Angklung, yakni Daeng Soetisna dan Udjo Ngalagena.


Daeng Soetisna dikenal sebagai Bapak Angklung Diatonis Kromatis, sementara Udjo Ngalagena mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras pelog dan salendro.

Pada tahun 1938, Daeng Soetisna berinovasi dengan tangga nada diatonis sehingga berbeda dengan nada tradisional berlaras pelog dan salendro. Inovasinya tersebut kemudian membuat Angklung semakin leluasa dimainkan harmonis bersama dengan alat-alat musik barat.

Sejak saat itu, popularitas alat musik ini semakin naik. Kemudian, muridnya Daeng Soetisna, yakni Udjo Ngalagena terus melestarikan temuan gurunya dengan jalan mendirikan Saung Angklung Udjo di Bandung.


Jenis-Jenis Kesenian Angklung

Penyebaran alat musik ini begitu meluas dan tersebar hingga keluar dari kebudayaan Sunda. Hal ini turut menciptakan keragaman jenisnya. Disamping itu, banyaknya variasi juga disebabkan oleh kreativitas dan kebutuhan musikal daerah-daerah dalam lingkup budaya Sunda.

Sehubungan dengan ini, umumnya perbedaan berkisar pada variasi rangka, hiasan serta jumlah tabung (nada). Berikut ini adalah beberapa jenis Angklung berdasarkan bentuk dan wilayah penyebarannya :
  • Angklung Kanekes
Berkembang di wilayah Kanekes (orang Baduy) yang difungsikan bukan semata-mata untuk hiburan, namun menjadi bagian dari ritus padi. Biasanya dibunyikan ketika masyarakat menanam padi di huma (ladang) dengan beberapa aturan.

Ada yang dibunyikan secara bebas (dikurulungkeun), yakni di Kajeroan (Baduy Jero), dan ada yang dibunyikan dengan ritmis tertentu, yakni di Kaluaran (Baduy Luar). Jika diluar penanaman padi, jenis ini hanya boleh dibunyikan hingga masa ngubaran pare (mengobati padi).
  • Angklung Reyog
Berkembang dan digunakan sebagai pengiring Tarian Reyog Ponorogo di Jawa Timur. Salah satu ciri khasnya adalah bersuara keras dengan dua nada serta bentuknya lengkungan rotan yang menarik dengan hiasa benang berumbai-rumbai warna yang indah.

Jenis ini juga mampu menghasilkan suara yang khas, yakni “klong-klok” dan klung-kluk. Selain sebagai alat musik, Angklung ini dulunya dikisahkan sebagai sebuah senjata dari kerajaan Bantarangin ketika melawan kerajaan Lodaya pada abad ke-9.
  • Angklung Banyuwangi
Salah satu kesenian khas Banyuwangi di Jawa Timur dengan beberapa jenis pertunjukan. Ada pertunjukan Angklung Caruk yang mempertemukan dua kelompok untuk bersaing dalam memainkan alat musik ini.

Ada juga Angklung Tetak yang biasanya difungsikan untuk ronda atau membantu jaga malam. Selain itu ada juga Angklung Paglak yang dimainkan oleh para petani saat menjaga sawah mereka.
  • Angklung Dogdog Lojor
Kesenian ini bisa didapati di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau Kesatuan Adat Banten Kidul yang tersebar disekitar Gunung Halimun.

Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor yang mengacu pada salah satu waditra didalamnya, tetapi juga digunakan Angklung karena ada kaitannya dengan ritual padi.

Oleh karena itu, kesenian ini biasanya menjadi bagian dari tradisi seren taun. Meskipun begitu, dalam perkembangannya sejak tahun 1970-an, kesenian ini juga digunakan untuk memeriahkan acara khitanan dan acara-acara lainnya.
  • Angklung Gubrag
Salah satu jenis yang berumur sangat tua yang bisa dijumpai di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Biasanya digunakan untuk menghormati Dewi Padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya, Angklung Gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
  • Angklung Badeng
Sebuah kesenian yang berkembang di Desa Sanding, Kecamatan Malabong, Garut. Dahulu difungsikan sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam.

Tetapi, ada dugaan bahwa kesenian ini telah ada sebelum masa Islam dan digunakan untuk acara-acara yang berhubungan dengan penanaman padi.

Sebagai seni untuk dakwah, Badeng berkembang sejak Islam masuk ke daerah ini pada kisaran abad ke-16 atau ke-17. Kesenian ini melibatkan sembilan buah Angklung dengan 2 buah dogdog, 2 buah terbang, serta 1 kecrek. 

  • Angklung Buncis
Sama halnya dengan jenis kesenian alat musik bambu lain, Buncis awalnya juga digunakan dalam ritual yang berhubungan dengan padi.

Kesenian yang bisa dijumpai di Baros (Arjasari, Bandung) ini sekarang hanya difungsikan sebagai hiburan semata. Terutama sejak tahun 1940-an yang dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi.

Angklung Buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Istilah buncis sendiri berkaitan dengan teks lagu yang terkenal dikalangan masyarakat pemilik kesenian ini. 

  • Angklung Padaeng
Jenis yang sering dikatakan sebagai Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis. Angklung khas Indonesia ini dikembangkan sejak tahun 1938 sebagai pengembangan dari alat musik bambu Sunda yang berlaras salendro dan pelog.



TARI WAYANG
Tari Wayang sendiri merupakan salah satu tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Barat sendiri. Dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian ini mempunyai beberapa gerakan dan juga hal yang sangat menarik untuk disaksikan oleh berbagai orang yang ada pada daerah itu sendiri maupun orang lain yang datang berkunjung ke daerah tersebut hanya untuk sekedar melihat tarian tersebut sendiri. Tarian ini sendiri pun pada dasarnya sangat kental dengan berbagai adat yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, hal ini sendiri disebabkan oleh masih banyak warga masyarakat umum Jawa Barat yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual-ritual dengan menggunakan beberapa tarian yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, sehingga beberapa tari yang ada di sini sangat-sangat identik dengan semua hal tersebut.
Tarian yang ada di daerah Jawa Barat ini sendiri tentu saja memiliki beberapa hal yang terkadang menyimpan sebuah misteri yang terkadang tidak kita ketahui. Hal ini sendiri dapat berupa asal usul dari tarian itu sendiri yang terkadang bisa kita ketahui bahwa sangat berhubungan sekali dengan kekuatan mistis ataupun terkadang hanya dari beberapa sejarah yang telah ada pada daerah tersebut. Pada dasarnya sendiri tarian yang ada di Jawa Barat ini tentu saja biasanya menjadi salah satu hiburan yang bisa dinikmati oleh para masyarakat umum yang ada disana, dan terkadang pun sering dipakai pada saat penyambutan beberapa tamu agung yang datang ke provinsi Jawa Barat tersebut.
Tarian pada daerah ini sendiri tentu saja memiliki beberapa makna yang sudah tidak asing lagi pada masyarakat umum yang ada di kota ini, sehingga mereka pun lebih mengenal bagaimana cara menggunakan tarian tersebut dalam berbagai event yang ada, baik event yang berupa adat ataupun acara umum seperti pesta perkawinan. Karena seperti yang kita tahu dua hal tersebut merupakan hal yang sangat berbeda dan oleh sebab itu maka tarian dari beberapa hal itu tentu saja sangat-sangat berbeda sehingga dapat menciptakan gerakan-gerakan dan juga mempunyai makna dan juga arti yang berbeda dari semuanya itu.
Tarian dari Jawa Barat ini sendiri terdiri dari Tari Topeng, Tari Jaipong, Tari Kursus, Tari Wayang, dan Tari Merak. Untuk khusus tari topeng sendiri mempunyai berbagai macam tarian topeng dengan beberapa jenis yang lainnya, pada hal ini sendiri tarian topeng tersebut sangat berbeda, dimana pada beberapa jenis yang ada, tarian tersebut dibuat berdasarkan arti yang berbeda sama sekali dengan berbagai tarian yang telah ada pada tarian topeng pada umumnya sendiri.
§  Tari Wayang
            Tari Wayang merupakan salah satu tarian yang berasal dari Jawa Barat sendiri, dimana tarian ini sendiri merupakan tarian yang dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 pada saat itu oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya. Tari Wayang ini sendiri memiliki tingkatan ataupun beberapa jenis karakter yang berbeda misalnya saja pada karakter pria dan juga wanita yang memiliki perbedaan. Karakter Tari wanita sendiri terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan
Arimbi serta juga Ladak untuk tokoh Srikandi. Gerakan dalam tari wayang ini sendiri adalah adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan dan juga calok sembahan.
 Tarian tradisional ini juga merupakan tari tradisional yang harus kita lestarikan, dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian-tarian yang ada pada Negara Indonesia pada zaman sekarang pun sudah mulai memudar dan kurang adanya penampilan dari beberapa daerah tersebut karena banyaknya pemuda-pemudi yang sudah tidak bisa lagi melakukan budaya atau tarian dari daerah mereka masing-masing sendiri, bukankah hal tersebut sendiri merupakan hal yang memalukan khususnya bagi Negara kita sendiri yang merupakan Negara yang mempunyai banyak sekali budaya yang ada dan juga warisan yang tidak ada habis-habisnya. Jadi sebagai generasi muda kita harus senantiasa menjaga semua tari yang ada pada daerah mereka masing-masing.
Tari wayang yaitu tari yang mengambil gerak dasarnya dan gerak intinya dari penokohan wayang. Tari wayang biasanya menggambarkan penokohan dan jabatan dalam cerita wayang. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu: [2]
1.   Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya.[2]
2.   Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti: [2]
·         Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,
·         Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,
·         Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
·         Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
·         Tari Gatotkaca, wataknya keras.[2]
3.    Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:
·         Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,
·         Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,
·         Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal.[2]
Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro. Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri.




TARI WAYANG
Tari Wayang sendiri merupakan salah satu tarian yang berasal dari Provinsi Jawa Barat sendiri. Dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian ini mempunyai beberapa gerakan dan juga hal yang sangat menarik untuk disaksikan oleh berbagai orang yang ada pada daerah itu sendiri maupun orang lain yang datang berkunjung ke daerah tersebut hanya untuk sekedar melihat tarian tersebut sendiri. Tarian ini sendiri pun pada dasarnya sangat kental dengan berbagai adat yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, hal ini sendiri disebabkan oleh masih banyak warga masyarakat umum Jawa Barat yang melakukan berbagai upacara adat ataupun ritual-ritual dengan menggunakan beberapa tarian yang ada pada daerah Jawa Barat ini sendiri, sehingga beberapa tari yang ada di sini sangat-sangat identik dengan semua hal tersebut.
Tarian yang ada di daerah Jawa Barat ini sendiri tentu saja memiliki beberapa hal yang terkadang menyimpan sebuah misteri yang terkadang tidak kita ketahui. Hal ini sendiri dapat berupa asal usul dari tarian itu sendiri yang terkadang bisa kita ketahui bahwa sangat berhubungan sekali dengan kekuatan mistis ataupun terkadang hanya dari beberapa sejarah yang telah ada pada daerah tersebut. Pada dasarnya sendiri tarian yang ada di Jawa Barat ini tentu saja biasanya menjadi salah satu hiburan yang bisa dinikmati oleh para masyarakat umum yang ada disana, dan terkadang pun sering dipakai pada saat penyambutan beberapa tamu agung yang datang ke provinsi Jawa Barat tersebut.
Tarian pada daerah ini sendiri tentu saja memiliki beberapa makna yang sudah tidak asing lagi pada masyarakat umum yang ada di kota ini, sehingga mereka pun lebih mengenal bagaimana cara menggunakan tarian tersebut dalam berbagai event yang ada, baik event yang berupa adat ataupun acara umum seperti pesta perkawinan. Karena seperti yang kita tahu dua hal tersebut merupakan hal yang sangat berbeda dan oleh sebab itu maka tarian dari beberapa hal itu tentu saja sangat-sangat berbeda sehingga dapat menciptakan gerakan-gerakan dan juga mempunyai makna dan juga arti yang berbeda dari semuanya itu.
Tarian dari Jawa Barat ini sendiri terdiri dari Tari Topeng, Tari Jaipong, Tari Kursus, Tari Wayang, dan Tari Merak. Untuk khusus tari topeng sendiri mempunyai berbagai macam tarian topeng dengan beberapa jenis yang lainnya, pada hal ini sendiri tarian topeng tersebut sangat berbeda, dimana pada beberapa jenis yang ada, tarian tersebut dibuat berdasarkan arti yang berbeda sama sekali dengan berbagai tarian yang telah ada pada tarian topeng pada umumnya sendiri.
§  Tari Wayang
            Tari Wayang merupakan salah satu tarian yang berasal dari Jawa Barat sendiri, dimana tarian ini sendiri merupakan tarian yang dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 pada saat itu oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya. Tari Wayang ini sendiri memiliki tingkatan ataupun beberapa jenis karakter yang berbeda misalnya saja pada karakter pria dan juga wanita yang memiliki perbedaan. Karakter Tari wanita sendiri terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan
Arimbi serta juga Ladak untuk tokoh Srikandi. Gerakan dalam tari wayang ini sendiri adalah adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan dan juga calok sembahan.
 Tarian tradisional ini juga merupakan tari tradisional yang harus kita lestarikan, dimana seperti yang kita tahu bahwa tarian-tarian yang ada pada Negara Indonesia pada zaman sekarang pun sudah mulai memudar dan kurang adanya penampilan dari beberapa daerah tersebut karena banyaknya pemuda-pemudi yang sudah tidak bisa lagi melakukan budaya atau tarian dari daerah mereka masing-masing sendiri, bukankah hal tersebut sendiri merupakan hal yang memalukan khususnya bagi Negara kita sendiri yang merupakan Negara yang mempunyai banyak sekali budaya yang ada dan juga warisan yang tidak ada habis-habisnya. Jadi sebagai generasi muda kita harus senantiasa menjaga semua tari yang ada pada daerah mereka masing-masing.
Tari wayang yaitu tari yang mengambil gerak dasarnya dan gerak intinya dari penokohan wayang. Tari wayang biasanya menggambarkan penokohan dan jabatan dalam cerita wayang. Ada beberapa ciri utama dalam tari wayang yaitu: [2]
1.   Tari wayang yang menggambarkan penokohannya seperti tari Adipati Karna, Tari Jayengrana, Tari Gatotkaca, dan Tari Srikandi x Mustakaweni, serta tarian yang menggambarkan jabatan seperti Tari Badaya.[2]
2.   Kekayaan tarian Wayang mempunyai ciri tingkatan karakter atau watak tertentu seperti: [2]
·         Tari Badaya, wataknya putri ladak atau lincah,
·         Tari Srikandi x Mustakaweni, dua tokohnya mempunyai watak putri ladak atau lincah,
·         Tari Adipati Karna, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
·         Tari Jayengrana, wataknya lincah, atau disebut juga satria ladak,
·         Tari Gatotkaca, wataknya keras.[2]
3.    Kekayaan tarian Wayang memiliki ciri bentuk pertunjukan yang tertentu seperti:
·         Tari Badaya, termasuk bentuk tari rampak, massal atau berkelompok,
·         Tari Srikandi x Mustakaweni, termasuk bentuk tari berpasangan atau duet,
·         Tari Gatotkaca, Adipati Karna, dan Jayengrana, termasuk bentuk tari tunggal.[2]
Pada umumnya pertunjukan tari wayang diiringi oleh gamelan salendro. Setiap tarian wayang mempunyai ciri kostum atau busananya sendiri.




SEJARAH LAHIRNYA SENI TOPENG

      Manusia pada jaman kehidupan primitif masih mempunyai sifat-sifat kehidupan yang sederhana, dan masih tebal kepercayaannya kepada roh-roh halus. Sifat kehidupan mereka terlukis pada karya-karya topeng yang mereka ciptakan. Kepercayaan mereka pada roh-roh pada waktu itu diungkapkan lewat bentuk-bentuk hidung, mulut, dan mata topeng dengan gaya yang masih sederhana. Hal ini disebabkan hidung, mulut, dan mata itu dianggapnya mempunyai sifat-sifat tertentu, misalnya sifat magis, menakutkan, sakti, dan sebagainya. Jadi sifat itu merupakan gambaran rohani mereka yang mendorong untuk melandasi ciptaannya.
Kemudian pada perkembangannya masyarakat dijaman selanjutnya, seni topeng berkembang menjadi permainan anak-anak. Semula untuk membuat topeng semacam itu anak-anak hanya mencoretkan langsung pada muka anak-anak yang lain. Perkembangan selanjutnya coret-coret dipindahkan pada bentuk lain. Misalnya pada tempurung kelapa, kayu dan sebagainya, kemudian topeng permainan anak-anak itu mendapat pengaruh dari raja-raja (keraton) dan selanjutnya dikembangkan dibawah kekuasaan mereka. 

Masuknya kebudayaan hindu Indonesia, dan kemudian disusul pengaruh islam ke Indonesia maka kedua kebudayaan itu ternyata mampu membentuk suatu kebudayaan Indonesia (khususnya di Jawa dan Bali) menjadi kebudayaan klasik. Maka bermula dari topeng jenis permainan anak-anak dipengaruhi juga oleh dua kebudayaan asing tersebut. Akhirnya terjadilah seni topeng klasik, kemudian topeng tersebut dipergunakan sebagai penutup muka penari pada drama tari klasik. Disamping itu topeng juga untuk menggambarkan karakter-karakter tokoh dalam lakon atau cerita misalnya cerita Ramayana, Mahabarata dan lain-lain. Perkembangan seni topeng yang kreatif tadi didasari oleh seni topeng warisan nenek moyang yang disesuaikan kepribadian masing-masing pencipta. Sehingga kemudian pada corak topeng banyak tampak baik unsur bentuk, goresan-goresan maupun unsur warna. Karena topeng yang lama merupakan inspirasi untuk mewujudkan topeng kreasi baru.

Sejarah Lahirnya Seni Topeng
1.  Lahirnya Topeng Primitif
Dijaman prasejarah kehidupan nenek moyang kita masih primitif dan sederhana. Manusia masih tebal sekali kepercayaannya terhadap beberapa kehidupan roh-roh halus. Mereka beranggapan bahwa di samping kehidupan mereka di dunia ini. Masih ada kehidupan lain yang ada diluar kehidupan mereka yaitu kehidupan makhluk-makhluk halus. Makhluk-makhluk ada yang mempunyai sifat-sifat jahat, sakti ataupun mempunyai sifat baik. Kekuatan sakti yang khayali, alam mimpi berada dalam nurani nenek moyang kita, maka mereka mendapat keselamatan dari roh-roh nenek moyang itu. Mereka perlu menghormati roh-roh dari orang yang meninggal pada masa hidupnya mendapatkan kepercayaan besar, dianggapnya roh itu dapat menjelma kembali di dunia ini dan manusia masih memerlukan keselamatan dari roh tersebut. Seperti halnya waktu orang tersebut masih hidup. Terutama roh-roh dari kepala suku mereka sedang penjelmaan kembali roh-roh itu di dunia dapat dibantu oleh batu-batu besar, pohon-pohon besar dan sebagainya. Disamping pada benda-benda alam, manusia menciptakan juga berbagai bentuk perwujudan misalnya roh nenek moyang dan benda-benda pemujaan lainnya, ini dimaksudkan agar benda ciptaan mereka tersebut dapat menjelma roh-roh itu atau merupakan tempat penitisan dari kekuatan sakti maupun dewa-dewa. Disamping arwah nenek moyang kita juga membuat bentuk-bentuk topeng sebagai gambaran atau perlambangan roh-roh halus. Hal ini dimaksudkan bahwa unsur muka meperti mata, gigi, hidung mempunyai sifat kekuatan yang magis dan sakti maka nenek moyang kita menciptakan bentuk-bentuk topeng yang magis sebagai lambang perwujudan roh-roh halus  lambang kekuatan sakti serta hal-hal yang khayali lainnya ada suatu pendapat bahwa dorongan lahirnya seni telah disimpulkan oleh Salmon Reimoch dalam bukunya My The Cultus Et Relegius. Disini dinyatakan bahwa kehadiran seni adalah guna mendapatkan tenaga-tenaga gaib, yang membantu untuk keperluan berburu dan lain sebagainya. Pendapat ini diperkuat oleh S. Godeon yang menyatakan bahwa seni merupakan jalan atau cara yang lazim untuk mendapatkan kekuatan dalam memperoleh kekuatan.
Topeng warisan nenek moyang setelah selidiki ternyata topeng itu mengandung nilai seni, sekaligus merupakan bagian dari seni rupa. Jadi jelaslah bahwa lahirnya seni topeng di jaman kehidupan  nenek moyang adalah karena dorongan rohani untuk tujuan-tujuan tertentu. Kemudian topeng dipergunakan sebagai alat perantara untuk berkomunikasi antara manusia dengan hal-hal yang ada diluar jangkauan manusia, yaitu kehidupan roh-roh halus. Sebagai contoh ialah ada beberapa topeng untuk keperluan upacara agama, upacara kematian dan ada juga topeng yang dipergunakan untuk keperluan seni tari yang bersifat magis atau sebagai lambang penolak yang jahat dan sebagainya.
Di Kalimantan terdapat topeng untuk upacara kematian yang disebut “Tiwah” terdapat di daerah sungai sampit.
Begitulah proses penciptaan topeng primitif sebagai pelambangan roh-roh halus atau sebagai penghubung antara manusia dengan alam ghaib.
 menurut Drs. Gudaryono
Apabila topeng prehistoric lahir dengan dorongan rohani, sedang topeng klasik berbeda halnya ialah bahwa topeng klasik berbentuk atas dasar penokohan yang erat sekali hubungannya dengan lakon-lakon dalam cerita Panji, Mahabarata, dan Ramayana. Sedang cerita rakyat ialah cerita tentang binatang-binatang seperti barong, randa, dewa dan sebagainya.
Melalui lakon-lakon dalam cerita tersebut didalamnya terdapat tokoh-tokoh yang banyak jumlahnya dan bermacam-macam sifatnya. Maka timbul suatu ide untuk membuat bentuk perwujudan watak atau karakter yang berbeda, yang sesuai dengan tokoh-tokohnya. Jadi karakter wajah-wajahnya diciptakan dengan ekspresi jiwa setiap tokohnya.
Menurut Raden Panji Koesoemowardoyo dan Reden Ngabei Reksoprojo pada “ Pengantar Koleksi Topeng ke Pameran Kolonial di Amsterdam (1883), diterangkan mengenai sejarah terjadinya topeng, bahwa pada permulaannya ada sembilan tokoh topeng yang melambangkan tokoh dari pemain wayang. Sembilan tokoh itu adalah :
1.    Klono Prabujoko, tokoh ini menggambarkan tokoh Bimo kusen
2.    Klono alus atau klono trijaya, menggambarkan tokoh wayang bolodewa
3.    Panji kesatrian, topeng ini menggambarkan bentuk arjuno
4.    Kartolo, topeng ini melambangkan tokoh Bimo
5.    Gunungsari, dalam bentuk sombo
6.    Condrokirono, dalam bentuk sembodro
7.    Kumudananingrat, melambangkan tokoh srikandi
8.    Temben, topeng ini melambangkan tokoh semar
9.    Pentul dalam bentuk baneak
Salah seorang tokoh membuat topeng pada waktu itu adalah Pengeran Adipati Saudara Sunan Pakubuwono ke IV. Dialah yang menyamakan tokoh Klono dengan Bimo Kusen.
2. Topeng Jawa Tertua
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa topeng ini mengambil dari cerita-cerita mithe atau cerita-cerita panji. Hal ini ada kemungkinannya karena topeng-topeng jawa yang tertua itu lebih tuah dari pada pengaruh hindu maupun islam. Tertua disini dimaksudkan bahwa topeng itu lahir sesudah prohistoris kemudian setelah terdapat pengaruh hindu dan islam baru memakai klasik. Topeng jawa tertua (sejak yang pertama kali) masih bersifat sederhana, yaitu belum sempurna  topeng-topeng sesudahnya, seperti topeng klasik yang sampai sekarang masih banyak di dalam kehidupan kesenian Jawa dan Bali.
Mula-mula topeng hanya terdapat pada permainan anak-anak terdapat dari beberapa warna yang dicoretkan langsung pada wajah. Kemudian perkembangannya, warna itu dipindahkan pada benda lain, misalnya pada tempurung kelapa, kayu dan sebagainya.
Kemudian seni patung masuk ke dalam kekuasaan raja-raja atau keraton dan mendapatkan kesempurnaan dan seterusnya sampai datangnya kebudayaan hindu dan islam di Indonesia, mengakibatkan perkembangan penyempurnaan  lagi pada seni topeng hingga mencapai jaman keemasan dan akhirnya mencapai klasik.
Menurut penyelidikan Pigenud topeng yang pertama masih berupa permainan anak-anak yang disebut “ Nidok” dan nyuk-nyuk” yang terdapat di daerah jawa permainan nidok adalah topeng dengan beberapa warna yang dicoretkan langsung pada wajah. Sedang nyuk-nyuk adalah topeng yang menggunakan tempurung kelapa yang diolesi beberapa warna. Bentuk coretannya masih sederhana. Bentuk itulah yang dipergunakan sebagai tutup wajah pada permainan tersebut.
3. Pengaruh Jaman Islam dan Seterusnya
Bentuk-bentuk topeng nidok dan nyuk-nyuk inilah yang diperkirakan masih asli, yaitu yang pertama kali merupakan bentuk topeng dan bentuk-bentuk topeng asli yang diperkirakan lahir sekitar abad ke III.
Kemudian topeng yang tertua berkembang yang pertama kali dipikirkan oleh Sunan Kalijogo dan kemudian  perkembangan topeng mengikuti bentuk-bentuk wayang gedog. Wayang gedog adalah gambaran dalam bentuk tubuh seutuhnya mencakup dari seluruh anggota badan . Sedang topeng-topeng penggambaran wajah saja menurut Sunan kalijogo ada sembilan macam tokoh topeng, meliputi :
1.    Panji Kesatrian
2.    Condro Kirono
3.    Gunung Sari
4.    Andogo
5.    Raton
6.    Klono
7.    Pandowo
8.    Bencok, yang sekarang disebut temben
9.    Turus, yang sekarang disebut penthul
Dengan pakaian-pakaian antara lain pakaian dari tokoh topeng pria yang terdiri dari :
-       Tekes adalah bentuk mahkota dengan rambut yang dibentuk seperti kipas
-       Sumping
-       Celana panjang
-       Sonder atau selendang
-       Keris
Sedang pakaian tokoh topeng wanita terdiri dari :
-       Sarung
-       Kemben
-       Sonder
-       Sunping
-       Tekes
Penari topeng yang memakai topeng tersebut menari gerak-gerik sesuai dengan karakter atau watak tokohnya. Pada perkembangannya ini sudah mulai ditokohkan dalam lakon begitu pula cerita-ceritanya seperti Ramayana dan mahabarata atau cerita panji. Cerita Ramayana berasal dari hindu sedangkan cerita panji berasal dari pengaruh kebudayaan islam. Kebudayaan hindu dan islam turut membentuk perkembangan topeng, sehingga mencapai bentuk topeng klasik. Bentuk topeng-topeng disempurnakan pada jaman pengaruh islam pada jaman Sunan Kalijaga kemudian masuk pada kekuasaan raja-raja atau keraton tetapi dasar penciptaannya didasarkan pada wayang purwo. Pada buku Art in Indonesia, tari topeng yang pertama diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Beliau merupakan seorang Wali ke 9 pada abad ke XII.
Dalam perkembangan topeng untuk pertunjukan sudah jarang sekali nampak (dipentaskan) penyebabnya adalah karena tidak populernya wayang yang bertopeng. Setelah abad XX orang lebih suka wayang wong tanpa topeng. Hal ini mengakibatkan topeng tidak produktif lagi.



Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu-Jawa. Pertunjukan kesenian wayang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa, yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dinamisme.

Tentang asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih merupakan suatu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian, banyak ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang dan masalah ini ternyata sangat menarik sebagai sumber atau obyek penelitian.

Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang purwa disebutkan bahwa kesenian wayang mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri. Sekitar abad ke-10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar.

Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Bhatara Guru atau Sang Hyang Jagadnata, yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Masa berikutnya yaitu pada zaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh putranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa, Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem cerita wayang purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran wayang purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya.

Para sanak-keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh putranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan keraton diselenggarakan pagelaran wayang.

Wayang BeberPada zaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu, wayang jenis ini biasa disebut wayang beber. Semenjak terciptanya wayang beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian keraton, tetapi malah meluas ke lingkungan di luar istana walau pun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan keraton sempat pula ikut menikmati keindahannya. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana, diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan.

Pada masa pemerintahannya berakhir, Raja Brawijaya kebetulan sekali dikaruniai seorang putra yang memunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat putranya ini dimanfaatkan oleh Raja Brawijaya untuk menyempurkan wujud wayang beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, misalnya raja, kesatria, pendeta, dewa, punakawan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang beber semakin semarak. Semenjak runtuhnya Kerajaan Majapahit dengan sengkala Geni Murub Siniram Jalma Saka (1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Wayang Kulit Adipati KarnaPada masa itu, sementara pengikut agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut memunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan keterampilan, para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari wayang purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai di kaki. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya dicat dengan tinta.

Pada masa itu terjadi perubahan secara besar-besaran di seputar pewayangan. Di samping bentuk wayang baru, diubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir/layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meski pun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun di sana-sini sudah mulai dimasukkan unsur dakwah, walau pun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Ada pun wayang beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.

Pada zaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang bewarna keemasan.

Pada zaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang gedog. Bentuk dasar wayang gedog bersumber dari wayang purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang/Kediri, Ngurawan, dan Singasari. Menurut pendapat G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata "gedog" berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari wayang gedog adalah wayang yang menampilkan cerita-cerita kepahlawanan dari "Kudawanengpati" atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog. Sunan Kudus salah seorang wali di Jawa menetapkan wayang gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan. Yang dijadikan lakon pokok adalah cerita Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut Kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Menak Jinggo.

Wayang Golek CepotUntuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang purwa dan diiringi dengan gamelan slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer, dan rebab. Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceritanya diambil dari pakem wayang gedog yang akhirnya disebut dengan topeng panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang purwa. Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang purwa dan wayang gedog. Wayang ditatah halus dan wayang gedog dilengkapi dengan keris.

Di samping itu, baik Wayang Purwa maupun Wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.

Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma (1552 J/1670 M). Dalam pagelaran wayang purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal (1553 J/1671 M ). Sekitar abad ke-17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang klitik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari cerita Damarwulan, pelaksanaan pagelaran dilakukan pada siang hari.

Wayang WongPada tahun 1731 Sultan Amangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain, yaitu wayang wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit. Dalam pagelaran dipergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabharata. Perbedaan wayang wong dengan wayang topeng adalah: pada waktu main, pelaku dari wayang wong aktif berdialog; sedangkan pada wayang topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.

Pada zaman pemerintahan Sri Amangkurat IV, beliau dapat warisan kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceriterakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertakhta di negara Mamenang/Kediri, kemudian pindah keraton di Pengging. Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang madya. Cerita dari wayang madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari cerita Mahabharata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam cerita panji.

Bentuk wayang madya, bagian atas mirip dengan wayang purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog. Semasa zaman Revolusi fisik antara tahun 1945-1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan cerita-cerita perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang suluh.

Wayang suluh berarti wayang penerangan, karena kata suluh berarti pula "obor" sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang suluh, baik potongannya mau pun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari. Bahan dipergunakan untuk membuat wayang suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang suluh, karena selalu mengikuti perkembangan zaman. Hal ini disebabkan khususnya cara berpakaian masyarakat selalu berubah, terutama para pejabatnya.


Tari Topeng Temenggung Simbol Ksatria yang Berwibawa


Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman.
Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan.
Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom.
Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita.
Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok.
Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang. [Riky/IndonesiaKaya]
Tari Topeng kelana yang dipentaskan di Area Wisata Batik Trusmi Cirebon.
Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon.Tari Topeng Cirebon,kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut tari topeng karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut.
Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.


Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan (bahasa Cirebon: Wiyaga

Tempat pagelaran

Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan (bahasa Indonesia: tenda pesta) atau di bale (bahasa Indonesia: panggung) dengan obor sebagai penerangannya, tetapi dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.[2]

Tujuan pagelaran

Tujuan diselenggarakan suatu pagelaran tari Topeng Cirebon secara garis besar dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu[3] ;
·         Pagelaran komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama masyarakat, sehingga hampir seluruh masyarakat ditempat tersebut berpartisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukan pun sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya serta digelar lebih dari satu malam, contoh dari pagelaran komunal diantaranya adalah hajatan desa, ngarot kasinoman (acara kepemudaan), ngunjungan (ziarah kubur)
·         Pagelaran individual, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk memeriahkan hajatan perorangan, contohnya adalah pernikahan, khitanan atau khaulan (bahasa Indonesia: melaksanakan nazar atau janji)
·         Pagelaran bebarangan, merupakan acara pagelaran keliling kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri, bebarangan biasanya dilakukan oleh dalang topeng ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen, wilayah desa yang ramai atau datang ke berkeliling di kota dikarenakan desanya belum panen, sedang mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

Struktur pagelaran

Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan lakon (bahasa Indonesia: cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:
·         Topeng alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng alit biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, tetapi para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng alit dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.
·         Topeng gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng alit. Hal tersebut dikarenakan topeng gede merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (bahasa Cirebon: tetaluan) yang lengkap, adanya lima babak tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya lakonan serta jantuk (bahasa Indonesia: nasihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng gede[2]

Jenis

Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini merupakan karya Nugraha Soeradiredja.

Gaya tarian

Pada tari Topeng Cirebon terdapat beberapa gaya tarian yang secara yang telah diakui secara adat[4][5], gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari Topeng Cirebon lahir dan juga dari desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang secara adat telah diakui lepas dari gaya lainnya. Endo Suanda seorang peneliti tari Cirebon melihat perbedaan gaya tari Topeng Cirebon antar daerah tersebut dikarenakan adanya penyesuaian selera penonton dengan nilai estetika gerak tarian di atas panggung[5], berikut beberapa gaya tari Topeng Cirebon:
1.      Tari topeng Cirebon gaya beber
2.      Tari topeng Cirebon gaya bebes
3.      Tari topeng Cirebon gaya celeng
4.      Tari topeng Cirebon Cibereng
5.      Tari topeng Cirebon Gegesek
6.      Tari topeng Cirebon Gujeg
7.      Tari topeng Cirebon Kalianyar
8.      Tari topeng Cirebon Kreyo
9.      Tari topeng Cirebon Losarang palimanan
10.  Tari topeng Cirebon Pekandangan
11.  Tari topeng Cirebon Slangit
12.  Tari topeng Cirebon Sinar ranca
13.  Tari topeng Cirebon Tambi

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Instagram

Facebook

Twitter

Youtube

POPULAR POSTS

  • Keanekaragaman kebudayaan di indonesia
  • (tanpa judul)
  • Tari Wayang Adipati Karna

Categories

adat adat budaya Adipati adipatikarna angklung anting bharatayudha budaya budaya warisan busana cirebon daerah gamelan gatot kaca gembyung indonesia jawa barat Karna kencana kepunahan kesenian Kesenian Tari magis nusantara pelestarian pengertian properti sanggar sejarah seni seni budaya seni daerah seni musik seni tari senjata sakti sintren tari tari adipatikarna tari dewi banowati tari jayengrana tari sintren tari topeng.tari indonesia tari wayang tari wayang gong tarling topeng tradisional tradusyonal ungu wayang wayang kulit

Sanggar Seni Kencana Ungu

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

  • Astriany
  • Azkanajmu
  • Deni Hidayat
  • FIRA AFRILIA
  • Habil ibnu abdillah
  • Risma Mardiantika
  • Sanggar Kencana Ungu
  • YM

Seni Angklung

Sejarah Perkembangan Angklung Mengenai asal-usulnya, tidak ada petunjuk sejak kapan Angklung ini digunakan. Adapun ketika melihat bentuk ...

Blog Archive

  • Januari (37)
  • Desember (19)

Cari Blog Ini

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Shop

Popular Posts

  • Tari Wayang Adipati Karna
  • TARI WAYANG ADIPATI KARNA

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • Keanekaragaman kebudayaan di indonesia
  • (tanpa judul)
  • Tari Wayang Adipati Karna

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates